
Perbatasan hutan yang begitu lebat dimana tempat ini tidak begitu jauh dari ibukota kerajaan..
Terlihat di sana seorang pemuda bertopeng yang sedang memegang cangkul menggali tanah dengan ganas..
Penggalian ini memiliki tujuan untuk pembuatan jebakan yang akan digunakan nantinya..
Seperti yang direncanakan oleh tuan putri.
"Nah Jack apakah ini memang pekerjaan kita ?"
Seorang Pria tua bertanya dengan pemuda bertopeng itu yang dimana namanya adalah Jack.
Jack menyeka keringatnya sebelum menjawab. "Ini adalah perintah dari tuan putri sendiri"
"Bukankah kita ini dari desa pembunuh.. kenapa kita melakukan pekerjaan ini ?" Sambung pemuda yang ada disebelah pria tua itu.
Mendengar hal itu Pria tampan yang ada di samping jack terlihat kesal.
Pria tampan ini adalah Frey.
"Kalian tidak perlu mengeluh terus.. kerjakan saja apa yang diperintahkan" Ucap Frey dengan marah kepada mereka.
"Cih.. kalian berdua sementang mendapatkan kepercayaan dari tuan putri sekarang berlagak seperti seorang pemimpin" Balasnya dengan tidak senang.
"Alasan kita di sini selain menggali juga harus memperhatikan monster yang datang.. jika orang biasa yang melakukan ini tentu saja mereka mati.. apakah kalian mengerti sekarang" Ucap Jack dengan kesal.
Mereka yang mendengar hal itu mau tidak mau mengangguk mengerti dengan alasan logis yang diberikan oleh Jack.
Orang yang ada di sana kembali mengerjakan apa yang mereka lakukan sebelumnya dengan hati yang masih agak panas..
Frey melihat kearah Jack dan memberikan sebuah botol minuman kepadanya. "Sebaiknya kau beristirahat.. kau terlihat memaksakan diri"
"Tidak, aku baik - baik saja" Balasnya seraya mengambil botol minuman dari tangan Frey.
Jack memberikan sebuah senyuman dari balik topengnya. "Terima kasih"
"Tidak perlu berterima kasih" Balas Frey dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya.
...
...
...
Angin menghembuskan kesejukan miliknya dan secara perlahan menggoyangkan dahan pohon yang berisikan dedaunan dengan begitu indah.
Di dahan pohon itu juga terlihat dua orang sedang bertengger dengan nyaman sambil memperhatikan sekeliling mereka.
Bajunya secara perlahan terkulai dengan baik diiringi dengan rambut hitamnya yang panjang.
Dua orang ini adalah Hena dan Heni.
Si gadis kembar.
Hena menatap seorang pria bertopeng dengan tatapan penasaran miliknya.
"Menurutmu bagaimana jika topengnya miliknya dibuka ?" Tanya Hena dengan penasaran.
Heni menatap kearah dimana Hena menatap kearah Jack yang sedang melakukan penggalian..
"Entahlah.. mungkin jelek karena dia memakai topeng.. tunggu kenapa kita malah membahas ini ?" Balas Heni dengan bingung.
Hena hanya memberikan sebuah helaan napas pendek miliknya..
"Nona kita mengalami sedikit masalah"
Seorang gadis muncul dari balik dedaunan pohon yang tertutup dengan lebat..
"Apakah ada sesuatu terjadi ?"
"Sepertinya ada monster yang muncul dari arah selatan"
"Apakah itu sudah dibereskan ?"
"Benar.. tapi.."
"Tapi apa ?"
"Ini jenis monster tipe pengintai"
Hena membuka matanya dengan lebar mendengar hal itu..
Monster tipe pengintai memiliki kecenderungan dimana dia tidak memiliki kekuatan yang begitu signifikan tapi memiliki kemampuan untuk menganalisa medan perang dan kecerdasan yang tinggi dari jenis monster lainnya.
Lalu dia juga memiliki cara melarikan diri yang begitu mengerikan yang begitu berbeda dengan monster lain.
Desa mata - mata begitu sulit menangkap mereka untuk menjadi bahan penelitian.
Ini adalah jenis monster baru yang juga berkembang.
__ADS_1
"Perketat seluruh pengawasan area hutan dan juga area yang sekeliling tembok di kerajaan" Ucap Hena dengan tegas. "Dan jangan biarkan monster ini lolos dan memberikan informasi kepada monster lainnya" Sambungnya dengan nada marah miliknya.
"Baik"
Sosok itu lalu menghilang dengan cara meloncati dari dahan pohon ke dahan yang lainnya begitu cepat.
"Sepertinya waktu istirahat kita juga berakhir" Ucap Hena kepada Heni..
Heni mengangguk mengerti dan menghilang dengan cepat..
...
...
...
Awan yang menutupi cahaya matahari perlahan terbuka menampilkan sosok seorang pria yang sedang melawan monster dengan santai..
"Sepertinya kekuatanku semakin meningkat"
Drian merasakan pukulan miliknya terasa begitu ringan saat mendaratkannya di monster yang datang..
Drian sudah hidup nyaman dengan uang yang dia hasilkan dari berburu monster beberapa hari ini..
Dia memulihkan energi yin dan yang miliknya sebaik mungkin selagi dia berburu..
"Bisakah kau menyisakan sebagian monster untukku"
Drian menoleh ke sumber suara yang ada di sampingnya.
