Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Perjalanan Menuju Kerajaan


__ADS_3

Aku mencari kedua orang idiot itu kemana-mana ternyata mereka tertidur di luar..


Mereka berdua tertidur di depan api unggun bersama dengan orang - orang..


Sepertinya mereka terlalu asik mengobrol hingga mata mereka mengantuk dan tertidur di sana..


Aku mendekati kearah mereka dan mengguncang tubuh mereka berdua dengan pelan.


"Oi bangun sudah pagi"


"Hmm"


Mereka berdua menatapku namun kembali mengambil selimut dan menutupi diri mereka.


"Aku melihat ada gadis cantik yang butuh pertolongan"


Mendengar suaraku menyebutkan gadis cantik mereka berdua langsung bangkit dari tidur mereka dan memegangi senjata mereka..


"Mana gadis yang butuh pertolongan"


"Kami akan datang"


...


Mereka melihat sekitar tempat dengan teliti namun tidak melihat satupun gadis cantik yang aku sebutkan..


"Rei kampret~"


Rian mengutukku dengan marah..


Aku hanya bisa tersenyum untuk menahan tawaku ketika melihat ekspresi idiot mereka..


"Kita akan berangkat jadi tolong bersiaplah"


"Dengan apa kita berangkat ?" Tanya Rian dengan bingung.


"Tentu saja denga--"


Ah..


Kereta kuda kami telah hancur bersama dengan kuda yang terjun ke lubang..


Aku baru ingat..


"Aku akan bertanya dengan Gelion"


Aku pergi dengan cepat menuju ruangan Gelion yang secara kebetulan dia telah keluar dari ruangannya..


"Apakah kau mencari kereta kuda ?"


Orang tua ini cukup tanggap..


"Apakah ada kereta kuda yang bisa di pakai"


"Cukup sulit.. mengingat kereta kuda ini--"


"Aku akan membelinya"


Orang tua ini tersenyum dengan santai melihat kearahku..


Aku sudah tahu bahwa dia akan menyedot isi dompetku jadi aku tidak perlu basa basi..


Lagipula uang bukanlah segalanya..


"1000 koin emas"


"Ini"


Aku dengan cepat menyerah sekantong koin emas putih kearahnya..


"Ini.. kenapa ada dua puluh keping emas putih di dalamnya"


"Itu tanda terima kasih"


"Ini terlalu banyak"


"Cukup untuk memberi makan dan membuat desa disini.. bukankah itu tujuan memeras uangku ?"


"Haha.. Rei kau memiliki pemikiran pemimpin yang bagus"


"Tidak perlu basa basi.. mana kereta kudanya ?"


"Ikuti aku"


Aku mengikuti Gelion menuju belakang bangunan miliknya yang dimana itu terlihat sebagai tempat memberikan makanan kuda dan juga di sampingnya ada gerbong kereta yang lebih bagus dari milikku sebelumnya..


"Ini bagus.. sesuai dengan harganya"


"Bagus jika kau menyukainya"


Aku dengan sigap menerima kereta kuda..


Kami sekarang memiliki tiga kuda untuk membawa satu gerbong kereta..


Maka kecepatan kereta kuda ini akan meningkat.


Ini cukup baik untuk membuang berapa ribu koin emas.


Mengingat Rachel memberikan 100 keping koin emas putih jadi itu masih banyak tersisa di kantongku..


Aku menaiki kereta kuda yang dimana tempat duduk kusir begitu empuk dengan bantalan yang baik..


Dengan begini pantatku akan terasa semakin nyaman..


Bahkan dalam gerbong kuda disiapkan kursi untuk duduk yang dimana memiliki keempukan yang baik..


Jendela gerbong kereta ini memiliki kaca dan juga tirai dan bagian atasnya dilapisi dengan lempengan besi yang baik untuk melindungi dari hujan dan panas..

__ADS_1


Aku membawa kereta kuda itu dan menunjukkannya kepada dua orang idiot itu..


Namun ketika aku sampai mereka malah melanjutkan tidur mereka di dekat api unggun itu..


Aku tidak perlu membangunkan mereka dan hanya menyeret mereka masuk ke dalam gerbong kereta..


"Apa yang terjadi..?"


Rian dan Iwan terkejut ketika aku melempar mereka ke dalam gerbong kereta..


"Kita akan berangkat"


Aku melihat kearah Melidia yang telah menungguku..


"Melidia"


"Iya.."


Dia memahami maksudku dan menaiki tempat duduk disamping kusir..


Karena aku butuh pemandu jadi tempat itu sudah jelas untuknya..


"Kami akan berangkat" Aku mengatakan kepada orang yang datang mengantarkan kami pergi..


"Begitu terburu-buru.."


"Mereka ada sesuatu yang harus dilakukan.. kita tidak bisa menahan mereka" Ucap Gelion kepada orang-orangnya..


Gelion menatapku dengan pelan sambil mengambil sesuatu dari kantongnya..


Dia memberikan sesuatu kepadaku..


"Ambillah cangkir kecil ini.. sebagai kenangan" Ucapnya memberikan cangkir bercorak hitam dan putih yang membentuk ikatan acak dicangkirnya..


"Terima kasih tapi aku pikir ini tidak perlu"


"Tidak apa-apa"


Aku dengan santai meletakkannya di kantong penyimpanan milikku..


"Sekali lagi aku ucapkan.. kami akan berangkat dan terima kasih untuk segalanya"


Aku menebas tali yang mengikat di kuda untuk membuatnya bergerak..


Kereta kuda berjalan dengan cepat seperti yang aku harapkan..


Semua orang melambaikan tangan mereka untuk perpisahan..


Rian dan Iwan dengan kuat melambaikan tangan mereka..


