
Pagi itu kami mendapatkan diri kami dengan mandi di tempat yang mewah..
Karena tempat ini adalah istana maka Air untuk mandi telah disiapkan..
Sungguh orang kaya bisa mendapatkan hal enak..
Saat selesai kami langsung memakai pakaian seragam dan berangkat menuju Akademi..
Karena kami sudah tahu kemana arah menuju Akademi jadi kami tidak akan tersesat seperti kemarin..
Walaupun Rian bersikap sok tahu tentang arah jalan namun dia tetap mengikutiku di belakang..
Saat sampai di kelas semua kursi masih kosong..
"Kita ke kantin aja yuk.." Rian mengajak kami.
Aku mengangguk karena kami tidak sempat untuk sarapan di istana dikarena Rian dan Iwan begitu terburu buru untuk berangkat.. Entah apa yang mereka takutkan..
Sesaat kami sampai di kantin seseorang yang kami kenal sudah ada disana..
Drian terlihat begitu serius dengan bukunya.. entah apa yang dia tulis..
Lalu kami mendekatinya..
"Hei Drian" Sapa Rian.
Drian langsung menutup bukunya dengan cepat hingga kami tidak melihat apa yang dia tulis disana..
"Hei kalian.. pagi sekali datang"
"Ugh.. aku harap kau tidak mengingatkanku hal tersebut" Jawab Rian dengan tidak senang.
Rian dan Iwan mengingat dengan jelas bagaimana mereka di bangunkan dengan cara kejam..
Drian cuma bisa bingung karena dia tidak tahu apa yang terjadi..
"Kau sudah sarapan Drian ?" Tanya Rian.
"Aku sudah"
"Kalau begitu kami pesan makanan terlebih dahulu"
Lalu aku dan Iwan sudah duduk di meja..
"Kalau begitu aku pesan makanan yang enak direkomendasikan disini" Ucapku kepada Rian.
"Sama" Sambung Iwan.
"Oi.. kalian menyuruhku untuk pesan"
"Aduh kakiku sakit"
"Maaf ada telpon"
"..."
Rian dengan sedih berjalan sendirian untuk memesan makanan..
beberapa menit kemudian Rian membawakan piring berisikan makanan..
Setelah itu kami menyantap makanan namun Rian memulai pembicaraan yang tidak penting.. seperti biasa..
"Tadi saat aku memesan makanan tiba tiba seorang gadis menyapaku"
"Terus" Ucapku sambil mengunyah makananku.
"Lalu dia memujiku betapa hebatnya diriku"
"Terus"
"Lalu dia meminjam uang denganku karena uang miliknya tertinggal"
Ah..
Kami semua terdiam setelah mendengar hal itu..
"Aku mulai khawatir" Ucapku dengan sedih.
"Sungguh jonesnya dirimu hingga tidak tahu bahwa sedang ditipu" Kata Iwan dengan tersenyum bahagia.
"Apa boleh buatkan aku tidak bisa meninggalkan orang yang lagi kesulitan" Jawab Rian dengan tidak senang.
Aku hanya bisa menghela napasku.. sebenarnya sifat Rian ini sudah ada sejak dahulu..
__ADS_1
Mungkin jika dia tidak bersama kami mungkin dia sudah ditipu oleh banyak orang.. karena kebaikan hatinya..
Bahkan aku mengingat dengan jelas bagaimana cara kami bertemu..
Well.. mungkin ini bukan saatnya menjelaskan masa lalu..
"Lagipula gadis itu sungguh cantik"
"Tunggu apakah gadis tersebut sungguh cantik"
Iwan dengan cepat merespon..
Drian masih ikut mendengarkan kami berbicara dan dia sedikit tertawa..
"Maaf temanku banyak yang gak waras" Ucapku dengan menyesal kepada Drian.
"Ah tidak apa apa"
Setelah itu kami berhenti berbicara tentang masalah itu dan melanjutkan makan kami..
...
"Ah kita akan bertemu dengan wali kelas berotot lagi"
"Ah sialan"
"Ugh.."
Kami bertiga mengeluh tentang wali kelas kami karena ini adalah sebuah tragedi..
Drian cuma diam saja dan tidak ikut berbicara jadi aku tidak enak untuk tidak berbicara dengannya..
"Ngomong - ngomong apa yang kau tulis tadi Drian"
"Ah cuma mencatat pelajaran yang belum aku pahami"
Saat dia berkata begitu aku baru ingat bahwa aku belum mencatat pelajaran kemarin..
"Hei pinjam catatan kalian nanti"
"Oh oke.."
Sesaat kami sampai di kelas aku langsung meminjam catatan milik mereka namun..
