
Malam hari yang begitu indah di lapangan kosong dimana tempat ini adalah tempat kami mendirikan tenda bersiap untuk menyambut malam..
Percikan kecil api unggun yang kami buat untuk menghangat badan kami dan tungku kecil untuk memasak makanan sudah ada di sana..
Cahaya kecil api unggun yang menyinari malam hari ini mengingatkanku akan perkemahan sekolah yang diadakan..
Namun anehnya ini sangat indah karena bintang malam bersinar dengan terang..
Mungkin karena tempat ini masih belum ada yang namanya polusi cahaya jadi bintang terlihat begitu jelas di langit..
"Mendirikan tenda cukup melelahkan" Ucap Rian sambil menyeka dahinya..
"Tapi ini mengingatkanku akan perkemahan sekolah" Balas Iwan dengan tersenyum.
"Haha.. aku ingat siapa yang memasang tenda lalu ambruk"
"Haha.. siapakah itu"
"Geh.. diamlah kalian berdua"
Itu adalah aku..
"Kita masih belum berkenalan" Ucap Rian menatap kearah Melidia..
Melidia mengangguk untuk menyatakan bahwa itu benar..
"Nama saya adalah Melidia Fransies.. senang berkenalan dengan kalian"
Melidia memperkenalkan dirinya dengan begitu anggun..
Karena badannya yang kotornya telah dibersihkan dengan air sungai yang mengalir di dekat sini membuatnya sangat glowing..
Sungguh orang dari dunia lain cuman pakai air aja sudah segini apalagi kalau di bumi..mungkin bisa mengguncang dunia entertainment..
"Nama saya Rian Fadilah.. petualang tampan dan pemberani.. ahli masak dan baik hati"
"Nama saya Jaka Iwan.. petualang hebat dan tampan juga tentunya.. dan sosok pekerja keras"
Mereka berdua mengenalkan diri dengan cara berlebihan..
Aku tahu bahwa mereka ingin menarik perhatian Melidia..
Melidia melihat hal tersebut tersenyum kepada mereka berdua..
"Terima kasih akan sambutan hangatnya"
Rian dan Iwan memiliki wajah memerah melihat senyum lembut yang dilontarkan Melidia kepada mereka.
"Tidak perlu khawatir.. kami siap membantu"
"Jika ada sesuatu katakan saja jangan sungkan"
Aku melihat mereka mengobrol kecil dan aku mengalihkan pandanganku menuju layar hp androidku..
Aku membuka hpku dan melihat gambar yang telah kami ambil sebelumnya..
Dimana Yuina ada disana..
Melihat senyum miliknya di hp android ini membuatku sadar betapa cantik dirinya..
Kenapa ketika kehilangan sesuatu maka baru terasa sakitnya..
Aku harusnya tahu itu..
...
"Apa itu sihir ?"
Melidia melihat kearahku yang sedang membuka hpku..
"Ini bukan apa-apa"
Aku dengan cepat menyembunyikan hpku di balik kantong celanaku..
"Apa sebenarnya itu.. apakah itu jenis batu yang bersinar dan memunculkan gambar ?"
Wajahnya begitu dekat denganku ketika dia bertanya..
Aku memundurkan badanku sedikit untuk menghindari kecanggungan ini..
__ADS_1
"Ahem.. biar aku jelaskan.." Ucap Rian mengambil hp miliknya sendiri "Ini adalah teknologi untuk berkomunikasi, bermain game, berfoto dll" Sambungnya sambil memperlihatkannya..
"Bisakah kau tunjukkan caranya ?"
"Hoh.. dengan senang hati"
Mereka bertiga langsung berbincang tentang hp itu dan aku hanya bangkit dari tempat dudukku dan berjalan sekitar kemah..
Hanya berjalan kecil untuk meredakan kekenyangan setelah makan..
Cahaya sinar rembulan memancar terang cukup untuk melihat daerah sekitar..
Bintang kecil di langit terlihat banyak sekali dan begitu indah..
Berapa kali aku melihatnya ini memang indah..
Berjalan kecil hingga sampai di pinggir sungai yang mengalir..
Suara semilir angin berhembus di hutan yang ada di seberang..
Aku menarik belati milikku..
Aku merasakan sesuatu yang muncul dari seberang sungai ini..
Mata merah muncul dari balik kegelapan dan secara pelan muncul keluar dengan cahaya bulan yang terang..
Aku memperhatikan hal tersebut berpikir bahwa akan ada monster disini..
Namun ketika cahaya bulan menyinarinya itu hanyalah tupai kecil yang memiliki karakteristik seperti mata kucing..
Apaan itu..
Aku pikir aku akan memiliki adegan action disini ternyata tidak..
...
...
...
"Iwan.. saat ini Rei tidak ada disini"
"Aku juga melihatnya"
"Yah aku tahu"
Rian dan Iwan berbicara dengan mata yang begitu sipit dan terlihat seperti orang licik..
Memandangi Melidia ketika berbicara seperti itu membuat Melidia menjadi takut..
