Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Akhirnya


__ADS_3

"Akhirnya selesai"


Aku merenggangkan tubuhku yang sakit karena terlalu lama duduk di kursi sambil mengerjakan kertas tentang dana dan penggunaannya untuk para pengungsi supaya lebih efisien.


Mengingat ini adalah materi belajarku saat di SMA karena aku mengambil jurusan ips entah kenapa ini membantuku sedikit.


Memang ilmu itu sungguh senjata yang mengerikan.


Tunggu.. kenapa aku terlihat sedang menyelesaikan ujian sekolah ?


Pintuku terbuka dengan pelan menampilkan seorang gadis cantik membawa sebuah nampan berisikan teh dan kue.


Itu adalah Liana.


"Terima kasih" Ucapku dengan tersenyum.


Aku tidak tahu tapi setiap hari Liana selalu membawakanku cemilan selepas aku bekerja.


Aku melihat bagian perutku syukurnya tidak ada mengalami perubahan.


Aku takut jika diriku menjadi gemuk karena ini.


"Sepertinya setelah ini aku harus pulang ke Klienstar"


Liana yang sedang memegang teko dan mengisi cangkirku dengan teh tiba tiba terkejut.


Air yang ada di teko sedikit tumpah.


"Begitu cepat ?"


"Mengingat aku sudah berada di sini 3 minggu, kalau tidak salah 3 hari lagi bisa dikatakan satu bulan sepertinya aku di sini"


"Tapi.."


"Aku juga sedikit rindu dengan suasana kerajaan Klienstar yang dimana tempatnya indah walaupun tidak seramai ibukota"


"Lagipula dua bulan lagi turnamen besar akan dilaksanakan di sini.. bukankah lebih jika kau terus ada di sini" Balas Liana dengan cepat.


"Aku tidak tahu.. tapi.."


Aku ingin berkata bahwa aku juga sedikit rindu dengan Yuina di sana..


Walaupun waktu yang kami lewati terbilang singkat entah kenapa sosok Yuina terlihat melekat dipikiranku.


"Apakah itu tentang Yuina ?"


Aku yang mengambil cangkir tehku terbalik terkejut..


Beberapa air dalam teh yang aku pegang juga sedikit tumpah dan mengenai tanganku..


"Panas"


Liana dengan cepat mengambil sebuah lap kepadaku..


Aku langsung menerima itu dan membersihkan bekas air di tanganku..


"Aku benar"


"Itu tidak salah"


Aku mengakui hal tersebut dengan santai.


Jika aku gugup kesannya terlihat berbeda nantinya.


"Hmm.."


Liana memberikan sebuah tatapan yang menyakitkan kepadaku..


Namun aku hanya bisa tersenyum kepadanya untuk mengungkap bahwa itu bukan sesuatu yang harus diberitahukan kepadanya..


Aku menyeruput teh miliknya dan seperti biasa ini adalah enak..


...


...


...


"Aw kepalaku masih sakit karena pukulan Rei"


"Wah kau benar.. aku melihat benjolan di kepalamu"


"Kau juga ada"


Rian dan Iwan saling berbicara dengan begitu sedih menyadari apa yang terjadi kepada mereka.


Rei yang begitu marah ketika wajahnya dicoret memberikan sebuah balasan berupa pukulan tepat di kepala mereka yang alhasil memberikan sebuah benjolan di sana.


"Apa yang sekarang kita lakukan ?" Tanya Iwan.


"Kau bertanya denganku namun dengan siapa aku bertanya" Balas Rian dengan cepat.


Mereka berdua hanya duduk di taman kerajaan sambil menatap langit dengan mantap.

__ADS_1


Mereka sedang gabut jadi mereka begitu bingung dengan apa yang harus dilakukan.


"Aku ingin ke toko herbal" Ucap Rian.


"Kau terlihat sering ke sana" Balas Iwan.


"Aku cuman gabut"


"Oh"


"Aku juga sering liatmu di balai kota" Ucap Rian.


"Nah.. hanya gabut" Balas Iwan.


"Hmm.."


"Hmm.."


Mereka berdua saling memandang satu sama lain dan itulah yang terjadi dalam 2 menit.


"Entah kenapa aku kangen dengan Klienstar" Ucap Rian dengan sedih.


"Kau mungkin bukan kangen dengan kerajaannya tapi orang yang ada di sana" Balas Iwan dengan tersenyum.


"Yah.. aku sedikit rindu juga dengan Kina" Sambung Rian.


"Fufu~ sedang jatuh cinta sepertinya" Balas Iwan dengan bahagia.


"Hei.. bukankah kau juga pernah bilang bahwa kau juga jatuh cinta dengan Lisa"


"Awalnya sih.. tapi melihat sorot matanya waktu itu entah aku berubah pikiran"


Iwan berbicara ketika dia sedang ditodong oleh pisau dengan tatapan mata yang mengerikan oleh Lisa saat di kerajaan Klienstar.


"Yah waktu itu memang salah kita untuk seenaknya masuk"


"Yah.. kau benar"


"Tapi bukankah kau merasa sudah dekat dengannya"


"Yah aku mulai terbiasa dengan sorotan matanya yang sinis"


"Hmm.."


Mereka berdua terus berbicara beberapa saat hingga akhirnya mereka berangkat dari kursi taman..


...


...


...


Mereka bertiga sudah dapat kalian tebak bahwa itu adalah Yuina, Lisa dan Kina.


