Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Akhir dari semua..


__ADS_3

"Rei tolong buka.. ada sesuatu yang ingin aku bicarakan"


Aku membuka mataku karena tersadar akan suara Rian dari balik pintu.


Aku melepaskan peganganku dari lengan Yuina dengan pelan. Aku bangkit dari tempatku duduk dan berjalan menuju pintu.


Aku membuka pintu dan terlihat Rian memiliki senyum percaya diri di wajahnya.


"Aku tahu sebuah tanaman herbal yang dapat menyembuhkan Yuina" Ucap Rian dengan bersemangat.


Mendengar hal itu aku langsung memegangi bahu Rian dengan kuat.


"Cepat katakan padaku" Ucapku dengan tidak sabar hingga mengguncang tubuh Rian..


"Tenanglah.."


Iwan memukuliku dengan pelan dari samping hingga menyadari bahwa aku mengguncang Rian terlalu keras..


Rian memegangi kepalanya yang pusing akibat guncangan sebelum melanjutkan perkataannya.


"Aku pernah baca buku yang menjelaskan tentang tanaman yang bisa menyembuhkan segala penyakit"


"Dimana itu ?"


"Tempatnya berada di dekat perbatasan Benua Iblis dan Benua Berbagai ras (Demi Human)"


"Kalian percaya itu ?" Kina yang sedari tadi berdiri di belakang Rian menyuarakan suara ketidaksenangannya. "Itu hanya cerita legenda zaman dulu" Sambung Kina dengan pesimis.


"Setidaknya itu masih ada harapan" Balas Rian.


"Cerita legenda pasti memang pernah terjadi.. seperti Ikatan sihir itu juga merupakan cerita legenda tapi nyatanya itu masih bisa dilakukan.. jadi tidak ada salahnya untuk mencoba" Ucapku dengan yakin.


Karena apa yang terjadi di cerita legenda pasti memang pernah terjadi walaupun sulit untuk dipastikan kebenarannya.


"Aku akan berangkat sendiri" Ucapku kepada mereka.


"Tunggu kami akan ikut" Balas Rian dengan terkejut.


"Kita teman harus saling membantu" Sambung Iwan dengan cepat.


"Terima kasih tapi aku tidak mau merepotkan kalian" Ucapku kepada mereka dengan menggelengkan kepalaku.


"Kami sudah terbiasa direpotkan jadi untuk apa mengatakannya sekarang" Balas Rian dengan tersenyum


"Aku pikir kalian yang merepotkanku selama ini ?" Ucapku dengan sadar apa yang aku katakan sebelumnya.


"Rei.. kita datang ke dunia ini bersama maka kita akan kembali lagi bersama" Ucap Rian dengan memegangi bahuku.


"Kita telah bersama sejak bayi untuk apa sungkan ?" Sambung Iwan sambil memegangi bahuku yang satunya lagi.


"Kita bersama sejak SMP jangan coba-coba mengarang cerita" Ucapku dengan kesal. "Sudahlah.. jika kalian memang ingin ikut silahkan"


Aku akhirnya menyerah dan tidak ingin berdebat lebih dalam lagi kepada mereka berdua.


Lagipula benar apa yang mereka katakan..


Karena kami datang kesini bersama maka kembali pun harus bersama juga.


"Kami akan ikut juga" Ucap Lisa kepadaku..


Aku menggelengkan kepalaku.


"Kalian tolong jaga Yuina untukku.. jika ada orang kuat seperti kalian disampingnya aku tidak mengkhawatirkan Yuina selama perjalanan"


"Tapi--"


"Tolong jaga Yuina untukku"


Kina dan Lisa ingin sekali untuk ikut namun mengingat perkataanku benar mereka menjadi patuh dan tidak membahasnya lebih lanjut.


Aku berbalik ke belakang dan melihat kearah Yuina yang masih terbaring lemah.


"Aku akan kembali dengan cepat"


Aku dengan cepat pergi keluar istana dan menyuruh seseorang untuk menyiapkan kereta kuda dengan cepat.


Aku tidak perlu mengemas barang dan makanan karena semuanya telah ada di kantong penyimpanan milikku.


Ketika kereta kuda disiapkan aku langsung bergegas untuk naik.


"Rei!!"


Aku berbalik melihat ke belakang dimana Liana berlari dengan cepat kearahku..

__ADS_1


"Apakah harus terburu-buru.. setidaknya beristirahatlah terlebih dahulu"


Aku memberikan senyuman kepada Liana dengan cepat dan berkata "Aku tidak mempunyai waktu untuk itu.. lagipula aku akan kembali dengan cepat"


"Aku akan ikut"


"Tidak perlu.. kau harus ada di sini.. Ayahmu perlu bantuan untuk memulihkan keadaan kerajaan saat ini"


"Tapi.."


"Ini bukan perpisahan.. jadi tidak perlu mengucapkan sesuatu yang dramatis"


Aku naik keatas kereta kuda dan memegangi tali yang sebagai alat untuk mengendalikan kuda..


Liana mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya dan melemparkan sesuatu kearahku..


"Itu liontin milik ibuku.. aku hanya meminjamkannya.. karena itu kau harus kembali"


Aku memegang liontin yang memiliki mata perhiasan berwarna merah terang dan memasukkannya ke dalam kantong..


"Aku berangkat"


Aku melihat ke belakang gerbong dimana Rian dan Iwan telah duduk di sana..


"Tolong berhati-hati lah kalian" Ucap Lisa dengan khawatir.


"Aku tidak akan memaafkan kalian jika terluka lagi" Sambung Kina dengan kesal.


Kina dan Lisa memberikan suara mereka kepada Rian dan Iwan.


