Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Sebuah Harapan


__ADS_3

Suara Monster menggelegar diseluruh tempat.


Satu orang berdiri dengan beberapa monster yang telah tumbang tidak jauh dari tempatnya.


Seorang pemuda yang memiliki perawakan yang terlihat begitu kuat dan mendominasi.


Tatapannya begitu tajam dia berikan kepada Monster yang terus berdatangan.


Dia tidak takut melihat banyaknya monster yang datang.


Satu helaan napas dia berikan untuk melegakan dirinya dari rasa lelahnya.


"Drian apakah kau baik-baik saja ?"


Suara seorang perempuan menyadarkan dirinya bahwa dia tidak benar-benar sendirian.


"Aku bisa mengatasi ini sendiri jadi kau bisa pergi bantu yang lain, Luna"


Gadis bernama Luna ini terlihat sangat khawatir sebelumnya namun setelah dia melihat Drian dapat menumbangkan beberapa monster tanpa kesusahan sama sekali membuat rasa khawatirnya terbuang sia-sia.


Drian mencekram tangannya dengan begitu erat.


Hanya dengan tangan kosong saja dia sudah menumbangkan monster dengan begitu mudah.


(Apakah karena aku telah menguasai teknik yin dan yan semua menjadi begitu lambat ?)


Setelah Drian menguasai teknik dimana dia bisa menghentikan waktu untuk beberapa saat setelah melawan monster terakhir kali di desa yang telah dia selamatkan.


Semua gerakan musuh menjadi begitu lambat di matanya.


Walaupun dia tidak menggunakan teknik untuk menghentikan waktu namun sepertinya tingkat kultivasinya telah memberikan beberapa manfaat.


Pada akhirnya ini menjadi sebuah skill pasif untuknya..


Karena dunia ini masih menggunakan yang namanya sistem Class dan Skill.


Oleh karena itu kemungkinan bahwa teknik kultivasinya membuat Class dan Skillnya menjadi tumpang tindih.


Ini adalah teori yang telah dia serap setelah dia melihat dari perbedaan dunia dari cerita gurunya.


Satu monster telah bersembunyi disemak dalam waktu yang lama..


Ketika dia melihat Drian sedang melamun dia langsung keluar menerkam ke depan dengan cepat.


"Drian awas!!"


Satu kedipan mata Drian semua berubah menjadi lambat.


Drian dengan santai menarik leher monster tersebut dan menghancurkan lehernya.


Satu kedipan matanya lagi dunia menjadi kembali seperti semula.


Darah mencuat dengan ngeri dari monster yang dia bunuh.


Drian sendiri menjadi takut akan kekuatannya sendiri..


"Kau! Bagaimana ?"


Luna yang ada di dekatnya menjadi kaget akan apa yang dia lihat.


Luna sudah menduga bahwa Drian itu memiliki kekuatan yang hebat tapi dia tidak menyangka bahwa kata 'hebat' ini melebihi apa yang ada dipikirannya.


"Nanti akan aku jelaskan" Balas Drian dengan tersenyum.


Drian tidak ingin menjelaskan tentang kekuatan yang dia miliki saat ini dan hanya fokus untuk melawan monster yang datang.


Drian lalu menyingkirkan lengan baju yang dia miliki karena begitu menganggu bagi dia.


Ketika monster terus berdatang Drian hanya bisa menghela napasnya dengan kecil.


...


...


Monster telah bergelimang dimana - mana..


Pohon yang awalnya begitu rapi sekarang sudah begitu berantakan dengan terjadinya pertempuran hebat.


Darah monster yang dibunuh mengalir dengan cepat ke tanah dan meninggalkan badan tanpa bernyawanya.


Drian menyeka darah yang ada di pipinya dengan pelan.

__ADS_1


Drian lalu mengalihkan pandangannya kepada Luna yang dimana dia sedang berdiri dengan tatapan kosong dimatanya.


Ketika dia menyadari bahwa dia terlalu berlebihan untuk melawan semua monster itu membuat Luna menjadi begitu terkejut.


Semua terjadi begitu cepat membuat Luna kebingungan.


Tidak sampai sepuluh menit untuk mengalahkan semua monster.


Tumpukan monster terlihat begitu banyak dan terlihat mustahil untuk satu orang mengalahkan semuanya.


Luna menyadari tatapan Drian kepadanya dan akhirnya sadar.


"Bagaimana ? Apa yang.."


Banyaknya pertanyaan Luna dipikirannya membuatnya menjadi semakin bingung apa yang ingin dia pertanyakan terlebih dahulu.


Drian melihat kearah Luna yang menatapnya begitu aneh.


"Aku akan menjelaskannya lain waktu.. untuk saat ini mari kita ke tempat yang lain"


...


...


Benteng bagian belakang telah dibereskan oleh satu orang..


Mungkin tidak ada orang yang mempercayai itu tapi bagi desa pembunuh yang diberikan tugas disana mempercayai itu karena mereka ada disana melihat kekuatannya.


Oleh karena itu orang dari desa pembunuh mendapatkan waktu yang bagus untuk membantu daerah yang lain.


...


...


"Apakah ada sesuatu yang dipikiranmu ?"


Liana bertanya kepada Yuina.


