Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Manusia Apakah Memang Jahat ?


__ADS_3

Jesstin yaitu ayahnya Yuina sedang menatap putrinya yang sedang terbaring lemah tanpa adanya kesadaran.


Memegang lengannya dengan lembut dan membelai kepalanya..


Rasa sedih datang ketika dia melihat putrinya mengalami hal ini.


Ketika dia melihat putrinya dia teringat dengan mendiang istrinya yang mengalami hal yang sama ketika jatuh sakit dan meninggalkan dirinya.


Kini rasa takut datang merasukinya.


"Yuina jangan tinggalkan ayahmu sendirian"


Itu cukup menyedihkan ketika Jesstin menyuarakan kekhawatirannya.


Rexylion yaitu ayahnya Liana dan juga merupakan kakak Jesstin hanya dapat menghela napas dengan sedih mendengar suara adiknya di depan pintu.


Ketika dia selesai melihat putrinya yang jatuh sakit dia pergi ditemani oleh Rexylion menuju sebuah taman yang telah disediakan secangkir teh dan cemilan kecil di meja untuk menemani mereka.


"Maafkan aku!"


Jesstin yang menyesap secangkir teh terkejut dengan kakaknya yang tiba-tiba meminta maaf kepadanya.


"Itu bukan salahmu"


Jesstin meletakkan cangkir tehnya dan memegang bahu kakaknya.


"Yuina pasti akan baik-baik saja.. bukankah mereka sedang mencari obat untuk menyembuhkannya"


Jesstin memberikan sebuah senyuman percaya dirinya.


Dia begitu mempercayai mereka sangat banyak hingga dia sangat yakin bahwa Yuina akan sembuh seperti sedia kala.


"Jadi putriku pasti akan baik-baik saja"


Rexylion melebarkan matanya dengan terkejut ketika Jesstin mengatakan tentang mereka.


Rexylion memberikan senyuman bahagia miliknya dan lebih mempercayai perkataan adiknya.


"Kau benar.. mereka pasti akan menemukan cara untuk menyembuhkannya" Balas Rexylion dengan yakin.


Karena dia sangat yakin mereka bertiga pasti akan membawa keajaiban.


Apalagi setiap krisis di kerajaan ini telah mereka selamatkan.


Jesstin dengan santai mengambil roti kering dan memakannya.


"Lalu bagaimana kabar dengan Liana ? aku tidak melihatnya seharian" Tanya Jesstin dengan penasaran.


"Dia sedang mengurus pasukan baru miliknya"


"Apakah kau akan menyerahkan jabatanmu kepadanya"


"Sebenarnya aku ingin Rei untuk menjadi raja tapi dia malah pergi.. jadi sementara aku akan memberikan otoritas kepimpinan kepada Liana"


"Tunggu kau serius"


"Aku serius.. apalagi melihat kontribusinya di kerajaan.. bukankah sudah jelas aku akan melakukan itu"


"Sepertinya kita udah semakin tua" Jesstin memberikan tawa kecil miliknya.


"Kita memang sudah tua" Balas Rexylion dengan tawa lucunya.


"Lalu bagaimana dengan ibunya Liana ? apakah dia mengetahui apa yang terjadi ?"


"Orang itu masih berpetualang ke berbagai tempat.. aku sudah memberitahunya untuk pensiun karena usianya tapi dia sangat marah ketika aku membahas usianya"


"Haha.. semua wanita pasti akan marah jika membahas usia"


"Aku tidak bisa memberikan kabar karena tidak tahu dimana dia sekarang"


"Itu cukup menyedihkan"


"Aku harap dia berhenti melakukan petualangannya"


Ibunya Liana saat ini sedang berpetualang ke berbagai tempat karena sebelum dia menikah dengan Rexylion itu merupakan hobi yang dia gemari.


Menjelajahi tempat baru dan menemukan hal baru.


Itu adalah hobi sang ratu yang merupakan istri Rexylion.


Rexylion jatuh cinta tepat ketika dia kabur dari istana karena tidak ingin belajar masalah politik oleh ayahnya dulu.


Ketika itu dia bertemu dengan Medina yaitu istrinya.


"Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan dia di tempat pertama"


Jesstin terkejut dengan pernyataan Rexylion dan dia hanya tersenyum sembari meminum secangkir tehnya kembali.


