
[Sudut pandang orang ketiga]
Rian dan Iwan membantu Rei agar pasukan dari orang itu tidak mengganggu pertarungan antara dia dengan pemimpinnya.
Rian dengan pedang yang telah disiapkan sebelumnya langsung menghadang orang yang berkumpul disekitarnya.
Dengan kekuatan sihir dia mengatur tanah sedikit terguncang di sekitar tempat musuhnya berpijak..
Orang yang mendekatinya kehilangan keseimbangan ketika berjalan dan Rian mengambil kesempatan ini untuk menyerang kearah pasukan yang datang kepadanya.
Pertarungan terjadi namun Rian tidak terlalu kesulitan untuk mengatasinya.
Iwan yang berada di sisi berbeda menarik semua perhatian orang kearahnya dengan menggunakan Skill [Taunt] yang merupakan skill untuk menarik perhatian musuh kepadanya.
Dengan kekuatan perisai dia menghempas orang yang mendekatinya dengan tamengnya.
Namun dia menggunakan skill [Air Shield] pertahanan yang muncul di udara dibuat untuk membuat pembatas diantara dirinya dengan mereka.
Oleh karena itu dia dapat bebas menyerang mereka tanpa harus khawatir diserang secara bersamaan..
Elf yang datang membantu membawa Hewan yang mereka sebut dengan Kekuatan Roh untuk membantu namun..
"Mereka membawa kristal anti roh dengan mereka"
"Sial Rohku telah lari ketakutan"
Mereka tidak cukup berguna..
Kristal anti roh yang mereka sebutkan memiliki efek dimana itu akan menangkap Roh ketika bersentuhan dengan kristal tersebut.
Oleh karena itu Roh sangat ketakutan..
Namun beberapa Elf masih membantu dengan panah mereka dari jarak yang jauh.
Pertarungan dapat dikendalikan oleh tiga manusia yang datang dengan kekuatan dan keahlian bertarung yang luar biasa.
Karena pengalaman mereka bertiga ketika dikepung dan dikejar oleh banyaknya monster membuat mereka beradaptasi dengan jumlah musuh yang begitu banyak.
Hanya selang beberapa menit setelah pemimpin mereka dibunuh oleh Rei..
Pasukan milik musuh mulai goyah dan perlahan semangat bertarung mereka mulai menghilang.
Jumlah korban dari musuh hanya satu..
Hanya pemimpin yang dibunuh oleh Rei..
Sisanya hanya terluka parah dan beberapa juga terluka ringan..
"K-kami menyerah!"
"T-tolong jangan bunuh kami"
Musuh mulai memelas untuk nyawa mereka ketika Rian, Iwan dan Rei berdiri menatap mereka yang menundukkan kepala dan meletakkan senjata mereka.
"Aku tidak akan membunuh kalian jika berjanji untuk tidak datang kesini lagi"
Rei berusaha berbicara dengan nada yang cukup dalam agar dia dapat menanam apa arti takut sebenarnya kepada mereka.
"Kami tidak akan!"
Semua berseru dengan takut dengan wajah yang tertunduk dan tanpa sedikitpun keberanian untuk menatap wajahnya.
"Sebelum pergi.. aku ingin tahu dari kerajaan mana kalian datang"
"Kami datang dari kerajaan Gainiver"
"Gainiver!"
[Pov kembali ke Rei]
Aku mendengar bahwa kerajaan Gainiver merupakan kerajaan yang sangat kejam dan haus akan kekuasaan..
Alasan mereka melakukan peperangan dengan kerajaan Maister juga karena menginginkan sumber daya yang ada di wilayah tersebut.
__ADS_1
Aku menjadi ragu apakah aku harus membebaskan mereka karena ada kemungkinan mereka kembali dengan pasukan lebih banyak dan tentunya dengan orang kuat merepotkan lainnya.
Apa yang harus aku lakukan ?
"Apakah kalian ada sihir untuk menghapus ingatan seseorang ?" Aku bertanya kepada Felisha yang ada di dekatku.
"Kami memiliki kekuatan roh yang bisa melakukan itu"
"Oh begitu.. maka ini akan baik-baik saja"
Setelah itu aku menyerahkan semua urusan tersebut kepada Felisha dan Elf lainnya.
Karena ini masalah mereka maka akan lebih baik diurus oleh mereka.
Ketika aku ingin pergi seorang lelaki Elf yang begitu tua dengan rambut putih di kepalanya menghentikan diriku.