Sepertinya mereka telah berbagi ikatan dengan mereka..


Mereka semua bandit tapi mereka tidak terlihat seperti itu..


Bahkan kesangaran mereka tidam seperti seorang bandit pada umumnya..


Pada akhirnya mereka menjadi bandit bukan karena menyukainya..


Aku menatap Melidia yang ada disampingku dan bertanya "Apakah kau tahu rute lebih cepat menuju kerajaan ras setengah hewan"


"Aku tahu.. tapi jalannya akan sulit dan bergelombang.."


"Tidak apa-apa asalkan lebih cepat"


Aku mengikuti petunjuknya untuk mengambil jalan pintas..


Kami memasuki hutan belantara yang memiliki akar yang sangat menganggu di perjalanan..


Kereta kuda kami untungnya memiliki ban karet yang baik untuk menahan benturan jadi akar itu tidak dapat menghentikan pergerakan kami.. yah walaupun agak terguncang tapi bantalan empuk tempat duduk menjadi penawar sakit punggung..


Walaupun kecepatan kereta kuda berkurang karena akar ini..


...


Lebih dari satu jam kami akhirnya berhasil melewati hutan belantara itu..


Seandainya tidak ada Melidia mungkin kami akan tersesat di dalam hutan itu..


...


Suasana kembali santai ketika jalan kembali ke tanah datar..


Angin berhembus dengan nyaman membuatku merasakan udara yang begitu segar memasuki hidungku..


Suara semilir angin menerpa rerumputan membuat terdengar begitu penuh dengan melodi alam.


"Kau cukup menikmati perjalanan ini"


Melidia yang ada disampingku menyadari diriku yang begitu nyaman dengan hal ini..


"Mengingat tempat tinggalku tidak ada yang seperti ini jadi suasana ini cukup nyaman"


"Apakah tempat manusia begitu buruk ?"


Aku sedang membicarakan perkotaan tempat tinggalku..


Bukan tempat manusia disini..


"Lupakan saja"


Melidia kembali menatap depan dengan wajah yang sedikit kecewa..


(Kenapa dia menjawab selalu saja begitu dingin)


Melidia selalu percaya diri akan wajah cantiknya bahkan semua orang akan memperlakukannya begitu lembut dan ramah..


Ketika orang menatap wajahnya dapat dipastikan mereka akan memiliki rona wajah memerah.. tapi berbeda dengan orang yang ada disampingnya ini..

__ADS_1


Kenapa ?


...


Aku kembali fokus menyetir ketika Melidia diam tanpa berkata sepatah katapun..


Yah aku hanya akan menikmati kesunyian ini sebentar..


"Rian minta snack"


"Ini snack terakhirku jadi tidak"


"Aku minta sedikit"


"Sedikit ya"


"Hehe.."


"Oi sedikit aja kampret!"


Aku tahu mereka pasti akan ribut..


...


...


...


"Saya sarankan untuk menginap disini.. karena ada aliran sungai yang bagus di daerah sini" Ucap Melidia melihat aliran sungai kecil yang ada dipinggir jalan..


"Iya kau benar.. punggungku juga telah sakit"


Kami telah melakukan perjalanan selama 12 jam dan hanya berhenti untuk makan..


Aku berpikir perjalanannya akan begitu cepat tapi ternyata masih membutuhkan 2 hari perjalanan lagi berdasarkan penjelasan Melidia..


"Kapan kita sampai Rei ?" Tanya Rian kepadaku..


"Dekat aja cuman dua hari perjalanan" Balasku dengan singkat.


"Dekat ? dua hari perjalanan itu dekat ?"


"Jika kita melalui rute biasa itu akan mengambil waktu delapan hari perjalanan" Jawabku lagi dengan tenang.


"Punggungku sakit seharian duduk" Rian mengeluh sambil memegangi punggungnya


"Sama" Sambung Iwan.


"Kalian pikir cuman kalian saja yang sakit" Balasku dengan kesal.


"Kau nyaman bisa duduk seharian bersama gadis cantik disebelahmu sedangkan aku harus duduk di dalam gerbong bersama lelaki" Ucapnya dengan menatap sinis kepadaku.


"Abang Rian kenapa begitu jahat" Balas Iwan dengan gaya yang feminim.


"Jangan bertingkah seperti perempuan!" Ucap Rian semakin kesal.


Melidia memiliki wajah memerah ketika Rian menyebutkan diriku duduk disampingnya.


Lagipula aku juga tidak akan menyuruhnya duduk disampingku jika dia tidak menjadi pemandu perjalanan.


...


Bersambung..


[Ruang curhat pemain]


"Rei jual mahal terus sama gadis itu" -Rian


"Jika itu aku sudah aku gombalin sih" -Iwan


"Cantik sedikit aja mau kalian gombalin" -Rei


"Sedikit!? Sedikit katamu.. matamu ditaruh dimana oi ?" -Rian


"Tidak bisakah kau tidak berteriak di telingaku"-Rei


"Rei terlalu cinta sama Yuina jadi semua gadis dibilang gitu"-Iwan


"Sialan kau Rei... Thor kasih aku juga gadis cantik thor" -Rian


"Tentu tapi yang--" -Author


"Jangan berbatang -_-"-Rian


"Kenapa kau bisa membaca pikiranku!"-Author


"Dah lah thor udah basi" -Rian


"Susahnya berharap sama author idiot" -Iwan


"Kenapa kalian begitu kejam samaku.. Rei kau tidak seperti mereka kan ?"


"Tidak setelah kau melakukan Yuina seperti itu"


:')


Mereka membenciku..


Kalian tidak kan :')


Kan ?


...


...


...

__ADS_1


__ADS_2