
Keesokan harinya..
Yuina menginap satu ruangan denganku..
Namun tidak satu ranjang karena untungnya ada satu kasur lagi di sebelah yang lagi kosong dimana itu memiliki sebuah batas kain yang menghalangi satu sama lain..
Yah..
Kalau satu ranjang itu agak gimana..
Aku merenggangkan tubuhku..
Aku bangun dan sudah melihat Yuina duduk di sampingku..
"Selamat pagi" Ucapnya seraya memberikan senyum indahnya..
Ah...
Hari seperti ini sungguh membuatku berpikir ini adalah mimpi..
Namun sebanyak apapun aku mencubit pipiku..
Ini bukan mimpi..
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu"
"Ah terimakasih"
Aku memakan sarapan yang di berikan..
Waktu berlalu dan aku sudah bersiap untuk pergi..
Aku melihat Iwan keluar dari ruangan miliknya..
Karena ruangan kami berselahan jadi aku mampir untuk menyapa dia..
"Kenapa kau keluar dengan lesu"
"Yah kau tahu Lisa terlalu bersemangat saat sarapan.."
Aku menatap kearah Lisa dan dia terlihat malu malu..
Yuina juga terkejut mendengar hal itu..
Aku yang mendengar hal itu langsung memegang bahunya..
"Kau telah dewasa"
Mendengar hal itu Iwan langsung menyadari bahwa ada kesalahpaham di balik kata kata yang dia ucapkan..
"Yah itu bukan seperti itu.."
"Aku tahu"
Aku mengangguk mengerti..
Iwan hanya menyerah dan tidak melanjutkan lagi..
"Rian belum keluar ?"
Saat aku bertanya seperti itu tidak lama Rian keluar dengan Kina..
Rian keluar dengan terlihat kebingungan..
Kina juga terlihat begitu sedih..
Aku yang melihat Rian mengedipkan mata kanannya tiga kali... aku langsung mengerti..
Aku sudah lumayan lama mengenal Rian jadi kedipan matanya adalah sebuah kode..
"Semuanya ada yang ingin aku katakan" Ucap Kina memandangi kami semua..
Kina terlihat ragu ragu.. namun dia meneguhkan hatinya untuk mengatakannya..
"Rian mengalami lupa ingatan"
Kami semua terkejut mendengar pernyataan itu..
"Rian lupa ingatan..?"
Iwan si idiot tidak mengerti dengan kode yang diberikan..
"Bukankah dia kemarin--"
Aku menyikut perutnya..
"Maaf ini berita yang mengejutkan bagi kami jadi nanti kita membahas ini" Ucapku dengan cepat..
Mengingat tempat kami berada..
Kami memutuskan untuk kembali terlebih dahulu ke istana..
Saat kembali ke istana aku memberitahu kepada mereka bertiga bahwa kami ada sesuatu yang di bahas..
Di kamar Ruanganku..
"Rian katakan sebenarnya ?"
"Ah ini agak sedikit rumit"
Rian akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi..
"Aku tidak tahu kau begitu jenius" Iwan mengungkapkan kekagumannya..
"Sejujurnya aku menyesal"
"Kenapa ?"
"Aku seperti sudah melakukan sesuatu yang mungkin akan aku sesali di masa depan"
Aku mendengar hal itu bisa mengerti..
Pada akhirnya ini merupakan kebohongan yang sangat menyakitkan..
Terutama jika Kina mendengarnya dia mungkin akan tersakiti..
__ADS_1
"Sebaiknya kau memberitahunya lebih cepat karena semakin banyak kebohongan yang kau lakukan hanya akan membuat dirimu masuk ke dalam lubang penyesalan"
Rian terkejut dengan apa yang aku katakan..
"Kata kata mutiara siapa yang kau ambil kali ini"
"..."
"Yah terima kasih untuk itu"
.........
......
...
Yuina, Kina dan Lisa penasaran dengan sikap mereka bertiga..
Bahkan saat orang yang menyelamatkan mereka berkata bahwa mereka terluka parah..
Namun kenyataannya mereka sehat saja jadi mereka penasaran dan memutuskan untuk menguping..
Mereka berada di balik pintu Rei dimana mereka mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan di dalam..
Mereka mendengar sampai akhir apa yang mereka bicarakan..
Yuina dan Lisa perlahan berbalik melihat ke arah Kina yang dimana dia sudah menutup wajahnya yang memerah karena malu dengan apa yang telah dia lakukan..
"Kina kau sungguh berani"
"Diam"
"Aku tidak menyangka bahwa hati Kina begitu baik dan lembut"
Kina semakin memanas..
Wajahnya begitu memerah..
"Aku ingin pergi sebentar"
Kina menghilang begitu cepat..
Yuina dan Lisa ingin menghentikannya namun suara mereka tidak bisa ditangkap oleh Kina..
Mereka berdua saling menatap..
"Sepertinya ini akan menjadi masalah yang rumit"
...
"Sekarang kita harus apa"
"Entahlah"
Aku merebahkan diriku di kasur..
Aku orangnya agak terlalu malas saat di tanya.. 'hei kita mau kemana habis ini ?'.. dan aku pasti akan menjawab 'Eh aku mau pulang dan tidak melakukan apa apa..'
Seperti itu..
Mungkin iya namun tidak terlalu juga..
Yah.. aku cuma malas melakukannya saja..