Yuina perlahan menurunkan matanya dengan berat kearah semua orang.


Dia memiliki banyak pikiran untuk saat ini.


Terutama untuk tiga orang itu.


Walaupun dia perlu memikirkan rakyatnya terlebih dahulu.


"Mereka pasti baik - baik saja" Ucap Liana dengan pelan.


Yuina melihat kearah Liana yang terbalut dengan perban putih diperutnya.


Walaupun lukanya telah tertutup dikarenakan skill dari penyembuhan namun tetap saja penyembuhan dari skill belum bisa menyembuhkan sepenuhnya.


Karena pertempuran sebelumnya para warga sedang beristirahat..


Beberapa pasukan juga terluka oleh karena itu mereka saat ini sedang disembuhkan oleh pendeta dan juga petualang yang memiliki Class support dan Healer.


Warga biasa juga ikut dengan sukarela untuk membantu yang siapa saja bisa dalam penyembuhan contohnya gadis yang memakai topi penyihir.


Gadis tersebut memberikan beberapa pengobatan herbal kepada korban yang terluka.


Gadis tersebut adalah Nita.


Lalu adiknya Rachel bernama Charllotte juga ikut dalam membantu warga.


"Mama!.. Mama!"


Seorang anak kecil menangis dengan sedih ketika melihat tubuh ibunya yang telah tergeletak tanpa nyawa.


Nyawa Ibu anak ini tidak bisa tertolong karena serangan tiba - tiba dimana monster tikus tanah tersebut muncul.


Semua orang menjadi kasihan dengan keadaan anak itu.


Ketika Yuina ingin bangkit dan menenangkan anak kecil tersebut.


Ryu dan Irna sudah berjalan mendekatinya.


Mereka berdua adalah adik angkat Liana.


"Namamu siapa ?" Tanya Irna dengan pelan kearahnya.


Gadis tersebut berusaha menghapus air matanya secara perlahan dan menatap kearahnya.

__ADS_1


"Carney"


"Itu nama yang bagus.. Namaku Irna lalu-"


"Aku Ryu"


Gadis tersebut masih sedih dan ingin menangis lagi lalu Ryu dengan terburu berkata. "Namamu memiliki arti ceria bukan ?"


"Aku tidak tahu arti namaku" Ucap gadis tersebut dengan kecil.


"Aku menemukan buku cerita yang dimana nama tokoh utamanya adalah Carney.. Nama itu diberikan oleh ibunya karena dia ingin anaknya menjadi orang yang selalu ceria.. Bukankah ibumu memberikan namamu dengan alasan seperti itu ?" Jelas Ryu."Bukankah ibumu akan sedih jika tahu bahwa kamu tidak ceria ?" Tambah Ryu ketika menatap Carney.


Carney mendengar hal itu menjadi tenang dan menyadari bahwa jika dia sedih akan membuat ibunya sakit hati.


Oleh karena itu dia berhenti menangis.


"Tenanglah.. kau tidak sendirian" Ucap Irna kepadanya.


Lalu Irna berjalan memeluknya dengan pelan.


Suara tangisnya perlahan menghilang dan yang diwajahnya saat ini hanya tersisa sebuah senyuman.


Ryu melihat hal itu menjadi lega karena cerita miliknya membuat Carney tenang.


Yuina yang melihat itu juga menjadi tenang.


Awalnya dia memiliki hal yang dia khawatirkan namun sekarang itu telah sirna.


"Itu adalah adikku yang dapat aku banggakan.. bukan seperti seseorang yang--" Mata Liana perlahan jatuh kepada Yuina.


Yuina memahami artinya itu.


"Seharusnya aku tidak menolongmu" Ucap Yuina dengan kesal.


"Lihat bukankah itu jahat ?" Balas Liana dengan sedih.


Yuina perlahan tersenyum.


Benar.


Merasa khawatir tidak akan membuatnya merasa lebih baik.


Kita hanya perlu terus melangkah ke depan dan tak perlu khawatir karena masih ada yang namanya sebuah harapan.


Itu yang ada dipikiran Yuina saat ini.


Bersambung..


Aku harap kalian memikirkan sebuah harapan ketika merasa khawatir..


Karena khawatir hanya akan membuatmu merasa tidak nyaman..


Namun jika kau memikirkan sebuah harapan bukan itu lebih baik daripada khawatir ?.


Awalnya aku merasa khawatir ketika novel ini tidak ada yang baca.


Namun ketika itu aku sadar..


Kenapa aku khawatir jika sebuah harapan masih ada ?


Itu adalah ketika diriku memaksa untuk terus menulis.


Jika aku berhenti menulis bukankah harapan itu akan sirna ?.


Jadi aku semangat untuk terus menjalaninya.


Karena ada harapan.


Maaf aku malah curhat.


Mungkin agak lambat bilangnya tapi terima kasih atas like dan ikhlasnya kalian memberikan vote.


Karena itu popularitas novel terus bertambah berkat kalian.


Moga aja sampai chapter ini masih banyak yang suka.


Walaupun masih belum bisa yang update tiap hari.. hehe.. tapi aku harap kalian senantiasa menunggu..


Oke itu aja..


Adios~

__ADS_1


__ADS_2