Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Kalah ? Apaan itu ?


__ADS_3

Aku berlari mengenggam erat lengan Melidia untuk dapat kabur dari kerumunan orang..


Merasa cukup jauh aku menoleh kearah belakang untuk memperhatikan apakah ada yang mengejar..


Namun ternyata tidak ada..


Sepertinya pengalihan perhatian dari Rian berhasil..


"Sepertinya kita telah aman" Ucapku kepada Melidia.


Suara napasku masih tidak teratur karena berlari.. namun tidak ada sedikit keringat pun yang datang.


Melihat kearah Melidia dimana wajahnya memerah padam dan sedikit keringat mengalir dari dahinya..


Apakah aku terlalu memaksakan dirinya untuk berlari mengikuti kecepatanku ?


"Anu~ tuan Rei.. bisakah anda melepaskan lengan anda"


Aku melihat tanganku masih mengenggam erat tangannya..


Menyadari hal itu aku langsung melepaskan tangannya dengan pelan.


"Maaf itu tidak sengaja"


"Tidak apa-apa"


Beberapa detik keheningan terjadi dan kami berdua saling menatap dengan canggung..


"Ahem~ mari kita lanjutkan perjalanan kita" Ucapku dengan diawali batuk palsu untuk menghilangkan rasa canggung.


"B-benar.. saya akan mengantarkan anda menuju area pasar.. mari ikuti saya"


Melidia mengambil langkah di depan dengan cepat untuk menuntun jalan.


Sesampainya di sana aku membeli berbagai kebutuhan untuk perjalanan. Karena bekal makanan yang kami bawa telah habis jadi aku harus banyak membelinya. Terutama untuk kedua orang idiot yang makannya selalu banyak..


Melidia mengenalkanku ke berbagai tempat disana untuk mengetahui daerah sekitar. Bahkan kami mengunjungi berbagai stan makanan yang ada.


"Tuan Rei.. sepertinya anda membelinya terlalu banyak" Ucap Melidia dengan tersenyum kecut melihat banyak bungkusan makanan yang aku bawa.


"Ah ini untuk kedua orang itu.. lagipula mereka pasti merengek denganku jika aku menikmati makanan tanpa mereka"


"Anda cukup perhatian"


"Jangan salah.. ini hanya karena aku terlalu malas untuk menghadapi mereka"


Lalu aku melihat sekitar dan tersenyum.


"Tempat ini juga tidak buruk.. berbagai jenis masakan begitu unik.. aku jadi malah ingin meminta resepnya dan membawanya ke kerajaan Klienstar agar semua orang bisa mencicipinya"


Pasti dia juga akan suka.. mengingat Yuina suka akan hal baru.


"Tuan Rei.. anda membicarakan kerajaan Klienstar ? apakah anda mempunyai hubungan dengan keluarga kerajaan di sana terutama bagian ibukotanya ?"


"Aku pikir aku punya" Ucapku dengan agak ragu.


Lagipula Liana dan Yuina adalah tuan putri yang aku kenal apalagi dengan ayah mereka. jadi menyebut mereka kenalan tidak seharusnya salahkan ?


Melidia memainkan lengannya dengan gugup dan menatap lurus kearahku..


"Apakah tuan sebenarnya pangeran ?"


Aku mendengar hal itu tidak dapat menahan tawa.


Karena Rian dan Iwan pernah membicarakan hal itu jadi Melidia yang terlalu polos masih mempercayai ucapan mereka.


"Kau masih mempercayai omongan mereka berdua"


"Itu tidak dapatkan disalahkan mengingat identitas tuan masih belum diketahui"


"Kau bisa berhenti berbicara secara formal.. jujur itu aneh bagiku untuk mendengarnya"


"Apakah bahasa formal saya tidak terlalu bagus ?"


"Tidak.. cuman aku tidak terbiasa"


"Kalau begitu saya akan berhenti bersikap formal"


Aku mengangguk setuju dengan apa yang dia katakan.


"Sebenarnya T-.. Rei.. aku ingin meminta bantuan untuk beraliansi.. apakah kau bisa melakukannya untuk kami" Melidia ingin mengatakan tuan Rei.. namun dengan cepat dia hilangkan.


Melidia mengungkapkan kata kami daripada dirinya sendiri yang dimana artinya dia ingin mengatakan bahwa itu untuk kerajaan.


Aku mengalihkan pandanganku darinya dan melihat jalanan yang ramai akan orang-orang.

__ADS_1


"Aku tidak dapat memutuskan hal ini sendirian" Ucapku kepada Melidia.


Melidia memasang wajah sedih ketika aku berkata begitu. Aku kembali memandanginya dan tersenyum. "Namun aku dapat memberikan surat untuk membantumu beraliansi"


Wajahnya kembali ceria begitu cepat.


Aku tersenyum melihat betapa cepatnya dia merubah wajahnya. Bahkan telinga dan ekor miliknya bergoyang dengan gembira.


Melidia dengan senang mendekati wajahnya tepat di depan wajahku. Tanpa sadar aku melangkah mundur.


"Terima kasih banyak"


Aku mengangguk.


"Namun siapa yang mengirimkan surat.. apakah disini ada kantor pos ?"


"Kantor pos ?"


"Orang yang mengirimkan suratnya"


"Kau bisa menyerahkan kepadaku untuk menyampaikan suratnya"


Aku mengangguk setuju akan hal itu..


"Sebelum itu bisakah kau menjauh sedikit.. wajahmu terlalu dekat"


"Ah maaf"


Melidia mundur dengan wajah memerah.


