Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Happy End..


__ADS_3

Kami berdua yang melihat Iwan sedang tidur menjadi marah..


Aku langsung membangunkannya dengan sihir air..


*Zburr..


Iwan langsung kaget dengan hal itu..


"Apa yang terjadi !?"


Iwan langsung bangun dan melihat situasi..


"Serigala tadi mana"


"Sudah mati"


"Selagi kami berusaha membunuhnya dan kau malah tidur di sini"


"Hei aku pingsan.. bukan tidur"


Aku dan Rian menatapnya dengan dingin..


Aku dan Rian menghela napas dan langsung duduk karena kelelahan..


"Aku masih berpikir akan mati tadi"


Rian menyuarakan ketakutannya..


"Kita sudah selamat sekarang, tinggal menunggu mereka kembali dengan bantuan.."


Aku membicarakan tentang party yang kami selamatkan..


Rian dan Iwan saling menatap satu sama lain..


Sepertinya mereka merencanakan sesuatu yang licik lagi..


"Kita tidak bisa kembali hanya dengan tangan kosongkan" Ucap Rian dengan tersenyum..


Iwan yang mendengar hal itu langsung tersenyum mengerti..


"Artinya kita harus berpura pura terluka parah" Sambung Iwan dengan ikut tersenyum..


Mereka berdua saling menatap seolah olah seperti memiliki isi pikiran yang sama..


Aku hanya bisa tersenyum kecut akan hal ini..


"Namun itu tidak akan menarik.. karena itu bagaimana kalau ada satu orang dari kita yang terluka sangat parah dan seolah dia telah melakukan pengorbanan yang sangat besar" Kata Rian dengan penuh bangga..


"Dengan begitu gadis gadis akan melihat bahwa dia adalah yang terhebat dan jalan harem di dapatkan" Sambung Iwan dengan tersenyum bahagia..


Rian dan Iwan saling menatap lalu tersenyum..


Aku mendengar hal itu sudah tahu apa yang akan terjadi..


"Mari kita hompimpa.. siapa yang menang tidak akan ada dendam diantara kita"


Rian langsung mengajukan tangannya di ikuti dengan Iwan..


Mereka berdua melihat kearahku..


Aku menghela napas..


Aku terpaksa ikut..


...


"Tidak mungkin"


"Sialan ini tidak adil"


Mereka berdua menjadi tidak senang melihat bahwa aku yang menang..


"Apakah kita hanya karakter sampingan di dunia ini"


"Sialan..."


Aku yang melihat itu hanya tersenyum..


"Ini cuma keberuntungan"


Rian dan Iwan sudah tidak bersemangat..


"Ayo mari kita kembali"


Saat dia berkata begitu aku sudah berebah di tanah dengan tidak berdaya..


"Apa yang kau lakukan ?" Tanya Rian dengan heran..


"Bukankah aku terluka sangat sangat parah"


"Sialan kau yang paling antusias tentang ini"


"Hei aku cuma mengikuti rencana kalian.."


Rian dan Iwan menatap satu sama lain dan mengangguk..


Lalu mereka suit dan terlihat bahwa Rian lah yang kalah..


"Sialan"


Iwan tersenyum dengan senang..


Lalu Rian dengan terpaksa menggendongku di belakangnya..


"Berat"


Aku hanya tersenyum mendengar hal itu..


Sungguh menjadi orang yang beruntung itu sangatlah nyaman..


...


Pemimpin party yang diserang oleh serigala tadi telah mengantar yang terluka kepada priest untuk disembuhkan.


Setelah itu dia meminta banyak orang dari guild petualang untuk meminta bantuan..


Sekarang mereka sedang menuju tempat dimana mereka melawan serigala tersebut lalu mereka melihat Rian yang sedang menggendong Rei di belakangnya dan Iwan terlihat memegang perutnya..


Darah berceceran sangat banyak terutama di tubuh Rei..


"Hei kalian tidak apa apa"


Pemimpin tersebut berbicara kepada Rian..


"Aku tidak apa apa namun temanku terluka parah" Ucap Rian dengan nada yang seolah sangat kesakitan..


Mereka langsung mengambil Rei yang sedang tidak sadarkan diri dan meletakkannya di tandu yang telah mereka persiapkan..


