Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Tamu yang jahat


__ADS_3

Setelah melakukan peluncuran yang begitu menyeramkan..


Akhirnya penderitaan itu berakhir sekarang.


Aku tidak menyangka sebahagia ini ketika menginjak tanah.


"Fiuh~ akhirnya"


Aku ingin menikmati ini untuk terakhir kali sebelum aku dimarahi oleh seseorang.


"Kau melihatnya ?"


Tatapannya begitu tajam mengarah kepadaku.


Aku hanya berpaling dari wajahnya dan melihat sekitar.


"Wah ternyata seperti ini pemandangan rumah kalian dari bawah"


"Jangan mengalihkan pembicaraan!"


Aku menatap matanya dengan rasa enggan. walaupun aku tahu itu bukanlah salahku tapi entah apa yang aku katakan kepada perempuan pasti yang disalahkan adalah lelaki..


Karena lelaki selalu salah dimata perempuan..


"Aku melihatnya tapi itu bukanlah salahku"


"Sudah aku duga.. kau menyuruhku untuk duluan pasti ingin melihat celanaku kan" Ucapnya dengan marah.


Lihat apa yang aku pikirkan..


Lelaki yang selalu salah..


"Manusia selalu saja mesum.. terutama lelaki" Sambungnya dengan kesal.


"Hei.. itu diskriminasi yang mengerikan kau tahu" Balasku dengan sedih. karena aku semua lelaki sekarang disalahkan.


"Dengar.. aku tidak tahu bahwa ini akan terjadi oke.. aku hanya ingin orang berpengalaman mengambil langkah pertama" Sambungku dengan tersenyum paksa.


"Kenapa itu terlihat seperti alasan yang baru dibuat"


"Tidak itu--"


Yah sebenarnya itu baru aku pikirkan sih.. tapi pada intinya bukan aku yang salah.. ini salah angin..


Mungkin jika aku membuat alasan seperti itu malah kelihatan sangat buruk..


Ketika aku berdebat dengannya.


Kedua temanku akhirnya sampai dengan selamat ke tanah.


Wajah mereka pucat pasi dengan ketakutan terpampang di wajah mereka.


"Ini tanah.."


"Akhirnya kita selamat"


"Ah tanah.. hmm.. bau tanah.. aku suka kalian"


Mereka berdua terlihat senang melihat tanah seakan tidak melihatnya dalam berpuluh-puluh tahun.


"Mari kita pergi sebelum--"


Ketika aku ingin menyelesaikan kalimatku seorang Elf melihat kami..


"Mereka kabur"


Dia berteriak dengan begitu keras hingga perhatian semua orang terarah kepada kami.


Elf kemudian berdatangan menuju kearah kami dan bahkan yang dari atas rumah pohon sudah mulai turun mengarah ke kami.


Seorang Elf mengeluarkan Roh mereka satu persatu dengan berbagai bentuk dan warna yang sesuai dengan kekuatan elemen mereka.


Kekuatan angin dari roh mereka membuat hembusan yang begitu deras..


Aku tidak akan terkena serangan yang mudah seperti itu seperti terakhir kali.


Aku memegang belatiku dengan erat dan melakukan serangan vertikal untuk membelah angin yang datang mengarahku.


Elf itu terkejut karena aku membelah serangan anginnya hanya dengan belati.

__ADS_1


Ini tidak akan sama seperti di air terjun dimana aku tidak melakukan persiapan hingga harus terkena serangan.


"Kami akan pergi!.. terima kasih telah mengantarkan kami"


Aku mengucapkan terima kasih kepada Felisha. Aku tidak bisa membiarkan dia terlibat dengan kami begitu jauh..


Maaf itu alasan buruk.. aku hanya tidak ingin dimarahi oleh dia itu saja..


"Hei apakah kau tahu jalan keluarnya ?"


"..."


Aku menghentikan langkahku ketika mendengarnya.


"Arah mana jalan keluarnya ?"


Dia menghela napasnya dan berkata..


"Aku akan mengantarkan kalian"


Ketika dia berkata begitu serangan lain muncul kearah kami namun Iwan telah menggunakan skill tamengnya untuk melindungi kami.


"Aku tidak bisa membiarkan seseorang mengambil hal keren terus menerus"


Iwan berkata seperti itu dengan begitu keren hingga membuat Rian menjadi iri..


Rian melihat sebuah panah melayang menuju kami lagi dan dia tersenyum berdiri bersiap untuk menghalau panah tersebut dengan pedangnya.


Dia dengan santai mengibas pedangnya hingga membuat angin menghempaskan semua panah.


Namun aku tahu itu bukan berasal dari pedangnya melainkan..


"Apa gunanya pedang itu ketika kau menggunakan sihir angin" Ucap Iwan yang ada disampingnya.


"Tentu saja untuk pamer"


Dia mengatakannya dengan wajah penuh kebanggaan.


"Mari kita pergi dari sini!" Ucap Felisha dengan buru-buru.


Felisha dengan cepat berjalan di depan untuk menuntun kami untuk keluar dari sini.


Selagi serangan dilancarkan kepada kami.


