
Kami kembali menuju istana dan selama perjalanan aku menceritakan sedikit tentang bagaimana Melidia bisa ada di punggungku sekarang ini.
Rian yang bertanya membuka mulutnya dengan terkejut.
"Jadi kalian juga diserang"
"Kalian juga ?"
"Yap.. namun aku mengatasi mereka dengan mudah"
"Heh~ Mudah ya ?"
Iwan yang ada disampingnya Rian mencibir dengan sarkas.
Rian mengabaikan Iwan dan kembali fokus menatapku.
"Sepertinya mereka akan merepotkan jika menjadi musuh"
"Nah untuk saat ini mereka tidak akan menjadi musuh"
"Oh syukurlah"
Lily yang dari samping mendengarkan ceritaku hanya dapat memasang wajah sedih.
"Saya akan menambah jumlah orang berpatroli untuk tidak membuat kejadian ini terulang kembali"
Melidia mendengar itu tersenyum kepadanya.
"Terima kasih atas perhatiannya.. tapi tolong jangan memaksakan diri"
"Tuan putri tidak perlu khawatir"
Lily menepuk dadanya dengan percaya diri.
Sepertinya Lily merasa bersalah akan kejadian hari ini mengingat dirinya adalah kapten penjaga.
Ketika kami sampai istana raja yaitu ayahnya Melidia melihat diriku menggendong Melidia membuatnya berjalan mendekati kami dengan terburu-buru.
Ayahnya Melidia bertanya denganku apa yang terjadi dan aku menjelaskannya dengan singkat kepadanya.
Dia menjadi marah mendengar hal itu.
Karena kejadian ini telah membuat Melidia mengalami hal yang serupa kembali.
Namun aku membicarakan sedikit tentang apa yang terjadi selanjutnya dia langsung mengangguk setuju dengan rencanaku.
"Mengirim mereka menuju kerajaan manusia untuk memahami bahwa tidak semua manusia jahat"
"Apakah itu mustahil ?"
"Itu rencana bagus"
"Kalau begitu aku akan membuat surat untuk kerajaan Gainestar"
Aku telah memutuskannya..
Aku tidak mempunyai hak untuk mundur sekarang.
Namun mengingat masih ada yang membuat mendiskriminasi Ras membuatku sedikit kesal.
Hanya perbedaan sedikit membuat mereka di cap makhluk yang berbahaya itu sungguh sangat disayangkan.
Lagipula mereka masih memiliki pikiran layaknya manusia jadi apa bedanya ?.
Setelah berbincang kecil dengan ayahnya Melidia aku kembali menuju kamarku sendiri.
Melidia telah pulih jadi aku menyampaikan perpisahan kepadanya dan membiarkan dirinya beristirahat.
Lily pergi setelah dia mengantar Melidia. Sepertinya dia kembali ke tempatnya bekerja untuk mengatur kembali orangnya untuk menambah penjagaan.
Rian dan Iwan melambai keras kepada Lily karena merasa bebas ketika tidak ada yang mengawasi mereka sekarang.
Aku memutuskan kembali menuju ruanganku untuk beristirahat. Cahaya orange muncul dari jendela kamarku.
Aku memutuskan untuk menulis surat untuk Raja yaitu ayahnya Liana agar mengatur pertemuan bahwa Kerajaan Ras Setengah Binatang ingin beraliansi. Selain itu aku juga menyampaikan tentang Vampire yang akan datang bersamaan untuk melihat kerajaan mereka.
__ADS_1
Aku juga tidak lupa untuk menanyakan kabar mereka dari suratku dan tentunya juga keadaan Yuina sekarang.
Aku menutup suratku dan memasukkannya ke dalam amplop dengan stempel kerajaan yang diberikan Ayahnya Liana kepadaku untuk menandakan bahwa surat ini resmi.
Setelah itu aku menatap keluar jendelaku tanpa sadar langit berwarna orange telah hilang dan memunculkan cahaya bintang yang begitu indah.
Ketika aku menutup jendela kamarku. Seseorang mengetuk pintuku.
Aku berjalan menuju pintu dan membukanya bahwa itu adalah Rian dan Iwan.
Keringat muncul di dahi mereka berdua dengan banyak bahkan membasahi baju mereka.
"Kalian sedang berolahraga ?" Tanyaku kepada mereka dengan heran.
"Kami sedang berjalan-jalan sekitar sini" Jawab Rian dengan santai.
"Dan ternyata tempat ini cukup luas" Sambung Iwan dengan santai juga.
