
Suara telapak kaki kuda yang begitu keras dan deru angin yang begitu kencang dapat aku rasakan..
Kami telah berkendara selama dua hari dan telah menginap di alam terbuka selama itu..
Hari ini adalah hari terakhir aku merasakan lelahnya perjalanan panjang ini..
Aku melihat kearah Melidia yang sering kali menguap dengan begitu lebar disepanjang jalan..
"Apa kau mau istirahat ?"
"Kita sebentar lagi sampai jadi istirahat tidak diperlukan"
Melidia menatapku dengan matanya begitu lesu aku sangat yakin dia tidak tidur dengan nyenyak akhir-akhir ini..
Apakah dia masih waspada dengan orang yang mengejarnya ?.
"Kalian berdua istirahatlah di dalam biar kami yang gantian jadi kusir" Ucap Rian dari dalam gerbong kereta yang dimana dia menengok dari jendela..
"Aku juga ingin jadi kusir.." Sambung Iwan yang bersuara dari dalam..
"Apakah masih jauh ?" Aku bertanya kepada Melidia
Melidia menggelengkan kepalanya dan menjawab. "Tidak begitu jauh saya pikir.. cukup jalan lurus saja"
"Kalau begitu kita gantian.. kau juga terlihat kelelahan"
"Tidak saya--"
"Memaksakan diri tidak baik"
Aku langsung menghentikan kereta kuda dengan perlahan dan turun menuju gerbong kereta kuda..
Rian dan Iwan begitu gembira turun dan menaiki tempat duduk kusir..
Mereka berdua saling memegang tali kuda dengan menatap tajam satu sama lain.
"Aku dulu lah.. jadi aku yang kusir"
"Aku juga lebih dulu"
Mereka berdua saling menatap tajam. Aku yang melihat mereka hanya bisa menghela napas dengan khawatir..
"Kenapa kalian tidak suit saja"
"Oke batu gunting kertas ya"
"Satu"
"Dua"
"Tiga.."
Rian akhirnya menang dengan gunting yang dia gunakan untuk melawan kertas Iwan..
Rian begitu gembira dengan hal itu..
"Apakah sudah siap"
Aku dan Melidia telah berada di gerbong kereta sedari tadi..
"Siap"
"Oke kita akan berangkat"
Rian memecat tali dengan kencang membuat kuda melaju dengan cepat..
Kami yang berada dalam gerbong kereta terkena kejutannya dan membuat Melidia yang duduk di sampingku langsung tersandar di tubuhku..
"Maaf aku tidak sengaja" Ucapnya dengan wajah yang memerah.
"Tidak apa-apa" Jawabku dengan wajah biasa..
Aku sedikit kesal dengan apa yang dilakukan Rian yang langsung mengejutkan kereta kuda dengan kecepatan penuh tapi sebagian juga aku sedikit bersyukur karena beberapa hal manis terjadi..
Tidak apa yang aku pikirkan..
"Tolong sedikit santai" Ucapku kepada Rian dari dalam kereta..
"Oke kapten"
Rian dengan patuh memecat tali dengan pelan membuat kuda berjalan dengan santai..
Melidia duduk menjauh dari tempatku dengan wajah yang masih memerah..
Melihat perjalanan begitu santai Melidia menguap dengan begitu lebar..
"Tidurlah.. aku juga akan tidur siang juga"
Aku langsung menutup mataku dan berusaha untuk tidur..
Melihat aku menutup mata Melidia terlihat ragu - ragu untuk tidur..
Namun matanya sudah sangat berat dan pada akhirnya menyerah dan tidur terlelap begitu cepat..
...
...
__ADS_1
...
"Pada hari minggu kuturut ayah ke kota.. naik delman istimewa ku duduk di muka~ tuprak tupruk tuprak~"
Rian dengan senang bernyanyi ketika dia menjadi kusir..
Dia begitu senang..
Iwan yang melihat hal itu menjadi kesal karena dia tidak dapat memenangkan kesempatan untuk menjadi seorang kusir..
Iwan menangis dengan sedih melihat Rian yang begitu bahagia menjadi kusir..
"Rian.. gantian.."
Iwan dengan putus asa memelas kepada Rian..
Rian melihat kearah Iwan yang sedih itu tersenyum dengan wajah bahagia..
"Kau pikir aku akan memberikanmu kesempatan jadi kusir setelah mengambil snack terakhirku"
"Aits.. itu hanya masa lalu sekarang.. aku sudah berubah"
"Masa lalu ada buat dikenang dan aku akan selalu ingat akan hal itu.. kau mungkin telah berubah tapi luka yang tergores tidak akan sembuh dengan cepat"
"Kenapa kau tiba-tiba bijak hanya untuk snack ?"
"Aku selalu bijak dan juga itu bukan hanya sekedar snack biasa.. itu adalah--"
"Yayaya.."
Iwan sudah lelah mendengar hal itu dan menghentikan perdebatan itu..
Lagipula melawan Rian dalam berdebat seperti orang memukul angin..
Mereka berdua saling berbicara dengan hal sepele hingga akhirnya menyadari bahwa benteng kerajaan telah terlihat dari kejauhan..
"Kita akhirnya sampai" Ucap Rian dengan bahagia
"Akhirnya perjalanan panjang kita" Iwan juga ikut senang..
"Oi Rei kita hampir sampai" Ucap Rian sambil mengetuk gerbong kereta..
Namun tidak ada jawaban yang datang dari dalam..
"Sepertinya mereka berdua tertidur" Ucap Iwan kepada Rian..
