
Pria berjubah hitam yang menutupi sampai ke wajahnya akhirnya dapat bernapas lega setelah melihat Drian melarikan diri..
Dia sangat bersyukur bahwa nyawanya tidak diambil saat itu..
"Skill apaan itu tadi.."
Pria berjubah itu bergumam dengan ketakutan saat mengingat kejadian tersebut..
Semua terjadi begitu cepat hingga dia tidak dapat melihatnya dengan matanya sendiri..
Belum selesai dia menghela satu napas..
Sebuah kilatan kecil terlihat di leher pria berjubah dan seketika itu langsung melihat dunia berputar tanpa dia sadari..
Tidak..
Bukan dunia yang berputar..
Melainkan kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya dan kepalanya bergelinding ke tanah..
Tatapan terakhir yang dia lihat adalah seorang pria paruh bayah yang memiliki rambut panjang mengenakan pakaian yang tidak pernah dia lihat di kerajaan mana pun.
Orang yang membunuhnya tidak lain adalah master Drian.
Ketika master Drian ingin pergi..
Sesuatu tiba-tiba jatuh dari pakaian orang berjubah tersebut..
Sesuatu berbentuk bulat bergelinding tepat kearahnya..
"Ini gawat" Ucapnya ketika dia melihat benda yang bergelinding tersebut..
...
...
...
Drian telah memulihkan dirinya dalam waktu satu hari satu malam dan juga ketika waktu malam dimana semua orang sedang beristirahat. Dia mendapatkan sebuah kertas pesan dari masternya yang diantar oleh burung merpati milik masternya.
Isi pesan tersebut memberitahukan kepada Drian bahwa masternya akan melakukan sesuatu jadi dia disuruh untuk melakukan sesukanya sebelum master mencarinya.
Drian tahu masternya yang bijaksana pasti akan mencari petunjuk tentang kejadian ini..
...
Hari sudah pagi dan ketika dia bangun Luna sudah mengajukan pertanyaan kepadanya tentang kekuatan miliknya saat itu..
Tentu Drian tidak bisa memberitahukan hal tersebut atas perintah sang master untuk merahasiakannya..
Luna hanya dapat mengembungkan pipinya dengan kesal setelah dia menyerah mengajukan pertanyaan beratus kali..
Drian dapat memaklum akan hal itu, karena dia pasti sedang bosan berada di kereta kuda ini..
Drian melihat dua matahari yang tepat diatas kepalanya..
Suasana menjadi begitu panas mengingat bahwa bulan ini akan memasuki awal musim panas..
Drian melihat kearah penduduk yang sedang duduk di kereta kuda mereka yang dimana mereka memasang wajah sedih dan keputusasaan..
Walaupun mereka telah selamat akan monster namun belum tentu mereka juga akan selamat ketika mereka sampai ke ibukota kerajaan..
Mengingat pengungsi terkadang tidak diberikan oleh bantuan pemerintah..
Jika sedikit mungkin masih bisa namun bagaimana kalau itu banyak..
Tentu dana kerajaan tidak membantu banyak akan hal itu..
"Akhirnya.. Akhirnya.. akhirnya.. Drian lihat"
Luna dengan begitu senang setelah melihat ujung benteng kerajaan yang masih begitu jauh..
Namun semangatnya itu membuat Drian tersenyum kecil..
Tidak lama mereka akhirnya sampai di benteng kerajaan yang dimana penjaga gerbang memperlihat raut wajah yang tidak dapat dijelaskan dengan sebuah kata kata..
"Pengungsi lagi"
"Keberapa sudah"
"Aku mulai lupa setelah menghitung lebih dari sepuluh"
Drian mendengar percakapan antara mereka membuat kerutan kecil di dahinya..
Alex menghela napas setelah menyadari kebingungan Drian..
"Ini bukan pengungsi pertama"
"Apa maksudmu.. itu.."
"Ya.. Banyak desa telah dihancurkan oleh monster"
"Tidak mungkin.."
Drian tidak mengerti..
Tidak..
