Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Sebuah Hubungan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah layaknya pagi..


Hmm..


Suara burung berkicau begitu merdu ditambah cahaya matahari yang masuk melalui sela sela jendela membangunkan diriku..


Aku merenggangkan tubuhku dengan bahagia karena tidurku malam ini begitu nikmat tanpa ada gangguan dari mereka..


Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menuju ke kamar mandi...


Karena aku tidak ingin mengulangi kesalahanku kemarin jadi aku mengetuk pintu terlebih dahulu..


Sepertinya tidak ada orang..


Aku masuk ke dalam dan berendam di bak mandi..


Ah sungguh enak..


Ini adalah sebuah kenikmatan yang beruntung bisa aku rasakan..


Saat aku sedang menikmati mandiku tiba tiba pintu dari kamar mandi terbuka dan..


Itu adalah Liana yang membuka pintu tersebut..


Aku memandanginya dengan heran..


Liana memandangiku dengan wajahnya yang secara perlahan dibalut dengan kemerahan semerah apel..


"Dasar hentai.."


Liana pergi dengan menutup pintu dengan keras..


"Eh..!?"


...


Sarapan pagi hari terasa kembali sangat canggung saat kejadian tersebut..


Itu bukan salahku karena dia melihatku mandi bukan ?..


Yah walaupun separuhnya juga salahku karena lupa mengunci pintu..


Tapi namanya manusia.. aku juga bisa lupa..


...


"Rei ini adalah bumbu yang sudah jadi untuk bahan cobaan terlebih dahulu nanti jika enak kasih tahu yang mana" Ucap Rian sambil memberikanku lima kantong bungkus kecil..


"Terima kasih.. kau terlihat mengantuk.. sebaiknya kau beristirahat saja lagi"


"Tidak.. aku ingin kembali ke toko herbal dan ada beberapa yang ingin aku lakukan"


"Baiklah jika begitu.."


Rian pergi berjalan keluar untuk pergi ke toko herbal..


Aku ingin menemui Liana yang entah kenapa setelah itu pergi menjauhiku..


"Iwan kau berikan kantong ini kepada Rachel.. aku ada yang perlu aku lakukan"


"Eh.. !?"


Aku pergi setelah memberikan bumbu tersebut kepada Iwan..


Iwan hanya bisa sedih karena dia tinggal sendiri oleh teman temannya...


Aku yang mencari Liana di kerajaan merasa sangat kesulitan..


Kenapa dia menghindari disaat aku membutuhkannya..


Saat di ujung lorong aku berjalan bertemu dengan Irna yang sedang bermain..


"Kakak sedang mencari apa ?"


"Aku mencari Liana ? Apakah kau melihatnya"


"Tadi dia kearah sini.."


"Terima kasih"


Lalu aku berjalan begitu terburu buru dan ketika itu aku bertemu dengannya..


"Liana tunggu"


Liana terkejut dengan suaraku dan ingin menambah kecepatan larinya namun karena dia memakai sepatu hak tinggi jadi tanpa sengaja dia terjatuh..


"aww"


Liana menjerit kesakitan..


Aku mendekatinya dan terlihat kakinya terkilir..


"Kenapa kau lari dariku"


"Aku tidak tahu"


"Hah?"


Lalu aku membalikkan badanku dan membungkukkan badanku..


"Naik"


"Apa yang ingin kau lakukan.."


"Kau tidak bisa berjalan dengan kaki seperti itu"


Liana melihat kearah dan sedikit ragu..


Lalu dia menguatkan hatinya dan mendekap kearah punggungku..


Aku merasakan Liana telah memegang bahuku lalu aku berdiri..


"Aku tidak menyangka punggungmu begitu besar"

__ADS_1


"Apa aku bertambah gemuk ?"


Aku merasa khawatir saat dibilang begitu.. mengingat aku tidak terlalu memperhatikan pola makanku selama ini..


"Tidak bukan itu maksudnya.. tapi dalam artian baik" Kata Liana dengan panik dibalut wajah memerahnya..


Aku tidak mengerti apa artinya itu ?


Aku membawa Liana ke ruangan rawat dimana itu adalah tempat khusus untuk merawat orang terluka..


Aku mencari sebuah perban namun aku lupa bahwa ini adalah dunia sihir jadi keberadaan itu tidak ada di sini..


"Aku tidak terlalu terluka jadi tidak usah berlebihan"


"Luka kecil akan menjadi besar jika tidak cepat ditangani"


Aku mencari sesuatu di tas kantong penyimpanan ruang milikku dan mencari kotak pertolongan pertama mini yang aku bawa..


