
Cipratan darah mengalir deras dari bilah pedang yang Rian pegang.
Bau darah tercium dengan jelas di hidung Rian saat ini.
Menatap dengan takut kearah pedangnya sendiri namun dia masih belum kehilangan tekad untuk bertarung.
Walaupun mereka bukanlah manusia namun cara mereka berpikir dan bertindak masih manusia.
Rian menegakkan kepalanya kearah mereka semua.
Rasa takut mereka muncul ketika melihat kearah Rian. Namun mereka tidak mundur hanya salah satu teman mereka mati.
Rian memegang erat pedangnya dan mengarahkannya kepada mereka semua.
"Ini akan menjadi jalan terburuk yang pernah aku ambil!" Teriak Rian dengan begitu keras.
Iwan yang mendengar hal itu melihat kearah Rian yang telah memutuskan untuk bertarung dengan pertumpahan darah.
Hati Iwan menjadi goyah ketika melihat temannya yang maju ke depan menyerang musuh yang menghadangnya.
Melihat kondisi dirinya saat ini yang masih bimbang. Apakah dia harus membunuh iblis ini atau tidak.
Namun jika dia terlalu lambat untuk memutuskan maka dia kemungkinan akan kehilangan sesuatu yang berharga baginya.
Bertahan tidak akan menyelesaikan masalah.
Berjalan maju dan hadapi semua rintangan adalah jalan satu-satunya.
Iwan mengangkat tameng yang dia pegang setinggi mungkin dan menghentakkannya dengan keras ke tanah.
Semua orang yang mengepung dirinya terhempas oleh angin yang muncul dari hentakan tamengnya.
"Selalu bertahan itu sangat tidak nyaman!"
Iwan mengeluarkan sebuah busur silang (Crossbow) dari kantong penyimpanannya.
Dia memanfaatkan tameng untuk bertahan dan selagi dia bertahan dia akan mengisi busur silang dengan panah.
Mengarahkan panah tersebut menggunakan Skill Archer aktif untuk menambah damage yang dikeluarkan.
Suara hempasan dari busur silang tersebut menggelegar seperti petir. Kepala iblis yang mendekat kearahnya langsung hilang seketika.
Itu adalah tembakan yang sangat kuat dikeluarkan Iwan sang Guardian Archer.
Bertahan dan melakukan serangan jarak jauh.
Kombinasi curang yang mengerikan.
...
...
...
Aku kembali menatap dengan berat sosok gadis yang kuat ini.
Otot yang begitu besar itu membuat dirinya menjadi berbeda dari gadis kecil yang aku lawan sebelumnya.
Kekuatannya juga sangatlah mengerikan dan juga cepat.
Apa yang dapat aku lakukan selain mengulur waktu untuk membuat dirinya lelah.
Namun berpikir membuatnya lelah sepertinya agak mustahil.
"TIDAK ADA WAKTU UNTUKMU BERPIKIR!"
Suara yang begitu keras membuat seluruh isi hutan bergetar.
Aku tahu ini sangat mustahil.
Ketika aku sedang memegang belatiku dengan erat bersiap untuk menyerang. Tiba-tiba Matia berbicara.
"Aku akan memberikan support kepadamu!"
[Kekuatan dari kabut membuatmu bergerak dengan cepat]
__ADS_1
[Kamu dapat memanfaatkan kekuatan kabut selama lima menit]
Ini..
Aku melihat kearah Matia dengan terkejut.
"Kalahkan dia!" Ucap Matia dengan tersenyum.
"Pasti akan aku kalahkan"
Aku bergerak dengan cepat menggunakan skill Assasinku dan ditambah dengan kekuatan support yang diberikan Matia kepadaku.
Muncul dari belakangnya lagi namun kini dengan gaya yang sedikit berbeda.
Daripada mengincar lehernya yang dimana selalu dia lindungi lebih baik mengincar sisi lemah di ujung kakinya.
Dia langsung berlutut dengan cepat ke tanah karena kakinya yang terluka.
Memutar badan 360 derajat untuk memperkuat seranganku kearahnya menggunakan dua belati dimasing-masing tanganku.
Punggungnya terbelah dengan lebar hingga tulangnya terlihat sangat jelas.
"KAU!"
Luka yang ada di kakinya telah sembuh dengan cepat dan dia melompat menjauh dariku.
Kekuatan kabut aku lancarkan kearah matanya untuk dia tidak dapat melihat.
Aku bergegas cepat mendekati kearahnya namun tangannya dengan sigap bergerak secara tidak beraturan untuk membuatku tidak bisa menyerangnya.
Namun..
"Class Archer"
"Focus Eyes"
Aku mengerahkan mataku dengan baik untuk melihat celah pergerakannya.