Dia tidak bisa memahami kenapa semua terjadi secara bersamaan..
"Alex!"
Suara tersebut begitu keras hingga Drian juga ikut menoleh untuk melihat siapa yang memanggil nama Alex..
Seorang pria berambut pirang datang menuju kearah Alex dan memegang bahunya..
"Rachel"
"Alex bagaimana ?"
"Kami hampir saja terlambat"
"Begitu"
"Namun kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya karena ada seseorang berjubah hitam dengan kekuatan sihir yang hebat.. namun untungnya seseorang telah menolong kami"
Alex melihat kearah Drian..
Drian terkejut bahwa Alex menyebutkan dirinya kepada Rachel..
Rachel menatap kearahnya dan langsung mengangkat sedikit alisnya.
"Drian Liened ?"
Drian hanya tersenyum kecut bahwa dia telah terkenal tanpa dia sadari..
Walaupun dia tahu alasan kenapa dia terkenal..
"Itu adalah namaku"
"Kau sedikit berbeda dari pertama kali aku melihatmu"
"Aku terlihat tua ?"
"Itu lelucon yang bagus.. tapi bukan itu" Balas Rachel tertawa berusaha untuk menghargai lelucon tersebut. "Sebaiknya kita bicarakan lebih lanjut di dalam." Sambung Rachel.
Rachel membawa mereka berjalan ke dalam benteng kerajaan tanpa ada satupun penjaga bertanya atau bahkan mencegat dirinya..
Drian melihat pemandangan di dalam begitu penuh akan kesibukan.
__ADS_1
Terlihat orang kesana kemari dengan membawa sebuah akar tanaman yang tidak dia ketahui..
Lalu ada orang bertugas untuk membersihkannya dengan sangat bersih..
Ada juga orang mempersiapkan tungku begitu besar..
Lalu tidak jauh dari tempatnya juga ada bangunan yang sedang di bangun..
"Apa yang mereka lakukan ?" Tanya Drian dengan penasaran.
"Itu bantuan untuk para pengungsi" Jawab Rachel.
"Bangunan itu.."
"Seperti yang kau lihat.. itu rumah bertingkat"
"?"
"Bagaimana ya.. itu adalah ide milik seseorang untuk membuat rumah namun dalam bersusun dan bertingkat keatas.. dengan begitu tanah yang sempit dapat digunakan dengan bijaksana untuk tempat tinggal para pengungsi saat ini"
Drian hanya mengangguk mengerti akan hal itu..
Dia menjadi sedikit penasaran siapa yang membuat ide ini..
"Aku akan mengantar Luna kepada Priest" Potong Alex dengan cepat.
"Eh..!? Tapi aku masih mau berjalan jalan" Jawab Luna dengan tidak senang.
Luna terlihat merengek sedih namun sebenarnya dia masih belum pulih sepenuhnya bahkan bekas luka goresan cakar monster masih terlihat di tubuhnya..
(Darimana dia mendapatkan energi tersebut ?)
Alex dengan paksa membawa Luna pergi dengan mengangkatnya dengan begitu mudah di bahunya..
"Drian.. tolong!! Aku tidak mau dibawa gorila berotot"
"Haha.."
Drian tersenyum kecut akan hal itu dan melihat Luna masih memberontak dari kejauhan..
"Aku turut bersedih dengan apa yang terjadi pada orang tuamu" Ucap Rachel dengan sedih.
"Tidak perlu akan hal itu.. lagipula aku tidak memiliki kenangan baik dengan mereka"
Alex mengangkat sedikit alisnya dan menggelengkan kepalanya dengan sedih..
"Walaupun begitu mereka tetap orang tuamu"
"Terima kasih"
"Berbicara tentang hal itu.. aku mendengar bahwa kakakmu mengambil alih kerajaan.. bagaimana kabarnya"
"Dia baik"
Drian mencoba untuk tetap tenang dan tersenyum.. walaupun dia tahu bahwa kakaknya mencoba untuk membunuhnya..
