Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Akan Lebih Bagus Tamat Disini :v


__ADS_3

Hutan yang begitu lebat terlihat seekor monster yang sedang berlari begitu cepat..


Monster ini memiliki ukuran sangat kecil..


Memiliki penampilan seperti tikus namun memiliki banyak taring dimulutnya.. kakinya ada delapan di kedua sisi tubuhnya..


Matanya berbentuk mata elang yang begitu tajam untuk melihat sekitar tempat hutan ini..


Matanya juga dapat melihat seperti kamera inframerah yang berfungsi untuk menyimpan informasi tempat yang dia datangi..


"Hei kita sudah memeriksa tempat ini sebelumnya"


"Aku merasakan gerakan disekitar sini"


"Mungkin hanya perasaanmu saja"


"Kau benar"


Pasukan patroli akhirnya pergi..


Monster tersebut bersembunyi dibalik pohon yang memiliki rerumputan yang tinggi..


Itu hampir saja..


Jika seandainya dia tidak menyadari kedatangan mereka mungkin dia akan mati..


Mengingat dia bukan monster tipe bertarung..


Sungguh monster yang beruntung..


Monster tersebut melanjutkan tugasnya dan hanya beberapa menit kemudian dia telah menyelesaikan tugasnya untuk membaca medan tempat di sini..


Langit sudah menunjukkan waktu sore saat itu..


...


...


...


...


Malam hari yang indah terlihat di istana..


Bintang yang begitu banyak diangkasa terlihat begitu indah dan juga begitu terang..


Cahaya bulan bersinar menerangi balkon istana yang dimana di sana terlihat seorang pemuda berambut pendek bermata hitam dan sorot matanya yang terlihat begitu mengagumi bintang di langit.


Pemuda itu adalah Rei..


Rei merogoh saku miliknya dan mengeluarkan hp android miliknya..


Dia menyalakan hp miliknya dan memasuki ke mode kamera..


Dia mengarahkan hp nya keatas dan memotret bintang yang begitu indah di langit..


Hp Rei memiliki kecanggihan dalam hal spesifikasi oleh karena itu dia dapat memotret dengan hasil yang bagus.


"Jika di kota besar mungkin pemandangan ini tidak akan sering muncul" Ucap Rei dengan pelan.


Rei mengagumi hasil gambar yang dia potret..


"Apa yang sedang kau lakukan di sini sendirian ?"


Rei berbalik melihat ke belakang yang dimana itu adalah Yuina yang mengenakan gaun tidur berwarna putih miliknya..


Rei secara perlahan menundukkan kepalanya untuk tidak melihat sosok Yuina yang begitu cantik dengan hal itu..


"Aku sedang memotret bintang"


"Memotret ?"


Rei menyadari bahwa kata - katanya tidak dipahami oleh Yuina.


"Mungkin lebih baik jika kau melihatnya sendiri" Ucap Rei seraya memberikan hp android miliknya..


Yuina langsung terkejut dan sekaligus bersemangat akan hal ini..


"Ternyata ada fungsi seperti ini" Ucap Yuina dengan bersemangat..


"Ini hal yang biasa dilakukan jika di duniaku untuk membuat momen yang harus dikenang menggunakan alat ini" Jelas Rei dengan tersenyum.


Yuina langsung memotret Rei yang terlihat sedang menjelaskan itu tanpa sepengetahuan Rei..


"Fufu~ wajahmu terlihat lucu"


"Hei jangan seenaknya memotretku"


"Hei aku juga bisa memotret diriku dari depan"


"Oh itu fungsi dari kamera depannya"


Lalu Yuina mencoba memotret dirinya sendiri..


"Aku terlihat kaku"


Rei ingin ikut melihat hasil potret Yuina namun Yuina dengan cepat mengalihkan layar hpnya..


Yuina begitu cepat beradaptasi dengan hal ini..


"Hei bagaimana jika kita memotret diri kita berdua"


Rei yang mendengar hal itu langsung terkejut akan pernyataan milik Yuina..