"Tenang.. aku akan menjaga Iwan dan Rei" Ucap Rian dengan percaya diri.


"Kami tidak akan terluka selama ada aku Class Guardian terkuat" Balas Iwan dengan semangat.


Aku memecat tali yang ada di kuda untuk membuatnya bergerak..


Perlahan kami keluar dari istana kerajaan dan melihat sekitar jalanan masih berantakan dengan bangunan yang hancur..


Semua orang yang melihat kami lewat memberikan hormat dan memberikan lambaian tangan..


"Kalian pergi ?" Teriak Charlotte yang berlari mendekati kami dan menatap kearah Iwan.


"Ya kami akan berangkat" Balas Iwan dengan tersenyum.


Hubungan mereka berdua sepertinya begitu dekat.. sejak kapan ?..


Melihat hal itu aku terkejut dengan Rachel yang ada disamping Charlotte melemparkan sesuatu kearahku berupa kantong penyimpanan.


Aku melihat ke dalam ternyata itu rupanya koin emas.


"Semoga bermanfaat"


Aku tersenyum akan perhatiannya. "Terima kasih"


"Rian!!"


Rian menoleh kearah pinggir jalan dan melihat Nita melemparkan sebuah kantong..


"Itu tanaman herbal" Ucapnya dengan pelan dan menutup wajahnya dengan topi penyihir besar..


"Terima kasih Nita"


Asap perlahan keluar dari balik topi yang menutupi wajahnya.. sepertinya gadis ini begitu pemalu.. Sejak kapan juga mereka begitu dekat..


Semua orang memberikan salam perpisahan kepada kami.


Mereka telah menebak bahwa kami akan pergi untuk mencari obat untuk Yuina..


Jadi sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi dan mereka juga tidak bertanya..


Ketika melewati tembok kota seluruh pasukan memberikan hormat sepanjang jalan..


Aku melihat Pak Demark dan Ibu Kiana juga berdiri di sana dan telah menunggu..


"Berjuanglah" Ucap pak Demark dengan penuh semangat.


"Berhati-hatilah" Sambung ibu Kiana yang ada disampingnya.


Mereka berdua guru yang sangat perhatian hingga akhir..


Pak Demark yang tubuhnya masih dipenuhi dengan perban tetap menyempatkan diri untuk mengucapkan salam perpisahan..


Tanpa disadari kami telah melewati pintu gerbang dan tembok yang begitu besar telah terlihat dari kejauhan..

__ADS_1


"Mereka semua sungguh orang baik" Ucap Rian dengan senang.


"Yah.. aku bersyukur telah bertemu mereka semua" Sambung Iwan dengan bahagia.


Rian dan Iwan yang berada di gerbong belakang masih melihat ke belakang dan menatap tembok kerajaan yang semakin menjauh..


...


...


...


"Apakah kau yakin tidak memberikan salam perpisahan kepada temanmu" Luna bertanya dengan heran kepada Drian..


Drian dan mereka bertiga Rian, Rei, Iwan tidak sempat untuk berbincang lebih banyak namun dia tahu bahwa mereka memiliki takdirnya tersendiri..


"Jika takdir maka aku yakin kami akan bertemu mereka lagi" Ucap Drian dengan tersenyum..


Drian memandangi kereta kuda yang semakin menjauh..


"Aku juga harus pergi"


"Aku akan ikut"


"Kau tidak bertanya kemana aku pergi ?"


Luna menggelengkan kepalanya dan tersenyum..


"Aku akan mengikutimu mulai sekarang.. lagipula kau tanpa aku terlihat begitu kesepian" Ucap Luna dengan tersenyum manis kepada Drian.


"Jika kau ingin tinggal silahkan.. karena aku bisa saja menemani Drian" Balas Giva yang berada di belakangnya.


"Kenapa gadis ungu ini mengikuti kita" Ucap Luna dengan kesal.


"Jangan sebut aku dengan warna rambutku" Balas Giva dengan marah.


Drian memberikan senyuman miliknya kepada mereka yang mulai bertengkar lagi..


(Sepertinya ini akan menjadi sulit)


...


...


...


"Mereka bertiga telah pergi" Ucap Jack dengan suara sedih.


"Pada akhirnya kita tidak sempat untuk mengenalkan diri kita" Balas Frey dengan menyesal.


Dua orang pemuda sedang berdiri diatas tembok dengan semilir angin yang berhembus pelan menerpa baju dan rambut mereka..


Pemuda yang satunya mengenakan topeng..


Pemuda yang satunya lagi memiliki wajah yang tampan..


"Kita masih mempunyai misi untuk menangkap orang yang menjadi dalang semua ini, Sialan!" Ucap Frey dengan kesal.


Orang yang memerintahkan monster untuk menyerang kerajaan telah melarikan diri.


Saat ini keberadaannya tidak diketahui.


Untuk mencegah ini terulang lagi tuan putri Liana telah memerintahkan mereka berdua.


"Mari kita pergi" Ucap Jack kepada Frey.


Mereka berdua menghilang dengan cepat tanpa ada orang yang memperhatikan..


...


Bersambung..


Mereka bertiga telah melakukan pekerjaan yang baik..


Mungkin di chapter ini terlihat seperti terburu-buru tapi niatnya memang begitu karena aku ingin secepatnya membuat mereka menjalani petualang baru..


Bertemu karakter baru nantinya..


Perjalanan yang begitu berat..


Tidak lupa juga dengan kejanakaan mereka nantinya..


Ini cerita akan menjadi panjang mulai dari sini.. jadi aku harap beberapa dari kalian tetap setia menunggu.. hehe.. itu aja..

__ADS_1


Jangan lupa like ya.. kalau bisa tekan dua kali :')


__ADS_2