"Ah.. hari mulai panas.. bagaimana kalau kau mengunjungi rumahku untuk beristirahat"
"Tidak terima kasih.. aku akan mencari penginapan terdekat dan mencari guild petualang"
Guild petualang membuat Drian mengingat tentang Kirana..
Bagaimanakah kabarnya ?
"Oh.. jika tidak salah kau memasuki akademi petualang"
Drian mengangguk..
Rachel menatap Drian dengan penuh pikiran..
"Apakah kau tahu-- Tidak lupakan tentang itu"
Namun Rachel memutuskan untuk tidak memberitahukannya takut bahwa dugaannya salah..
Setelah Drian mengucapkan salam perpisahan kepada Drian karena dia ingin secepatnya mencari guild petualang..
Mengingat bahwa uang dan segala peralatan miliknya ada dikantong penyimpanan dan bodohnya itu dia kelupaan untuk membawa hal tersebut bersamanya saat latihan..
Jadi harta yang Drian miliki saat ini hanyalah pakaian yang dia kenakan..
(Sepertinya aku harus berusaha untuk mencari makan)
...
...
...
Di istana kerajaan..
Terlihat seorang pemuda terlelap tidur dengan nyaman di tempat kerjanya.
Pemuda itu adalah Rei.
Rei yang sedang tidur di meja kerjanya terlihat begitu kelelahan setelah beban kerja miliknya bertambah..
Apalagi dia harus mengurus banyak hal dikerajaan ini untuk para pengungsi yang terus berdatangan..
Bahkan rumah susun itupun merupakan salah satu idenya dalam membantu kerajaan dalam krisis ini..
Rei tidak tahu bahwa dia sedang memperlihatkan kelayakannya menjadi seorang raja selanjutnya..
Ayah Liana bahkan sudah mempertimbangkan Rei sebagai menantu masa depannya nanti..
Tentu ini tidak diketahui oleh Rei sendiri..
Selain Rei, di sana juga terlihat dua orang pemuda yang sedang mengendap-ngendap mendekati kearahnya dengan menahan tawa mereka..
"Oh itu seni yang bagus kali ini" Ucap Iwan dengan pelan kepada Rian..
"Oh terima kasih mister Iwan atas partisipasinya" Balas Rian dengan menahan tawanya..
"Oh itu tidak perlu mister Rian, berpartisipasi dalam hal ini sungguh menjadi kehormatan saya" Jawab Iwan dengan bangga..
Mereka saling berbicara seperti seorang bangsawan yang begitu hebat dalam menghasil karya seni..
Yah itu juga hebat..
Karena mereka saat ini sedang melukis wajah Rei dengan penuh dengan karya seni saat ini..
Wajah Rei memiliki corak seperti sisik ikan ditambah dengan gambar mata ketika dia tidur memperlihat wajah ikan yang begitu sempurna..
Selain itu mereka menambah sebuah gambar pita disalah satu wajah Rei tepat diatas dahinya dan sebuah garis garis kecil di pipinya yang memperlihat wajah seorang gadis di anime yang sedang tersipu malu..
Wajah Rei penuh dengan Ke UwU saat ini..
Nama Seni ini adalah wajah 'ikan yang sedang jatuh cinta'
Mungkin karya monalisa akan kalah dengan ini..
"Mari kita abadikan ini diponsel kita" Ucap Iwan dengan senang.
"Oh ide yang bagus"
Rian dengan cepat mengambil hp miliknya dan memotret wajah Rei..
Namun Rian lupa untuk mematikan cahaya kamera ketika memotret..
Kilatan cahaya kamera hp membuat Rei terbangun dari tidurnya..
__ADS_1
"Gawat.." Ucap Rian dengan panik..
Rei mengucek matanya dengan perlahan hingga tatapannya terpaku kepada Rian dan Iwan yang ada di depannya..
"Apa yang kalian lakukan ?"
Rian dengan cepat menyembunyikan hpnya di saku celananya..
"Ah.. tadi.. Liana menyuruh kami untuk membangunkanmu" Ucap Rian dengan cepat.
