Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Pertemuan Manis.. Tunggu.. Apakah Memang Manis ?


__ADS_3

Yuina berbicara kecil tentang apa yang aku lewatkan selama tidak ada di Kleinstar.


Tidak ada hal yang besar terjadi


Tentunya itu hanya sebuah basa basi yang aku lakukan.


Yuina dengan senang menceritakan apa yang terjadi.


Seperti pelatihan di akademi petualang dan perburuan yang dilakukan secara besar-besaran oleh pihak akademi terhadap perkembangan monster yang terjadi disekitar kota kerajaan.


Bahkan kesehariannya kecil miliknya..


"Apa yang biasa kalian lakukan di sini ?" Tanya Yuina dengan mata berbinar.


"Kau tahu bahwa pengungsi dari desa yang diserang monster tersebut terus bertambah" Jawabku dengan memberitahukan pengungsi yang datang.


"Aku tahu itu.. sepanjang jalan itu penuh dengan banyak orang" Balas Yuina dengan nada sedih.


"Aku membantu Liana dalam mengurus mereka semua"


"Kau membantu ?.. apakah Liana menawarkan sesuatu kepadamu ?"


"Tidak ada.. kenapa kau bertanya seperti itu ?"


"Bukankah ketika pertama kali aku bertemu denganmu kau pernah berkata.. 'aku tidak ingin terlalu terlibat ke dalam konflik kerajaan dan juga aku tidak ingin menjadi seorang pahlawan yang mengorbankan nyawanya demi sebuah keadilan yang konyol"


"Aku tidak berkata seperti aku pikir.."


"Setidaknya sebagian itu adalah benar"


Aku tidak bisa mengelak dengan apa yang dibicarakan oleh Yuina.


"Jujur aku masih memiliki prinsip seperti itu, tapi jika aku tidak melakukan apa-apa.. aku malah merasa tidak enak" Jawabku dengan menggaruk pipiku secara perlahan.


Yuina memberikan senyuman yang licik kepadaku..


"Kau berubah" Ucap Yuina dengan senang. "Tidak.. sepertinya kau tidak berubah.. ini adalah dirimu yang sebenarnya.. kau selalu berkata sesuatu yang tidak mencerminkan perasaanmu yang sebenarnya"


Aku hanya bisa terkejut dengan perkataan Yuina kepadaku.


Itu adalah pernyataan yang tidak pernah aku pikirkan.


Sejak awal..


Kenapa aku seperti ini..


Apakah karena aku bertemu dengan Yuina ?.


...


"Aku harap kalian tidak melupakan kami di sini.." Ucap Rian dengan tidak senang.


Tentu Rian selama ini ada di sini karena dia melanjutkan tidurnya lagi..


Tapi sepertinya dia tidak dapat kembali tidur nyenyak karena kami..


Sedangkan Iwan yang ada disampingnya..


Dia terlihat nyaman dengan diiringi dengan suara dengkuran keras miliknya..


Tunggu.. sepertinya suara kami kalah dengan suara dengkuran itu..


Kenapa aku tidak menyadarinya ?


"Rei terlihat senang ketika dia bersama dengan Liana" Ucap Rian memecah keheningan dengan sebuah kata - kata yang memancing perhatian.


"Tunggu.. itu.. benar sih.. tapi bagaimanapun juga seseorang gadis menemanimu bukankah kau akan senang" Balasku dengan tergagap..


"He~h"


"Lihat dirimu sendiri.. bukankah kau senang dikerumuni oleh gadis cantik di toko herbal di sana.. dan juga ditemani oleh pemilik toko yang cantik tersebut" Ucapku dengan memberikan senyuman kemenangan.


"Masalah ini berbeda" Jawab Rian dengan cepat.


"Tidak bisakah kalian mengecilkan suara kalian" Ucap Iwan yang bangun dengan suara ketidaksenangannya.


Kami berdua Rian saling memandang satu sama lain.