Aku menemukan perban dan juga sebuah olesan balsem yang sering aku gunakan..


Bukan endorse.. balsem memang mantap untuk masalah keseleo seperti ini karena panas yang dibuat dari balsem akan menyembuhkan kaki terkilir secara perlahan..


Aku mengoleskan balsem tersebut di kaki Liana dan terlihat dia merasa terkejut akan panas balsem..


"Rei ini ?"


"Tidak perlu takut.. ini adalah hal yang dilakukan di duniaku jika keseleo"


Lalu setelah aku mengoleskannya aku memperban kaki Liana dan aku mengikat perban tersebut dengan rapi di kakinya..


Aku menatap hasil kerja keras dan merasa bangga akan hal itu..


Karena aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya kepada orang selain diriku sendiri..


Aku hampir lupa alasanku mengejar Liana.


"Aku ingin membahas tentang hal yang kita bicarakan tadi malam jadi aku ingin melakukannya hari ini.. semakin cepat maka semakin bagus"


Liana mengangguk..


"Aku sudah menyiapkan berkas yang harus diisi dan beberapa hal lain juga"


Liana mengeluarkan sebuah kertas dari penyimpanan ruang miliknya juga..


Sungguh aku merasa kagum akan kantong penyimpanan ini.. jika seandainya ini ada di duniaku bukankah aku tidak perlu membawa tas berat milikku ke sekolah..


"Aku sangat berterima kasih.. aku akan mengisinya dan juga mohon bantuannya"


"Tenang saja aku akan membantu"


Lalu setelah itu aku mengerjakan beberapa kertas.. mungkin bukan beberapa lagi tapi banyak..


Aku tidak menyangka akan serepot ini..


...


...


...


Rian akhirnya sampai ke toko herbal dimana dia telah berjanji untuk datang..


Sebenarnya alasan Rian untuk datang adalah mempelajari lebih dalam tentang tanaman herbal di sini.. mengingat dunia dia dan dunia ini berbeda walaupun memang ada beberapa tanaman rempah yang sama di sini. namun tanaman rempah di dunia ini masih banyak yang tidak dia ketahui..


Jadi alasannya dia datang adalah itu..


Ketika Rian masuk ke dalam toko terlihat seorang kakek yang sudah tua dimana wajah keriput telah terlihat di wajahnya dan rambut putihnya..


Kakek tersebut menggunakan sebuah tongkat untuk dia berjalan..


Kakek tersebut melihat kearah Rian dan mengelilinginya untuk melihat tubuh Rian secara seksama..


"Sungguh bagus"


Rian tanpa sadar menutupi dirinya seperti seorang gadis..


"Apa yang bagus ?" Rian menjadi panik akan hal itu..


Mengingat dia masih trauma dengan pria berotot yang mengejar dia dan sekarang seorang kakek tua juga mengincar dia..


"Kakek itu sungguh tidak sopan terhadap tamu kita" Ucap Nita dengan tidak senang..


Nita yang datang dari pintu belakang melihat kearah Rian..


"Maafkan kelakuan kakekku"


"Ya tidak apa apa"


Rian melihat kearah Nita dan dia menatap wajahnya secara seksama..


Mengingat bahwa Nita memakai sebuah topi penyihir jadi dia tidak dapat melihat wajahnya secara penuh kemarin..


Namun sekarang Rian dapat melihat wajahnya..


"Apakah ada sesuatu di wajahku ?" Tanya Nita dengan wajah memerah..


"Aku pikir wajahmu begitu cantik"


"Ah terima kasih" Balas Nita dengan wajah memerahnya..


Kakek Nita hanya bisa tersenyum melihat cucunya begitu malu di depan orang ini..


Ini adalah sisi Nita yang jarang sekali dia lihat..


"Aku akan berjalan jalan keluar untuk menikmati matahari pagi.." Ucap Kakek tersebut sambil mengedipkan mata kanannya kearah Rian..


Rian menjadi takut akan hal itu dan memaling wajahnya tanpa sadar..


(Sungguh pemuda yang pemalu)


Rian tidaklah pemalu melainkan dia takut akan hal lain.. yah kau tahu apa itu..


...

__ADS_1


[Iwan Pov]


Iwan hanya berjalan tanpa sadar dan juga tidak begitu bersemangat..


Dia sedikit sedih kawan kawannya memiliki kesibukan masing masing..


Iwan yang berjalan menuju ke tempat Rachel untuk memberikan sebuah kantong yang berisi bumbu..


