Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Setelah pertarungan terbitlah keindahan..


__ADS_3

Nikky dengan cepat menuju tempat temannya yang dimana dia perintahkan untuk menangkap Rian dan Iwan.


Dia berharap belum terlambat untuk menghentikan mereka melakukan aksinya.


Dia begitu terburu-buru melewati berbagai rintangan bangunan yang ada hingga akhirnya dia sampai ke tempat tujuan.


Ketika sampai dia tidak berharap bahwa perkelahian telah terjadi dan dia juga tidak menyangka temannya sudah jatuh ke tanah dengan menyerah.


"Apa yang--"


Dia tidak menyangka bahwa temannya kalah dengan patahan pedang terlihat di depan temannya.


...


...


...


Rian telah mengalahkan lawannya yang sangat mustahil dia kalahkan.


Jika seandainya saja pedang lawannya tidak patah kemungkinan besar bahwa dia yang akan menang.


Rian sangat bersyukur pedang pemberian dari ayahnya Hanura ini sangat cocok dengan kondisi dual Classnya.


Tunggu namanya Hiura apa Hanura ?


Ketika dia memikirkan hal itu seseorang datang kearahnya..


Atau lebih tepatnya dia datang membantu temannya.


Rian mengarahkan kembali pedang miliknya dengan panik.


Karena kecepatan orang ini muncul begitu cepat hingga matanya saja tidak dapat melihat kapan dia datang.


"Aku tidak memiliki niat bertarung"


Mendengar perkataan itu Rian bernapas lega. Namun dia masih tetap waspada karena ada kemungkinan itu adalah tipuan.


"Kita akan mundur"


"Maafkan aku karena tidak menjalankan tugas dengan baik"


"Sudah diamlah"


Mereka berdua langsung menghilang dari hadapan Rian.


Anak buahnya juga ikut menghilang dan pergi dengan begitu cepat.


"Sepertinya mereka takut dengan kekuatanku"


Rian dengan santai mengucapkan hal tersebut ketika musuhnya telah menghilang.


Iwan yang mendengar hal tersebut agak kesal dan hampir melempar mulutnya itu dengan sendal namun dengan berbagai cara dia dapat menahannya..


...


...


...


[Kembali ke Rei]


Aku dengan cepat meminum ramuan penyembuh walaupun aku tidak terluka berat namun banyak luka goresan terlihat di tubuhku.


Luka tersebut perlahan menghilang seolah bekas luka itu tidak pernah ada di sana setelah meminum ramuan.


Sungguh dunia fantasy ini terlalu mengerikan.


"Apakah kau bisa berdiri ?"


Aku bertanya kepada Melidia yang masih dalam tahap menyembuhkan dirinya.


"Aku rasa"

__ADS_1


Melidia menjawab dengan cepat dan berusaha untuk berdiri namun masih terlihat terhuyung ketika dia ingin berjalan.


Aku yang melihat dia memaksakan diri hanya bisa menghela napas dengan berat.


Aku membungkukkan badanku kepadanya.


"Apa yang kau lakukan ?"


Melidia menanyakan sesuatu yang sudah jelas apa aku lakukan.


"Aku akan menggendongmu"


"Aku baik-baik saja"


"Cepatlah.. aku tidak ingin membuat kesalahpahaman ketika orang melihat kita berlama-lama di gang sempit ini"


Mendengar perkataanku Melidia langsung tersipu dengan wajah yang begitu memerah.


Dia menatapku dengan tajam terlihat begitu kesal.


"Siapa yang pertama kali mengajakku ke sini ?"


Aku baru menyadari hal itu.


Aku yang menyarankan datang ke sini ketika aku merasa diikuti oleh seseorang.


Karena sepertinya akan menjadi masalah jika membiarkan orang tersebut terus mengikuti jadi aku berpikir untuk melawannya di gang sempit ini..


Tapi siapa sangka ide itu hampir membuatku kalah dalam pertarungan satu lawan satu dengannya.


Sepertinya aku terlalu menyombongkan kekuatanku hingga lupa bahwa diatas langit ada langit.


"Maafkan aku"


Aku meminta maaf dengan tulus kepada Melidia. Karena itu memang salahku.


"Tidak itu bukan salahmu.. lagipula mereka mengincarku jadi itu salah mereka oke.."


Melidia tiba-tiba menjadi lembut ketika aku meminta maaf dengan tulus.


"Apakah kau yakin ?"


Melidia masih terlihat ragu.


"Sangat yakin"


Melidia merangkul tangannya di leherku dan memasrahkan tubuhnya untuk aku gendong.


