Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Masih berjuang bersama mereka


__ADS_3

Perjalanan kami menuju hutan kabut berlanjut sekarang.


Perbekalan makanan telah banyak aku beli untuk menghindari kekurangan pangan nantinya.


Menurut peta terbaru yang diberikan raja yaitu ayahnya Melidia kepada kami terlihat begitu detail dengan berbagai penjelasan.


Mungkin karena wilayah ini jauh dari manusia jadi Ras Setengah Binatang memiliki peta lebih baik dari yang aku punya sebelumnya.


Jarak kami untuk menuju hutan berkabut cukup jauh dari yang aku kira.


Sepertinya membutuhkan 11 hari perjalanan dari keterangan peta ini.


Aku menyelipkan peta kembali ke dalam saku dan fokus menyetir kereta kuda.


...


...


...


Hari cukup panas ketika matahari yang muncul adalah dua.


Sejak awal matahari sudah dua namun entah kenapa wilayah ini sangat panas dari sebelumnya.


Apakah karena kami menaiki jalanan terjal yang minim akan pepohonan.


Suara derit kereta kuda berbunyi ketika menaiki jalanan terjal ini.


Kuda terlihat memaksa dirinya untuk membawa gerbong kereta yang berisikan dua orang idiot.


Sungguh...


"Rei.. ini panas.."


"Aku jadi kangen AC"


Dua orang ini selalu mengeluh hingga aku menjadi semakin stress..


Panas matahari juga semakin mengerikan hingga kulitku terasa terbakar.


Jalanan terjal ini akhirnya sampai ke atas dimana jalan tidak menanjak lagi.


Aku menghentikan kereta kuda di sini untuk mengistirahatkan kuda yang kelelahan.


Aku mengambil air minum yang aku simpan di dekatku dan meminumnya dengan nikmat.


Aku memandangi daerah sekitar yang dimana jalan yang ada di depan kami akan menjadi jalan menurun.


Aku sedikit takut untuk menyetir kereta kuda untuk jalan menurun. Apalagi ini cukup tinggi.


Seperti pepatah..


Lebih mudah menaiki gunung daripada menuruninya.. Seperti kehidupan.. Akan mudah menjalani kehidupan menuju keatas daripada menjalani hidup di bawah..


"Rei.. lihat sini"


Aku mengalihkan pandanganku menuju Rian yang terlihat menunjuk sesuatu.


"Apa ?"


Aku berjalan mendekati Rian yang dimana dia menatap dinding tanah yang ada di samping jalan.


Dinding tanah ini tidak terlihat spesial..


Apakah orang idiot ini menemukan hal menarik dari ini ?


"Menurut inderaku tempat ini seperti menyimpan banyak rahasia" Ucap Rian dengan percaya diri.


"Apa radar idiotmu aktif" Balasku dengan datar.


"Ya radar idi-- tunggu ini bukan radar idiot!"


"Entah tekstur tanah ini terlihat cukup aneh" Iwan juga mengikuti Rian yang melihat dinding tanah ini dengan pandangan yang berbeda.


Apakah dua orang idiot ini bosan hingga dinding tanah pun jadi bahan hiburan mereka ?


Iwan berjalan mendekati dinding tanah itu dan menyentuhnya.. Namun ketika dia menyentuhnya tangannya masuk ke dalam..


"Tunggu--"

__ADS_1


Iwan seketika itu langsung tersedot ke dalam tanah tersebut dan menghilang.


"Iwan!"


Rian panik dan langsung mendekatinya namun tidak sempat..


Rian langsung menyentuh tanah tempat Iwan masuk dan seketika itu menghilang juga.


Mereka berdua selalu saja merepotkan..


"Apakah aku punya pilihan ?"


Aku juga ikut melakukan itu dan secara ajaib aku jatuh di tempat yang sangat empuk..


Tidak seperti yang aku harapkan.


"Aw.. bisakah kau menyingkir dari badanku"


Rian mengeluh dengan kesakitan.


Sepertinya aku jatuh tepat diatasnya..


...


"Dimana kita ?"


"Kau bertanya denganku tapi dengan siapa--"


"Udah cukup.."


Aku menghentikan Rian sebelum dia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi.. Entah berapa kali aku mendengar hal itu hingga membuatku kesal.


Kami berada di dalam gua yang dimana ini tidak begitu gelap seperti gua pada umumnya.


