
Hari yang begitu cerah namun tidak ada hal bahagia yang bisa dirayakan.
Jalan yang sekarang dilalui tidaklah sama seperti sebelumnya.
Beberapa jam yang lalu tempat ini adalah hutan.
Namun sekarang hutan itu musnah seperti tidak pernah ada sebelumnya.
Aku mencoba untuk berdiri namun kakiku tidak mampu untuk menopang tubuhku.
ketika aku mencoba sekali lagi kedua lenganku diraih oleh seseorang dan membantuku untuk berdiri dengan meletakkan tanganku di bahunya.
Aku melihat diriku dibantu oleh kedua temanku untuk berjalan. Wajah mereka tidak dapat aku lihat karena pancaran sinar matahari yang begitu menyilaukan.
Apakah mereka sedih atau marah..
Aku tidak tahu...
Mereka berdua hanya diam tanpa berkata sepatah katapun.
Begitu juga diriku..
Kami berjalan hingga cukup jauh dari hutan berkabut yang kini telah hilang karena ledakan.
Aku ingat ketika tubuh iblis tersebut begitu memerah dan meledak.
Apa yang membuat mereka seperti itu ?
Pil ?
Aku ingat pil yang dimakan dia sebelumnya.
Apakah pil tersebut memiliki fungsi meledak ketika tubuh pengguna mati ?
Aku menggertakkan gigiku dengan marah hanya mengingat hal itu.
Aku pasti akan menemukan orang yang membuat itu.
DAN MEMBUNUHNYA.
"Ah liat.. kuda kita selamat" Ucap Rian dengan bahagia.
"Pasti mereka lari begitu cepat ketika ledakan itu terjadi" Balas Iwan dengan pikiran yang sederhana.
"Ah syukurlah" Ucap Rian dengan lega. "kita tidak harus capek berjalan"
Aku melihat kearah depan yang dimana kuda unicorn itu masih selamat dengan membawa gerbong kereta di belakangnya.
"Sungguh keajaiban mereka bisa selamat"
Namun ketika aku selesai berkata seperti itu tiba-tiba mereka mengalihkan pandangan mereka dengan cepat dan perlahan berjalan menjauh.
"Ah.. karena kita tidak tampan mereka ingin pergi!" Ucap Rian dengan panik.
Aku baru menyadari syarat bodoh yang harus digunakan untuk menggunakan kuda tersebut.
Benar..
Aku terlalu banyak menangis hingga air mata menyapu make up wajah tampanku menghilang.
"Aku akan pergi menangkap mereka"
Iwan dengan pelan melepaskan lenganku yang ada di bahunya dan berlari dengan cepat menuju kuda unicorn tersebut.
Hanya Rian dan aku sekarang.
"Maaf"
Suara Rian agak cukup berat untuk mengatakan hal tersebut namun dia tetap mengatakannya.
Aku hanya menutup mataku dan tersenyum.
__ADS_1
"Kehilangan seseorang memang cukup berat namun setidaknya aku tidak kehilangan semuanya"
Aku memberikan pukulan santai dari tanganku yang satunya kearah perutnya.
"Lagipula ini bukanlah salahmu dan bukan juga salah Iwan"
Rian memberikan senyuman kecil miliknya kearahku sembari memegang perutnya.
"Begitu kah.."
(Kruk~)
Suara keras bunyi perut Rian membuatku kaget.
"Ini karena kau menampar perutku" Ucap Rian menyalahiku.
"Bukankah itu memang waktunya kau lapar.. kenapa harus salahku ?"
"Ya kau mungkin benar.. ini bukanlah salahmu"
Ketika Rian menjawab seperti itu.
Aku baru menyadari bahwa dia mulai mengulangi apa yang aku katakan kepadanya.
Ketika dia mengulangi hal yang aku katakan kepadanya aku menyadari sesuatu. Sungguh dia membuatku tersadar hal penting yang tidak bisa aku lawan.
...
...
...
Iwan berlari dengan keras mengejar kuda unicorn itu hingga memaksa mereka berhenti menggunakan panah yang dia arahkan ke jalur lintas mereka.
Kuda unicorn itu marah namun ketika mereka melihat Iwan memasang wajah kesal sembari mengarahkan panah kearah mereka.
Mereka tiba-tiba menjadi jinak.
Dia melihat Rian dan Rei yang dimana mulai saling tersenyum.
(Aku tahu Rian bisa)
Iwan perlahan tersenyum..
Dia sengaja meninggalkan mereka berdua karena dia tahu kedekatan Rei dan Rian satu sama lain.
Iwan melambaikan tangannya kearah mereka dengan senang.
...
...
...