Luna memunculkan wajah ketidaksenangannya kepada Drian..
Drian hanya memberikan senyuman kecil kepadanya..
"Siapa cepat dia dapat"
Hari ini mereka berdua berburu bersama..
Entah kenapa Luna terlihat bersemangat ketika dia diajak oleh Drian pagi ini..
Namun setelah dia tahu bahwa keberadaannya hanya sebagai obat nyamuk membuatnya sedikit kesal.
Luna mengembulkan pipinya dengan marah..
*Kresek.. kresek..
Suara semak berbunyi membuat Drian langsung mengalihkan perhatiannya..
Mata monster ini juga memiliki mata yang mirip dengan elang.
Bulunya begitu lebat dan tajam seperti landak.
Drian baru pertama kali melihat monster jenis ini..
Menyadari keberadaan Drian monster itu langsung pergi dengan begitu cepat dengan keempat kakinya..
"Itu monster milikku"
Luna berteriak dengan gembira mengejar monster tersebut.
"Tung--"
Drian ingin mengatakan sesuatu namun Luna sudah tidak mendengarkannya dan terus berlari..
Drian tidak dapat menghentikan Luna yang sudah terlalu bersemangat..
Mau tidak mau Drian juga ikut mengejar Luna..
...
Kelincahan monster itu begitu mengerikan..
Monster tersebut terus berlari dengan kecepatan penuh dengan hebat melalui matanya yang begitu tajam dalam memilih jalan perlarian yang bagus.
Luna kesulitan mengikuti monster tersebut..
"Sial mulutku kemasukan daun" Gerutu Luna dengan kesal.
Luna masih tidak menyerah untuk menangkap monster tersebut..
Dia memiliki niat bersaing dengan Drian..
Oleh karena itu dia begitu bersemangat untuk mendapatkan monster tersebut..
Ketika Luna mengejarnya tiba - tiba monster tersebut terdiam..
Ketika itu dia melihat dengan jelas bahwa jalan perlarian monster tersebut ditahan oleh seorang gadis yang terlihat seumuran dengan dia..
Tiga.. tidak Lima orang sudah berjaga di sana.
__ADS_1
"Hei itu adalah monster milikku jadi aku tidak mengampuni kalian jika mengambil mangsaku" Teriak Luna kearah mereka..
Lima orang itu tidak mendengarkan perkataan Luna dan saling melirik lalu mengangguk secara bersamaan..
Mereka mengeluarkan pedang dan belati milik mereka untuk bersiap menyerang monster tersebut..
"Hei itu adalah mangsa--ku"
Ketika Luna ingin mengatakan sesuatu..
Monster tersebut telah menerobos salah satu dari mereka dan menyerangnya secara brutal dengan cakar tajam miliknya..
Untungnya gadis tersebut telah mengetahui seluk beluk pergerakan monster ini jadi dia sudah tahu cara menghindarinya dan menangkisnya..
Teman yang lainnya juga tidak tinggal diam dan ingin membantu namun..
Luna dengan cepat mendekati monster tersebut dan mengambil kesempatan ini untuk menyerangnya dari belakang..
"Tung--" Teriak salah satu dari gadis tersebut..
Namun kata - kata itu tidak sempat keluar..
Terlambat..
Luna akhirnya menyadari bahwa bulu miliknya sudah berdiri dengan tajam dan bersiap untuk melempar duri tersebut dari kulitnya..
"Gawat"
Luna memejamkan matanya dengan cepat dan mengangkat pedangnya untuk menahan serangan tersebut.
Namun beberapa detik kemudian Luna menyadari dia tidak merasakan serangan durinya..
Luna secara perlahan membuka matanya dan melihat Drian sudah melindunginya dari serangan duri tersebut..
"Dasar bodoh"
Drian berhasil menghalau serangan duri tersebut dengan menangkapnya menggunakan tangan kosong..
Gerakan Drian begitu cepat hingga duri tersebut hanya bergerak begitu pelan dihadapan Drian..
Oleh karena itu dia bisa menangkap duri tersebut dan berhasil bertahan tanpa luka serius..
Goresan kecil terlihat ditangan Drian dan meneteskan darah secara pelan.
Semua gadis di sana terpukau dengan apa yang dilakukan oleh Drian..
Drian mengangkat tangannya dan memukul monster tersebut dengan begitu keras dengan energi dalam miliknya..
Angin berhembus dengan begitu kencang seketika Drian melancarkan serangan tersebut.
Monster tersebut langsung menjadi tempe penyet yang hancur menjadi beberapa bagian..
Drian tidak menyadari bahwa dia telah mengeluarkan seluruh energi dalamnya untuk menyerang monster tersebut.
"Siapa kau ?"
Drian menoleh kearah yang bertanya tersebut adalah seorang gadis cantik berambut pendek.
"Hanya orang lewat" Balas Drian dengan senyum canggung miliknya..
Bersambung...
Hoho.. aku suka bagian ini..
Fufu..
Puji aku karena membuat Drian menjadi keren di sini.. haha..
Ups..
Aku bukan pilih kasih di sini ya..
Hatiku masih tetap milik...
...
Milikku sendiri haha..
-_
Maaf garing...
Oke itu aja untuk chapter kali ini...
Jika kalian suka..
Pasti kalian sudah tahu apa yang harus dilakukan..
;)
__ADS_1
Oke itu aja.. Terima kasih..