""Acho""


"Apakah kalian baik baik saja"


Yuina mengkhawatirkan Kina dan Lisa yang dimana secara bersamaan bersin.


"Aku sangat yakin ini bukan demam" Balas Lisa dengan tersenyum.


"Seseorang sedang membicarakan kita sepertinya" Sambung Kina.


"Mereka sedang merindukan kita oleh karena itu mereka membicarakan kita" Balas Lisa dengan tersenyum licik kearah Kina.


"Hmm mereka pasti begitu" Jawab Kina.


"Kalian terlihat senang untuk mengunjungi Ibukota Kerajaan" Ucap Yuina dengan tersenyum.


"Siapa juga senang ingin bertemu dengan mereka" Balas Kina dengan cepat dengan jawaban ala-ala tsundere.


"Siapa yang membicarakan mereka ?" Ucap Lisa dengan tersenyum licik.


Kina langsung menyadari apa yang dia katakan dan wajahnya langsung memerah.


Yuina langsung tertawa kecil setelah itu..


"Tuan putri" Ucap Kina dengan pelan.


"Maaf aku tidak bisa membantu untuk tidak tertawa" Balas Yuina yang masih tertawa.


Lisa juga ikut tertawa melihat tingkah Kina.


Yuina menyadari bahwa mereka berdua telah sedikit berubah dari sebelumnya..


Ini hal yang pasti karena Yuina sudah lama mengenal mereka sejak kecil..


Awan yang mendung menutupi cahaya matahari memperlihatkan kegelapan yang datang..


Angin berhembus dengan kencang saat itu..


Suara diluar kereta menjadi riuh oleh suara seseorang..

__ADS_1


...


"Bos sepertinya kita mendapatkan ikan bagus kali ini"


"Tunggu kita harus memeriksanya lebih teliti siapa yang akan kita jarah"


"Mereka tidak ada pengawal boss seperti terakhir kali"


"Benar boss mereka tidak ada pengawal hanya satu kereta kuda saja"


Boss tersebut mengangguk puas dengan apa yang dia lihat.


Boss tersebut menatap kearah anak buahnya yang berjumlah delapan orang termasuk dirinya sendiri.


Boss tersebut mengangkat pedangnya diikuti oleh anak buahnya.


"Kita harus mengambil barang mereka" Ucapnya dengan bersemangat. "Ingat kita tidak menjarah nyawa namun harta" Sambungnya.


"Siap boss"


Mereka berjalan mendekati kereta kuda tersebut dan ketika mereka mendekat seorang gadis cantik keluar dari dalam.


Dua orang gadis cantik berpakaian maid sedang memegang sebilah belati dikedua tangan mereka.


"Boss"


Suara tersebut datang dari anak buahnya yang terlihat ketakutan.


"Kami tidak akan membunuh kalian selama kalian menyerah barang berharga kalian"


"B-benar.. kami tidak membunuh kalian"


Dua orang gadis tersebut saling menatap sebelum tersenyum dengan sinis kearah mereka.


Sesaat setelah sang boss tersebut mengangkat pedangnya untuk mengarahnya kearah kedua gadis tersebut.


Kedua gadis tersebut sudah menghilang dihadapannya setelah dia memalingkan wajahnya dia melihat anak buahnya sudah jatuh tidak berdaya di belakangnya.


Satu tegukan air liur dilakukan oleh sang boss tanpa dia sadari dilehernya sudah disodorkan sebuah pisau..


Ketakutan langsung datang kepadanya..


Kakinya menjadi basah oleh cairan yang datang dari alam selangkangannya membuatnya merasakan kehangatan yang mengerikan..


"Kau.. aku tidak percaya" Ucap Kina dengan tidak senang melihat orang yang dia todong pisau sedang ketakutan mengeluarkan cairan alam miliknya.


Orang tersebut tanpa sadar langsung jatuh ke tanah dengan keadaan pingsan karena ketakutan.


"Sudah lama aku tidak menggerakkan badanku" Ucap Lisa dengan merenggangkan pergelangan tangannya.


Mereka berdua berjalan kembali ke kereta kuda..


"Kalian tidak membunuh mereka" Ucap Yuina dengan khawatir.


"Mereka hanya sekelompok bandit lemah.. mereka langsung pingsan hanya dengan memukul mereka" Balas Kina dengan kecewa.


"Syukurlah" Ucap Yuina dengan bersyukur.


Mereka berdua Lisa dan Kina hanya tersenyum kepada Yuina betapa baik dirinya yang masih mengkhawatirkan para bandit tersebut.


Walaupun mereka memiliki niat jahat kepadanya tapi Yuina selalu baik kepada orang lain.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu"


""Tidak bukan apa-apa"" Balas mereka berdua secara bersamaan.


Awan yang menutupi matahari akhirnya pergi dan menampilkan pemandangan yang begitu cerah disepanjang jalan.


...


Perjalanan mereka menuju Ibukota kerajaan semakin dekat.


Apakah mereka akan bertemu mereka bertiga..


Bersambung...


Ruang curhat pemain..


"Entah aku memiliki firasat buruk tentang ini" (Rian)


"Apanya ?" (Rei)


"Entah kenapa" (Rian)


"Iya Kenapa" (Rei)


"Iya itu" (Rian)


"Iya apanya" (Rei)


"Firasat buruk" (Rian)


"Iya tentang apa" (Rei)

__ADS_1


"Entah kenapa" (Rian)


"Mereka sedang gabut tolong abaikan" (Iwan)


__ADS_2