"Lalu dimana Serigalanya"


"Kami telah mengalahkannya"


"Kalian mengalahkannya"


Mereka semua terkejut akan mendengar hal itu.. mengingat rank mereka masih F mengalahkan monster peringkat B sungguh sangatlah hebat..


Rian langsung terjatuh ke tanah diikuti oleh Iwan dan langsung pingsan..


Sontak semua orang yang melihat itu panik dan menolongnya..


.........


......


...


Kabar dari mereka bertiga mengalahkan monster Serigala peringkat B lalu terluka parah telah sampai ke Yuina..


Yuina yang mendengar kabar itu langsung menuju tempat Priest yang ada di gereja dimana Rei dan lain sedang di rawat..


"Aku yakin mereka baik baik saja " Ucap Lisa yang mencoba menenangkan Yuina yang khawatir di kereta kuda..


"Aku harap begitu"


Yuina tidak bisa menenangkan hatinya yang khawatir..


Sebenarnya dia telah menyarankan untuk Kina dan Lisa ikut menemani mereka namun itu ditolak mereka mentah mentah..


(Kami ingin merasakan pengalaman misi petualang pertama kami)


(Tentu kami tidak bertindak gegabah dan mengambil misi yang paling mudah)


(Tenang saja kami akan baik baik saja)


Yuina mau tidak mau harus menghargai apa pendapat mereka..

__ADS_1


Namun lihatlah apa yang terjadi sekarang..


...


Aku masih berpura pura pingsan..


Priest terlihat membaca mantra sihir penyembuh dan badanku langsung terasa segar..


Namun aku tidak membuka mataku terlebih dahulu karena aku terluka sangat parah..


Benar benar parah..


Itu adalah settingan bahkan darah yang berceceran bukanlah darahku melainkan darah serigala yang mati tersebut..


Karena jika tidak ada darah maka semua orang tidak akan percaya..


Ini bukan berarti aku antusias tentang ini oke..


oke..


.......


....


..


Aku yang masih berpura pingsan mendengar suara yang begitu familiar di depan pintu kamarku..


"Apakah dia baik baik saja"


"Seharusnya dia baik baik saja mungkin dia akan siuman sebentar lagi"


"Syukurlah"


Sepertinya aku sudah berlebihan..


Lagipula aku memang tidak memiliki cedera apapun selain lecet akibat terpental dari ekor serigala sialan tersebut..


Aku mendengar suara pintu ruanganku terbuka..


Aku masih berpura pura untuk pingsan..


"Maafkan aku"


Suara tersebut adalah suara milik Yuina..


Suara tersebut terdengar begitu sedih..


Aku merasakan tanganku dipegang olehnya..


Apaan ini..


Apakah tangan gadis memang selembut ini..


Selama aku hidup aku belum pernah memegang tangan seorang gadis..


"Aku benar benar minta maaf"


Suara Yuina sangatlah sedih.. air matanya menetes ke tanganku..


Kesedihan dan kekhawatiran yang dia rasakan dapat aku rasakan..


Dia merasa bersalah..


"Seharusnya aku mengirim Kina dan Lisa untuk mengawasi kalian"


"Kalian semua adalah orang baik.."


"Rei.. kau adalah yang paling baik"


"Kau selalu menghargai teman temanmu"


"Walaupun mereka sering menjahilimu kau masih memaafkan mereka.."


Yuina tertawa kecil..


"Aku masih ingat ketika wajahmu di coret oleh mereka"


Yuina terus berbicara..


Lalu tiba tiba dia menyandarkan kepalanya di tanganku..


Jantungku sedari tadi berdetak begitu kencang..


Aku dari tadi telah bangun..


Jika aku bangun sekarang mungkin dia akan sadar aku berpura pura..


Jadi lebih baik aku tunggu beberapa menit..


...


Beberapa menit kemudian..


Aku membuka mataku secara perlahan..


Aku melihat bahwa Yuina telah tertidur disamping tempat tidurku sambil memegang tanganku..


Aku melihat air matanya masih berbekas di wajahnya..


Aku sungguh bodoh..


Kenapa aku harus membuat seorang gadis menangis..


Aku..


Merasa sangat bersalah tentang hal ini..


Aku mengusap air matanya secara perlahan..


Ah sungguh..


Seorang heroine yang selalu diimpikan semua orang..


...


Rian dan Iwan berada di ruangan yang berbeda..


