
"Cuma satu hari aku merasakan tampan dan itu telah sirna karenamu" Ucap Iwan dengan suara kesal.
"Lah kau juga ngapa gk ingat kalau wajah kita akan hilang terkena air" Balas Rian dengan kesal juga.
Mereka berdua masih berdebat satu sama lain karena wajah tampan mereka telah hilang.
Kini hanya aku saja yang memiliki wajah tampan namun ini semata-mata untuk kuda Unicorn agar menarik kereta kami.
Jika seandainya wajahku tidak tampan maka dapat dipastikan bahwa kuda ini tidak akan menarik kereta kami.
Jujur kuda ini cukup merepotkan karena persyaratannya harus tampan tapi karena kuda ini cukup cepat jadi sebanding dengan hal itu.
Walaupun aku agak kesal karena kuda juga mencari yang good looking.. padahal good looking bukanlah pilihan pertama untuk mencari kriteria pasangan.
Karena masih ada orang yang baik, perhatian, tutur kata yang lembut, suka bercanda yang membuat pasangan nyaman, dan yang paling utama itu hatinya yang tulus mencintaimu.
Jujur itu bagus..
Tapi akan lebih bagus lagi kalau good looking..
Sial pada akhirnya balik lagi ke awal..
Lupakan tentang itu.
Kini hutan kabut telah memasuki pandanganku.
Terlihat kabut putih mulai mengelilingi kereta kuda kami setelah memasuki hutan berkabut ini.
Hawa dingin mulai datang membuat nafasku menjadi embun.
Kereta kuda terpaksa harus berhenti di sini karena perjalanan ini akan sulit karena jarak pandangku sudah mulai menghilang.
Jika memaksakan untuk meneruskan dengan kereta kuda entah apa yang harus kami lalui di hutan ini.
"Kenapa kita berhenti.. oh.."
Rian ingin berkata sesuatu namun terhenti ketika melihat kabut tebal disekitarnya.
"Ini lumayan menakutkan" Ucap Rian dengan wajah yang takut.
"Rian~"
"AAHH!"
Iwan menggunakan senter untuk menyorot wajahnya hingga Rian berteriak dengan begitu nyaring.
Aku hanya bisa menghela napasku ketika melihat betapa menakjubkan mereka untuk bercandaan di tempat seperti ini.
"Kalian jangan terlalu ribut.. kita tidak tahu makhluk apa yang ada di hutan ini" Ucapku kepada mereka berdua.
"Iwan memang kampret!"
"Gitu aja takut.."
Aku mengambil cahaya senter dari hp milikku dengan pencahayaan ini akan cukup untuk melihat tempat sebagai pijakan.
Ini akan menjadi pencarian yang sulit..
Rian dan Iwan turun dari kereta kuda ditemani oleh cahaya dari sinar hp mereka sendiri.
"Kalian jangan jauh-jauh dariku"
"Tenang Rei.. kami ini bukan anak kecil" Ucap Rian dengan santai.
"Yap benar sekali.. kau kira kami anak kecil yang bakal mudah tersesat ?" Balas Iwan dengan percaya diri.
Aku berkata seperti itu karena aku tahu itu akan terjadi.
Tapi ya karena kepercayaan diri mereka tinggi jadi aku harap perkataan mereka benar.
Aku berjalan di depan memimpin masuk ke dalam hutan.
Seiring berjalan kabut mulai menebal dengan begitu parah.
"Kita jangan sampai--"
__ADS_1
Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku mereka telah hilang..
"--berpisah"
Baru beberapa langkah aku berjalan dan mereka telah hilang.
"Hei Rian.. Iwan.."
Aku memanggil nama mereka berdua dan masih menyorot ke belakang. Namun tanda-tanda mereka telah tidak ada.
Kabut semakin menebal dengan begitu hebat.
Aku merasakan tempat ini menjadi semakin gelap walaupun saat ini hari masih siang.
Aku memberanikan diri untuk menelusuri tempat ini seorang diri. Hanya bermodalkan cahaya lampu hp milikku untuk pencahayaan dan sepertinya ini akan menjadi pengalaman yang horror.
"Rei"
Langkahku terhenti ketika seseorang memanggil namaku.
Itu bukanlah suara Rian dan Iwan.
Itu suara yang paling aku kenal dengan baik.
"Rei"
Suara itu semakin dekat hingga cahaya kabut menghilang dan menampilkan sosok gadis yang aku kenal.
"Apa kau ingat denganku ?"
Aku membuka mataku dengan lebar karena terkejut melihat dirinya ada di sini.