"Kau bertanya denganku tapi dengan siapa aku bertanya ?" Ucap Jesstin dengan tersenyum.


"Haha.. kau mulai menyukai itu sekarang ya"


"Haha.."


Mereka berdua tertawa di bawah sejuknya pohon yang disinari mentari.


...


...


...


Seorang gadis elf yang begitu cantik dengan kacamata yang dia gunakan sambil memegang sebuah tongkat yang dia arahkan ke papan tulis depannya.


Rambutnya pirangnya yang panjang berkibar ketika hembusan angin lewat di tubuhnya.


Karena tempat dia berdiri saat ini adalah rumah pohon yang digunakan menjadi ruangan mengajar bagi anak-anak.


"Apakah kalian mengerti dengan hasil pembilang ini"

__ADS_1


"Ibu.. jadi 3x3 itu hasilnya 9 karena 3 ditambah 3 sampai dengan 3 kali"


"Ya seperti itu"


Gadis elf itu tersenyum menanggapi anak yang bertanya dengannya.


Ini adalah kesehariannya sebagai guru mengajarkan anak-anak untuk berhitung, membaca dan berbagai ilmu penting untuk kehidupan masa depan anak-anak.


Walaupun tetua menentang hal ini karena sebagian besar ilmu yang dia dapatkan dari seorang manusia.


Ketika dia ingin menulis sesuatu di depan papan tulis.


Suara ricuh dari banyak orang membuat pembelajarannya terganggu.


Karena ruangan tempat dia mengajar cukup dekat dengan rumah tetua mereka.


Dia menjadi penasaran dengan keributan itu dan menatap seluruh anak muridnya.


"Mungkin sampai di sini pembelajaran hari ini.. karena ada sesuatu yang harus ibu lakukan"


""Hore""


Mereka berteriak begitu gembira dan langsung bergegas untuk menyimpan buku mereka.


Beberapa murid menyampaikan salam perpisahan sebelum mereka pergi.


Setelah semua muridnya pergi dia langsung bergegas pergi menuju rumah tetua dengan tangga gantung yang menghubungkan rumahnya.


Pemandangan dimana seorang Elf berjalan dari pohon ke pohon menggunakan jembatan gantung sudah menjadi pemandangan umum.


Karena Elf tinggal di rumah pohon untuk menghindari serangan monster dan binatang buas.


"Manusia memintaku untuk datang ? kau pikir aku mau ?"


"Tapi mereka sangat penasaran denganmu tetua.."


"Mereka tidak penasaran denganku tapi mereka ingin berdiskusi untuk permasalahan eksekusi mereka"


"Eh ?"


"Manusia itu licik jadi kalian harus lebih berhati-hati"


Dia menguping pembicaraan dari balik pintu untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan.


"Kalau tidak ada hal lain lagi silahkan pergi dan awasi mereka"


"Baik"


Ketika mereka berhenti berbicara pintu rumah langsung terbuka.


Gadis Elf yang menguping itu kehilangan kesempatannya untuk pergi.


"Felisha.. apa yang kau lakukan di sini ?" Seorang pria yang membuka pintu bertanya kepadanya.


Dia terkejut dengan pintu yang terbuka dengan tiba-tiba namun dia tidak menunjukkan itu di wajahnya.


Alih-alih takut dia malah mengajukan pertanyaan kepada tetuanya. "Kenapa tetua begitu membenci manusia ?"


Seorang lelaki tua yang memiliki janggut begitu panjang dan berwarna putih menyelimuti mulutnya.


Rambutnya telah berubah menjadi putih beruban dan wajahnya sudah menunjukkan tanda penuaan.


Umur Elf sangatlah berbeda dengan manusia..


Ketika Elf masih berumur 100 tahun mereka masih terlihat muda seperti umur 17 tahun.


Jadi dapat kalian tebak berapa umur tetua mereka hingga menunjukkan tanda penuannya itu.


"Manusia itu jahat"


"Mengapa tetua menganggap semua manusia jahat"


"Kenyataannya memang begitu.. mereka menunjukkan kebaikan mereka hanya ingin sesuatu yang menguntungkan mereka"


Tetua menatap tajam kearah Felisha yang masih memandangnya dengan kesal.


"Jangan menatapku seperti itu.. aku tahu kau tidak setuju dengan pendapatku tapi pada akhirnya manusia memang seperti itu"


"Tapi.."


