
Aku melihat ke arah paman berotot tersebut dimana dia memegang sebuah palu yang besar dan tidak mengenakan baju..
Dengan begitu otot yang ada di sana terekspos dengan indah.. di tambah dengan keringat yang ada menampilkan otot tersebut menjadi memiliki efek bercahaya..
Aku hanya bisa mengucek mataku yang sakit melihat itu..
Dia menatap kami dengan begitu kasar..
Lalu tatapan matanya jatuh kepada Rian..
"Apakah Kau Rian yang memiliki dual class Knight dan Mage"
"Ya itu benar" Jawab Rian dengan agak ketakutan..
Paman tersebut melihat Rian dari atas hingga ke bawah..
Aku sangat bersyukur itu bukan aku yang di tatapnya seperti itu..
"Ikuti aku" Ucap paman tersebut mengajak kami..
Kami mengikuti paman tersebut pergi di ruangan kerja miliknya..
Disana terlihat banyak logam kasar yang masih belum menjadi sebuah senjata..
Tungku yang masih panas yang khas digunakan para penempa senjata..
Namun bukan itu yang menarik perhatian kami melainkan pada sesuatu yang tergantung dinding dengan sebuah hiasan dimana itu adalah sebuah pedang yang sangat indah..
Tempaan pedang tersebut sangat bagus bahkan wajah kami terpantul dari pedang tersebut..
Gagang pedang tersebut memiliki hiasan dan ukiran yang sangat indah di sana..
Kami tidak bisa menahan diri untuk tidak terpukau..
"Apakah kalian melihat karyaku ini"
Kami mengangguk dengan kagum..
"Hahaha.. ini adalah karyaku yang paling bagus selama ini" Ucapnya dengan bangga..
Saat kami melihat pedang tersebut kami dapat merasakan..
Itu adalah sebuah Aura yang berasal dari pedang tersebut..
Itu sungguh kuat..
Namun ada sesuatu yang berbeda dari pedang ini..
Pedang ini memiliki sebuah mana..
"Paman pedang ini terbuat dari apa ?" Rian tidak tahan untuk tidak bertanya..
Mendengar pertanyaan itu paman tersebut langsung tersenyum seakan sudah tahu bahwa pertanyaan itu akan datang..
"Pedang ini merupakan tempaanku dari bahan meteor langka yang aku dapatkan.. ini sangat langka dimana meteor tersebut memiliki energi alam yang dimana itu adalah mana yang sama seperti tongkat sihir yang dibuat namun anehnya meteor itu juga memiliki sebuah Aura yang dimana itu juga salah satu unsur pedang.."
Kami bertiga yang mendengar itu menjadi bingung..
Karena kami tidak mempelajari bahan tongkat sihir dan juga pedang..
Paman tersebut yang melihat kami yang kebingungan langsung menghela napasnya..
"Aku akan menjelaskannya secara rinci mulai dari awal.. karena kalian idiot tolong perhatikan baik baik"
Aku mendengar kata idiot..
Hatiku langsung tersakiti..
Benar tersakiti..
"Kau tahu tongkat sihir itu berasal dari bahan kayu yang disebut Druid yang dimana kayu ini memiliki kosentrat energi alam yang tinggi yang disebut Mana.. biasanya orang menggunakan bahan kayu Druid untuk membuat tongkat sihir yang akan menghemat mana mereka dan juga meningkatkan kekuatan sihir mereka"
"Lalu Besi merupakan pecahan dari meteor yang dimana itu memiliki sifat menyalurkan Aura pendekar pedang yang di salurkan dimana itu akan menjadi kuat.. semakin bagus kualitas besi yang di dapatkan maka akan semakin bagus Aura yang disalurkan"
Kami mendengar itu langsung mengangguk mengerti..
"Lalu pedang yang aku buat ini memiliki kedua unsur tersebut yaitu dapat digunakan sebagai tongkat sihir ataupun menjadi pedang yang menyalurkan Aura"
"Seperti itu rupanya"
Paman tersebut melihat kami langsung tersenyum..
"Kalian akhirnya paham kan betapa hebatnya pedang ini"
Tunggu dia menjelaskan itu hanya ingin kami mengagumi pedangnya..
"Iya paman itu hebat" Ucap Rian dengan kagum..
Mendengar hal itu paman tersebut langsung senang..
"Haha kau memiliki mata yang bagus"
Sepertinya paman ini akan sangat mudah di tipu hanya karena sebuah pujian..
"Apakah paman menjual pedang ini ?" Tanya Rian..
"Ini sangatlah mahal.."
Saat dia berkata begitu Hiura langsung mengambil pedang tersebut dengan santuy dan memberinya kepada Rian..
