
Pakaian hitam dipakai untuk hari ini dalam mengantarkan pasukan yang gugur dalam medan perang.
Semua orang berjalan dipinggir kota dengan mengantar jenazah orang yang meninggal dalam mempertaruhkan nyawa mereka..
Mereka akan dimakamkan dekat dengan tembok kota yang dimana telah dibuat khusus untuk pemakaman..
Pertempuran yang terjadi mengakibatkan 34 orang meninggal dunia.
Jumlah yang sedikit untuk pertempuran sengit namun tetap saja..
Nyawa manusia itu sangatlah berarti..
Rei, Rian dan Iwan berdiri di depan makam seluruh orang yang meninggal..
Keluarga mereka menangis dengan sedih dan suasana duka sangatlah dahsyat..
Awan hitam berkumpul seakan menangis kejadian ini..
Hujan mengguyur seluruh kota pagi itu menutupi air mata yang berjatuhan..
Raja berdiri di paling depan dan menghadap kearah seluruh orang..
Memberikan pidato singkat miliknya tentang pengorbanan dan juga tidak lupa untuk memberikan kompensasi bagi keluarga yang ditinggalkan..
...
...
Setelah menyelesaikan acara pemakaman aku kembali dengan cepat ke istana kerajaan..
Aku menutupi diriku di kamar milik Yuina..
Memandangi sekilas wajah tidur miliknya yang begitu cantik memancar dengan cahaya yang datang dari kelopak bunga yang menjadi tempat tidurnya..
Aku masih berpakaian jas hitam dan bahuku masih dalam keadaan basah karena baru saja pulang dari pemakaman..
Aku mengenggam tangan Yuina dengan pelan merasakan kehangatan..
Keadaannya saat ini lebih baik daripada sebelumnya..
Tapi tetap saja dia tidak bisa bangun..
Inti mana yang menjadi penyimpanan mana telah hancur..
Bagi tubuh penyihir ketika inti mana menghilang maka tempat penyimpanan mana tersebut menyebar ke seluruh tubuh dan secara perlahan merenggut nyawa penyihir..
"Aku akan mencari cara untuk menyembuhkanmu"
"Aku masih ingat dengan janjiku untuk membawa berjalan - jalan di pasar kenyamanan"
"Jadi aku tidak akan membiarkanmu seperti ini sebelum aku menyelesaikan janjiku"
Aku berbicara kepada Yuina..
Walaupun aku tidak tahu apakah dia mendengarkanku atau tidak.. aku tidak peduli..
Aku hanya ingin membicarakan hal tersebut agar hatiku tenang..
(Haha.. Wajahmu penuh dengan sesuatu)
(Maafkan aku untuk lupa memperkenalkan diriku.. Namaku Yuina Klienstar..)
(Aku perlu bantuanmu..)
(Rei kau orang yang begitu baik)
(Maafkan aku)
(Rei lama tidak bertemu)
(Apakah ada sesuatu di wajahku ?)
(Apakah Rei tidak suka dengan gadis gendut ?)
(Nanti kita akan berjalan - jalan lagi)
__ADS_1
Beberapa kenangan kecil mengalir ketika aku bersama Yuina..
Waktu yang aku habiskan cukup singkat jika diingat namun itu sangatlah berarti bagiku..
Aku memegangi tangan Yuina dan menutup mataku dengan pelan..
...
...
...
Rian dan Iwan sedang duduk di lantai dan merasakan dinginnya punggung mereka ketika batu marmer lantai menyentuhnya..
Memandangi dengan kecil pintu yang sedang tertutup di depan mereka tanpa melakukan sesuatu hal apapun..
Mereka sedang putus asa melihat Rei bersedih terus menerus..
Jika begini mereka menjadi susah untuk menghibur dirinya..
"Apakah ada yang bisa kita lakukan untuk Rei" Iwan bertanya dengan kecil kepada Rian..
Rian hanya menatap kosong dan melamun..
Mendengar perkataan Iwan dia begitu bingung untuk menjawab seperti apa..
"Aku tidak tahu"
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Rian..
Tidak ada candaan seperti biasanya yang dimana 'Kau bertanya denganku tapi dengan siapa aku bertanya' tidak keluar dari mulut Rian..
Rian dan Iwan merasakan kehangatan di dekat tangan yang mereka berdua gunakan untuk menyandarkan tubuh mereka..
Rian menoleh disamping tangannya dan melihat cangkir teh hangat telah muncul..