Ketika dia sampai di rumah yang begitu besar yang ditutupi oleh gerbang yang begitu besar..


Seorang pria paruh baya yang terlihat seperti penjaga tersebut mengenal Iwan mengingat dia bertemu dengan mereka kemarin ketika membantu para pengungsi bersama..


"Tuan iwan ada perlu apa anda"


Iwan melihat kearah pria paruh baya tersebut dan tersenyum..


"Aku ingin bertemu dengan Rachel"


"Oh tuan Rachel sekarang ini lagi tidak ada di rumah namun nanti dia akan kembali"


"Oh begitu.. kalau begitu aku akan menunggu saja.."


"Kalau begitu akan saya antarkan anda ke ruang tamu"


Iwan mengangguk setuju akan hal itu dan pria paruh baya tersebut mengantar Iwan ke tempat ruang tamu setelah dia mengantarkannya dia menyajikan sebuah teh kepada Iwan.. setelah selesai Pria paruh baya tersebut pergi..


Iwan begitu bosan hingga dia melihat sebuah lukisan pemandangan yang begitu indah..


(Hobi Rachel lumayan juga)


Iwan tanpa sadar mengagumi gambar lukisan yang ada dan berjalan mendekati lukisan tersebut dan mendekati lukisan lainnya..


Iwan begitu santai saat ini seperti melihat lukisan tersebut layaknya di museum..


Iwan tanpa sadar telah berjalan terlalu jauh untuk melihat lukisan demi lukisan hingga dia tidak tahu dimana ruangan tamu tempat awal dia datang..


Ketika Iwan yang kebingungan itu mendengar suara panci yang sedang menggoreng sesuatu..


Dia mengikuti suara tersebut hingga dia sampai di ruang dapur..


Iwan melihat seorang yang memasak itu adalah Charlotte..


Iwan mendekati Charllote dan melihat apa yang dia masak..


"Oh kau memasak keripik sing--"


"Aah" Charllote berteriak ketakutan sambil mengayunkan spatula kearah Iwan.


Charllotte tidak menyadari akan kebaradaan Iwan jadi ketika mendengar iwan berbicara di dekatnya dia sungguh terkejut akan hal itu..


Iwan meringis kesakitan ketika wajahnya terkena spatula oleh Charlotte..


"Tuan Iwan.. maafkan aku.. aku sungguh minta maaf"


"Tidak itu adalah salahku karena mengejutkanmu"


Setelah beberapa menit rasa sakit itu berangsur angsur menghilang setelah Iwan duduk santai di kursi yang ada di dapur..


"Aku sungguh minta maaf"


"Tidak itu bukan salahmu sungguh.."


Iwan berusaha untuk menenangkan rasa bersalah Charllote namun dia masih meminta maaf kepada Iwan..


"Aku melihatmu membuat keripik singkong"


"Saya membuatnya karena rasanya yang gurih.. namun entah kenapa rasanya masih belum bagus jadi saya berusaha untuk mencampurinya dengan garam.. namun tetap itu tidak terlalu enak"


Iwan lalu teringat dengan kantong bumbu yang diberikan kepadanya..


"Mungkin kita bisa mencoba ini"


Charllotte bingung dengan apa yang dikeluarkan Iwan..


"Itu apa ?"


"Ini adalah bumbu"


...


...


...


Bersambung..


Kali ini agak panjang ya.. untuk menghilangkan rasa haus karena lama gak update :v


Dan juga sekali lagi aku berkata jujur pada kalian..


Tanganku merasa sangat berdarah menulis semua scene ini...


Bahkan aku mulai mengeluarkan air mata ketika melihat semua ini..


Kenapa ?


Itu karena semua tokoh utama idiot ini mulai mendapatkan harem..


Dan itu..


Sungguh menyakitkan bagiku..


Ah.. hati kecilku yang manis ini tidak mampu..


"Hehe.. authornya jomblo jadi iri sama kita" (Rian)


"Eh kita dapat harem ?" (Iwan)


"Itu bukan sesuatu yang harus kita senangi karena harem itu keberadaan yang merepotkan" (Rei)


"Cih.. aku melihat cengiran bahagiamu disini -_-" (Rian)


"Eh itu tidak benar" (Rei)

__ADS_1


Sialan..


Jika kalian merasakan apa yang aku rasakan tolong komen dan dislike sebanyak kalian bisa setelah ini.. T.T eh dislike gk ada ya.. oke like aja kalau gitu :v


__ADS_2