Rian mengangguk mengerti. "Lebih baik kita tidak usah menganggu mereka"
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga sampai di depan pintu gerbang benteng..
Mereka ada banyak untuk menjaga pintu gerbang..
Rian menghentikan kereta dengan pelan dihadapan mereka..
"Halo, bolehkan kami masuk"
Rian menyapa dengan begitu ramah kepada mereka..
Berharap sambutan hangat dari mereka malah sodoran pedang yang datang menuju lehernya..
"Manusia apa urusan kalian disini ?"
"Tunggu kenapa kalian begitu kasar.. kami disini datang dengan damai ?" Ucap Rian dengan ketakutan.
"Hmph.. kalian periksa dalam kereta kuda mereka" Perintah itu datang dari seseorang yang terlihat memimpin.
Pasukannya dengan tanggap melakukan perintahnya dan langsung membuka pintu kereta kuda..
Orang yang membuka itu dengan terkejut melihat seorang lelaki yang tidur terlelap dengan nyaman..
Mata orang itu perlahan jatuh ke samping pria itu yang dimana dia terkejut dengan seorang gadis yang ikut tertidur..
Orang itu terkejut dengan identitas gadis itu karena tidak ada seorangpun yang tidak tahu wajah tuan putri mereka..
"Tuan putri ada di dalam!!"
"Apa !?"
Semua orang menjadi terkejut akan hal itu..
...
...
...
Aku merasa tempat aku tidur begitu dingin..
Apakah kereta kuda memang sedingin ini ?
Aku membuka mataku dengan perlahan dan memperhatikan daerah sekitar dengan sedikit rasa ngantuk..
Mataku yang buram kembali normal..
"Oh Rei.. selamat pagi"
Suara Rian memasuki telingaku..
__ADS_1
Aku melihat kearahnya dan kebingungan ?
"Apakah kita sudah sampai ?"
"Kita sudah sampai"
"Di penjara tepatnya"
Aku melihat sekitar dan terkejut bahwa kami berada di balik jeruji penjara..
"Apa yang terjadi selama aku tidur oi!"
Aku mengguncang tubuh Rian dengan keras karena panik..
"Itu karena kita dikira menculik tuan putri"
"Hah !?"
Aku langsung terkejut dengan apa yang aku dengar..
Penculikan ?
"Kalian berdua terlalu nyenyak tidur.. sampai kami kewalahan menghadapi mereka.." Ucap Rian dengan menyilangkan tangannya.
"Kami berdua bertarung bersama melawan semua orang.. saat mereka hampir kalah.. mereka menggunakan cara licik untuk membuat kami menyerah dengan menyandera kalian" Sambung Iwan yang ada disampingnya dengan menyilangkan tangannya juga seolah itu keren.
Mendengar penjelasan Iwan, Rian dengan cepat mengangguk dengan penuh penyesalan. "Mau tidak mau kami terpaksa harus menyerah"
"Apakah itu benar-benar terjadi ?" Tanyaku kepada mereka berdua dengan wajah serius.
"Itu benar terjadi" Jawab Rian.
Hmm.. aku menatap mereka dengan tajam dan membuat wajah tidak percaya..
"Apaan tatapan itu.. itu memang terjadi kau tahu" Ucap Rian dengan panik.
Aku masih menatap mereka dengan tajam..
"Hmph.. omong kosong.. mereka menyerah tanpa adanya perlawanan"
Suara itu datang dari luar jeruji penjara dimana sang penjaga dengan pedang di sarung pinggangnya.. dia memiliki penampilan perempuan cantik berambut merah terang dan memiliki telinga musang.. armor yang dia kenakan begitu menyilaukan menandakan bahwa dia penjaga yang begitu handal..
Aku kembali menatap mereka berdua..
"Kau tahu.. terkadang kenyataan itu memang menyulitkan" Ucap Rian dengan wajah bersalah.
...
Bersambung...
...
Ruang Curhat Pemain..
"Maafkan aku karena selalu membawa candaan gadis berbatang ke kalian" -Auhtor
"Sekarang baru minta maaf" -Rian
"Penyesalan selalu datang terlambat"-Iwan
"Terkadang aku berpikir author kita kena gangguan mental karena sering bawa candaan itu"-Rei
"Bukankah kau terlalu jahat TwT"-Author
"Hmph"-Rei
"Sebagai permintaan maaf kalian boleh request seperti apa Heroine yang kalian inginkan"-Author
"Benarkah"-Rian
"Bolehkah author melakukan ini.. bukankah nanti akan terganggu dengan jalan ceritanya"-Rei
"Tidak apa-apa.. sebagai bahan referensi aja" -Author
"Kalau gitu aku mau tipe yang manis, penyayang, perhatian, bersikap kekanak-kanakan tapi dewasa" -Rian
"Aku ingin gadis yang cantik namun dewasa.. kalau senyum matanya langsung sipit.. sifatnya baik,ramah dan lembut"-Iwan
"Susah juga heroine kalian ya.. Kalau Rei ?" -Author
"Aku tidak tahu"-Rei
"Oh seperti Yuina kah.. oke sudah aku catat semuanya"-Author
"Kenapa author tiba-tiba baik.. aku punya firasat buruk"-Rian
"Sama"-Iwan
"Jahatnya :')"-Author
Oke itu aja..
Kalau kalian mau seperti apa.. mungkin bisa berbagi dengan kami disini.. hoho..
Gk ada candaan kali ini jadi aku sedikit serius.. :')
Itu aja.. jangan lupa like ya ;)
__ADS_1