Mereka juga berpura pura untuk pingsan..


Mereka berdua dikunjungi oleh..


Kina dan Lisa..


...


Kina telah menyadari bahwa Rian sedang berpura pura karena dia telah melihat bahwa tidak ada sama sekali bekas luka yang ada di diri Rian..


"Bangun.. aku tahu kau berpura pura" Ucap Kina dengan kesal..


Mendengar hal itu Rian menjadi takut bahwa dia akan di hajar jika bangun..


Jadi dia masih berpura pura untuk pingsan dan berharap bahwa dia berhasil untuk menipunya..


Kina menjadi kesal.. langsung mengambil pisau kecil miliknya dan menjentikkan nya hingga membuat suara yang mengerikan..


Namun Rian masih seorang pro dalam akting..


Jadi dia membuka matanya secara perlahan.. seolah olah dia memang pingsan..


"Oh kau sudah siuman ya" Ucap Kina dengan tersenyum aneh..


"Ini dimana ?"


Rian melihat sekelilingnya dan menyadari ada Kina di sebelahnya..


Rian secara pelahan menatap ke arahnya dan berkata.. "Kau siapa ?"


"Jangan berpura pura.. trik seperti itu tidak akan berhasil" Balas Kina dengan tersenyum..


"Hei.. aku dimana.. ini.. kenapa aku tidak mengingat apapun.. ini aneh" Rian berbicara dengan terputus putus dan memegang kepalanya dengan dramatis..


Kina yang awalnya berpikir bahwa dia berpura pura.. tiba tiba pikirannya menjadi goyah..


(Apakah dia lupa ingatan.. Tapi kata priest bahwa dia tidak memiliki cedera serius sama sekali.. tapi.. jika bagian kepalanya terbentur karena terkena serangan.. walaupun tidak fatal itu.. bisa..)


Kina menjadi bingung..


"Hei.. apakah kau mengenalku" Rian kembali menatapnya dengan wajah yang begitu bingung...


Kina tiba tiba menjadi goyah..


Kina melepaskan pisau yang dia pegang..


"Apakah kau memang tidak mengingat apa apa"

__ADS_1


Kina bertanya dengan wajah bersalah..


"Aku.. aku.. tidak mengingat apa apa.. bahkan namaku sendiri aku tidak dapat mengingatnya" Rian menjawab dengan dramatis.. "Hei.. bisakah kau memberitahuku siapa aku ?" Rian kembali bertanya..


"Namamu adalah Rian.. Rian Fadilah.. Kau berasal dari dunia lain yang berbeda dengan kami" Kina menjawab dengan suara yang sedih sambil menundukkan kepalanya.."Kau orangnya bodoh dan idiot.. saat pertama kali aku bertemu denganmu.. kau sangat baik.. kau membagi makanan dengan kami walaupun kau tidak tahu siapa kami.. kau membuatkan makanan untuk semua orang walaupun kau terlihat begitu kelelahan saat membuatnya.. namun kau selalu tersenyum dan bercanda tawa dengan kedua temanmu.. kau.." Kina mengeluarkan air matanya dan berhenti untuk menelan air liurnya dan membasahi bibirnya.. "Kau bahkan menyembuhkan sang raja.. walaupun kami mengira bahwa kau ingin mencelakainya.. namun kau memaafkan kami walaupun kau masih ketakutan.. itu.. adalah sesuatu yang patut di puji darimu.. kebaikanmu.."


Rian yang mendengar hal itu secara tiba tiba jantungnya berdetak dengan kencang..


Melihat wajah Kina yang terlihat begitu serius dan sedih membuat dia menjadi sadar..


Gadis yang ada di depannya adalah gadis yang begitu baik..


"Aku.."


Rian menjadi ragu ingin mengatakan bahwa dia sedang berpura pura..


Namun..


Jika dia mengatakannya..


Rian tidak mau memikirkan kemungkinan itu..


"Terima kasih.. sepertinya aku adalah orang yang paling berarti bagimu" Ucap Rian dengan tersenyum..


Kina yang mendengar hal itu langsung tersipu malu.. wajahnya menjadi begitu memerah..


Dia menghapus air matanya lalu tersenyum.. "Itu benar bodoh"


Rian tersipu malu wajahnya langsung memerah seketika itu saat melihat Kina..