[Beberapa menit sebelumnya]


Seorang elf yang masih muda terlihat begitu tergesa-gesa melewati jembatan antara pohon untuk menuju rumah tetua mereka.


Keringat bercucuran dengan deras ketika dia membuka pintu rumah tetuanya dengan wajah yang begitu panik.


"Tetua ada manusia datang dengan jumlah yang banyak!"


"Hah!"


Tetua yang mendengar kabar tersebut hanya bisa terkejut dengan wajah yang kaku..


Dia memegangi tongkat yang ada di sampingnya dengan gemetar.


Angin buruk sepertinya berhembus kearah yang salah..


"Panggil semua orang untuk bersiap"


"Aku tidak sabar untuk menemukan Elf cantik di genggamanku"


"Hei wajah mesummu terlihat"


Lelaki dengan pedang besar di punggungnya saling bercakap dengan orang yang ada disampingnya.


"Bukankah kau juga sama jenderal!"


Lelaki yang disebut jenderal itu memiliki armor lengkap dengan kedua pedang dipinggangnya.


Jenderal tersebut tersenyum membalas perkataannya. "Setelah menemukan petualang dengan catatan peta Elf siapa yang dapat menahan diri dari ini"


"Kau paham juga jenderal"


"Akibat perang yang terjadi di kerajaan membuatku frustasi karena tidak bisa melakukan *** dengan perempuan.. akhirnya perang telah usai dengan perjanjian damai sementara hingga selesai turnamen antara kerajaan yang akan dilaksanakan di ibukota kerajaan Huinester yaitu Gainestar"


"Aku juga tidak sabar akan hal itu.. berapa bulan lagi"

__ADS_1


"Satu bulan lagi"


"Benar"


Ketika mereka berdua saling bercakap terlihat banyak Elf yang sedang berbaris dengan rapi menghadap kearah mereka.


"Sepertinya kita sudah disambut disini"


"Aku jadi tidak sabar... bukankah gadis Elf ini memiliki tubuh yang sangat baik"


Mereka berdua berbicara dengan santai tanpa rasa takut yang menyertai mereka.


Jenderal ini menatap kearah belakangnya yang dimana pasukan miliknya datang bersamanya untuk menyerbu desa Elf ini.


Karena telah melakukan persiapan penuh mereka tidak memiliki rasa takut sedikitpun.


"Apakah kalian telah membawa batu anti roh seperti yang aku perintahkan"


Jenderal berbicara kepada anak buahnya.


Anak buahnya tersenyum dan dengan santai mengeluarkan sebuah kristal yang berbentuk bulat.


"Bagus"


Jenderal berbicara dengan tersenyum.


Dia kembali berjalan menuju depan yang dimana sepertinya tetua Elf telah maju.


"Sepertinya mereka ingin melakukan negoisasi jenderal"


"Haha.. aku tahu"


Jenderal dengan santai maju mendekati tetua Elf yang ada di depannya.


"Senang bertemu denganmu saya tetua Elf disini" Ucap tetua Elf tersebut menggunakan bahasa manusia dengan fasih.


Karena dia telah hidup sangat lama dimana telah menguasai semua bahasa sewaktu masih muda.


Namun jenderal itu tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk bernegosiasi.


"Sudahi basa - basinya.. aku tidak ingin bercakap-cakap dengan tua bangka sepertimu.. keluarkan perempuan sekarang!"


Sebagian dari Elf tidak dapat memahami bahasa manusia namun dari nada suara jenderal kepada tetua mereka membuat mereka marah.


Elf yang mendengar hal itu telah mengeluarkan senjata mereka dan kekuatan roh mereka.


Namun tetua mereka mengangkat tangannya untuk memberikan aba-aba menunggu.


"Maafkan aku tapi kami tidak bisa melakukan itu.. bisakah kalian pergi dengan damai!"


"Omong kosong.. aku akan melakukan itu!"


Jenderal menjadi tidak sabar dan mengeluarkan pedangnya dengan tiba-tiba dan langsung menebas kearahnya.


Namun ketika pedang tersebut ingin mengenainya seseorang telah menghalau pedangnya dengan cepat.


Itu sangat cepat hingga dia terkejut akan hal itu karena sudah lama dia tidak menemukan seseorang yang bisa menahan serangan pedangnya.


"Hei! apa yang sedang terjadi disini!"


Orang itu menjadi marah.


Dengan belati miliknya langsung memukul mundur pedang milik jenderal.


"Kau manusia! kenapa berpihak kepada Elf!" Ucap jenderal tersebut.


"Apa kau mengatakan bahwa aku harus membiarkanmu untuk membunuh Elf karena mereka bukan manusia ? apakah itu maksudmu" Balasnya dengan menyipitkan matanya dengan marah.


Bersambung..


Jangan lupa likenya ya..


"Lah tumben gak bacot" Rian


"Mungkin author lelah" Iwan


"Bulan puasa jadi kau tahu.. kenapa alasannya" [Author]


Oke itu aja...

__ADS_1


Sesekali tambahin juga vote biar gk kosong :')


__ADS_2