-_-
"Hei jangan menatapku seperti itu"
"Ini karena gurunya terlalu cepat untuk menjelaskan"
"..."
Aku hanya dengan sedih menatap tulisan yang begitu bagus.. sekelas dengan prasasti zaman kuno sampai - sampai tidak bisa aku pahami sama sekali..
"Hei Drian bolehkah aku meminjam catatan mu saja"
"Tulisanku buruk"
"Mungkin tidak seburuk tulisan mereka berdua"
Drian terlihat begitu ragu..
Beberapa detik berpikir dia akhirnya mengambil bukunya dan memberikannya kepadaku.
"Demi apapun kau jangan membuka halaman terakhir"
"Oke aku janji tidak akan melihat halaman terakhir"
Lalu Drian memberikan catatannya kepadaku..
Lalu aku mencatat apa yang ada disana..
Namun aku penasaran kenapa Drian begitu takut jika aku melihat halaman terakhir..
Aku melirik Drian yang sepertinya sedang sibuk berbicara dengan Rian dan Iwan..
Aku membuka halaman terakhir..
Maafkan aku Drian.. ini adalah darah orang indonesia.. semakin dilarang semakin ingin mereka untuk melanggarnya..
Saat aku membukanya..
Kirana kau adalah lautan yang selalu menyejukkan hatiku~
__ADS_1
Kirana kau adalah bulan yang selalu menyinari gelapnya hatiku~
Kirana kau adalah angin yang selalu membawa hatiku~
Jika aku tidak bertemu dengan engkau apa yang akan terjadi pada diriku~
Mataku langsung merasa sakit..
Sepertinya kotak pandora yang aku temukan merupakan kotak terlarang..
Aku langsung menutup halaman terakhir tersebut..
...
Tidak lama setelah itu Guru wali kelas datang bersama seorang wanita cantik yang tidak kami ketahui.
"Anak - anak sekarang kita akan praktek sihir jadi yang memiliki Class mage ikut dengan saya.. dan yang memiliki Class selain mage bisa mengikuti guru Kiana.." Ucapnya sambil menunjuk kearah wanita cantik yang ada disebelahnya.
Guru yang disebut oleh pak Demark adalah wanita cantik yang memiliki sebuah pedang di pinggangnya..
"Dan untuk yang memiliki dua class bisa memilih antara dua" Ucap pak otot menatap Rian..
Kalau tidak salah Rian memiliki Class Mage Knight..
"Saya akan ikut dengan bu Kiana pak" Jawab Rian.
Pak otot sedikit kecewa.. karena dia berharap bahwa murid Dual Class ini untuk memilih class sihir dengannya..
Namun pak otot tidak tahu bahwa otak Rian lebih memilih seorang gadis cantik daripada pak otot..
"Sampai jumpa Rei.." Ucap Rian melambaikan tangannya.
"Sekarang gantian karena kami terus yang merasa sial di chapter sebelumnya" Sambung Iwan dengan tersenyum sinis.
"Sialan.."
Aku cuma bisa mengutuk takdir yang membuat ini.. lagipula kenapa pak ototnya ini yang mengajar sihir..
Bukankah kebalik ?
"Pak boleh saya bertanya.. sebenarnya Class bapak apa ?" Tanya seorang murid yang penasaran.
"Walaupun tubuhku seperti ini.. sebenarnya aku adalah class mage" Ucapnya dengan bangga.
Aku cuma bisa mengerutkan kening saat mendengar itu..
Apakah class mage akan menjadi berotot seperti..
Apakah aku salah memilih Class..
"Mari berhenti berbincangnya kita akan ke lapangan"
...
"..Ingat mana adalah sesuatu yang berasal dari alam yang diserap oleh tubuh.. jadi jika kalian ingin mengeluarkan sebuah sihir kalian harus memusatkan kosentrasi kalian ke mana lalu kalian ucapkan mantra sihir.."
Ada sepuluh orang yang memiliki Class mage termasuk diriku..
Delapan orang laki laki dan dua orang adalah perempuan..
Mereka semua mendengarkan dengan serius penjelasan yang diberikan oleh pak Demark..
Namun tidak dengan diriku..
Aku harap ini berakhir dengan cepat..
Saat aku berpikir seperti itu..
"Kau cepat praktekkan apa yang aku jelaskan tadi"
Eh ?
Dia menunjuk kearahku..
"Saya pak"
"Iya kamu"
Sialan..
Aku tidak mendengarkan apa yang dia jelaskan tadi..
"Apa kau tidak bisa" Tanyanya lagi dengan nada sedikit marah..
__ADS_1
Bersambung..