"Lalu kalian tersesat" Sambungku dengan natural.
"Ya kami pun tersesat.. tunggu darimana kau tahu!" Balas Rian dengan kaget.
"Rei.. kau cenayang ?" Iwan menatapku dengan kagum.
Aku sudah menebak pola keidiotan mereka..
Entah aku harus bahagia atau sedih karena ini.
...
...
...
Pagi hari telah tiba..
Kami bertiga sarapan bersama Raja dan Melidia..
"Kami akan berangkat hari ini"
Raja yang sedang makan menjadi kaget.
Aku mengira hanya Raja yang kaget tapi Melidia juga memiliki reaksi yang sama.
"Kami tidak mempunyai waktu untuk bersantai" Ucapku kepadanya.
Melidia menatap kearahku dan bertanya. "Apakah kau mau menetap satu hari lagi ?"
"Maaf.. aku tidak bisa melakukan itu"
"Tidak perlu minta maaf"
"Sebelum itu aku akan memberikan surat ini"
Aku memberikan surat kepada Melidia seperti yang aku janjikan kemarin.
Raja menatapku dengan tersenyum.
"Surat cinta ?"
"B-bukan" Melidia menjawab ayahnya dengan panik.
Ayahnya tersenyum melihat reaksi anaknya yang malu-malu itu.
Aku hanya bisa menggaruk pipiku ketika raja menatapku dengan tersenyum.
Aku hanya berharap semuanya berjalan lancar.
...
...
...
Ketika kami berada di kereta kuda Melidia mengantarkan kami hingga sampai di pintu gerbang benteng.
__ADS_1
"Tolong berhati-hati"
Melidia melihat kearahku dengan memegang dadanya dengan khawatir.
Aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu.
Cahaya pagi yang menerpa dirinya membuatnya terlihat seperti seorang istri yang mengantarkan suaminya pergi. Telinga kucingnya itu bahkan bergoyang seakan menyalurkan perasaannya. Hingga tanpa sadar aku ingin mengelus telinganya..
Tunggu apa yang aku pikirkan.
"Kami berangkat"
Ketika aku ingin mengayunkan tali kuda untuk membuatnya berjalan seseorang muncul untuk mengantarkan kami.
Aku tidak menduga bahwa dirinya juga akan mengantarkan kami.
Rian menjulurkan kepalanya keluar dari gerbong kereta.
"Oh ternyata Lily.. aku tidak menduga kau akan mengantar kami pergi ?"
"Bukankah sudah tugasku untuk mengantarmu.. lagipula kau yang memenangkan pertarungan itu"
Rian menatapnya dengan bingung dengan pernyataan itu.
Karena dia tidak melihat apa hubungannya dengan pertarungan.
"Aku harap kalian sampai dengan selamat" Ucap Lily dengan tersenyum.
Aku mengayunkan tali dan membuat kuda bergerak.
Kami berangkat dengan kecepatan yang cukup santai hingga benteng kerajaan setengah binatang menghilang dari pandangan.
"Dua orang gadis mengantarkan kalian berdua pergi"
Iwan berbicara dengan keras hingga aku dapat mendengarnya.
"Bukankah mereka mengantarkan kita pergi" Balas Rian dengan bingung.
"Bukan kita.. tidak ada kata kita disana.." Iwan membalas dengan sedih. "Kenapa tidak ada gadis yang mengantarkanku"
"Eh!"
Rian masih bingung dengan pernyataan Iwan namun aku tahu alasan kenapa Iwan sedih.
Sebaiknya aku tidak perlu membahas hal ini karena itu hanya akan menabur luka pada garam.
Rian membutuhkan beberapa detik baru mengerti. "Oh.. inilah kenapa tampan itu diperlukan" Ucap Rian terdengar sombong.
"Kenapa tidak ada heroine untukku!!" Iwan berteriak dengan keras hingga hewan yang ada disekitar terkejut.
Bahkan beberapa monster menjadi takut dan pergi..
...
...
...
Bersambung...
Tidak ada heroine bagi iwan disini..
Wkwk..
Sebenarnya aku berniat untuk membuatnya juga.. tapi..
Kalau menambah banyak karakter lagi aku akan kesulitan untuk mengingat mereka..
Kau tahu ingatanku begitu buruk..
"Author jahat T.T" -Iwan
...
...
__ADS_1
Likenya jangan lupa..
Maaf kalau update udah kayak anime seminggu sekali :')