"Aku mau ganti tamengku yang rusak.. bisakah kalian menemaniku"
Aku baru ingat bahwa tameng milik Iwan rusak..
"Aku juga harus memperbaiki pedangku yang retak setelah pertempuran berat itu"
Aku hanya tersenyum kecut saat Rian berkata pertempuran berat..
Karena pada akhirnya kami menang hanya karena keberuntungan..
"Ayo Rei kita berangkat"
"Eh.. padahal kita baru sampai.. dan aku juga ingin istirahat"
Rian dan Iwan langsung mendekat ke arahku..
Rian memegang kedua tanganku dan Iwan sudah memegang kakiku..
Mereka langsung mengangkatku dan membawaku dengan paksa..
"Oi kalian vangke"
Mereka berdua hanya tertawa melihatku seperti ini..
Yah..
Ini juga alasan kenapa aku tidak bisa menjadi seorang hikikomori..
...
Saat Rian berada di depan pintu..
Dia langsung melepaskan tanganku yang lagi diangkat..
Alhasil kepalaku langsung terbentur lantai..
Rian yang meraih gagang pintu baru menyadari bahwa dia melepaskan pegangan tangannya denganku..
"Maaf Rei.. aku mau buka pintu jadi lupa.. hehe.."
Rian tertawa dengan pelan..
Aku langsung memegang kepalaku dan menatapnya.. "Kau siapa ?"
Rian mendengar hal itu langsung teringat acting yang dia lakukan..
"Sialan kau Rei.."
Iwan mendengar hal tersebut langsung menjadi kaget dan sedih..
"Rei kau benar benar lupa ingatan"
__ADS_1
"Aku tidak mengingat apa apa.. siapa kamu ?"
"Namamu ada Rei.."
"Hei kalian vangke.. bisakah kalian menghentikan itu.. aku jadi malu sialan.." Ucap Rian dengan marah dengan wajah memerah..
Aku dan Iwan langsung tertawa..
"Itu adalah scene kebodohan Rian paling hakiki"
"Sialan.."
Rian tidak bisa menyanggah apa yang aku katakan.. karena itu semua benar..
Setelah itu kami berjalan keluar dan meminta ijin kepada Yuina bahwa kami akan keluar untuk membeli peralatan petualang..
Yuina mengangguk mengerti dan hanya bilang untuk berhati hati..
Kami bertiga berjalan..
Berjalan..
"Hei kalian tahu dimana tempatnya kan" Aku berkata dengan penasaran..
Mereka berdua terkejut mendengar hal itu..
"Tentu saja aku tahu benarkan Iwan"
"Kau siapa ?"
"Tolong hentikan sudah..-_"
Aku hanya mengikuti Rian di belakang..
Karena aku tidak tahu toko petualang dimana..
Rian berhenti dan melihat sekitar lalu dia melihat ke atas palang dimana itu tertulis toko peralatan petualang..
Rian menjadi gembira..
"Nah benarkan"
Aku sangat yakin dia berjalan tanpa tujuan dan hanya melihat lihat palang..
Saat dugaan dia benar dia menjadi bahagia..
-_-
Kami masuk ke dalam toko tersebut dan ada seseorang pemuda seumuran kami sedang berjaga..
Dia melihat kami langsung kaget dan sekaligus bahagia..
Rian juga menjadi kaget dan menunjuk kearahnya..
"Hanura"
"Namaku Hiura -_"
Sepertinya mereka berdua mengenal satu sama lain..
"Aku mendengar kalian bertarung melawan serigala api apakah kalian sudah baik baik saja" Kata Hiura dengan khawatir..
"Kami baik baik saja.. serigala kecil itu bukan apa apa bagi kami" Jawab Rian dengan bangga sambil menggosok hidungnya..
"Sudah kuduga kalian hebat" Ucapnya dengan kagum..
Aku yang mendengar hal itu hanya bisa malu..
Karena itu tidak sesuai dengan kenyataannya..
"Ada perlu apa kalian ?"
"Oh kau ada berjual tameng" Tanya Iwan.
"Tameng ada.. ikuti aku.."
Kami mengikuti dia dimana tempat tameng itu berada..
Tameng tertata rapi dengan begitu bagus di dinding..
Ada yang bentuknya bulat ada juga bentuknya kotak.. dan berbagai macam bentuk lainnya..
"Hei kau juga punya pedang" Tanya Rian..
"Pedang ada juga"
Hiura menunjuk ke arah pedang yang ada..
Tapi Rian menatap itu dan tidak terlihat tertarik..
"Apakah kau punya pedang sihir" Tanya Rian lagi..
Mendengar hal itu Hiura menjadi diam..
"Pedang sihir.. aku tidak pernah menyangka ada orang yang bertanya seperti itu"
Suara itu datang dari balik pintu dimana ruang tersebut merupakan tempat penempaan dan pandai besi bekerja..
Orang tersebut keluar dan terlihat badan kekar miliknya di penuhi dengan keringat di seluruh tubuhnya..
Orang tersebut memegang palu di tangannya dan menatap ke arah kami bertiga..
Bersambung..
Note author :
Akhirnya pria berotot datang lagi..
Gahaha...
Siapakah dia ? :v..
Wah sudah 30 aja nih chapter :')..
Tetap suport aja ya supaya semakin semangat nulisnya oke..
__ADS_1