
"Ibu kenapa kita harus masuk sekolah hari ini"
Anak kecil bertanya kepada Gadis Elf yang cantik dengan rambut pirang berkacamata.
Gadis ini adalah Felisha yang masih mengajar anak-anak pagi ini.
"Sekolah itu penting.. karena di tempat ini kalian mendapatkan ilmu pengetahuan yang berguna untuk kehidupan"
"Tapi kami ingin mengantarkan pahlawan yang menyelamatkan kita"
""Benar""
Felisha mengerti perasaan mereka namun karena mengajar adalah tugas penting bagi dirinya jadi mengabaikan tugas bukanlah hal yang dapat dia maafkan.
Namun dia juga tidak dapat mengabaikan keinginan muridnya untuk mengantarkan mereka.
"Kalian boleh pergi namun setelah menyelesaikan soal di depan ini"
"Yess"
"Terimakasih ibu"
Felisha memberikan soal mudah di depan papan tulis untuk mereka dapat menjawabnya dengan cepat.
Sehingga mereka masih sempat untuk ikut pergi mengantarkan mereka.
Tentu ini demi keinginan muridnya.
Setelah selesai menjawab pertanyaan yang ada mereka langsung mengumpulkannya kepada Felisha.
Mereka pergi dengan penuh semangat.
Felisha merapikan mejanya dan bergegas juga untuk ikut.
Tentu ini hanya menemani anak muridnya.
Tidak lebih..
...
Ketika Felisha sampai dia melihat kerumunan orang-orang datang.
Dia menyadari bahwa ternyata banyak juga orang yang ikut mengantarkan mereka. Sepertinya gelar pahlawan memang sangatlah hebat.
Felisha berusaha untuk melewati kerumunan untuk mendekati kereta kuda yang sepertinya mereka ada di sana.
"Felisha sebaiknya kau tidak ke sana"
Seorang gadis yaitu teman seumurannya datang menghentikan dirinya.
Dia menjadi bingung dengan apa yang terjadi pada temannya yang menghalangi dirinya untuk lewat.
"Apa yang terjadi !?" Tanya Felisha dengan bingung.
"Aku hanya ingin kau tidak pergi ke sana"
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin sainganku menjadi bertambah"
"Hah ?"
Felisha tidak memiliki ide sedikitpun kenapa temannya ini berbicara tentang menjadi saingan.
Felisha menjadi semakin penasaran hingga dia memaksa dirinya untuk melewati temannya ini.
Dia menerobos begitu cepat hingga dia sampai di bagian depan.
Dia mengambil nafas berat karena kelelahan setelah melewati banyak kerumunan.
"Aku tidak menyangka kau juga ikut datang mengantar kami"
Felisha mengangkat kepalanya dengan cepat dan berkata "Ini bukan karena aku ingi--"
Namun kata-kata miliknya terhenti setelah melihat wajah Rei.
"Apa ada yang salah ?"
"Siapa kau!!!"
...
...
...
Kembali beberapa menit sebelumnya..
__ADS_1
"Unicorn ini menyukai pria tampan" Tetua Elf berkata dengan nada yang begitu berat dan keras.
Aku yang mendengar itu bingung merespon seperti apa karena aku tahu ini akan menjadi masalah yang cukup besar.
Mengingat wajahku yang pas-pasan ini yang bisa ditemui dimana saja. Terutama kedua temanku ini tidak perlu ditanyakan lagi seperti apa.
"Apakah batas level ketampanan yang mereka sukai seperti wajahku ?" Tanya Rian dengan wajah penuh penasaran.
Tetua ingin mengatakan sesuatu namun Iwan yang ada disampingnya langsung menyela.
"Jika batas level ketampanan sepertimu maka monyet akan dikatakan tampan kau tahu"
"Mari kita cari lapangan luas.. KITA GELUD!!" Ucap Rian dengan kesal.
"Sudahlah sesama monyet harus akur" Balasku dengan tersenyum melerai pertikaian mereka.
Mereka menatapku dengan marah secara bersamaan.
Tetua yang ada di samping kami memberikan batuk palsunya. "Kalian tidak perlu khawatir.. sebenarnya wajah kalian itu cukup tampan"
"Kan apa yang aku bilang" Ucap Rian dengan bangga.
"Coba tetua tatap baik-baik wajah ini orang dan pikirkan dua kali" Balas Iwan dengan penuh ketidaksetujuannya.
"Kau dendam apa sih monyet!" Ucap Rian dengan kesal terhadap perlakuan tidak sopan si Iwan.
"Hei.. sesama monyet jangan saling ngatain" Balasku untuk melerai pertikaian mereka.
"Kalian berhenti!"
Tetua menjadi marah melihat kami berdebat.
"Midia.. Sinia.. Rinia.. Kemari kalian"
Tetua memanggil tiga orang gadis cantik datang kearah kami.
Mereka bertiga tersenyum secara bersamaan menatap kearah kami yang dimana itu cukup menghentikan detak jantung ini sesaat.
