
"Aku tidak menduga kalian akan datang" Ucap Yuina dengan tersenyum manis..
Aku sangat yakin dia sudah menunggu disini sangat lama terlihat dari jumlah gelas yang dia minum..
"Silahkan duduk terlebih dahulu karena hidangan masih belum siap"
Kami bertiga duduk di meja makan..
...
"..."
"..."
Rian dan Iwan tidak dapat bertahan lama untuk duduk diam dan terus melihat sekeliling seperti anak kecil yang tidak akan diam sebelum tahu apa itu..
"Apakah kami boleh melihat - lihat sekeliling" Ucap Rian dengan tidak sabar.
"Silahkan" Balas Yuina..
Rian dan Iwan bangkit dari tempat duduk dan berjalan sekitar untuk melihat lihat..
Yuina menatapku seakan bertanya kau tidak ikut ?..
Aku cuma tersenyum kecut saat dia menatapku..
Jujur aku juga baru pertama kali ini melihat isi di dalam istana namun jangan samakan aku dengan mereka berdua..
Lalu aku menghela napasku dengan dalam.
"Apakah Tuan Rei merasa tidak nyaman"
Yuina menyadari sikapku yang tidak terlalu senang..
"Yah aku cuma terpaksa untuk datang kesini karena kedua orang ini"
"Sepertinya kalian begitu dekat"
"Tolong hentikan kata kata seperti itu.. entah berapa chapter aku telah mendengarnya"
Yuina memiringkan kepalanya karena bingung dengan apa yang aku katakan..
"Lalu apa tujuanmu mengundang kami" Ucapku dengan serius dan menatap tajam ke arahnya..
"Bukankah aku cuma mengundang kalian makan malam biasa"
"Tidak ada makan malam biasa tanpa tujuan ?.. lagipula kita baru kenal"
Yuina menghela napasnya lalu menatapku dengan sedih..
"Sebenarnya aku cuma ingin memiliki seseorang yang dapat membantuku"
"Apa yang perlu kami bantu dengan tuan putri yang memiliki segalanya"
Yuina hanya semakin sedih saat aku berkata begitu dan tiba tiba air matanya sedikit keluar..
"Maaf aku berkata sedikit kasar" Ucapku dengan bersalah.
"Ya tidak apa apa" Jawabnya sambil tersenyum menutupi wajah sedihnya.
Selama hidupku aku tidak pernah membuat seorang gadis menangis..
Bahkan saat kecil dimana anak laki laki sering mengusili anak perempuan hingga menangis.. aku tidak pernah melakukan hal itu..
Namun saat ini aku melakukannya..
Jujur aku tidak menyangka kata kataku akan menyakiti hatinya..
"Kau tahu menjadi seorang tuan putri tidaklah semudah yang kau bayangkan"
"Terkadang kau harus tetap bisa tersenyum walaupun masalah yang terus datang"
"Jujur jika peran ini bisa di ganti aku sangat ingin menggantinya"
Aku hanya bisa diam mendengar apa yang dia katakan..
"Ini bukan hanya masalahku.. ini menyangkut semua rakyatku"
"Apakah kau mau mendengarnya walaupun sedikit ?"
...
Lalu Yuina menceritakan hal yang terjadi..
Aku tidak memahami masalah politik atau apa.. jadi aku cuma bisa menyingkat ini berhubungan dengan perang..
Perang akan terjadi pada saat Turnamen yang diadakan setiap setahun sekali dan ini akan menjadi cikal bakal untuk memicu perang..
__ADS_1
Aku telah menyarankan untuk tidak mengadakan Turnamen ini kepada Yuina. Namun Yuina hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Karena turnamen ini sudah disetujui oleh masing masing raja pada sejak zaman dahulu.. mungkin bisa dianggap tradisi.
"Aku cuma mengharapkan kekuatan kalian"
"Kau tahu kami baru datang ke dunia lain dan kekuatan yang kau perlukan mungkin tidak ada"
"Aku tahu kau merendah.. Kau memiliki Class Mage namun aku yakin tidak hanya itu.. Melihat dari temanmu yang memiliki Dual Class mungkin kau menyembunyikan kekuatanmu yang lain"
Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar hal itu..
"Kau tahu begitu banyak.. Mungkin kau punya seorang mata mata yang mengawasi kami"
Yuina hanya tersenyum mendengar hal itu..
"Harus aku katakan.. aku tidak bisa memutuskan hal ini sendirian"
"..."
Yuina menyadari apa maksudku lalu melihat sekeliling namun dia tidak menemukan mereka..
Aku juga tidak menyadari mereka menghilang.
Sungguh mereka sangat idiot.. Aku harap mereka tidak tersesat disini..
...
"Hei Rian lihat ini"
"Woah patung yang sangat bagus"
Rian dan Iwan mengagumi patung yang berdiri tegak disudut ruangan..
Mereka melihat sekeliling dan melihat semua tempat layaknya museum..
"Lukisan ini sungguh berseni"
"Kau benar.. entah kenapa dia memberikan aura abstrak"
Mereka mengagumi lukisan.. yang tidak jelas itu.. dan mengomentarinya layaknya seorang ahli dalam seni..
Padahal mereka idiot..
"Hei Iwan coba kau lihat ini.. Pintunya sangat besar dari yang lain"
"Kau benar"
"Kata tuan putri kita boleh melihat lihat"
"Kau benar"
Mereka membuka pintu tersebut dengan perlahan dan terlihat disana seperti sebuah kamar.. tentu itu kamar karena disana ada kasur.