Sebuah hutan yang begitu lebat berlarilah dua orang pemuda dengan kecepatan melebihi kuda berlari.
Satu pemuda itu memiliki wajah tampan yang begitu mempesona dengan pakaian berwarna putih dengan beberapa corak berwarna kuning kontras dengan warna rambutnya. Beberapa belati dan ramuan penting dia letakkan di pinggang celananya.
Pemuda yang satunya memiliki topeng yang dibagian tengahnya terdapat cakar serigala yang besar dan bagian pinggirnya memiliki corak biru dan merah yang menutupi wajahnya dengan pakaian hitam yang memiliki sebuah tudung di bagian belakangnya. Memiliki rambut yang berwarna hitam dan mempunyai banyak sekali belati tersembunyi di pinggangnya, pergelangan kakinya, lengan bajunya, di belakang punggungnya dan beberapa di kantong penyimpanannya.
Lelaki tampan itu bernama Frey dan lelaki yang memiliki topeng itu bernama Jack.
Mereka berdua sedang bergegas pergi menuju kerajaan Huinester ketika tanah bergetar sampai ke tempat mereka berada.
Mereka telah keluar dari hutan dan saat ini dalam perjalanan menuju pintu gerbang kerajaan.
"Sepertinya getaran itu bukan berasal dari monster" Ucap Frey kepada Jack yang ada disampingnya.
Jack telah menganalisis daerah sekitar dengan matanya dan benar apa yang dikatakan oleh Frey.
Tidak ada monster disekitar.
__ADS_1
"Karena kita sudah sampai sini. Setidaknya kita akan melapor kepada tuan putri"
"Yess.. akhirnya aku bisa bersantai sembari melihat gadis cantik di sekitar"
Jack memberikan senyuman miliknya dibalik topengnya ketika mendengarkan perkataan Frey.
Mereka berdua sudah cukup lama pergi hingga mungkin beberapa orang khawatir dengan mereka.
Ketika mereka berdua sampai di pintu gerbang wajah familiar yang mereka kenal datang.
Kedua orang itu merupakan saudari kembar dengan jubah hitam yang memiliki lambang kerajaan dan mengenakan rok yang pendek sepanjang lutut mereka.
Saudari kembar ini dapat dibedakan hanya melihat wajah mereka dengan seksama.
Sang kakak yang bernama Hena memiliki tahi lalat di bawah matanya.
Sedang si adik yang bernama Heni tidak memiliki tahi lalat namun dia memiliki mata yang cukup tajam ketika sedang menatap seseorang.
"Geh.."
Frey tanpa sadar mundur ketika melihat mereka berdua.
"Apa maksudmu 'Geh' ketika melihat kami!"
Heni dengan kesal melihat kearah Frey.
"Aku hanya terkejut jika gadis pertama kali aku temui adalah kamu" Ucap Frey dengan cepat membuat alasan.
"Jadi kau tidak suka ?"
"Gadis secantik dirimu ? siapa yang tidak suka ?"
(tapi sangat disayang sifatnya ganas seperti macan)
"Apa yang kau pikirkan ?"
"Aku tidak memikirkan apa-apa"
(Insting perempuan ini terlalu mengerikan)
Jack yang ada di sampingnya melihat Frey kesulitan menghadapi wanita adalah pemandangan yang cukup langka.
Jadi Jack hanya tersenyum dibalik topengnya melihat kearah Frey. Ketika dia sedang tersenyum seseorang datang mendekat kearahnya.
"Bagaimana hasil pengejarannya ?"
Hena dengan cepat bertanya kepada Jack karena dia tahu kemana mereka berdua pergi.
"Sebelum itu.. apakah ada monster yang menyerang kerajaan ? kami merasakan getaran yang sangat hebat sebelum bergegas ke sini"
"Kami merasakannya juga tapi sepertinya itu bukanlah perbuatan monster"
Jack terdiam memikirkan kemungkinan yang membuat getaran itu terjadi namun pada akhirnya dia mendapatkan kesimpulan bahwa itu mungkin hanyalah gempa skala kecil.
(Mari berharap itu yang terjadi)
Jack kembali menatap kearah Hena dan tersenyum.
"Kami baru saja sampai.. bisakah setidaknya kami mendapatkan ruangan untuk beristirahat ?"
Hena mengangguk dan memandu mereka masuk ke dalam kerajaan..
Bersambung...
Apa yang membuat Rei sadar akan perkataan Rian akan sesuatu yang tidak bisa dia lawan ?
Jika kalian tahu komen..
Jika tidak tahu ya sudah.. Soalnya gak penting juga wkwk :v
Asal jangan lupa tekan tombol likenya aja ok.
__ADS_1
Soalnya aku gak bisa melawan kalian tentang itu.