"Kau juga selalu saja menuju tempat Charllotte" Ucapku dengan tidak senang.


"Aku yakin kau mengincar dia" Sambung Rian dengan cepat.


Iwan secara pelan mengucek matanya yang masih mengantuk..


"Tunggu ? apa yang kalian bicarakan.. kenapa aku diseret secara paksa ke medan perang ?"

__ADS_1


"Itu adalah kebebasan kalian.. bukankah seharusnya begitu" Ucap Yuina dengan pelan dan tersenyum begitu lembut..


Namun anehnya aku merasakan sesuatu yang tidak dapat aku jelaskan setelah mendengar itu.


"Apa yang sedang kalian bicarakan ?" Suara tersebut adalah milik Lisa.


Suara pintu terbuka dengan perlahan dan menampilkan sosok gadis cantik berpakaian pelayan.


Melihat kami yang sedang sangat santai mengobrol.


Mereka berdua mengangkat sedikit alis mereka dengan heran.


"Apakah kami melewatkan sesuatu ?" Tanya Kina dengan penasaran.


Yuina tersenyum dan berkata. "Oh mereka sedang membicarakan.."


"Tentang kehidupan kami di sini" Ucap Rian dengan cepat menyela Yuina.


Yuina mengangguk dengan pelan sebelum melanjutkan perkataannya.. "Tentunya tentang kehidupan mereka di sini dengan para.."


"Dengan para penduduk di sini bukankah itu maksudmu tuan putri" Ucap Iwan lagi dengan cepat juga menyela Yuina.


"Kalian berdua tidak boleh menyela pembicaraan Tuan putri seperti itu" Ucap Kina dengan marah kepada mereka.


Aku menatap kearah Yuina yang dimana dia sedang tersenyum licik.


Aku yakin dia sengaja melakukan itu.


"Aku sebenarnya lupa menanyakan ini.. kalian masih melanjutkan pembelajaran kalian di akademi petualang di sini ?" Tanya Yuina dengan menatap kearah kami..


"Woah buku apa ini" Ucap Rian yang berusaha mengalihkan pembicaraan..


"Woah.. ini penuh debu" Sambung Iwan lagi..


Sebuah pisau tiba - tiba saja menancap dengan mantap di meja dekat Rian dan Iwan duduk.


"..."


Aku hanya bisa menahan tawaku untuk melihat kelakuan idiot mereka.


Oh aku baru ingat mereka memang idiot..


"Aku tidak tahu bahwa di sini ada juga akademi petualang.. lagipula aku begitu sibuk dengan membantu untuk mengurus para pengungsi di sini" Ucapku dengan tenang.


"Sebagai teman kami tidak bisa tinggal diam dan hanya melihat" Sambung Iwan.


Mereka begitu cepat menjilat perkataanku..


Sungguh lidah mereka sudah sangat terlatih untuk hal ini..


"Aku sangat yakin kalian malas" Ucap Kina dengan wajah sinis.


"Aku memang benar tidak tahu" Balasku dengan senyum pasrah.


"Aku bisa memaklumi untuk Rei tapi mereka berdua itu.." Ucap Kina dengan ragu..


"Syukurlah kau percaya" Balasku dengan senang.


"Tunggu kenapa hanya Rei ?" Balas Rian dengan heran.


Aku bingung mau mengomentari apa di sini..


Kina juga terlihat bingung.. sepertinya dia ingin bilang sesuatu namun dia menahannya..


"Sebaiknya kalian memasuki lagi akademi petualang di sini.. takutnya jika nanti sesuatu terjadi setidaknya kalian bisa melindungi diri sendiri" Ucap Yuina dengan menepuk kedua tangannya dengan bersemangat.


"Itu aku juga setuju.. dan juga aku mau menunjukkan sesuatu kepada kalian nantinya" Ucapku dengan tersenyum percaya diri.


...


...


...