"Aku tidak percaya diri akan hal itu"


Rei menyadari bahwa dirinya tidak terlalu cocok untuk difoto karena wajahnya yang begitu suram dan mungkin hanya akan merusak suasana jika dia ikut..


Itulah kenapa foto yang ada di hp Rei hanya berisikan gambar pemandangan atau gambar anime yang sering dia tonton..


Sebagian dari foto dirinya sendiri hanya sedikit.. mungkin bisa dihitung pakai jari..


"Ku mohon sekali saja"


"Tidak itu memalukan"


...

__ADS_1


...


...


"Si Rei kemana ?" Tanya Iwan.


"Kau bertanya denganku namun dengan siapa aku bertanya ?" Balas tanya Rian.


"Good Question" Jawab Iwan.


Rian dan Iwan kesana kemari mencari Rei di istana yang begitu besar ini..


Mereka bahkan memeriksa tempat yang mungkin dikunjungi oleh Rei namun mereka tidak menemukannya di sana..


Hanya satu tempat yang masih belum mereka periksa..


Ketika mereka diujung belokan untuk ke balkon istana kerajaan dan mereka melihat Rei sedang bersama dengan Yuina..


Mereka berdua saling menatap satu sama lain sebelum tersenyum..


"Sepertinya Rei sedang senang" Ucap Iwan dengan pelan.


"Aku bisa melihatnya juga" Balas Rian.


"Syukurlah"


"Yah itu hal yang patut disyukuri mengingat Rei sudah kehilangan orang yang dia cintai.. dengan ada keberadaan Yuina di sini mungkin bisa menyembuhkan hati Rei"


"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan ?"


"Itu tentang-- tunggu suara itu.." Ucap Rian dengan kaget.


Rian dan Iwan secara reflek berbalik ke belakang dan melihat Kina dan Lisa sudah ada di dekat mereka..


"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan sebelumnya ?" Tanya Lisa dengan heran.


"Sstt.. tolong pelankan suara kalian"


Lisa dan Kina mengintip kearah dimana mereka melihat..


"Oh itu tuan putri.. lalu apa yang kalian bicarakan sebelumnya" Sambung Kina.


"Kalian berdua mendengarnya ?" Tanya Rian.


""Begitu jelas"" Balas mereka secara bersamaan.


Rian menghela napasnya sebelum dia ingin mengatakan sesuatu kepada mereka berdua..


Ini menyangkut masa lalu Rei jadi bisa kalian tebak kenapa Rian begitu gugup untuk membicarakan hal ini..


Iwan yang ada disampingnya juga tidak dapat menahan diri untuk tidak menelan ludah dengan gugup..


"Aku tidak bisa.. Iwan tolong ceritakan"


"Tunggu kenapa jadi aku ?"


Rian dan Iwan menatap dalam waktu yang cukup lama sebelum mereka mengangguk secara bersamaan..


"Ini sedikit sulit untuk diceritakan dan juga aku takut Rei akan marah" Ucap Rian dengan pelan.


"Bukankah kalian sering menganggunya dan membuatnya marah" Balas Kina dengan kesal karena membuat dia menunggu dan mendapatkan jawaban yang singkat ini.


"Kami tidak berani untuk menceritakan luka teman kami.. jadi tolong mengertilah" Sambung Iwan dengan keren.


"Jika kalian tidak mau terserah.. lagipula kami tidak memaksa kalian" Ucap Lisa dengan sedikit kesal melihat mereka.


Kina juga masih belum puas dengan jawaban mereka karena dia masih penasaran akan hal itu. Namun mendengar Lisa berkata seperti itu dia hanya bisa mengurung niatnya untuk ingin tahu.


Rian dan Iwan bernapas lega untuk hal itu..


Rian dan Iwan secara perlahan mengintip kembali kearah Rei dan mereka menyadari bahwa Rei sedang melihat kearah mereka..


"Kita ketahuan.."


...


...


...


Aku menyadari bahwa ada seseorang dari balik persimpangan tersebut..


Ketika aku berusaha untuk berpikir bahwa itu cuman perasaanku saja tapi setelah melihat kepala Rian dan Iwan yang menjulur secara perlahan di sana..