"Terima kasih karena telah membantu kami.. dan juga saya mohon maaf karena perlakuan kami kepada kalian"
"Tidak perlu dipikirkan.. tapi aku harus akui kalian harus merubah peraturan itu.. eksekusi itu cukup mengerikan"
"Saya minta maaf"
Lelaki yang begitu tua dariku menundukkan kepalanya dengan begitu penuh penyesalan.
Aku bukanlah orang yang kejam terhadap orang tua hingga tidak memaafkan mereka.
"Tidak apa-apa.. aku juga sudah melupakan itu"
"Kami harus berterima kasih kepada kalian jadi akan sangat bagus jika kalian ikut dalam perayaan kemenangan ini"
"Itu--"
Aku melihat Rian dan Iwan yang ada disampingku menjadi begitu bersemangat ketika mendengar itu.
Aku tahu ini akan mengarah kemana.
"Kita tidak bisa menolak kebaikan seseorang"
"Benar.. bagaimana bisa kita menolak kebaikan seseorang"
Hah~
"Saya akan terima undangannya dengan senang hati"
...
...
...
Malam hari yang begitu cerah dengan bintang di langit berkumpul di tengah hutan yang begitu tinggi dan besar disekitarnya.
Api unggun yang telah dibuat begitu besar untuk perayaan kemenangan yang telah terjadi..
Semua orang tampak sibuk mengobrol senang dan bahkan ada yang menari disekitar api unggun dengan pasangannya.
Rian dan Iwan saat ini sedang diajak ngobrol oleh orang-orang yang ada disekitarnya.
Mereka berdua senang menceritakan kisah hidup mereka sampai di sini..
Sebagian dari yang aku dengar dari mereka jauh dari kenyataan dan fakta.
Namun aku terlalu malas mendengarnya hingga aku menjauh dari mereka.
Menikmati malam dengan secangkir gelas anggur di tanganku.
Wajahku terpantul dari air yang ada di gelas menampil wajah yang begitu biasa tanpa ada perubahan emosi sedikitpun.
Aku terlalu tenang ketika membunuh manusia..
Bahkan Rian dan Iwan tidak terlalu peduli akan hal itu dan hanya bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
Apakah aku terlalu terbenam dengan dunia ini sekarang ?
__ADS_1
Apakah aku masih bisa kembali hidup normal ketika kembali ke bumi ?
"Apa yang terjadi ? apakah makanannya tidak sesuai seleramu ?"
Suara seorang gadis menyadarkan diriku dari lamunanku.
Aku melihat kearahnya dan ternyata itu adalah Felisha.
"Tidak itu sangat enak.. terima kasih atas makanannya"
"Baguslah kau menyukainya"
Felisha menarik rambutnya ke belakang telinganya dan menampilkan telinga panjang khas milik Elf.
Gerakan itu cukup mempesona hingga aku tanpa sadar menatapnya.
"Terima kasih telah membantu kami"
Felisha menundukkan kepalanya kepadaku dan mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih karena telah membantu kami keluar dari penjara.. jadi secara tidak langsung kau juga berperan dalam kejadian ini.. jadi ini hanya hubungan simbiosis mutualisme"
"Simbiosis mutualisme ?"
Sial tanpa sadar aku berkata melalui ungkapan pelajaran biologi.
"Hubungan yang saling menguntungkan.. itu istilah pelajaran dari tempatku"
Aku tidak bisa mengungkapkan aku dari dunia lain karena itu cukup merepotkan untuk menjelaskannya.
"Aku semakin penasaran.. apakah ilmu pelajaran di kerajaan manusia berbeda dengan di Elf ?"
"Aku tidak yakin.. tapi kenapa kau ingin tahu ?"
"Aku guru disini jadi wajar untuk ingin tahu tentang hal itu"
"Kau guru ?"
"Kau tidak percaya aku guru"
"Sepertinya muridmu mengalami kesulitan"
"Apa maksudmu ?"
"Memiliki guru yang galak sepertimu"
"Hah!"
Sejak itu aku menyesal mengatakan itu..
Dia marah kepadaku malam itu dengan menceramahiku dengan berbagai hal..
Sungguh gadis yang galak itu mengerikan..
...
...
Bersambung...
Apakah kalian tahu kristal anti roh yang disebutkan ?
Aku sebenarnya ingin membuat candaan tentang pokemon yang dimana orang melempar sebuah bola dan menangkap monster..
Jadi Roh Elf mirip seperti itu..
Jadi ketika kristal anti roh itu tersentuh oleh Roh maka akan otomatis dia tertangkap..
Jadi gitu alasan kenapa Roh para Elf ketakutan..
Jujur jika gak ada Rei, Rian dan Iwan..
Mungkin situasi akan buruk..
__ADS_1
Oke itu aja infonya..
Likenya jangan lupa ya ;)