"Kalian tolong rias wajah mereka"
"""Baik tetua""'
Mereka bertiga menjawab secara bersamaan dan kami diseret oleh mereka ditempat yang agak jauh.
Kami tidak tahu apa yang terjadi pada kami namun suara dan senyum mereka sangat menggoda hingga aku tidak sadar sedang diajak kemana.
Ketika aku tahu mereka memegang wajah masing-masing dari kami dengan tangan mereka yang lembut.
Aku ingin bertanya sesuatu namun wajah dia.. mungkin Midia kalau tidak salah namanya. dia sangat cantik dengan aura dewasa yang begitu mengerikan dan pegunungan yang begitu indah memasuki pemandanganku ketika aku sedang melirik ke bawah.
Wajahnya selalu ada di depanku dan menatap lurus kearahku.
Hingga aku lupa ingin bertanya apa.
Hingga sepuluh menit berlalu..
...
...
"Silahkan dilihat"
Dia langsung memberikan sebuah cermin kepadaku..
Aku melihat seorang pria tampan di cermin dan bingung..
Apa ini jalur komunikasi melalui cermin.
Pria tampan ini hanya melihat kearahku tanpa ada berbicara sepatah katapun.
"Anu tuan ?"
Midia melihat kearahku dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Siapa orang ini ?" Aku bertanya dengan penuh penasaran.
Karena aku tidak tahu kenapa aku diberikan cermin ini dan tiba-tiba ada pria tampan yang hanya menatap kearahku tanpa berbicara.
"Itu anda tuan"
"Namanya anda.. apa dia punya urusan denganku ?"
"Tidak tuan.. itu anda sendiri"
"Nama panjangnya Anda Sendiri.. nama yang aneh"
"Tidak tuan itu adalah--"
__ADS_1
"Rei!"
Sebelum sempat Midia menyelesaikan perkataannya si Rian idiot ini memanggilku dengan begitu keras.
"Bisakah kau tidak berteriak"
Aku memalingkan wajahku kearah Rian memanggil namun si Rian tidak ada di sana.
Yang ada hanyalah seorang pria tampan dengan rambut pirang menatap terkejut kearahku.
"Rei! kau jadi tampan juga"
"Maaf.. kau siapa ?"
"Aku Rian.. Rian Fadilah"
"Jangan berbohong.. walaupun suaramu sama dengan dia tapi candaanmu tidak lucu karena wajah Rian tidak sepertimu"
"Wajahmu juga berbeda dariku.. kenapa kau tidak lihat di cermin ?"
Aku memalingkan wajahku kepada cermin yang aku pegang.
Aku perlahan menggerakkan tanganku kearah wajahku dan memegangnya dengan hati-hati.
Orang yang ada di cermin melakukan hal yang sama.. namun ketika aku merasakan kulit wajahku sendiri sangat berbeda..
Ini tidak mungkin kan..
Aku menatap kearah Midia yang berdiri di depanku mengangguk dengan berat.
Aku kembali menatap cermin dan melebarkan mataku dengan terkejut.
"Aku jadi tampan!!!!!!"
...
...
Memerlukan waktu lima menit hingga aku sangat yakin ini memang nyata.
"Kita seperti operasi plastik" Ucapku dengan tersenyum kecut.
"Kau benar.. ini sangat hebat" Balas Rian dengan bersemangat.
Rian sangat senang sekali karena wajahnya begitu jauh berbeda dari aslinya.
Hingga dia selalu berpose keren yang membuatku ingin memukul wajahnya untuk membuatnya kembali seperti sebelumnya.
"Tidak perlu berlebihan.. ini hanya wajah.. yang paling penting adalah hati yang baik hati" Ucap Iwan dengan berpose bijak dengan memegang cermin sedari tadi.
Dia sendiri sangat bangga dengan wajahnya yang menjadi tampan..
Sial tanganku jadi gatal melihat wajah yang tidak sesuai dengan mereka.
Wajah tampan tapi otak masih sama saja..
Idiot..
Ini membuatku merasa aneh dengan wajah mereka yang tidak familiar ini..
"Bagaimana sekarang wajah kalian tampan kan ?"
Tetua datang menghampiri kami dengan tersenyum begitu cerah.
Rian langsung mendekati dirinya dan menjabat tangannya.
"Tetua Elf.. terima kasih banyak.. saya tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas budi ini"
Rian menjabat tangan tetua elf dengan penuh semangat hingga dia meneteskan air mata sucinya.
"Saya juga Tetua Elf.. saya tidak akan pernah melupakan perbuatan anda" Sambung Iwan dengan ikut memegang tangan tetua elf.
Mereka berdua berterimakasih dengan penuh air mata tulus dari hati mereka.
"Sebenarnya penampilan kalian itu hanya sementara jadi tidak perlu berterimakasih secara berlebihan.. haha.." Ucap Tetua Elf disambung dengan tawa canggung miliknya.
""Eh!?""
Bersambung...
...
...
Udah ketebak sih ini ceritanya mengarah kemana wkwk..
Maaf misalnya mudah ketebak endingnya..
__ADS_1
Tapi kalian tertawa kan.. :v
Likenya jangan lupa ya..