"Ini ambil saja.. sebenarnya ini tidak berarti apa apa bagi dia" Ucap Hiura sambil menunjuk kearah paman..
"Tunggu dulu nak.. apa yang kau lakukan" Balas Paman tersebut dengan panik..
"Kira ayah aku lupa.. pedang ini bahkan tidak menarik bagi seorang pendekar dan juga penyihir... mereka bahkan berkata 'Untuk apa pedang ada mananya bukankah itu percuma karena pendekar tidak mempunyai mana' bahkan penyihir pun 'Untuk apa memakai sebuah pedang jika hanya mengandalkan skill untuk bertarung' bukankah mereka berkata begitu" Balas Hiura begitu cepat..
"Tapi ini adalah maha karya.."
"Maha karya apanya ? yang cuma ayah lakukan hanya menempa seperti pedang pada umumnya bahkan ukiran pegangan pedang tersebut hanya menjiplak"
Paman tersebut langsung terluka..
Tunggu dia memanggil dia ayah..
Apakah mereka satu keluarga..
"Apakah ini tidak apa apa" Ucap Rian dengan takut..
"Tidak apa apa ini cuma akan menjadi sebuah hiasan saja nantinya.. namun jika itu dipakai oleh dirimu dimana kau adalah Knight Mage maka pedang ini mungkin sangat berguna bagimu"
"Hanura"
"Namaku Hiura -_"
"Aku tidak akan melupakan jasamu.. bahkan saat aku menebas raja iblis menggunakan pedang ini maka aku akan menyebut namamu"
"Tolong jangan salah sebut namaku saat itu"
Rian tersenyum bahagia..
Dia bahkan melihat pedang tersebut dengan bahagia..
Dia mengayunkan pedang tersebut dengan pelan dan setiap ayunan di langsung berteriak.."wow"
Kami semua hanya tersenyum melihat hal itu..
Dan paman tersebut juga bahagia tentang itu..
Menyadari tatapanku ke arahnya dia langsung batuk untuk menghilangkan ketegangan..
"Baiklah jika kau suka maka biarlah.. anggap saja aku sedang mempromosikan tokoku"
"Paman apakah kau mempunyai senjata yang sama seperti itu" Tanyaku kepadanya..
Mendengar hal itu paman tersebut terkejut dengan hal itu..
"Apakah kau memiliki dual class juga"
"Tidak.. namun aku cuma ingin saja"
Sebenarnya aku masih belum bisa mengganggap diriku memiliki dual class..
Karena aku masih bingung dengan hal itu karena itu disebut dengan sub class..
Jadi aku sedikit penasaran tentang hal itu..
__ADS_1
Mungkin aku juga akan berlatih teknik Aura untuk percobaanku tentang hal itu..
"Hmm.. aku tidak memiliki bahan tersebut lagi.. namun.."
Paman tersebut memikirkan sesuatu..
"Tapi aku memiliki bahan yang hampir mirip namun bahan ini terlalu mudah di bentuk dan tidak cocok disebut logam yang dimana sifat mereka keras.."
"Maksud paman"
"Aku menyebut ini Logam Memory.. karena dia bisa berubah bentuk hanya dengan kau panaskan sedikit saja dan itu tidak begitu cocok untuk digunakan sebagai senjata.. apalagi jika melawan musuh yang menggunakan api"
Apa itu.. terdengar keren..
"Paman aku mau satu"
"Hmm.. aku tidak bisa membuatnya menjadi pedang karena bahan hanya sedikit yang aku dapatkan.. mungkin hanya cukup untuk dibuat sebagai belati"
"Ya tidak apa apa"
"Oke.. tunggu sebentar maka aku akan membuatnya"
Paman tersebut langsung mencari bahan logam memory di sudut ruangan..
Dia mencari lumayan lama dan akhir dia menemukannya..
Dia memanaskan bahan tersebut di tungku dan tidak lama logam tersebut memanas kemerahan dan langsung memukulnya secara bergantian di kedua sisi logam tersebut hingga akhirnya membentuk sebuah senjata..
Lalu dia tidak menambah sebuah gagang melainkan hanya menggunakan besi tersebut langsung sebagai pegangan dan di sana dia membuat sedikit lebih lembut menggunakan sebuah amplas dan membuat ukiran kecil disana..
"Ini dia" Paman tersebut memberikannya kepadaku.
"Sangat cepat" Ucapku dengan kagum.
"Kau lupa apa yang aku katakan.. ini logam yang sangat mudah dibentuk hanya sedikit kau panaskan maka itu akan langsung jadi.. jadi berhati hatilah dengan api"
"Aku akan mengingatnya"
Aku langsung memegangnya dan terasa sangat hebat..
