
Aku mendengar hal itu hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa.
"Kekuatanku akan hilang--"
"Ya aku dengar!"
Aku membuat wajah marah karena ini orang terlihat tidak bisa membaca suasana.
"Aku ingin membantu tapi aku memiliki waktu yang mendesak untuk mencari--"
"Tanaman untuk menyembuhkan segala penyakit"
Sebelum aku menyelesaikan perkataanku dia sudah tahu apa tujuanku.
Karena dia bisa membaca ingatan mungkin ini adalah hal yang wajar.
"Kalau begitu kau perlu membantuku terlebih dahulu untuk memulihkan kekuatanku" Ucapnya dengan memberikan senyum manis miliknya.
Aku tahu itu bukanlah Dahlia tapi setiap kali dia berbicara dan tersenyum membuatku teringat akan dirinya.
Itu membuat dadaku menjadi sangat sakit dan juga sedih.
Ingatan ketika memakamkannya kala hujan itu membuatku teringat bahwa dia memang sudah tiada. Kini hanya gundukan tanah dengan batu nisan miliknya yang sering kali terngiang.
"Maaf.."
Dia kini berubah menjadi seorang gadis dengan matanya yang tertutupi oleh kain putih dan memiliki warna rambut belang antara hitam dan putih panjang sampai ke bahu.
"Jika begini maka tidak perlu dikhawatirkan"
Dia memberikan senyuman miliknya namun dengan wajah orang yang berbeda akan tetapi matanya tertutupi oleh kain.
Apakah dia masih bisa melihat.
"Mari kembali ke pembahasan awal"
Dia berbicara dengan suara santai dan mendekati kearahku.
"Aku membutuhkan sesuatu agar kekuatanku kembali"
Dia semakin mendekati kearahku dan tanpa sadar aku mundur perlahan ke belakang.
Aku menelan air liurku ketika dia begitu dekat denganku. Menunggu hal apa yang akan dia minta dariku.
"Aku perlu makanan milikmu"
"Hah?"
Selepas dia selesai berbicara suara perut miliknya terdengar begitu keras hingga kabut di sekitarnya mulai menghilang.
"Kau ingin makanan"
Dia mengangguk dengan wajah yang tampak memerah malu.
"Kau tidak menyuruhku mencari pusaka atau mengorbankan jiwaku ?"
"Apakah aku seperti itu di imajinasimu ?"
"Ya begitulah"
"Aku tidak sejahat itu kau tahu!"
Aku mengeluarkan segala makanan dari dalam kantong penyimpanan milikku.
Semua makanan ini adalah makanan cadangan yang aku beli jika semua makanan habis di makan oleh kedua orang idiot itu.
Jadi aku harus menyembunyikan semua makanan ini dari mereka.
"Keluarkan semua dan biarkan aku makan" Ucapnya dengan begitu bersemangat.
Aku mengeluarkan kain di tanah untuk meletakkan semua makanan yang ada.
Dia langsung duduk dan melahap makanan yang ada.
Aku juga ikut duduk dan memperhatikan dirinya makan.
Entah kenapa aku merasa seperti sedang piknik dengan seorang gadis.
Walaupun dia memang seorang gadis.
Namun melihat cara dia makan membuatku berpikir dua kali apakah saat ini aku sedang melihat gadis makan atau melihat beruang lapar makan.
__ADS_1
...
...
Seluruh makanan yang ada dalam kantong penyimpananku habis oleh gadis ini.
"Fuah~ akhirnya aku dapat makanan setelah sekian lama"Ucapnya sembari menjilati jarinya dengan nikmat.
Dia melihat kearahku dengan tersenyum.
"Terima kasih makanannya.. entah berapa ratus tahun aku tidak makan seperti ini"
Gadis ini duduk sembari memegang perutnya yang kenyang yang dimana itu tidak terlihat seperti gadis yang sedang makan.
"Sekarang kau telah makan jadi bagaimana jika kau menuntunku untuk mendapatkan tanaman yang aku cari"
"Kau sungguh tidak sopan ya mengajak seorang gadis setelah makan untuk berjalan" Ucapnya sambil mengembungkan pipinya seolah itu imut.
"Kau tidak bisa mendapatkan seorang gadis jika kau memperlakukan mereka seperti itu kau tahu"
"Kau tidak perlu menceramahiku untuk mencari seorang gadis"
"Benar.. kau sedang mencari tanaman ini untuk seorang gadis jadi kau tidak perlu mencari lagi bukankah begitu"
"Aku dan Yuina bukan seperti itu"
Pembicaraan ini tiba-tiba menjadi melenceng..
Sepertinya orang yang bisa membaca ingatan menjadi menyebalkan.
"Baiklah aku akan mengantarkanmu"
Dia berdiri dengan santai dan membentangkan tangannya lurus ke depan.
Hutan berkabut perlahan menghilang seolah membuat jalan untuk dilalui.
"Ikuti aku"
Aku berjalan di belakangnya ketika dia memimpin di depan.
Ketika aku berjalan daerah sekeliling yang awalnya ditutupi oleh kabut perlahan menghilang hingga dimana itu memperlihatkan banyak tulang manusia.
"Jangan khawatir.. itu bukanlah perbuatanku"
"Semua orang ini mati karena ingin bertemu orang yang mereka sayangi"
"Apa maksudmu ?" Tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
"Kau tahu hutan berkabut ini bisa memperlihatkan ilusi tentang orang yang telah meninggal" Ucapnya dengan santai.