"Ah.. iya itu benar.." Sambung Iwan berusaha untuk menyakinkan.
"Hmm.. Liana nya ada dimana sekarang ?"
"Ah.. itu.." Rian begitu kebingungan.
"Di taman kerajaan.. tadi dia ada di sana" Ucap Iwan membantu Rian.
"Tadi ?"
"Sekarang dia ada di sana" Tegas Iwan sekali lagi..
Iwan saat itu tidak sengaja melihat Liana sedang bersama adik angkatnya di taman sedang bermain..
Jadi dia sedikit yakin akan hal itu..
Rei merasa curiga dengan perkataan mereka yang terlihat gagap..
Namun Rei tidak memperdulikan hal itu dan memutuskan bangkit dari tempatnya tidur untuk memastikannya sendiri dengan kedua matanya..
...
...
...
Aku berjalan menuju taman kerajaan dimana Liana sedang menungguku di sana..
Aku sedikit bingung kenapa kedua temanku begitu gugup saat berbicara akan hal tersebut..
Tunggu..
Kenapa di taman..
Jangan-jangan..
Tenang diriku..
Ini pasti bukan yang seperti itu..
Lagipula siapa yang mau dengan diriku yang tidak tampan ini..
Tapi..
Selama ini aku melakukan sesuatu yang begitu hebat dan bahkan Liana selalu ada disampingku untuk membantuku..
Tidak menutup kemungkinan cinta akan tumbuh dengan sendirinya..
Tapi..
Tunggu..
Ketika aku sedang berdebat dengan diriku sendiri tanpa aku sadari taman sudah sangat dekat denganku..
Aku melihat Liana sedang berdiri tepat di bawah pohon tersebut dan angin mulai berhembus memperlihat daun yang berjatuhan dengan lembut..
Liana mempertahankan rambutnya untuk tidak tertiup angin dengan memeganginya dengan erat..
Liana menyadari keberadaanku dan tersenyum lembut..Tunggu..
Itu tidak terlihat tersenyum..
Liana dengan cepat menutupi mulutnya dengan tangannya seolah sangat kesakitan..
"Liana.. aku mendengar kau memanggilku"
Liana tidak menjawab dan masih menutupi mulutnya dengan erat..
Apakah dia begitu gugup untuk membicarakan tentang perasaannya ?
"Apakah kau sedang sakit ?" Tanyaku dengan khawatir..
Seketika itu tawa lepas terdengar begitu hebat dari Liana yang dimana aku tidak pernah melihat dia seperti ini sebelumnya..
"Hahaha.. itu.. Puhahaha"
Liana tertawa dengan keras seakan kontak suaranya ingin menghilang..
Aku masih bingung dengan apa yang terjadi padanya..
Ketika itu Irna dan Ryu yang sedang bermain mendengar suara Liana tertawa dan dengan penasaran datang dan seketika itu juga mereka langsung tertawa melihat kearahku..
Apa yang sebenarnya terjadi ?
"Wajahmu itu.. sangat bagus.." Ucap Liana berusaha untuk menahan tawanya..
Ini..
Aku langsung mengambil hpku dan melihat wajahku yang dimana penuh dengan coretan..
"Teman kampret"
Aku mengutuk dengan marah..
...
...
"Kita harus lari" Ucap Rian dengan panik.
"Ke ujung dunia sepertinya lebih baik" Balas Iwan..
Rian dan iwan sudah bergegas kabur dari istana.
...
Bersambung..
Makasih sudah membaca sampai sini..
Sungguh aku masih belum percaya bahwa karya ini semakin banyak yang menyukainya..
Walaupun mereka masih saja idiot sampai saat ini..
:'v
Tapi entah kenapa aku merasa bangga dengan mereka bertiga..
Maaf jika update masih gk bisa tiap hari kayak novel yang lainnya..
Tapi aku usahain untuk update terus oke..
Stay tune aja ya..
Jangan lupa like dan vote juga ya..
Oke..
Terimakasih ;)
__ADS_1