Aku menganyunkan dan memegang dari satu tangan ke tangan lain..
Ini sangat hebat..
"Berapa ini paman ?"
"Ambil saja.. tapi aku cuma mau minta satu sebagai bayaran"
"Apa itu paman"
"Aku ingin masakan rendang.. kata Hiura itu adalah masakan yang enak"
Aku melihat kearah Rian dan dia langsung tersenyum..
"Itu adalah hal mudah" Ucap Rian..
Mendengar hal itu paman tersebut langsung bahagia..
Sepertinya dia memang penasaran dengan masakan itu..
Tunggu darimana dia tahu masakan rendang ?..
"Bolehkah aku pinjam dapur kalian"
"Oh boleh"
Setelah itu kami diantar menuju dapur..
Rian langsung mencari bumbu yang ada di kantong penyimpanan ruang miliknya..
Rian langsung terlihat sedih..
Aku dan Iwan langsung mendekatinya..
"Ada apa ?"
"Bumbu rendangnya mulai habis.. apakah di dunia ini ada bumbunya ya"
Aku langsung tersadar bahwa dunia ini apakah ada bahan rempah yang sama untuk memasak rendang..
Rian mengangguk dan tidak terlalu memikirkannya..
Setelah itu Rian memasak rendang dengan daging yang telah dia siapkan di penyimpanan miliknya..
........
....
..
Kina berada di tempat yang begitu sunyi dimana yang terdengar di sana hanyalah burung yang berkicau dan terbang begitu indah di langit langit..
Ini adalah salah satu tempat kesukaan miliknya..
Tempat dia berada saat ini adalah taman yang ada di belakang istana dimana di sana ada pohon yang tumbuh besar dan dia berebah di dahan pohon tersebut..
Pohon tersebut sudah menjadi spot untuk menenangkan dirinya..
Kina yang masih memikirkan hal memalukan yang dia lakukan hanya bisa menenangkan dirinya di sini...
Dia sudah menyadari bahwa lupa ingatan Rian itu mungkin salah satu strategi dia..
Namun kenapa dia tidak memikirkan hal tersebut dua kali..
(Apa karena Cinta ?)
Kina menyadari bodohnya pernyataan miliknya..
Dia baru bertemu dengannya tidak lama..
Namun kenapa dia bisa memikirkan hal tersebut..
Kina menghela napasnya..
"Aku akan melupakan ini dan biarkan saja masalah ini berlalu seperti angin" Gumam Kina..
Semilir angin langsung menghembuskan rambutnya..
Kina memenjamkan matanya dan merasakan lebih dalam sejuknya angin alam menerpa dirinya..
Kina mulai merasa akhir akhir ini bahwa dirinya tidak seperti dirinya yang biasa..
Ini memang suatu fakta bahwa dia tidak bisa menyangkal bahwa efek ini berasal dari keberadaan mereka..
Mereka semua berasal dari dunia lain jadi sangat wajar mereka tidak melihat dunia yang sebenarnya..
Hati mereka masih sangat murni dan juga begitu baik..
Mereka selalu bercanda tanpa memikirkan apa pun..
Keidiotan mereka membawa senyum bagi mereka yang melihatnya..
Itu adalah pandangan Kina terhadap mereka bertiga..
Mungkin tidak hanya dia yang menyadari hal ini..
...
"Seandainya saja dunia ini damai seperti dunia mereka"
Kina bergumam sesuatu yang membuat dia ingat akan masa lalu..
Dia hanya anak panti asuhan..
Kina dan Lisa merupakan anak panti asuhan..
Panti asuhan mereka tidaklah begitu baik..
Setiap hari banyak anak yang akan diadopsi oleh orang..
Namun melihat dari orang tersebut hanya seorang lelaki mesum yang hanya memilih anak cantik..
Jika tidak cantik maka nasib mereka hanya akan menjadi buruk.
Suatu hari ada seseorang yang memilih mereka berdua..
__ADS_1
Orang tersebut memiliki wajah orang tua... gendut dan memiliki muka yang begitu mesum..
Kina dan Lisa saat itu sudah mengetahui bagaimana nasib mereka berdua..
Ketika mereka menaiki kereta kuda dan sudah lumayan cukup jauh dari panti asuhan..
Kina dan Lisa sekilas melihat orang gendut tersebut lengah..
Mereka tidak melepaskan kesempatan itu dan langsung kabur dengan cara meloncati kereta kuda miliknya..
Mereka terus berlari ke arah hutan..
Mereka berdua bertahan hidup dengan ketakutan.. saling menjaga satu sama lain..