Membuatku yakin itu bukan hanya sekedar perasaan..


Mereka berdua dengan cepat kembali bersembunyi di sana seolah aku tidak melihat hal itu..


Yuina menyadari tatapanku dan bertanya. "Apakah ada sesuatu di sana ?"


"Yap itu adalah Rian dan Iwan"


"Kalau begitu bisakah kita foto bersama"


"Itu--"


"Rian dan Iwan tolong kemari kita akan berfoto bersama"


Belum sempat aku berbicara Yuina telah memanggil mereka dengan penuh semangat.


"Aku tahu kalian di sana"


Rian dan Iwan secara perlahan keluar dan kemudian diikuti oleh Kina dan Lisa di sana..


Aku tidak mengerti mengapa mereka juga ada di sana ?


"Lisa dan Kina.. kebetulan sekali kalian ada di sini.. ayo mari kita berfoto bersama"


""Foto ?""


...


Setelah itu kami berbaris memanjang di balkon istana yang dimana tempat ini begitu besar hingga dapat menampung kami semua..


Hp milikku aku letakkan di kursi yang berfungsi untuk tempat sandaran sebagai foto kami semua..


"Semua tolong siap siap.. aku akan mengaktifkan potret hitung mundur" Ucap Rian dengan bersemangat..

__ADS_1


Lalu kami bersusun dengan rapi yang dimana aku berada di samping Yuina kala itu dan di sebelahku adalah Iwan..


Lalu disebelah Yuina adalah Kina dan Lisa..


Rian menekan layar hpku dan dengan cepat berlari dan berdiri di samping Iwan..


Layar hpku berkedip dan foto kami berhasil tanpa aku sadari..


Apakah aku tadi tersenyum ?


Apakah fotoku sudah bagus ?


Aku tidak terlalu yakin dengan gayaku apakah bagus ?


"Rei terlihat kaku.. hahahaha" Ucap Rian tertawa dengan hebat.


"Woah kayak patung" Sambung Iwan dengan kagum.


"Oh seperti ini namanya foto" Ucap Lisa yang akhirnya mengerti.


"Hei aku mau liat" Sambung Kina yang berusaha untuk melihatnya.


Mereka semua berebut untuk melihat hasilnya..


Aku hanya bisa tersenyum kecut akan hal itu..


Yuina melihat kearahku dan tersenyum..


"Ini akan jadi kenangan yang bagus bukan ?"


"Kau benar"


...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


"Tuan monster telah membaca semua medan yang ada di ibukota" Ucap pembawa pesan dengan memberikan hormat.


"Kerja bagus"


Seorang lelaki duduk dengan arogan di singgasana miliknya..


Pemuda ini adalah Kakaknya Drian..


Leon..


Seorang wanita cantik berambut silver dan bermata merah darah sedang duduk dipangkuannya..


"Rencana tuan sudah mulai berjalan"


"Ini berkatmu" Balas Leon dengan tersenyum bahagia.


Wanita membalas senyuman milik Leon..


"Tidak itu tidak benar tuan"


"Jangan merendahkan dirimu Serlia.. kau adalah wanitaku yang telah membantuku untuk mewujudkan mimpiku.. jika mimpiku terwujud maka aku akan membantu mimpi milikmu"


"Terima kasih tuan"


Serlia tersenyum dengan lembut..


...


Sekarang tirai kehancuran akan terbuka..


...


Bersambung..


Terima kasih atas dukungannya semua..


Sekarang saatnya kita tamat sampai di sini..


Maafkan aku karena menggantung cerita ini sampai di sini. Karena nanti aku akan sibuk dengan cerita yang satunya... yaitu Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Kultivasi..


Silahkan dicek..


Jadi mohon maaf kare--


*Plak.. (Sendal melayang)


Hei siapa yang ngelempar itu..


"Tolong jangan bercanda author kampret"


Oh maaf..


Itu bukan bercanda..


"Ternyata beneran !?"


Tapi boong..


-_


Oke itu aja lawakan hari ini terima kasih..


"Gak lucu kampret"


Tolong Like Oke..

__ADS_1


:'v


__ADS_2