Aku melihat keatas yang dimana sumber cahaya tersebut ternyata berasal dari kristal yang bercahaya.


Apa yang ada di depan kami adalah sebuah pintu yang terbuat dari besi.


Pola misterius terukir di dekat pintu masuk tersebut.


Pola itu menggambarkan..


Bukan saling bertarung..


Seolah mereka melindungi sesuatu..


Pintu.. ?


Pesan apa yang ingin disampaikan disini ?


...


"Mereka bertarung melawan apa ?" Rian bertanya dengan kebingungan.


"Iblis ?" Jawab iwan dengan ambigu.


"Sepertinya tidak.. lihat mata mereka tidak saling melihat satu sama lain" Ucapku dengan menunjuk kearah pola yang ada.


"Kepalaku pusing" Rian memegang kepalanya ketika melihat lebih lama ke dalam pola.


Seperti yang aku duga dari orang yang melihat rumus fisika langsung pusing.. apalagi melihat teka teki seperti ini.


"Mari kita buka" Ucap Iwan dengan cepat meraih gagang pintu.


Aku ingin menghentikannya namun terlambat. Dia telah menarik ke bawah gagang pintu itu.


"Ini terkunci"


Aku mendengarnya berkata seperti itu bernapas lega.


"Mari kita kembali oke.. kita tidak mempunyai banyak waktu untuk menjelajahi tempat ini" Ucapku untuk menghentikan mereka untuk melangkah lebih jauh.


Karena aku memiliki firasat buruk dengan apa yang ada di balik pintu tersebut.


Rian dan Iwan hanya dengan sedih meninggalkan pintu yang menarik perhatian mereka.


Kami kembali ke tempat dimana kami datang dan menyadari bahwa kami datang terjatuh dari atas gua.


Pertanyaannya adalah..

__ADS_1


Bagaimana kami memanjatnya ?


Aku melihat bahwa ketinggian lubang itu berjarak empat meter dari tempat kami berdiri.


"Bagaimana kita kembali ?" Tanyaku kepada mereka berdua.


"Kau bertanya denganku tapi.."


"Maaf.. aku bertanya kepada orang yang salah"


Aku berhenti mengharapkan mereka dan memikirkan jalan keluar sendiri.


Jika ada tali akan mudah namun di penyimpanan milikku tidak ada tali.


Bahkan jika ada tali bagaimana cara untuk mengaitkannya ke atas.


"Hei Rei di sana masih ada jalan.. bagaimana kita mengambil jalan tersebut siapa tahu ada jalan keluar"


"Kau benar siapa tahu ada jalan keluar lain"


Mereka berdua melihat kearah jalan dimana itu menunjukkan dua persimpangan yang berbeda.


Aku tidak yakin dengan ini namun mengingat jalan kembali terlalu sulit jadi aku tidak punya pilihan lain.


"Hmm.. jalan mana yang kita pilih ?"


Rian terlihat kebingungan memilih jalan antara kiri atau kanan..


Iwan mengambil sebuah lidi dari sakunya seraya tersenyum.


"Kita punya cara tradisional.."


"Oh!!"


Iwan meletakkan lidi di tanah dan membiarkan alam memilih takdirnya.


Lidi tersebut jatuh mengarah kearah kiri..


"Lidi mengarah ke kiri berarti ini jalan yang benar"


Iwan menjelaskan dengan bangga.


Sementara aku hanya mengikuti mereka berdua memimpin di depan.


Apakah perjalanan ini akan baik - baik saja ?


Bersambung..


Perjalanan Rei menjadi panjang karena dua orang itu..


Sungguh kasihan..


Well aku juga sih bikin ceritanya jadi mereka tidak bisa mengeluh.. Hahaha.. :v


Btw lama gk update.. maafkan saya..


sebenarnya bukan alasan sih tapi...


Gini...


Akhir-akhir ini aku belajar gambar dan serius buat ngejalaninnya.. jadi moga aja semakin bagus..


Btw ini gambarnya..







Gambar terakhir pengen buat ilustrasi si Rei.. tapi gk tau apakah bagus atau tidak.. jadi yah gitu..


Moga aja sih kalau aku udah jago bisa bikin komik.. :')


Jadi bagaimana pendapat kalian.. gambarnya ?

__ADS_1


__ADS_2