Cukup sulit untuk anak seusia 6 tahun seperti mereka bertahan hidup..
Syukurlah dewa masih menyayangi mereka..
Mereka bertemu dengan Yuina saat itu yang sedang dalam perjalanan kembali menuju kota Kleinstar..
Kina dan Lisa memiliki tubuh yang kurus..
Mereka terlalu lama bersembunyi di dalam hutan karena takut jika seandainya mereka ditemukan oleh pria gendut tersebut..
Yuina yang saat itu seumuran dengan mereka langsung turun dari kereta kuda miliknya dan langsung mengulurkan tangannya..
Pada saat itu Kina dan Lisa bersumpah melayani Yuina hingga akhir hayat mereka..
Sebagai penjaga juga sekaligus sebagai pelayan..
Walaupun Yuina tidak pernah menganggap mereka sebagai pelayan.. namun sebagai teman..
Itu adalah takdir yang baik yang pernah mereka dapatkan..
"Sudah aku duga kau ada disini"
Suara tersebut terdengar begitu lembut..
Kina membuka matanya dan melihat Yuina telah memanjat pohon yang dia naiki dan duduk di dahan yang berada di samping Kina..
"Tuan putri apa yang anda lakukan.." Ucap Kina dengan khawatir..
"Tenang aku tidak akan jatuh.."
Saat dia berkata seperti itu dia hampir kehilangan keseimbangan namun untungnya tangan dia sudah dipegang oleh Kina..
"Ah.. terima kasih"
Kina hanya tersenyum lembut melihat hal itu..
"Tuan putri.. Kina.. apa yang kalian lakukan di sana"
Suara tersebut berasal dari bawah yang dimana Lisa telah membawa sebuah nampan yang berisikan teh dan kue..
"Aku membawakan teh untuk bersantai"
"Eeh.. tapi aku baru saja naik ke atas" Ucap Yuina dengan cemberut..
"Cepat atau tehnya menjadi dingin"
Melihat hal tersebut hati Kina di isi dengan kehangatan..
Kina tersenyum lembut..
Yuina dan Lisa yang melihat itu juga ikut tersenyum..
...
"Apa ada yang aneh dengan wajahku" Ucap Kina yang menyadari bahwa mereka melihat kearahnya..
"Akhirnya kau tersenyum juga" Balas Yuina dengan senang..
"Aku sempat khawatir bahwa kau akan patah hati atau sesuatu" Sambung Lisa dengan tersenyum agak licik..
Mendengar kata patah hati membuat Kina menjadi memerah..
"Itu bukan seperti itu"
"Baik baik aku mengerti"
"Aku sangat yakin kau tidak mengerti"
Akhirnya mereka bertiga duduk bersantai di bawah rindangnya pohon ditemani sebuah teh yang begitu hangat..
Mereka hanya berbincang kecil hingga waktu tidak terasa berlalu begitu cepat..
...
Bersambung...
Ruang curhat pemain..
"Akhirnya kita memasuki sesi ini lagi" (Rian)
"Aku malah tidak ingin melakukan ini" (Rei)
"Apanya ?" (Rian)
"Tentang ruang curhat ini" (Rei)
"Apa salahnya kan.. seperti sesi selesai syuting" (Rian)
"..." (Rei)
"Yah perkembangan cerita kita semakin maju aja kali ini.. bukankah begitu menurut kalian" (Rian)
"No Comment" (Rei)
"Iwan ?" (Rian)
"Aku rasa ini cukup bagus" (Iwan)
"Hei apakah cuma itu pendapat kalian" (Rian)
"Hmm.." (Iwan)
"..." (Rei)
"..." (Rian)
Author :
Mereke sungguh karakter yang tidak bisa diharapkan.. T.T
Ah terimakasih telah membaca selama ini..
Akhirnya cerita ini mengalami sebuah progress.. Perlahan namun pasti..
Yah.. aku tidak menyangka ini terjadi..
Bahkan sering kali aku membuat ini novel..
Eh.. ini novel yang aku buat ?..
Sampai seperti itu aku berpikir..
Yah walaupun masih banyak kekurangan..
Namun aku cukup puas dengan ini :)
Jangan lupa like ya..
Karena aku sering melihat jumlah pembaca terus bertambah banyak namun entah kenapa likenya tidak bertambah banyak..
Aku yakin kalian cuma lupa tekan tombol likenya karena saking serunya kan.. iya kan :')
"hmmm" (Rian)
"hmmm" (Rei)
"hmmm" (Iwan)
Hei apaan tatapan itu..
...
__ADS_1
Untuk kali ini jangan lupa like ya.. :)