"Kenapa kau ada di sini" Ucapku dengan panik."Dahlia"
Rambutnya berwarna hitam pendek dengan aksesoris bunga kecil di poninya. Wajahnya yang cantik dan sorot mata yang lembut. Dia memiliki senyum yang manis dan ketika dia tertawa matanya akan selalu menyipit.
Aku sangat kenal dengan gadis ini.
Karena dia adalah cinta pertamaku.
"Aku sangat senang kau masih mengingatku"
"Apakah salah jika aku masih hidup"
"Bukan itu tapi"
"Rei apakah kau tahu.. aku sangat senang melihatmu di sini"
Dahlia perlahan tersenyum lembut kearahku.
Dia perlahan mendekati kearahku dan mengulurkan tangannya ke wajahku.
Aku tanpa sadar menangkis tangannya dan perlahan mundur.
"Aku tidak mengerti.."
"Apa kau benar-benar Dahlia!"
[Pasif tiga orang idiot menghalangi skill Charm]
[Orang idiot tidak akan terkena pesona.. kau tahu idiot tidak dapat menilai nilai keindahan]
Karena system membuatku sadar bahwa ini adalah Skill yang sama seperti ras vampire gunakan.
"Apa yang kau katakan.. aku memang Dahlia!"
"Jika kau memang benar-benar Dahlia.. maka katakan bagaimana kau meninggal ?"
Dahlia terdiam untuk beberapa detik dan perlahan menjawab dengan nada yang sedih.
"Aku meninggal karena penyakit yang aku derita"
Aku memberikan dia senyuman.
Dia bisa membaca ingatanku.
__ADS_1
Aku langsung mengeluarkan belatiku dari kantong penyimpananku dan langsung menebas kearahnya.
Dia langsung menghilang menjadi kabut ketika belatiku mengenainya.
Dia kembali lagi muncul tidak jauh di depanku.
"Jahatnya kau mengayunkan senjata padaku"
"Dahlia bukan mati karena penyakit" Ucapku dengan suara sedih.
Aku mengungkap kenyataan yang memang selalu aku kubur dalam ingatanku.
Aku selalu berusaha untuk berpikir bahwa itu adalah penyakit.
Namun itu karena..
"Ah.. aku baru ingat.. aku bunuh diri kan"
Belati yang aku pegang bergetar akibat keterkejutanku.
"Kau bisa membaca ingatanku"
"Karena aku Dahlia"
Aku melempar belatiku kearahnya dan dia langsung menjadi kabut dan muncul kembali.
"Kau menghirup kabut yang ada disekitar dan itu mengatakan apa yang ada di pikiranmu saat ini" Jelasnya kepadaku.
Aku akhirnya menyadari bahwa fungsi kabut bukan hanya untuk menghalau pandangan melainkan juga untuk membaca pikiran.
Apakah karena kabut yang dihirup masuk ke dalam tubuh dan masuk ke dalam pikiran.
"Gabut"
"Aku tahu telingamu memiliki pendengaran yang bagus dan gabut itu istilah gaji buta di tempatmu kan"
"Bubut"
"Itu mesin"
"Kau pintar"
"Itu dari ingatanmu sendiri.. tunggu kau mengujiku ?"
Aku perlahan mengembalikan belatiku ke kantong penyimpananku.
Aku tahu dia tidak memiliki niat bertarung sejak awal.
Jika dia ingin dia bisa melakukan sejak awal
"Apa yang kau inginkan ?"
"Apa maksudmu ?"
"Kau bisa membunuh sejak aku melangkah di hutan ini.. tapi kau tidak membunuhku"
"Sebenarnya aku memerlukan bantuanmu.. wahai orang dari dunia lain"
Dia merubah nada dia berbicara dan menatap lurus kearahku.
"Kekuatanku untuk menjaga hutan ini tidak lama lagi akan hilang"
Bersambung..
Maaf atas keterlambatan update..
Sebenarnya aku berpikir lama untuk menulis kelanjutan karena cerita ini sejak awal tidak memiliki konsep yang sudah dipikirkan.
Semua yang aku tulis terjadi akibat imajinasi spontan dan tidak ada rencana apapun sebelumnya.
Jadi ketika aku menulis chapter ini aku harus merevisi tiga kali untuk menentukan hal yang harus aku tulis agar kelanjutan cerita ini menjadi menarik.
Maaf ya..
Hmm... Ngomong-ngomong kalau bisa likenya jangan lupa ya.
__ADS_1
Soalnya ketika aku lama gak buka aplikasi pas liat notifikasi like banyak banget jadi nyadar sendiri.. kayaknya ada aja yang marathon baca dari bawah.. ngeri njir.. padahal ni novel gk dipromosi atau apa.. bisa gitu ya..
Walaupun tulisan yang sebelumnya gak bagus banget.