Dia sadar bahwa kecantikannya tidak dapat ditahan oleh orang-orang hingga mereka berpikir jahat..
"Anu.. tuan.."
Melidia berbicara pelan dan tanpa sadar melihat sekitar untuk meminta bantuan dan tanpa sadar dia memikirkan untuk meminta bantuan Rei..
"Nona Melidia.. apakah anda menyukai Rei ?"
Pertanyaan Rian muncul menyadarkan dirinya..
Dia menjadi takut akan tatapan mereka berdua dan seketika itu dia menjawab dengan takut..
"Ya.. A-aku menyukainya"
Melidia menjawab seperti itu untuk membuat mereka takut karena sepertinya Rei ini adalah pemimpin mereka berdua..
Jadi menjawab 'ya' adalah hal bagus untuk menghindari permasalahan..
"Seandainya aku yang menyelamatkanmu pertama kali" Ucap Rian dengan sedih.
(Apa yang mereka bicarakan ?)
Melidia menjadi bingung ketika mereka begitu kecewa..
Rian dan Iwan memikirkan rute romantis yang selalu dilakukan oleh seorang protagonis yang menolong seorang budak cantik yang terjadi di anime..
Namun ternyata mereka tidak mendapatkan kesempatan itu..
Hal itu membuat mereka kecewa..
__ADS_1
Yah sayang sekali mereka bukan protagonis jadi.. yah gitu..
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa ditangkap oleh mereka ?" Tanya Rian dengan penasaran..
Karena dia telah mendengar cerita dari mereka yang menyatakan diri mereka menjadi bandit.. ketika sedang nongkrong mereka bertanya tentang hal itu..
"Mendengar cerita dari mereka disana sepertinya kamu menyerahkan dirimu sendiri" Sambung Iwan..
"I-itu"
Melidia memiliki beberapa rahasia tentang kenapa dia rela ditangkap oleh mereka dan dijadikan budak..
Namun dia tidak mau menjelaskan itu kepada mereka karena belum sepenuhnya mempercayai mereka..
Menyadari ekspresi Melidia.. Iwan dengan cepat mengalihkan pertanyaannya.."Apakah di kerajaan ada gadis cantik juga sepertimu ?"
Mendengar hal itu Melidia dengan cepat mengikuti alur..
"Aku pikir ada banyak.. mereka juga memiliki karakteristik unik dari ras mereka" Jawabnya dengan tersenyum.
Mendengar jawaban itu..
Rian menjadi bersemangat..
"Oh.. sudah aku duga.. aku tidak sabar melihatnya"
Rian menjadi begitu bersemangat mendengar hal itu..
Rian dipenuhi dengan imajinasinya memiliki harem dengan gadis dari berbagai ras..
Walaupun itu mustahil dilakukan tapi yah.. berimajinasi tidak bayar jadi apa salahnya ?
...
...
...
Setelah berjalan kecil aku memutuskan untuk kembali..
Ketika aku kembali Rian memiliki mata penuh dengan cahaya yang begitu terang dan wajah penuh dengan semangat..
"Kita akan berangkat menuju kerajaan berbagai ras kan Rei" Tanya Rian yang menyadariku kembali..
Aku bingung dengan pertanyaan yang begitu jelas..
"Bukankah kita melewati kerajaan berbagai ras untuk mencapai hutan berkabut diperbatasan benua iblis.. jadi jelaslah kita harus melewati kerajaan berbagai ras"
"Hutan berkabut.. untuk apa kalian ke sana ?"
"Itu bukan urusanmu" Ucapku dengan dingin.. karena aku terlalu malas untuk menjelaskannya..
"Jelas itu urusanku.. karena hutan berkabut itu saat ini semakin menipis"
"!?"
Aku mendengar Melidia menjadi begitu terkejut..
"Apa yang terjadi ?" Tanyaku kepadanya..
"Kami telah menyelidikinya bahwa hutan berkabut itu terus menipis.. jika terus seperti ini maka jalur itu akan membuka lebar Ras Iblis untuk menyerang"
"Sepertinya aku tertarik dengan ceritamu.. bolehkah aku mendengarnya ?"
Bersambung..
Oh konflik yang bikin penasaran..
Aku jadi pengen tahu apa yang akan terjadi..
"Kau kan authornya pasti tahulah" -Reader
Oh jangan salah.. saya author juga belum tahu apa yang terjadi..
Tapi aku yakin imajinasi kalian kemana-mana nih..
Tapi sebelum itu aku ingin bertanya kepada kalian..
Sebenarnya kalian itu suka dengan cerita yang bersudut pandang orang pertama (aku) atau sudut pandang orang ketiga..
__ADS_1
Karena aku kadang-kadang kalau menceritakan tentang orang lain selain Rei aku selalu menggunakan namanya.. tapi kalau Rei aku pasti akan menggunakan sudut pandang (Aku).. jadi cuma kepengen tahu aja pendapat kalian.. itu aja..
Jangan lupa like ya.. karena semakin ke bawah semakin sedikit likenya :')