
Aku membawa makanan milikku dengan nyaman duduk berada dekat dengan manusia ras setengah hewan ini..
"Sup ini begitu hangat dan nyaman"
"Dengan daging dan kaldu yang pas.."
Sprut~
Aku menyuruput soto dengan suara yang sengaja aku keraskan supaya ras setengah hewan ini tergiur..
*Glup..
Suara dia menelan air liur terdengar jelas di telingaku..
Aku sangat yakin dia tidak memakan sesuatu hari ini mengingat makanan gosong sebelumnya..
"Apakah kau mau ?"
"Jangan bodoh.. kau kira aku bisa kau bujuk dengan makanan ?"
Perkataannya berbanding terbalik dengan sikapnya..
Wajahnya terlihat sangat menginginkan hal ini..
Jika aku melanjutkan lebih jauh aku sangat yakin langit akan marah..
Lihat saja wajah memelasnya yang begitu imut dengan mata yang berair.. bahkan aku sendiri melihatnya tidak tega melakukan ini..
Aku menghela nafasku dan berjalan menjauh..
Gadis itu terlihat sedih ketika aku menjauh namun aku hanya ingin mengambil soto baru untuk dirinya..
Aku dengan cepat mengambil soto di piring baru dan berjalan mendekati gadis itu..
Ekornya terlihat bergerak dengan senang seakan dia tahu bahwa ini untuknya..
Namun aku hanya mengabaikannya dan berpura - pura untuk tidak memperdulikannya..
Ekornya kembali menurun dengan sedih..
Ah sial.. aku akan dihukum oleh karma jika aku terus melanjutkan ini.
Jantungku sakit..
Aku tersenyum dan menyerahkan kepadanya..
"Ini untukmu.. tenang ini tidak beracun"
"Hmph.. ini bukan berarti aku menerimamu atau apapun.."
Ekornya sekarang bergoyang dengan penuh semangat..
Apaan itu.. tsundere ?
Gadis ini langsung mengambil makanan dariku dengan cepat.
Aku melihat dirinya begitu menikmati dengan nyaman soto itu dengan penuh semangat.
Matanya bahkan bercahaya dengan cerah dan mulutnya dipenuhi dengan makanan..
Betapa laparnya dia sampai terlihat seperti itu
Aku menunggu dia menghabiskan makanannya dan melihat sekitar dengan santai..
Gelion melihat kearahku namun dia tidak melarang diriku untuk mendekati gadis setengah hewan ini..
Bahkan dia hanya tersenyum ramah kepadaku..
Mungkin kesan dia tentangku telah berubah.
"Terima kasih atas makanannya.. tapi bukan berarti aku mempercayaimu"
Dia meletakkan piring yang telah habis di tanah dengan pelan.
Aku mengambil air minum dari kantong penyimpanan milikku dan memberikannya kepadanya..
"Aku tidak tahu apa yang terjadi hingga dirimu tertangkap.. tapi tolong dengarkan saja apa yang akan aku katakan"
Dia menerima air minum dariku dan meminumnya dengan santai..
Tidak ada rasa waspada sekarang darinya jadi aku anggap bahwa dia telah sedikit merubah kesannya tentangku..
"Aku akan membebaskan dirimu dari sini sebagai balasannya aku ingin kau mengantarkan kami menuju Kerajaan Ras Setengah Hewan"
"Itu saja ?" Balasnya dengan bingung.
"Apanya yang 'itu' aja.. kau tahu betapa mengerikannya bersama duo tersesat itu.. aku bahkan tidak pandai membaca peta karena terbiasa menggunakan GPS"
"GPS ?"
"Lupakan tentang itu.. apakah kau bisa mengantarkan kami ?"
__ADS_1
"Aku bisa"
"Bagus.. aku akan membebaskanmu sekarang"
Aku bangkit dari tempatku duduk dan berjalan menuju kearah Gelion untuk meminta kunci rantai yang mengikat gadis tersebut..
"Tuan Gelion.. aku ingin gadis ini.. bisakah aku membelinya darimu ?"
"Hoho.. kau memiliki selera yang bagus.. tapi apakah kau memiliki uang ?"
"Aku punya.. jadi sebutkan saja berapa harganya ?"
"1000 koin emas"
1000 koin emas.. yah cukup banyak bagi orang biasa..
Gelion menatapku dengan lama dengan wajah yang khawatir..
"Aku beli"
"Sudah kuduga itu terlalu mahal.. tunggu apa katamu tadi ?"
"Aku akan beli"
Aku mengambil kantong penyimpanan milikku yang dimana itu berisi koin emas putih yang diberikan oleh Rachel kepadaku ketika berangkat..
Cukup banyak koin yang diberikannya kepadaku..
"Ini sepuluh koin emas putih.. jadi artinya seribu koin emas bukan ?"
1 koin emas putih sama dengan 100 koin emas biasa..
Jadi aku bertanya kembali kepadanya untuk memastikannya..
"Koin emas putih.. siapa kau sebenarnya ?"
Baru sekarang dia bertanya..
Aku mengabaikan pertanyaan dan mengalihkan pembicaraan karena menjawab pertanyaan akan menjadi sangat panjang dan merepotkan.