Di kasur seseorang pria paruh baya sedang berbaring..
Karena dia menyadari suara pintunya terbuka dia membuka matanya secara perlahan..
"Yuina ?" Ucapnya dengan suara parau..
Rian dan Iwan melihat pria paruh baya tersebut terlihat sangat lemah dan tak berdaya..
Mereka langsung mendekat kearah pria paruh baya tersebut..
"Paman apakah kau baik baik saja"
Pria paruh baya tersebut menyadari bahwa yang masuk bukanlah Yuina.. sekejap itu juga dia memasang muka marah..
"Siapa kalian ?" Bentaknya.
"Tenang paman kami bukanlah orang jahat" Jawab Rian dengan panik.
"Kami datang di undang oleh tuan putri sendiri" Sambung Iwan mencoba membantu Rian.
"Terus kenapa kalian ada disini"
"Hehe.. kami penasaran" Balas Rian tanpa malu.
Lalu si pria paruh baya melihat mereka berdua dan terlihat mereka memang tidak berbohong dengan apa yang mereka katakan..
Karena Pria paruh baya ini merupakan raja jadi dia sudah tahu bagaimana membaca apakah mereka berbohong atau tidak dapat dilihat dari ekspresi wajahnya dan cara bicara mereka.
"Paman apakah kau sakit ?" Tanya Rian.
"Aku sudah tua wajar jika terkena sakit" Balasnya dengan suara agak serak.
Setelah mendengar hal itu Rian langsung mengambil sebuah kantong yang selalu dia ikat di pinggangnya..
__ADS_1
Kantong tersebut merupakan kantong penyimpanan yang bisa menyimpan apa saja bahkan dengan ukuran yang sangat besar. kantong ini merupakan pemberian Guild Master kepada mereka..
Disana Rian langsung mengambil sebuah tas yang dia simpan disana..
Lalu dia merogoh tasnya dan mencari sesuatu..
Saat dia menemukan barang yang dia cari.. dia langsung gembira dan memberikannya kepada Paman tersebut..
"Ini paman obat sakit M*x*grip.. bisa menyembuhkan segala penyakit"
Rian memberikannya kepada paman..
Sejujurnya obat itu tidak dapat menyembuhkan segala penyakit karena keidiotan Rian dia hanya bisa menyebutkan hal itu dan tidak secara detail menjelaskan untuk menyembuhkan apa..
"Ah terima kasih anak muda tapi ini mungkin tidak dapat menyembuhkan penyakitku"
"Siapa tahu kalau belum di coba"
Lalu Rian membuka bungkus obat tersebut dan memberikannya kepada Paman tadi..
Paman tersebut terlihat ragu ragu namun dia tetap mengambilnya.
Rian menatap kearahnya menunggu untuk menelan pil obat yang dia berikan..
Paman tersebut tidak punya pilihan lain dan hanya bisa menelannya..
Setelah itu Rian langsung memberikan gelas yang berisi air putih yang sudah ada di meja tepat disamping paman tersebut..
Paman yang tersebut langsung merasakan pahitnya obat tersebut langsung terburu buru menerima air yang diberikan Rian..
"Pahit.. apa ini" Ucapnya setelah meminum air..
"Sekarang paman mungkin akan baikan.. namun tetap obat ini harus diminum tiga kali sehari pagi hari, Siang hari, dan malam hari"
Paman tersebut menatap tajam kearahnya.. namun dia tidak melihat sedikitpun tipu muslihat yang dikeluarkan dari wajahnya atau nada dia bicara..
Jadi dia mengangguk mengerti dan menerima beberapa pil dari Rian.
...
Kina dan Lisa datang membawakan sebuah makan malam untuk Raja karena ini sudah jadwal nya untuk makan..
Namun saat mereka melihat bahwa pintu kamar raja terbuka mereka langsung bergegas..
Saat sampai mereka melihat seorang pemuda sedang berada di dekat kasur yang mulia..
Mereka langsung melepaskan makanan yang mereka bawa dan langsung mengambil pisau belati kecil yang selalu mereka bawa di lengan baju mereka..
Mereka berdua menodongkan pisau kearah lehernya..
Rian dan Iwan menjadi terkejut dengan apa yang terjadi dan mereka cuma bisa diam ketakutan dan tidak bergerak..
"Apa yang kalian lakukan disini ?" Ucap Lisa dengan dingin..
Bersambung...
Ruang curhat pemain..
"Entah kenapa aku mulai bosan melakukan hal ini" Rian
"Apanya ?" Rei
"Maksudku Ruang curhat pemain ini.. bukankah waktu bermain kita terlalu banyak..mungkin hal ini dapat kita serahkan tugas ini kepada yang lain" Rian
"Maksudmu dengan karakter lain" Iwan
"Ya itu maksudku" Rian
"Apakah kalian memanggilku" Paman berotot.
"Oh tidak" Rian
"Tolong jangan ini lagi" Iwan
"Entah kenapa dimana - mana ada pria berotot" Rei
Mereka semua mulai menyesali apa yang mereka lakukan selama ini.. Mungkin hidup di dunia lain sangat sulit..
Jangan lupa tinggalkan Like, Komen dan vote..
Agar novel ini tidak di penuhi pria berotot..
"Author mulai mengancam" Rei
"Ugh.. aku harap itu tidak terjadi" Rian
"Cepat tekan like" Iwan
__ADS_1