
Setelah pertarungan melawan pria tampan yang berasal dari Akademi Pahlawan yang sombong itu..
Kami bertiga langsung diucapkan selamat oleh kepala sekolah akademi petualang dengan bersemangat.
"Sungguh pertarungan yang melelahkan" Ucap Rian dengan menggerakkan pergelangan tanganya.
"Sayang sekali kekuatan mereka bukan apa - apa" Sambung Iwan dengan nada sombongnya.
Aku yang melihat kesombongan kedua teman idiotku ini membuatku sedikit kesal..
Yang bertarung siapa yang sombong siapa ?
Kepala sekolah begitu bersemangat dan mengajak kami menuju kantin untuk merayakan kemenangan kami..
Apakah aku perlu menyebutkan 'kami' di sini ?
...
"Selamat makan"
Rian dengan cepat melahap makanan yang ada di meja begitu cepat.
Iwan melihat itu juga reflek ikut menyantap makanan dengan cepat.
Aku yang melihat itu hanya bisa menghela napasku dengan kesal.
"Maafkan tentang kelakukan mereka" Ucapku meminta maaf..
"Tidak apa - apa.. lagipula ini perayaan untuk kemenangan akademi petualang melawan akademi pahlawan" Balas kakek tersebut dengan tersenyum senang.
Kakek ini adalah kepala sekolah Akademi Pahlawan..
Wajahnya sangat mirip dengan kakek yang ada di guild petualang..
"Apakah ada sesuatu yang salah di wajahku" Ucap Kakek tersebut dengan meraba wajahnya dan merapikan rambutnya yang sudah berwarna putih.
"Tidak.. hanya saja anda terlihat mirip dengan kepala guild petualang di Kleinstar"
"Oh dia adikku"
"Ternyata begitu"
Sekarang itu menjelaskan semuanya.
Saat aku ingin mengambil makanan yang ada di meja.. semua orang menatapku dengan penasaran.. kecuali teman idiotku yang masih makan.
"Aku masih penasaran tentang pertarungan tadi" Ucap Yuina dengan penasaran..
Karena tempat duduknya ada disebelahku jadi dia bertanya dengan wajahnya begitu dekat denganku..
Aku harap dia berhenti melakukan itu..
"Bukankah aku sudah memberitahukan kalian bahwa itu adalah kekuatan class milikku"
"Walaupun kau berkata begitu entah kenapa itu terlihat mustahil.. lagipula bagaimana bisa kau mempelajari skill mereka dengan cepat"
"Itu aku membacanya di buku"
"Hanya di buku ?"
"Ya"
"Itu hebat.. biasanya orang ingin mempelajari skill dari buku memerlukan waktu yang lama untuk bisa"
"Aku hanya membayangkannya di kepala dan entah itu bisa"
...
"Hmhp.. nanti aku pasti berlatih lebih banyak lagi untuk mengalahkanmu" Ucap Rian dengan tidak senang..
"Aku sangat yakin itu" Balas Kina dengan nada meremehkan..
"Tunggu kalian tidak percaya denganku ?"
Kami saling menggelengkan kepala secara bersamaan..
...
Setelah itu waktu berlalu begitu cepat hingga tidak terasa sudah terlihat dilangit berwarna orange yang menandakan ini telah memasuki waktu sore.
Aku tidak menyangka hari ini berlalu begitu cepat..
Saat kami berjalan pulang menuju istana entah mengapa ini mengingatkanku ketika di Kleinstar..
"Apa yang kau senyumkan Rei" Tanya Rian dengan heran.
"Entah mengapa aku merasa takut melihat itu" Sambung Iwan.
__ADS_1
"Rei tersenyum pasti sedang memikirkan sesuatu yang licik" Balas Rian.
"Dasar teman gak ada akhak" Ucapku dengan kesal.
Apakah senyumanku sebegitu buruk ?
...
...
...
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau ucapkan ?"
"Maaf"
Luna meminta maaf kepada Drian dengan apa yang telah diperbuat sebelumnya..
Luna juga melihat kearah perempuan yang menahan monster tersebut ketika dia berusaha untuk membantu malah membuat dirinya hampir terbunuh..
Duri yang ditangkap Drian cukup besar seperti duri landak mungkin lebih besar dari itu..
Akan sangat yakin jika Luna terkena itu dia bisa saja mati..
"Itu adalah hal yang bagus karena kau sudah menyesal" Ucap Seorang perempuan berambut ungu.
"Sekali lagi maaf" Ucap Luna dengan bersungguh-sungguh.
"Saya juga minta maaf karena teman saya menyusahkan anda semua"
"Tidak.. tuan tidak perlu meminta maaf.. ngomong - ngomong nama tuan siapa ? nama saya Givania.. panggil saja saya Giva" Ucap Gadis yang berambut ungu dengan cepat. memperkenalkan dirinya.