Aku dengan hati-hati bangkit dengan pelan dan merasakan sesuatu yang begitu lembut di punggungku.


Ini cukup menyenangkan..


Tunggu apa yang aku pikirkan ?.


Aku berjalan keluar dari gang dengan tatapan semua orang langsung mengarahkan kepadaku.


Aku hanya bisa tersenyum ketika hal itu terjadi dan membiarkan imajinasi mereka melakukan pekerjaannya.


"Apakah aku berat ?"


Melidia bertanya dengan pelan dari belakang punggungku dengan mulutnya begitu dekat dengan telingaku.


Suaranya yang begitu lembut menerkam telinga kecilku hingga merasakan geli karena tidak terbiasa.


"Tidak terlalu"


Aku menjawab dengan tenang tanpa rasa gugup dipermukaan. Namun sebenarnya aku sangat gugup didalam karena suaranya lembut dan tekanan yang begitu halus di punggungku membuatku tidak dapat berpikir dengan tenang.


Sudah sangat lama aku tidak menggendong seseorang di punggungku.


Kapan terakhir kali aku melakukannya ?


Sejak teman masa kecil meninggalkanku ?

__ADS_1


"Maafkan aku.. karena kalah dalam pertarungan"


Melidia meminta maaf dengan suara begitu sedih.


"Itu bukan salahmu.. lagipula musuhnya memang terlalu hebat"


Melidia kembali diam dan aku juga tidak mengatakan apapun lagi.


Aku terus melanjutkan perjalananku hingga tanpa sadar kami sudah sangat dekat dengan tempat pertandingan.


Terlihat dari kejauhan Rian dan Iwan saling berbicara dengan Lily yang masih bersama mereka.


Sepertinya pertandingan telah selesai.


Dan sepertinya Rian yang menang melihat dari wajah Lily yang tersipu malu di dekat Rian.


Namun Rian tidak menyadari hal itu karena terlalu sibuk berbicara dengan Iwan.


Entah apa yang mereka bicarakan.


Ketika aku cukup dekat dengan mereka Rian dan Iwan akhirnya menyadari kedatanganku dan tersenyum melihat situasi dimana Melidia yang ada di belakangku.


"Hei.. bagaimana pertandingannya ?" Tanyaku kepadanya untuk mengalihkan perhatiannya.


"Cukup baik.. kau lihat aku menang" Jawab Rian dengan senang.


"Itu hanya hoki" Balas Iwan dengan tidak senang.


"Matamu!"


Rian melihat kearahku dan tersenyum. Aku tahu apa yang ada di pikirannya ini.


"Lalu bagaimana dengan kencannya ?" Rian bertanya dengan senyum menempel di wajahnya.


"Kami hanya berbelanja"


"Benar berbelanja.. maaf lidahku terpeleset" Ucapnya dengan wajah yang begitu bahagia.


Aku sangat kesal hingga ingin memukul kepalanya namun karena tanganku masih memegang Melidia di belakang.


Tunggu tanganku juga ikut memegang sesuatu yang lembut juga.. sial.. aku lupa bagian itu karena terlalu fokus dengan sesuatu yang lembut di punggungku.


"Kenapa tuan putri ada di belakangmu ?" Iwan yang ada di samping Rian tidak tahan untuk tidak bertanya.


Rian yang mendengar hal itu matanya langsung bercahaya menatapku.. Seolah berkata 'Aku juga ingin tahu itu'


"Sesuatu terjadi tapi sepertinya bukan saatnya untuk menjelaskan itu di sini" Ucap Melidia dengan wajah memerah.


Aku yang mendengar hal itu baru menyadari bahwa tatapan mata jatuh kepada kami semakin banyak.


Sepertinya menggendong tuan putri cukup menarik perhatian orang-orang.


"Mari kita kembali ke istana terlebih dahulu" Ucapku kepada mereka.


...


Bersambung..


[Ruang curhat pemain]


"Aku masih ingin mendengar cerita heroik kencan Rei malah bersambung aja.. Dasar author idiot" -Rian


"Oi.. sabar ngab.. ini juga namanya teknik marketing dalam penulisan.. biar pembaca tetap stay disini untuk kelanjutannya nanti" -Author


"Author kita tidak hanya idiot tapi juga licik" -Rian


"Ini diperlukan untuk bertahan di dunia yang kejam ini.. Dengar dunia ini memiliki bany--"- Author


"Mulai dah ceramahnya" -Rian


....


Yah pokoknya gitu.. Jangan lupa likenya ya.. :') Votenya juga yah.. biar ada sedikit semangat untuk update :')

__ADS_1


:')


__ADS_2