...


...


...


Kembali ke arena..


Seseorang dari ras monyet tanpa bulu yang bernama Rian sedang berdiri di arena bersama dengan pria ras serigala yang memiliki badan yang begitu besar.


Monyet ini.. Maaf..


Monyet tanpa bulu ini berdiri dengan tatapan yang penuh percaya diri akan pertarungan yang sebentar lagi terjadi.


Rian yang melihatnya tidak merasa takut namun malah memperhatikan dengan seksama musuh yang ada di depannya.


"Apa kita boleh pakai senjata ?"


"Bro.. kau benar-benar telah membaca aturan ? dalam pertarungan melarang menggunakan senjata"


"Tch.. senjataku tidak bisa aku pakai" Ucap Rian dengan kesal.


Rian ingin menyombongkan pedang miliknya yang begitu kuat itu dan sudah bersiap untuk membalas sikap sombongnya itu..


Namun ternyata dia tidak bisa menggunakannya.. dia kecewa..


"Bisakah kita mulai pertarungannya"


Seorang pria bertelinga kelinci yang menjadi wasit bertanya kepada mereka berdua..


"Aku selalu siap, dattebayo~"


Rian membalas dengan semangat yang mengembara seolah dia tokoh utama..


Wasit membunyikan peluit yang terdengar begitu keras menandakan pertarungan akan dimulai.


Monyet mulai mengambil gerakan menuju ke serigala.


Serigala dengan kelincahannya langsung menghindari dengan mudah dengan mengelak ke samping.


Serigala mengeluarkan cakar miliknya yang begitu tajam dan mengarahkannya ke monyet.


Monyet memperhatikan gerakan yang dia gunakan menangkap pergelangan tangannya dan menggunakan momentum dari kekuatan musuh untuk membuatnya jatuh.


Wajah serigala hampir mengenai lantai arena namun dengan penuh usaha dia menghentikan dirinya jatuh dan menggunakan kedua tangannya untuk berguling ke depan.


Monyet dengan santai tertawa melihatnya.


"Apa kau baik-baik saja ?"


Monyet ini sangat meremehkan lawannya.


Karena dia memiliki teknik dalam pertarungan jadi hal seperti kekuatan bukanlah sesuatu yang dia andalkan.


"Dia hebat.. aku pikir dia tidak bisa bertarung" Ucap Lily yang terpaku kepada Rian.

__ADS_1


Iwan yang disampingnya tertawa dengan pelan.


"Walaupun wajahnya kurang menyakinkan tetapi sebenarnya dia hebat dalam pertarungan yang mengandalkan teknik.. apalagi dia telah berlatih dengan keras.. jadi aku sangat yakin dia pasti menang"


Lily kembali menatap Rian dengan wajah yang begitu memerah ketika dia teringat jika dia menang.


Apakah berarti dia akan menjadi pasangannya ?.


Matahari bersinar dengan terang namun secara perlahan awan mulai menutupinya dan cahaya matahari mulai meredup.


Serigala tersenyum dengan jahat ketika sinar terakhir cahaya matahari mulai tertutupi oleh awan.


"Kau membuatku terpaksa melakukan ini!"


Serigala tersebut meraung dengan ganas dan pakaiannya mulai robek akibat badannya membesar.


Wajahnya perlahan berubah menjadi semakin ganas dengan sinar matanya yang begitu merah di balik gelapnya bayangan awan.


Bulu serigala bermunculan di seluruh badannya.


"Gawat dia mengeluarkan keahlian [Beast]nya" Ucap Lily dengan panik.


"Apakah itu buruk ?" Tanya Iwan dengan bingung.


"Itu buruk.. serigala akan semakin kuat jika tidak adanya cahaya matahari.. keahlian [Beast]nya juga merubah insting bertarungnya menjadi mengerikan"


Iwan kembali menatap Rian dengan perasaan khawatir setelah mendengar perkataan Lily..


Semua orang yang ada di arena bersorak dengan gembira akan apa yang terjadi.


"Lihat aku sangat yakin Ras serigala akan menang"


"Ya kau benar.. tidak sia sia aku bertaruh untuknya"


"Fufu~ uang akan menjadi milikku"


Suara orang menjadi bersemangat karena fungsi arena pertarungan bukan hanya untuk mencari pasangan. Tapi juga tempat untuk mencari uang.


Iwan menjadi semakin khawatir..


"Rian jangan sampai kalah" Teriak Iwan dengan keras.


Rian mendengar teriakan temannya menjadi bahagia dan semakin bersemangat.


"Tenang saja aku tidak akan kalah" Ucapnya dengan penuh percaya diri mengacungkan jempolnya.


"Jika kau kalah maka uang yang aku taruhkan akan hilang" Sambung Iwan dengan cepat.


Rian mendengar itu menjadi tahu mengapa temannya menyemangati dirinya..


Temannya ternyata ikut taruhan..


...


...


...


Bersambung...


Ruang curhat pemain..


"Entah kenapa aku mendengar narasi mengatakan monyet banyak sekali" -Rian


"Cuman perasaanmu saja kali" -Author


"Hmmm..."-Rian


"Nah silahkan pergi.. aku akan lanjut nulis lagi" -Author


...


...


...


"Kalian tidak perlu pergi ke kebun binatang untuk mencari monyet.. karena disini juga ada.. xixixixi"-Author


"Aku bisa dengar loh" -Rian


"Aku kira kau sudah pergi.. tunggu itu cuman bercanda oke.."


...


...

__ADS_1


__ADS_2