Liana terlihat begitu sibuk diruangan pribadi miliknya.


Kertas begitu banyak berserakan disekitar meja dan juga lantai miliknya.


Sebuah pena yang dia pegang begitu cepat dia gerakkan disebuah kertas putih.


Dia dengan cepat mengatur beberapa rencana persiapan apa yang akan terjadi ke depannya..


Tentu dia harus cepat karena ini menyangkut hidup dan matinya kerajaan..


Pintu ruangannya secara perlahan terbuka dan memperlihat seorang gadis berambut silver dengan cantik.

__ADS_1


"Maaf jika aku menganggumu" Ucap Yuina dengan tersenyum.


"Tidak apa - apa" Balas Liana dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku telah mendengar dari Lisa dan Kina" Ucap Yuina dengan pelan. "Aku akan membantu"


"Tidak perlu Yuina.. aku masih bisa sendir--"


"Hmm.. kau berkata seperti itu tapi masih saja meminta bantuan kepada Rei" Yuina dengan cepat memotong apa yang ingin Liana katakan.


"Jangan salah paham.. aku membiarkan membantuku karena dia memiliki ilmu yang berasal dari dunia lain" Ucap Liana dengan wajah agak kemerahan.


Mendengar hal itu Yuina mengembul pipinya dengan kesal.


"Aku sangat yakin itu memiliki tujuan yang lain" Balas Yuina dengan nada kesalnya.


"Kau juga kenapa ada di sini begitu terburu-buru.. apakah kau ingin cepat bertemu dengan pangeranmu" Ucap Liana dengan cepat mengalihkan topik.


"M-masalah ini berbeda"


"Aku sangat yakin itu"


"Kau.."


Mereka saling memandang satu sama lain sebelum mereka akhirnya tersenyum.


"Sudah lama kita tidak bertemu" Ucap Yuina dengan senang.


"Hmmpphh.. aku tidak senang bertemu denganmu" Balas Liana dengan mengembulkan pipinya.


"Itu terlihat tidak cocok dia usiamu sekarang ini" Ucap Yuina dengan nada sedih.


"Aku masih 19 tahun" Teriak kesal Liana.


"Heh.. tidak lama lagi 20 tahun.. bukankah sudah saatnya mencari kekasih untuk menikahimu.. tunggu adakah yang mau denganmu ?"


"Dasar adik yang tidak tahu diri"


Yuina menjulurkan lidahnya dengan manis.


Begitulah pertemuan dua orang saudara yang sedang bertemu..


"Aku harap kita berdua selalu akrab ya, Kina" Ucap Lisa dengan pelan.


"Apa katamu ?" Tanya Kina seolah tidak mendengar.


Lisa dan Kina yang selama ini masih berada diluar ruangan hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka yang begitu keras di sana.


Bersambung..


"Apakah kita punya jatah tampil di sini ?" (Jack)


"Nah.. kita hanya tokoh sampingan.." (Frey)


"Yah kau benar.. tapi apakah ada harapan dimana kita seperti Drian" (Jack)


"Hmm.. jika authornya mau" (Frey)


"Yah sih.. tergantung authornya" (Jack)


"Atau kita bisa bantuan dari pembaca agar komen supaya kita bisa jadi kayak Drian" (Frey)


"Oh ide bagus" (Jack)


...


Nah sebaiknya nanti aja.. memang ada sedikot cerita sih tentang mereka..


Tentang desa pembunuh bayaran dan desa mata - mata.


Mereka sebenarnya *********


""No spoiler""


Ah..!


Yah begitulah.. tekan like aja dan suport terus author biar setidaknya kalian tidak penasaran dengan cerita mereka..


Lagipula aku juga masih bingung dengan alur saat ini.. apakah mereka selamat dalam pertempuran yang akan datang atau tidak..


"Spoiler -_+"


"Bukan.. :3"


Sampai jumpa next episode.. ;)

__ADS_1


__ADS_2