Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Praktek pedang..


__ADS_3

Semua orang menatap ke arahku dan itu menambah gugupnya diriku..


Jujur aku tidak terlalu tahan untuk menjadi pusat perhatian..


Bahkan saat aku di bumi aku tidak pernah melakukan hal yang dapat menarik perhatian orang.


Namun kenapa di dunia ini aku menjadi begitu menonjol..


Ah..


Aku lupa bahwa aku berteman dengan mereka berdua..


Pengaruh dari Dual Class mereka begitu menonjol dan aku sebagai teman mereka pasti selalu diperhatikan orang orang..


Bahkan saat ini aku bisa mendengar mereka berbisik sesuatu..


"Cepat"


"Anu.. prakteknya tentang apa ya"


"Kita membahas tentang sihir api daritadi apakah kau tidak mendengarnya"


"Aku mendengarkan cuma lupa hehe"


"Cepat praktekan"


Sihir api apaan coba..


Sialan..


Aku mendengarkan sedikit apa yang dibahas sebelumnya..


Aku harus menfokuskan manaku lalu membaca mantra sihir..


Uhmm..


Mantranya apa ya..?


Lupakan itu.. lebih baik kita membayangkannya saja dan membuat sebuah mantra baru bukankah itu lebih simple..


Well.. ini terjadi karena aku tidak mendengarkan..


Api berwarna merah..


Merah layaknya burung phoenix..


Semua yang terjadi akan terbakar..


Eh apa yang aku pikirkan..


Kenapa mantranya seperti ucapan seorang chunibyoo..


...


"Cepat ucapkan mantranya"


"Fire ?"


Aku mengucapkan satu kata karena otakku begitu blank karena memikirkan mantra apa yang ingin aku ucapkan..


Namun tiba tiba tanganku merasa panas dan sebuah api muncul di tanganku..


"Woah.."


Semua orang terperangah kaget dengan apa yang terjadi..


"Tunggu.. apa ?"


Pak Demark juga terkejut dengan apa yang terjadi..


[Pesan System..]


Sihir api sudah di tambahkan..


What.. ?


Aku melihat sebuah pemberitahuan yang ada di depanku.. ?


Tunggu..


Apakah orang tidak bisa melihat ini ?


"Bagaimana bisa ?"


Pak Demark masih kebingungan dengan apa yang terjadi.. Karena selama ini sihir tidak bisa di aktifkan begitu mudah..

__ADS_1


"Aku tidak tahu ?" Jawabku sambil menggaruk bagian belakang kepalaku..


"Kau jenius.. Di akademi kita terlahir seorang jenius.." Ucapnya dengan begitu senang. "Bagaimana kalau kita makan di kantin nanti siang.. Aku yang akan bayar"


Tunggu..


Kenapa tiba tiba pembicaraan jadi kearah sana..


Apakah aku akan diincar oleh orang berotot terus..


"Ah maaf pak saya sudah berjanji dengan teman saya untuk makan siang bersama nanti"


Pak Demark merenung dengan dalam..


"Bagaimana kalau makan malam"


Eh.. ?


Itu terlihat berbeda lagi artinya..


"Maaf pak untuk malam saya harus beristirahat dan juga perlu belajar lebih banyak lagi"


"Aku mengerti" Ucapnya sambil mengangguk.. "Kalau begitu saat kau ada waktu senggang nanti oke"


Aku cuma bisa tersenyum kecut saat mendengar itu..


Setelah itu pembelajaran berlanjut dan aku melihat mereka mengucapkan mantra layaknya seorang chunibyoo..


Syukurlah karena keberadaan system aku tidak harus membaca mantra seperti itu..


Sebenarnya aku tidak pernah melihat system milikku..


Bagaimana cara memeriksanya..


Apakah..


'Open Status' Ucapku dengan pelan..


Lalu aku terkejut dengan kemunculannya tersebut..


Apa yang ada disana masih sama seperti di dalam status yang ditunjukkan kartu guild namun disana telah muncul Skill..


Lalu aku menekan layar Skill tersebut..


[Sihir Api] [Level 0]


Jumlah mana yang diperlukan : 0 (Untuk saat ini)


ugh..


Apaan dengan keterangan skill ini.. Dan juga aku bukan idiot..


"Kamu praktekkan lagi sihir air" Ucap pak Demark sambil menunjuk kearahku.


Ah..


Saat aku sedang sibuk.. lagi lagi aku tidak memperhatikan apa yang di bahas dan tiba tiba saja dia menyuruhku untuk praktek sihir air..


Dari sekian banyaknya orang kenapa harus aku ?


"Apakah kau tidak bisa ?" tanyanya lagi..


.....


..


Di tempat Rian dan Iwan dimana letak lapangannya berbeda dengan Rei..


Disana mereka memegang sebuah pedang kayu..