Felisha ingin mengatakan sesuatu namun tetua langsung memotongnya.


"Aku tahu bahwa kau pernah berteman dengan manusia namun apakah semua manusia itu dapat dipercaya ?" Tetua berbicara memandang Felisha.


Felisha hanya bisa mengenggam erat tangannya sendiri dengan kesal.


"Kau hampir membuat tempat persembunyian kita ketahuan oleh manusia" Ucap Tetua dengan menekan nada berbicara untuk membiarkan Felisha mendengarnya dengan jelas.


"Keni tidak melakukan itu" Felisha membalasnya dengan sedih.


"Ya dia mati karena manusia menyiksanya untuk memberitahukan tempat persembunyian kita" Ucap Tetua menajamkan matanya ketika berbicara. "Itu adalah salahmu untuk memberitahunya"


Felisha hanya dapat terdiam mendengar pernyataan itu.


"Apakah aku bisa melihat manusia yang datang ini dengan mataku sendiri" Tanya Felisha dengan menatap lurus kearah tetuanya.


Tetua hanya menghela napasnya dengan berat dan berbalik melihat Felisha yang masih menatapnya.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan.. tapi keputusanku sudah bulat"


...


...


...


[Kembali kepada ketiga orang idiot]


"Kenapa hanya kau yang mempunyai system" Rian berteriak dengan kesal kepadaku hingga kupingku berdengung.

__ADS_1


"Kau bertanya denganku tapi dengan siapa aku bertanya" Balasku dengan santai.


"Jangan ambil kata-kataku kampret"


Aku menjelaskan bahwa diriku dapat melihat statusku melalui system yang muncul seperti hologram di depanku.


Itu membuat kedua temanku iri karena sepertinya mereka tidak memiliki hal yang sama sepertiku.


Aku melihat statusku saat ini dan melihat banyak perubahan.


Nama : Reyhan Naim


Main Class : Assassin


Sub Class : Mage, Knight, Archer, Guardian


Level : 97


Stamina : 3234


HP. : 4321


Kekuatan : 1023


Pertahanan : 321


Kelincahan : 2311


Skill : 5


[Stleath]


[Blink]


[Stab]


[Throw]


[Sense]


Skill Unique : 3


[Belajar semua bahasa] Pasif


[Tiga orang idiot] Pasif


[Penggabungan Class] Aktif


Main Classku saat ini adalah Assassin dan itu memiliki peningkatan level semenjak pertempuran besar melawan monster di ibukota kerajaan Klienstar.


Adapun Class Mageku yang tidak bisa digunakan karena inti mana yang hancur adalah..


Nama : Reyhan Naim


Main Class : Mage


Sub Class : Assassin, Knight, Archer, Guardian


Level : 999


MP : 0 (Inti mana hancur)


HP. : 99999


Kekuatan : 9999


Pertahanan : 999


Kelincahan : 999


Skill : 999 (Bisa semua sihir asalkan berada di batas imajinasi dan penciptaan)


Skill Unique : 3


[Belajar semua bahasa] Pasif


[Tiga orang idiot] Pasif


[Penggabungan Class] Aktif


[Saat ini Class Mage tidak dapat digunakan]


[Diperlukan perbaikan inti mana agar dapat digunakan kembali]


Itu cukup mengerikan..


Mengingat berapa banyak monster yang mati ketika aku menggunakan Class Mage..


Jadi mungkin ini adalah hal wajar mendapat status seperti ini..


Namun sangat disayangkan bahwa Class Mage tidak dapat digunakan karena kerusakan inti mana.


"Oi Rei.. kau dengar ?"


"Maaf"


Rian menggerakkan tubuhku dengan tangannya dan menyadarkan diriku ketika terlalu fokus melihat statusku.


"Sepertinya tetua mereka telah datang"


Bersambung..


Sepertinya Ayah Yuina sangat percaya kepada mereka bertiga untuk mencari cara untuk menyembuhkan Yuina.


Padahal mereka hanya melakukan perjalanan lalu tiba-tiba di penjara..


Cerita normal isekai pasti perjalanan mereka penuh dengan pertarungan.. tapi di sini mereka malah di penjara..


Sungguh mereka itu ngapain sih ?

__ADS_1


"Yang bikin ceritanya siapa ?" [Rian]


"Ah kau memanggilku ?" [Author]


__ADS_2