(Imut)


Rian tidak bisa bilang bahwa dia pura pura lupa ingatannya..


Mungkin dia bersyukur akan hal ini... dengan ini dia telah mendapatkan happy ending..


Rian memegang tangannya dan anehnya Kina tidak marah..


Kina hanya tersenyum..


Senyumannya begitu manis hingga dapat menghentikan waktu..


Rian berharap ini terjadi selamanya..


...


Ruangan Iwan dimana di sana adalah Lisa yang menjaganya..


Lisa dengan sabar menunggu Iwan untuk bangun..


Lisa sudah menyadari bahwa dia sedang berpura pura karena priest telah memberitahunya bahwa tidak ada cedera yang serius di alaminya..


Iwan bangun secara perlahan..


Menyadari bahwa ada Lisa yang menunggu dia di sana..


Dia menjadi terkejut..


"Apakah aku sangat menakutkan hingga kau terkejut" Ucap Lisa dengan sedih..


"Itu tidak benar.. aku cuma terkejut bahwa gadis cantik seperti bidadari sedang menungguku untuk bangun" Ucap Iwan dengan cepat..


Lisa yang mendengar hal itu hanya tersenyum kecut..


"Apakah kau masih takut karena waktu itu"


Lisa membicarakan saat dimana dia membuat Iwan takut dengan pisau yang dia arahkan di lehernya dimana Lisa mengira bahwa mereka sedang mencelakai sang raja..


"Aku.."


Iwan ingin menjawab tidak namun tetap..


Dia tidak bisa membohongi hatinya..


Lisa mendekati Iwan hingga hidung mereka hampir saling bersentuhan..


"Bagaimana caraku agar kau bisa memaafkanku"


Iwan masih belum mengerti dengan situasi saat ini...


Dia menjadi panik.. pikirannya kacau.. wajahnya memerah..


"Bisakah kau mundur sedikit" Iwan berbicara dengan panik.. matanya tidak berani untuk menatap langsung kearah mata Lisa..


"Maafkan aku"


Lisa menyadari bahwa sikapnya terlalu berlebihan..


Lisa menjauh dari wajahnya dan berkata.. "Aku masih tidak tahu bagaimana cara agar kau memaafkanku"


"Aku telah melakukan hal yang begitu jahat kepadamu" Sambungnya dengan sedih..


"Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan itu.."


Iwan berhenti bicara dan menatapnya secara perlahan..


"Tentu aku masih merasa trauma akan hal itu.. karena gadis yang aku pikir merupakan cinta pada pandangan pertamaku akan menjadi seperti itu" Sambung Iwan dengan malu..


Mendengar hal itu Lisa langsung kaget..


Lisa langsung tersenyum setelah mendengar hal itu..


Detak jantung berdetak begitu cepat..


Dia senang mendengar hal itu..


"Kalau begitu berikan aku kesempatan sekali lagi untuk bisa menjadi cinta pandangan pertamamu"


Iwan mendengar hal itu menjadi kaget..


Dia tidak mengharapkan bahwa ini akan terjadi..


Dia..


Menjadi bingung..


"Hei.. apakah aku tidak memiliki kesempatan"


"Aku bingung untuk menjawab seperti apa"


Lisa tersenyum..


"Kalau begitu bersiaplah untuk jatuh cinta lagi kepadaku"


...


Masing masing ruangan di isi dengan sebuah proses dimana akar cinta mereka semua dimulai.


Bersambung...


Note author...


Aku mau meminta pendapatmu bagian mana dari pasangan tersebut yang sangat the best..


Jika ada kekurangan maaf ya :)


...


Ah sialan membuat cerita seperti ini sungguh penyiksaan..


Mohon maaf hati jomblo kalian tersakiti dengan ini..


Tapi gpp..


Author juga jomblo jadi kita senasib..


T.T


Btw..


Aku adalah tipe yang selalu mengecek perkembangan novelku dan juga aku selalu membuat novel melalui aplikasi mangatoon itu sendiri..


Jadi saat aku mengecek tiba tiba bintang rating yang awalnya penuh.. tiba tiba menjadi berkurang separuh..


Sakit tapi tidak berdarah..


Ugh...


Tapi gpp juga..


Ya gpp..


T.T


Tetap like ya.. dan suport terus.. :)

__ADS_1


__ADS_2