"Dengar anak anak dalam Class yang memiliki ranah pedang kalian bisa merasa namanya Aura itu hampir sama seperti Mana namun ini berbeda karena Aura ini lebih mengasah ke dalam sebuah gerakan dan teknik.. kalian tidak bisa hanya mengayunkan sebuah pedang tanpa Aura.. lebih mudahnya seperti ini"


Bu Kiana memegang pedangnya dan disana terlihat sebuah cahaya yang keluar dari pedang tersebut.. Bu Kiana begitu fokus dan langsung mengayunkan pedangnya dan terlihat aura tersebut mengalir dan membuat sebuah hembusan angin yang begitu kuat..


Mereka semua yang ada disana terpukau akan hal itu..


Rian dan Iwan juga menjadi semakin bersemangat setelah melihat itu..


"Mari kita lihat bagaimana kalian mempraktekkannya"


Semua murid melakukan hal yang sama seperti Bu Kiana dimana mereka begitu berkonsentrasi pada pedang namun Aura yang dikatakan tidak muncul disana..


"Seperti yang aku duga tidak semudah itu mempelajarinya.. karena ini perlu pemahaman yang sangat mendalam.." Ucap Kiana dengan sedikit kecewa karena dia pikir akan menemukan seorang jenius..


Rian dan Iwan terus melakukannya namun mereka tidak kunjung melihat Aura yang disebutkan..

__ADS_1


"Rian apakah kau melihat Aura milikku ?"


"Tidak, Bagaimana denganku ?"


"Tidak ada"


""hmm""


Mereka berdua berpikir begitu keras..


"Bagaimana jika kita menerapkan hal yang ada di anime ?"


"Kau memikirkan hal yang sama sepertiku"


Mereka saling tersenyum..


"Kaminari No Aura"


"Mizuki No Aura"


Mereka mengucapkan kata tersebut sambil menahan napas mereka dan mengeluarnya secara perlahan seperti adegan Anime yang mereka tonton.. Namun itu sia sia Aura tetap tidak muncul..


Bahkan orang yang ada disekitar menatap mereka dengan heran..


"Sepertinya Aura itu tidaklah mudah" Ucap Rian sambil mengelap wajahnya walaupun tidak ada keringat disana..


"Kau benar" Balas Iwan yang terlihat kelelahan..


Mereka berdua berakting seperti sudah melakukan usaha yang sangat besar.. Padahal tidak..


Bu Kiana hanya bisa tersenyum kecut melihat mereka berdua..


"Mempelajari Aura tidaklah mudah karena tubuh kita harus terbiasa terlebih dahulu dengan sebuah pertarungan"


Bu Kiana mengangkat pedangnya..


"Kalau begitu mari kita latihan tanding.. Kalian semua bisa menyerangku" Ucapnya dengan tersenyum percaya diri..


"Kami tidak bisa bu.. karena seorang wanita haruslah di jaga bukan untuk di serang" Ucap Rian ala ala fakboy..


"Benar bu" Sambung Iwan..


Perkataan tersebut langsung memunculkan sedikit kemarahannya..


Drian yang selama ini tidak berbicara sepatah kata pun hanya bisa tersenyum kecut saat mendengar apa yang dikatakan Rian dan Iwan karena ketidak ketahuan mereka siapa Bu Kiana sebenarnya..


"Aku paling benci dengan bocah sok menjadi pahlawan yang selalu berkata seperti tidak akan menyerang wanita.. hmmph mari kita liat dulu kemampuan yang kau ucapkan itu"


Rian dan Iwan tidak tahu kenapa Bu Kiana tiba tiba marah namun mereka hanya dapat menyesali apa yang mereka katakan..


.....


..


.


Waktu berjalan begitu cepat dan latihan praktek selesai dan saatnya waktu untuk makan siang..


Rei yang berjalan ke kelas bertemu dengan Rian dan Iwan yang terlihat begitu mengerikan dimana sebuah perban membalut wajah mereka dan terlihat sedikit membengkak..


"Apa yang terjadi ?" Tanya Rei dengan penasaran.


"Aku pikir sihir lebih menyenangkan"


"Mungkin aku harus ganti Class saja"


"..?"


Rei kebingungan dengan apa yang terjadi pada mereka tiba tiba..


Rei lalu menatap kearah Drian karena dia juga mengikuti praktek pedang..


Drian hanya bisa memberikan ringkasan pendek kepada Rei..


Rei langsung memahaminya.. Ini seperti yang biasa mereka lakukan..


"Aku tidak percaya lagi dengan gadis cantik"


"Semuanya selalu melakukan hal kejam"


"Oi kalian.. Tolong jangan jadi gay"


Rei sekarang mengkhawatirkan dirinya..


Bersambung..

__ADS_1


Funfact : Sebenarnya author ingin chapter ini menjadi bagian yang menyenangkan untuk Rian dan Iwan.. namun.. entah kenapa ini menjadi seperti ini.. well.. ini bagus juga sih :v


Tolong jangan beritahu mereka oke ;)


__ADS_2