
Aku menyeka darah dari mulutku dan perlahan berdiri untuk menopang tubuhku yang masih sakit.
Mengangkat wajahku dan menatap lurus kearah gadis yang memukulku begitu keras.
Gadis tersebut memiliki penampilan yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Saat ini dia memiliki penampilan penuh dengan otot yang menonjol dari balik baju hingga beberapa urat terlihat keluar begitu mengerikan.
Badannya membengkak dengan penuh kengerian ketika aku melihatnya.
Perubahan ini terlihat begitu familiar.
Ketika aku berusaha untuk mengatur pernapasanku dia tiba-tiba muncul begitu cepat dihadapanku.
Aku menggunakan Skill [Blink] milikku dari Class Asssasin.
Aku tidak bisa menggunakan semua skill dari berbagai Class saat ini karena waktu penggabungan Class telah berakhir.
Beberapa serangan angin dari sebuah kabut menghantam kepala gadis ini.
"Sini kau monster jelek!"
Matia berusaha untuk mengalihkan perhatiannya sesaat.
Namun gadis itu merasa kesal dan langsung mengerahkan serangannya ke Matia.
Aku melangkah dengan cepat menuju Matia dan mengangkat dirinya dari sana.
Serangan meleset dan Matia telah berhasil aku selamatkan di genggamanku.
"Jangan bodoh! kau bukan lawannya saat ini"
Aku memarahi Matia dengan keras.
Aku tahu niatnya baik namun hal itu tidak dapat membantu apapun.
"Rei, kami akan membantumu setelah kami selesai melawan mereka!"
Rian berteriak dengan keras kepadaku ketika dia sedang melawan iblis lainnya.
"Ulur waktu dan kami pasti akan membantumu!"
Iwan juga ikut memberikan suaranya ketika dia juga sibuk melawan iblis.
Mereka berdua begitu kesulitan melawan banyaknya iblis yang menyerbu kearah mereka.
Apa boleh buat ini akan menjadi pertarunganku sendiri.
Aku meletakkan Matia ke tempat yang aman.
"Kau tidak perlu ikut bertarung. karena kau bukan tipe bertarung"
Matia menatapku dengan rasa resah di wajahnya.
"Jangan khawatir. aku tidak sendirian!"
Aku menatap kedua temanku dengan sekilas dan tersenyum.
Benar aku tidaklah sendirian.
"APAKAH SUDAH BERBINCANGNYA!"
Aura mendominasi dari gadis itu langsung menyadarkanku akan kenyataan.
Ini tentu akan menjadi sulit.
"Change Class Archer"
"Focus Eyes"
Aku mengfokuskan mataku dan melemparkan pisau dari tanganku.
Semua pisau ditangkis dengan mudah seperti bola plastik yang menuju kearahnya.
Aku mengambil sebuah busur dari kantong penyimpananku dan menarik mata panah kearahnya.
"Fierce Arrow"
Satu panah melesat dengan cepat menuju kearah matanya.
__ADS_1
Dia menangkap panah tersebut dengan kecepatan yang begitu mengerikan.
Dia menyeringai karena berhasil menangkap panahku.
"Three Fierce Arrow"
Tiga panah langsung melesat kearah kedua matanya dan satu panah lagi menuju kearah kakinya.
Aku mengira itu akan berhasil.
Namun tiga panah yang aku lancarkan semua ditangkap olehnya.
"AKU MENGEMBALIKANNYA KEPADAMU!"
Empat panah dia kembalikan hanya menggunakan kekuatan tangannya.
Kecepatan dari panah itu tidak jauh berbeda ketika aku menggunakan busur.
[Class Guardian]
Aku mengambil tameng dari kantong penyimpananku dengan cepat.
[Shield]
Aku meningkatkan pertahananku untuk menahan empat panah yang mengarah kearahku.
Tekanan dari panah yang dia lempar begitu kuat hingga kakiku tak kuasa menahannya.
"JANGAN BERSANTAI DULU"
Dia tiba-tiba muncul dari sampingku dan melancarkan pukulan kuat kearahku.
Serangan dia mengenai diriku namun karena aku saat ini dalam Class Guardian semua pertahananku seharusnya meningkat.
Itu yang seharusnya terjadi.
Namun serangannya membuatku kembali terpental jauh dari tempatku dan diriku kembali memuntahkan beberapa darah kembali.
Sudah berapa kali aku terpental hari ini.
Aku lupa untuk menghitungnya.
"Stealth"
"Blink"
Aku menghilang dari hadapannya dan muncul tiba-tiba dari arah belakangnya.
Aku melancarkan serangan kearah lehernya dan aku tahu dia tidak akan membiarkan itu terjadi dengan mudah.
Jadi dia telah melindungi lehernya namun dia tidak tahu bahwa tanganku yang satunya telah melemparkan pisau kearah kakinya.