Aku menyelinap masuk untuk melancarkan serangan kuat menuju dadanya menggunakan dua belatiku dan menarik lurus kearah atas hingga lehernya namun tangannya telah sigap menghentikan tanganku untuk melakukannya.
Karena rasa sakit yang dia derita tanganku dia lepaskan.
Aku memutuskan untuk mundur dan kembali mengambil dua belati dari kantong penyimpananku.
Syukurlah aku telah mempersiapkan senjata lebih banyak di kantong penyimpananku.
Dia melepaskan belati yang menempel dari dadanya dan menatap kearahku dengan wajah yang sangat kesal.
"AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU!"
Dia meneriakkan sesuatu yang membuatku telah terbiasa mendengarnya dari perkataan boss yang mau mati seperti di game rpg.
Ketika aku ingin mengerahkan kekuatanku untuk mendekatinya.
Tiba-tiba aku merasakan rasa sakit di jantungku.
Udara tiba-tiba menjadi sangat sesak hingga paru-paruku sakit.
"Rei!"
Matia meneriaki namaku dengan khawatir.
Aku memaksa diriku dengan berat untuk bangkit.
Aliran napasku kembali secara perlahan namun rasa lelah tiba-tiba membanjiri diriku.
[Pergantian Class yang terlalu sering membuat pengguna kelelahan]
[Harap berhenti untuk memaksakan dirimu]
Suara system tiba-tiba muncul namun kini suaranya tidak ada nada menghina melainkan nada yang khawatir.
"Aku tahu!"
Aku kembali menggunakan Class Assasinku.
__ADS_1
Aku melihat kearah gadis tersebut yang dimana seluruh tubuhnya terluka namun terlihat secara perlahan kulitnya mulai menutup berusaha untuk menyembuhkan dirinya.
Dia mengambil sesuatu dari balik baju yang dimana itu sebuah pil berwarna merah darah.
Naluriku berkata itu berbahaya untuk membiarkannya menelannya.
Jadi aku dengan cepat melempar kedua belati kearahnya untuk menghentikannya.
Namun terlambat..
Pil tersebut dengan cepat dia telan.
Belatiku telah mengarah kearahnya dihentikan dengan mudah menggunakan tangannya.
Secara perlahan tubuhnya berubah menjadi semakin besar dengan otot yang menonjol dengan ngeri menghancurkan seluruh pakaiannya.
Bentuknya tidak seperti gadis iblis yang sebelumnya.
Ini terlihat seperti monster yang mengerikan sekarang.
Tidak ada wujud gadis cantik ataupun gadis kecil sekarang.
Kini hanyalah monster mengerikan dengan otot-otot yang menonjol penuh kengerian.
Tangannya berubah menjadi besar dengan kuku yang tumbuh dengan tajam.
Giginya perlahan menumbuhkan taring yang begitu kuat siap untuk menghancurkan apa saja yang datang.
"Rei.. kalian harus lari dari sini!"
Matia dengan wajah yang sangat khawatirnya mendekat kearahku.
Dia perlahan meraih lenganku untuk membawaku pergi.
Aku tidak bergerak dari tempatku ketika Matia berusaha dengan keras menarikku.
"Aku tidak bisa lari!"
"Apa yang kau katakan.. kau bisa saja mati!"
"Jika aku lari.. terus bagaimana dengan nasibmu ?"
"Aku ?"
"Bukankah kau berkata tidak bisa pergi dari hutan berkabut ini" Ucapku dengan menatap kearahnya.
Dia menatap kearahku dengan kaget.
"Jika aku lari.. bukankah kau akan menjadi sasarannya nanti" Sambungku dengan pelan sembari melepaskan tangannya dariku.
"Kau.. kenapa.."
Dia membuat wajah yang cantik ketika sedang kebingungan.
Aku bisa saja lari dan pergi begitu saja.
Namun..
Aku tidak bisa mengulangi hal yang sama seperti di masa lalu.
Berpura-pura hal ini bukan masalahku hingga pada akhirnya Dahlia merenggut nyawanya sendiri.
Dia pasti butuh pertolongan saat itu namun aku berpaling darinya.
Kini aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti itu..
"AKU MULAI BOSAN MELIHAT HAL DRAMATIS BODOH YANG KALIAN LAKUKAN!"
Suara boss itu mulai membuatku kesal sekarang.
"Berkata seperti itu terus tapi masih memakai pil aneh untuk melawanku. Bukankah itu bukti kamu lemah"
"KAU!"
Aku mencengkram kembali belatiku dengan erat bersiap untuk melakukan pertarungan ronde ketiga sekarang.
__ADS_1
Bersambung..