Teman yang ada disampingnya langsung memberikan tatapan sinis kepadanya Giva karena melewati garis start.
"Nama saya Drian.. hanya Drian"
"Oh tuan Drian.. nama saya Helia"
"Tuan nama saya vinia"
"Nama saya Cevina"
Drian kebingungan dengan perilaku mereka yang tiba-tiba memperkenalkan diri mereka kepada Drian..
Drian hanya memberikan tatapan kebingungan kepada mereka..
Drian hanya memberikan senyuman manis dia kepada mereka..
Semua menjadi shock akan hal itu dan merasakan panas di hati mereka.
...
Setelah perbincangan kecil Drian akhirnya memiliki kesempatan untuk pergi..
"Aku sangat yakin kau senang disituasi seperti itu" Ucap Luna dengan cemberut.
"Aku senang tapi itu masih belum cukup untuk menggerakkan hatiku" Balas Drian dengan sorot mata yang percaya diri.
Luna melihat itu merasakan sedikit tenang dihatinya.. aneh..
Luna menatap tangan Drian dan akhirnya menyadari bahwa tangan Drian masih meneteskan darah secara perlahan..
"Tanganmu"
Drian memperhatikan tangannya yang terluka akibat menahan duri dari monster tadi..
"Ini hanya luka kecil"
Luna mengambil sebuah kain kecil dari sakunya yang biasanya dia gunakan untuk keadaan darurat menahan luka..
Luna dengan cepat meraih tangan Drian dan membalutnya dengan kain tersebut..
Drian terkejut dengan apa yang dilakukan Luna namun dia tidak menghentikannya..
"Sudah selesai.. setidaknya ini akan mengurangi lukamu saat ini"
Drian tersenyum kearah Luna dan berkata "Terima kasih"
Wajah Luna langsung memerah dengan malu dan hatinya berdegup lebih kencang dari sebelumnya..
Luna tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya..
Setelah dia mengingat dimana bagian Drian melindunginya.. wajah Luna semakin memerah..
(Perasaan ini.. apa ?)
Luna begitu bingung dengan apa yang sedang terjadi padanya..
__ADS_1
"Kau terdiam.. apakah ada sesuatu yang salah ?" Drian bertanya dengan mendekatkan wajahnya kepada Luna..
Luna begitu kaget dan tanpa sadar mendorong Drian..
"Aku tidak apa - apa" Jawab Luna dengan cepat.
Drian hanya bingung dengan apa yang terjadi..
Setelah dia melihat langit tanpa dia sadari waktu sudah sore..
Perut Drian tiba - tiba berbunyi dengan ganas..
Drian lupa bahwa dia masih belum makan sejak dia berangkat..
Luna mendengar itu tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tertawa..
"Haha.. perutmu berbunyi dengan begitu merdu"
"Terima kasih pujiannya"
"Kalau begitu aku akan mentraktirmu dengan masakanku"
"Kau yang memasak ?.. tolong jangan racuni aku"
"Kau tidak percaya dengan kemampuan memasakku.. hmpphh.. lihat saja nanti" Balas Luna dengan kesal.
Drian hanya tersenyum dengan hal itu..
Sepertinya dia masih Luna yang dia tahu..
...
...
...
"Apakah semua monster sudah dibereskan ?" Tanya Hena kepada anak buahnya..
"Semua telah kami basmi tuan putri" Balas semua orang yang berkumpul secara serentak.
"Bagus" Ucap Hena dengan senang.
Namun setelah Hena ingin beranjak pergi dia melihat kearah pasukan nomor 5.
"Pasukan 5 kenapa dengan kalian.. wajah kalian terlihat memerah.. apakah kalian sakit ?" Tanya Hena dengan penasaran.
"Tidak.." Balas mereka dengan cepat.
Pasukan 5 adalah pasukan yang bertemu dengan Drian..
Sepertinya mereka masih teringat momen mereka bertemu dengan pria kuat, tampan dan memiliki badan yang begitu bagus..
Hati mereka masih merasakan panasnya.
"Jika kalian sakit tolong jangan paksakan diri kalian" Ucap Hena kepada mereka.
"Terima kasih atas perhatiannya tuan putri" Ucap mereka dengan serentak.
Setelah itu Hena menghilang secepat angin..
"Aku harap aku bisa bertemu dengan dia lagi" Ucap Giva dengan pelan.
Bersambung..
Hoho.. Drian kamu mendapatkan harem disini.. fufu~
"Authornya pilih kasih ****" Rian
"Gak ada akhlak emang" Iwan
"Kita pindah ke novel sebelah aja lah yang viewnya banyak" Rei
-_-
Jangan dengarkan mereka..
Mereka cuma iri aja..
Padahal mereka juga sudah punya harem.. dasar gak tau diuntung..
Cuman aku aja yang...
....
T.T
Jangan lupa like ya.. :')
__ADS_1
Oke itu aja.. Adios~