"KAU SIALAN!"
"Class Knight"
"Aura"
Diriku diselimuti dengan kekuatan Aura dari Class Knight.
Aku menyalurkan belatiku dengan Aura dan membuatnya menjadi begitu tajam.
Sebuah sayatan lurus dari samping badannya aku kerahkan.
Badannya mengelak dengan cepat dan mengarahkan pukulannya tepat menuju wajahku.
Menundukkan sedikit kepalaku dan mengambil kembali seranganku menuju kearah kepalanya dari bawah.
Namun tendangan dari lutut kakinya membuatku memutuskan untuk bertahan dan beratnya serangan tersebut membuat kedua tanganku menjadi memar.
Aku langsung mengambil langkah mundur ke belakang untuk memberikan jarak darinya.
Aku melihat kearah kedua temanku apakah mereka bisa membantuku namun ketika aku melihat kearah mereka aku sungguh terkejut dengan musuh yang mereka hadapi sangat berbeda dari sebelumnya.
...
...
[Pov sudut pandang orang ketiga Rian dan Iwan]
__ADS_1
Rian menangkis serangan yang datang dari samping dengan ujung pedang miliknya.
Dia melangkah keluar dari kepungan orang-orang yang datang kearahnya.
"Iwan bisakah kau bantu aku!"
Rian meneriaki nama temannya yang sedang bertarung tidak jauh dari sisinya.
"Tanganku sedang sibuk"
Iwan memberikan komentar kecil miliknya ketika dia menangkis serangan musuh menggunakan tamengnya.
Iwan yang memiliki Class Guardian tidak bisa memberikan damage yang cukup berat kepada musuhnya namun musuhnya juga kesulitan untuk melawan dirinya karena pertahanannya.
"Kenapa mereka semua terlihat berbeda dari sebelumnya.. badan mereka juga membesar dengan aneh!"
Selagi Rian bertarung dia masih berusaha untuk berbincang kepada Iwan yang sedang sibuk.
Entah apakah itu keputusan bijak untuk saling berbicara sesantai itu.
"Aku melihat mereka memasukkan sesuatu ke mulut mereka dan tiba-tiba menjadi kuat!" Iwan membalas perkataan Rian.
Karena Iwan adalah pengguna Dual Class yang memiliki Class Archer.
Class Archer memiliki Skill aktif Focus Eye yaitu skill umum yang dimiliki semua pengguna Class Archer. Karena itu menjadi salah satu alasan kenapa dia bisa bertahan sampai saat ini untuk menangkis dan menghindari serangan mereka.
Dengan adanya skill ini juga mata Iwan menjadi fokus dan tanpa sengaja dia melihat musuh menelan sesuatu.
"Sungguh cara licik untuk menang"
Rian memberikan komentarnya kepada lawannya dengan nada yang begitu kesal.
Lawannya yang mendengar itu juga menjadi kesal.
Mereka melawan Rian dan Iwan semakin serius dan intens.
"Sebenarnya aku telah menahan diri melawan kalian agar tidak terluka.. namun sepertinya aku tidak punya pilihan lain sekarang"
Rian menghela napas dengan berat dan akhirnya memutuskan untuk melakukannya dengan serius sekarang.
Rian telah melihat Rei membunuh pemimpin yang menyerang desa Elf.
Dan jujur dia tidak menyangka bahwa Rei mengambil jalan tersebut.
Rian dan Iwan bersikap seperti biasa kepada Rei walaupun mereka berdua sangat terkejut akan hal itu.
Namun setelah memikirkannya lagi jika seandainya saja pemimpin mereka tidak dibunuh saat itu.
Maka dapat dipastikan bahwa pasukan mereka akan terus bertarung dan pertumpahan darah pasti akan terjadi diantara mereka.
Namun Rei telah membunuh pemimpin mereka dan niat bertarung mereka menghilang.
Rian dan Iwan mengerti bahwa Rei pasti tidak mau juga untuk membunuh seorang manusia. Namun tidak ada pilihan lain.
Monster dan Manusia berbeda.
Membunuh monster itu wajar karena mereka tidak mempunyai akal dan juga membahayakan.
Namun manusia.
Rian memegang erat pedang yang dia pegang.
Dia menatap kearah orang yang bersiap untuk menyerangnya.
Mereka semua iblis.
Mereka berbeda dari manusia namun mereka memiliki akal.
Dia dengan cepat mengayunkan pedangnya menuju arah leher mereka.
Mereka tidak menyangka serangan itu akan datang karena Rian terus menerus menyerang mereka ke titik yang tidak berbahaya.
Akibatnya mereka tidak mempersiapkan diri akan serangan tersebut.
Dan tubuh mereka telah terpisah dengan kepalanya.
(Ini memang harus dilakukan)
Bersambung...
__ADS_1