"Bersedih tidak akan menyelesaikan masalah"
Rian mendongak keatas dan melihat Kina berpakaian maid seperti biasa dengan gaya rambut diikat dengan pita membuatnya seperti bando dan penjepit rambut bunga yang dia gunakan.
Lisa perlahan berjalan dengan meletakkan kue kering di dekat Rian dan Iwan..
Lisa memakai maid sama seperti Kina dan memiliki pita sebagai ikatan rambut bergaya side pony tail miliknya..
"Berapa lama Rei sudah di dalam ?" Tanya Lisa..
"Ketika kami pulang dari pemakaman.." Iwan menjawab dengan sedih.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk Rei" Sambung Rian dengan mengenggam erat tangannya dengan kesal.
"Pada akhirnya kita tidak bisa melakukan apapun" Iwan berbicara dengan mata sedih.
"Itu juga berlaku bagi kami berdua.. bodoh" Ucap Kina dengan kesal.
"Aku juga tidak tahu apa yang harus kami lakukan.. jadi kita berada di kapal yang sama" Sambung Lisa dengan memaksakan senyumnya.
Rian mengambil secangkir teh dan menyuruputnya dengan pelan untuk merasakan hangatnya teh lebih dalam.
"Ini enak dan juga hangat.. apakah kau membuat tanaman herbal di dalamnya ?" Tanya Rian dengan penasaran.
"Itu jahe.. bukankah kau suka dengan hal ini" Jawab Kina dengan kesal.
Mendengar hal itu Rian langsung terbesit ingatan kecil miliknya..
"Tunggu.. aku mengingat sesuatu.." Ucap Rian dengan mata lebar..
"Apa yang terjadi denganmu ?" Tanya Kina dengan heran.
"Sial kenapa aku bisa lupa.. dasar diriku idiot"
Rian memukul kepalanya dengan keras karena keidiotan miliknya..
Iwan yang berada disampingnya merasa khawatir..
"Apa yang terjadi ?" Tanya Iwan.
__ADS_1
"Aku tahu sesuatu yang bisa menyelamatkan Yuina" Balas Rian dengan tersenyum bahagia.
...
...
...
Liana sedang berbaring di ruangan miliknya sendiri dan menatap langit - langit kamarnya..
Meletakkan tangannya di matanya untuk menutupi kesedihannya..
Dia tahu sesuatu ini telah diramalkan dari mimpi masa depannya..
Namun dia tidak dapat mengalahkan takdir ini..
Mimpi itu juga terlihat samar - samar hingga dia merasa kejadian ini mirip di mimpinya.
Mimpi dari masa depan hanya akan menjadi mimpi.. namun setelah menjadi kenyataan itu tidak bisa dirubah sedikitpun..
Mirip seperti istilah deja vu..
Deja vu menyadari bahwa kita pernah mengalami sesuatu dari mimpi kita..
Mirip seperti itu..
""Tuan putri..""
Apakah kalian berdua sudah ada di sana sejak tadi..
Hena dan Heni keluar dari balik kegelapan sudut ruangan kamar Liana..
"Apakah luka anda sudah sembuh ?" Tanya Hena dengan penuh perhatian..
Liana melihat luka dibagian perutnya yang dimana tidak ada bekas sama sekali dari pertarungan..
"Seperti yang kalian lihat.. penyembuhan dari gereja sudah sangat kuat" Ucap Liana dengan sedih tanpa ada rasa senang sedikitpun.. "Walaupun begitu mereka tidak bisa menyembuhkan Yuina" Sambung Liana dengan kesal.
"Tuan putri.. saya sangat yakin bahwa tuan putri Yuina akan baik - baik saja.."
"Bisakah kalian tinggalkan aku sendirian"
"Baik.."
Hena dan Heni menghilang dari hadapan Liana dengan cepat.
Liana menatap langit kamar - kamarnya kembali sebelum mendengar suara seseorang mengetuk pintunya..
"Tuan Putri tiga orang itu ingin pergi dari kota kerajaan Klienstar"
Suara ksatria terdengar begitu tergesa-gesa dan suara napasnya tidak teratur terdengar.
Sepertinya dia langsung berlari melapor kepada Liana..
"Tiga orang itu.. siapa ?" Liana mengangkat alisnya sebelum bertanya..
"Tuan Rei, Rian dan Iwan"
Liana langsung kaget dengan mata lebar.
Liana merapikan pakaiannya yang berantakan sebelum berjalan keluar..
"Apakah kau yakin"
"Mereka sedang mempersiapkan kereta kuda saat ini"
"Mereka bertiga ini.."
...
Bersambung..
Oke jangan lupa like ya..
Udah cepat nih updatenya.. :')
__ADS_1