"Aku sudah membelinya jadi dia milikku bukan ?"
"Yah kau benar"
Gelion dengan tanggap memberikan kunci kepadaku..
Aku langsung menerimanya dengan senang hati..
Sepertinya dia telah melihat apa yang aku lakukan dengan Gelion..
Aku membuka kunci rantai yang membelenggu di lehernya..
Gadis tersebut memegang lehernya dengan santai dan merasa bahagia akan kebebasannya.
"Kita akan berangkat pagi hari"
"Apakah kau tak takut jika aku kabur"
"Jika itu terjadi maka aku biarlah terjadi.. lagipula apakah kau berani melarikan diri di hutan ketika malam hari" Ucapku sembari tersenyum..
Dia menatap bagian hutan yang begitu gelap dengan ketakutan..
Jadi yah aku tidak perlu khawatir apa yang akan terjadi..
"Aku akan perintahkan Gelion untuk memperlakukanmu dengan baik.. jadi silahkan tidur dengan nyenyak malam ini"
Aku kembali berjalan menuju Gelion memberikan perintah untuk menyediakan ruangan untuk Gadis tersebut dan memberikan tempatku untukku tidur juga..
Lagipula banyak bangunan yang telah dibangun disekitar sini jadi masih banyak ruang kosong..
Rian dan Iwan masih mengobrol dengan orang-orang jadi aku meninggalkan mereka dan aku mengambil kamar untuk diriku sendiri..
...
...
...
Pagi hari datang dengan cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jendela kamarku..
Suara burung berkicau terdengar dengan keras di luar..
Udara sekitar juga begitu nyaman di pagi hari ini..
Apakah ini terjadi karena kamar tidurku begitu dekat dengan pepohonan ?..
Aku bangkit dari tempatku tidur dan merasakan tanganku begitu berat..
Rian dan Iwan seperti tidur menindih tanganku..
Sialan kenapa mereka tidur satu kamar denganku sih..
__ADS_1
Aku membuka selimutku dan bersiap untuk menegur mereka berdua..
Namun aku tidak melihat mereka melainkan gadis setengah hewan tidur disampingku sambil memegang tanganku.
Aku menarik tanganku dengan pelan agar dia tidak bangun.. namun takdir berkata lain..
Gadis itu tergerak dengan pelan..
Matanya yang masih mengantuk berkedip dengan pelan untuk melihat sekitar.. menggosok matanya dengan tangannya..
Dan menyadari dimana dia..
Wajahnya begitu memerah menatap kearahku..
"Kenapa kau ada di sini ?"
"Aku.. aku merasa nyaman denganmu.. lagipula aku masih belum percaya dengan orang tua yang disebut Gelion itu"
"Hah~"
Aku menghela napasku dengan pelan..
Bukan berarti aku marah tapi entah kenapa aku juga tidak merasakan senang sedikitpun..
Aku merasa tidak pantas untuk menikmati hal klise seperti adegan anime harem yang sering aku tonton..
Dimana tokoh utamanya selalu terbangun dengan seorang gadis disampingnya..
Sedangkan aku tidak memiliki tujuan untuk memiliki Harem karena merepotkan..
Lagipula tujuanku adalah menyelamatkan Yuina..
Jika aku menikmati ini bukankah Yuina akan marah..
"Anu~"
Menyadari diriku yang memasang wajah sedih gadis ini langsung menatapku dengan khawatir..
"Apakah ada sesuatu yang terjadi ?"
"Lupakan saja.. mari bersiap.. kita akan berangkat"
"Hei kenapa kau begitu dingin"
Aku mengabaikan apa yang dia katakan dan bersiap untuk pergi..
"Hei.. kau belum memberitahukan namamu"
Aku baru ingat bahwa kami masih belum melakukan perkenalan selama ini..
"Aku Rei.. tidak perlu kau ingat karena kita akan berpisah sesampainya di kerajaan ras setengah hewan"
"Lagi-lagi menjawab dengan begitu dingin" Ucapnya dengan sedih kepadaku.. "Aku Melidia Fransies.. kau bisa memanggilku Meli"
"Cepatlah bersiap.. kita akan berangkat"
Aku berjalan menuju luar kamar dengan cepat dan mencari dua orang temanku..
Bersambung..
[Ruang Curhat Pemain]
"Jadi kapan kami berdua punya heroine baru juga Thor ?" -Rian
"Ya ya.. aku tidak sabar juga" -Iwan
"Kalian melupakan tujuan kalian bukan ?" -Rei
"Kau dapat jadi kami harusnya juga dapat kan" -Rian
"Betul betul betul" -Iwan
"Sejak kapan aku dapat" -Rei
"Nah.. pura-pura idiot percuma" -Rian
"Kenapa juga aku harus pura-pura idiot -_-" -Rei
"Udah tenang.. Heroine baru kalian akan ada juga" -Author
"Sudah aku duga" -Rian
"Yes" -Iwan
"Tapi berbatang sih" -Author
...
"Tunggu kalian mau ngapain ?" -Author
...
__ADS_1
...