"Bukankah itu dirimu sendiri yang membuat itu terjadi!" Balasku dengan keras.
"Aku hanya ingin makanan yang mereka bawa" Balasnya sembari memegang perutnya. "Setiap kali mereka datang aku meminta mereka untuk membawakan aku makanan karena itu aku selalu berusaha untuk mirip dengan orang yang berharga bagi mereka"
"Namun ternyata itu menjadi kebiasaan mereka hingga mereka tua dan memilih untuk mati di sini" Sambungnya dengan wajah bersalah.
"Hingga saat itu aku berhenti melakukan itu namun ternyata itu menjadi bumerang hingga membuatku kehilangan kekuatanku"
"Lalu kau datang setelah ratusan tahun.. aku ingin mencoba untuk membuatmu terikat dengan hutan ini namun ternyata kau bisa lepas dari skill pesonaku"
"Bukankah itu berarti semua orang yang mati disini karenamu.. darimana coba itu bukan menjadi salahmu" Sanggahku ketika mendengar ceritanya.
"Oke itu memang salahku tapi bukan berarti itu sepenuhnya salahku.. mereka ingin bertemu orang yang berharga bagi mereka dan aku hanya membantu mereka hingga tanpa sengaja mereka terikat dengan hutan ini.. kau puas!"
"Aku juga tidak ingin menjadi hutan berkabut sejak awal.. kenapa pahlawan bodoh itu harus merubah diriku menjadi penjaga hutan.. aku hanya ingin hidup normal"
Dia menghentakkan kakinya dengan kesal hingga terlihat beberapa kabut dari kakinya keluar.
Sepertinya aku mengatakan sesuatu yang tidak harus katakan.
"Maaf" Ucapku dengan sepatah kata dengan rasa bersalah.
Dia melihat kearahku dengan tersenyum dan mulai tertawa.
"Aku tahu kau orang yang baik" Ucapnya dengan nada yang sedikit sedih.
"Sungguh sangat disayangkan aku tidak bisa menggunakan skill pesonaku padamu" Sambungnya.
"Jika kau ingin aku maka kau harus berusaha lebih keras" Ucapku membalas candaan miliknya dengan tersenyum.
"Kau sudah punya perempuan lain dan masih menginginkanku.. sungguh lelaki itu memang mesum" Balasnya sembari memegang tubuhnya dan berlari menjauh dariku.
__ADS_1
"Hei!"
"Kita sudah sampai"
Dia berhenti dan menunjukkan sebuah tanaman yang tumbuh dengan cantik dengan bunga dan daun yang berwarna ungu.
"Itu adalah tanaman yang kau cari"
"Aku tidak menyangka akan semudah ini"
Jujur aku tidak berharap bahwa semua ini berjalan begitu lancar hingga aku tidak mempercayai ini bukanlah sebuah mimpi.
Aku berpikir akan bertemu dengan monster atau makhluk yang mengerikan untuk mendapatkan tanaman ini.
Namun siapa sangka ini begitu mudah.
"Tapi kau harus cepat karena setelah tanaman ini dicabut akan cepat layu dan ketika itu terjadi maka manfaat dari tanaman ini akan hilang"
Ketika dia berkata seperti itu dia membuaku teringat akan sesuatu yang diberikan oleh ketua Elf kepadaku.
Aku mengambil tanaman tersebut dengan tanahnya begitu pelan untuk meletakkannya di pot.
"Oh.. itu pot yang bagus.. sungguh Elf itu memberikan sesuatu yang bagus kepadamu"
Dia kembali membaca ingatanku namun aku tidaklah marah karenanya.
Ketika semua itu selesai aku langsung membuatnya ke dalam kantong penyimpanan milikku.
Semua selesai dengan aman.
"Apakah kau sekarang akan pergi"
Dia bertanya langsung kepadaku ketika aku selesai.
"Aku harus mengantarkan ini dengan cepat"
Ketika aku berkata seperti wajahnya terlihat dengan sedih.
"Tapi aku akan mengunjungimu lagi jika telah usai dan mari kita cari cara untukmu bebas dari sini"
"Benarkah"
Dia mendekatiku dengan begitu bersemangat.
"Yah.. setidaknya itu adalah balas budiku untukmu setelah mendapatkan tanaman ini"
"Yah kau benar.. kau harus balas budi setelah semuanya"
Sepertinya aku memiliki balas budi yang sulit untuk dilakukan tapi setidaknya itu adalah hal yang pantas untuk dilakukan.
Aku tidak bisa membiarkan seorang gadis sendirian di sini tanpa ada yang memberikan dia makan.
Tunggu kenapa aku terlihat seperti seorang ayah ?.
"Baiklah.. bagaimana jika kau mengantarkanku keluar"
Dia melangkah mundur dariku dan dengan cepat berjalan ke depan.
"Baiklah aku akan menuntun mu keluar"
"Oh ya.. jika memungkinkan bisakah kau mencari kedua temanku.. aku terpisah dengan mereka"
"Oh mereka berdua.. sepertinya mereka sedang tidur saat ini"
"Tunggu apa ?"
"Kau lihat.. sebelum aku bertemu denganmu mereka berdua terlihat kelelahan dan tiba-tiba langsung tertidur ketika sedang berjalan"
Yah mereka sepertinya menikmati hidup ini begitu santai.
...
...
...
*Ngeriokkkk
*Ngeriioookk
Suara ngorok dari kedua orang itu terdengar begitu keras sehingga orang lain yang ada di sekitar sana mendengarnya dengan begitu jelas.
__ADS_1
Bersambung...