
"Nin, cari sarapan sekalian ya" ucap Tristan.
"Terserah deh Bang, Anin ikut aja. Lo gimana Ri?"
"Gue di mobil aja deh"
"Makan! Gak usah drama pagi-pagi. Nangis melulu. Mata kamu apa gak capek numpahin air terus? Hujan aja bisa berhenti kok kamu gak bisa berhenti nangis!" Tristan memarahi Tari yang masih terpuruk dengan keadaan kehilangan Angga.
"Terserah aku, mata juga mata aku kenapa kamu yang repot?"
"Ya sudah kalau begitu dibungkus aja makannya, atau kalau gak makan di dalam mobil aja" Anin menawarkan solusi.
"Gue gak selera makan Nin, oh ya Nin. Nanti gue balik apartemen dulu ya. Gue butuh waktu sendiri. Lo di rumah sendiri dulu"
"Gak, gue gak mau ninggalin lo sendiri. Karena lo bakalan tambah sedih jika sendirian. Gue ikut lo ke apartemen. Nanti biar gue ijin sama ayah"
"Tuh dengerin kata Anin. Kamu itu jangan kayak begini dong Ri. Kuat! Aku yakin Angga juga gak bakalan suka lihat kamu nangis dan sedih terus kayak begini" timpal Tristan.
"Udah gak usah berdebat lagi. Cari sarapan Bang, dibungkus aja ya, nanti langsung ke apartemen"
"Siap bos muda!"
Tristan melaju kan mobilnya dan mencari sarapan. Tak lama mobil pun berhenti. Tristan hendak turun untuk membeli sarapan.
"Abang tunggu disini aja. Biar Anin aja yang beli" Anin segera turun dari mobil dan membeli sarapan.
Tari yamh sedari tadi duduk di belakang masih menatap ke arah luar jendela. Tristan tak tahan melihat Tari yang terus bersedih. Tristan pindah ke jok belakang dan duduk di samping Tari.
"Mau sampai kapan begini? Senyum dong, jangan nangis lagi. Ikhlas kan biar jalannya juga tenang. Kamu gak pengen kan lihat Angga disana gak tenang?"
__ADS_1
Tari membisu. "Butuh bahu buat sandaran? Sini, pake bahu aku" Tristan menepuk bahunya. Tari masih tak bergeming. Keheningan tercipta.
"Kamu hadap sana. Aku gak pengen nangis dilihat orang" akhirnya Tari berbicara.
"Tapi janji ya, ini yang terakhir nangis buat Angga. Biar jalannya tenang oke?"
Tari mengangguk. Tristan membalikkan tubuhnya membelakangi Tari. Tari menyenderkan kepala nya di punggng Tristan dan mulai menitik kan air mata. Tristan hanya bisa diam.
Kalau dengan begini hati kamu bisa lega, aku akan lakukan Ri. So please, habis ini jangan nangis lagi. Hati aku sakit melihat mu sedih begini
Anin kembali ke mobil dengan membawa makanan. Dilihatnya Tari menangis di punggung Tristan.
"Aaahhh, so sweet banget siiiihhhh. Jadi iri gueee"
Tari segera mengusap air mata nya. "Ayo pulang. Udah laper gue" Tari mengalihkan pembicaraan. Tristan hanya tersenyum dan kembali ke kursi kemudi. Mobil melaju menuju apartemen.
.
"Kamu mau makan bareng kita bang?" tanya Anij yang belum mengetahui kalau apartemen Tristan berhadapan dengan milik Tari.
"Boleh" mereka masuk lift dan menuju lantai 5. Lift terbuka dan mereka menuju kamar Tari. Ada sesuatu yang tak asing bagi mata Anin. Semakin dekat mereka berjalan mereka semakin mengenali sosok itu.
"Aduh! ngapain dia kesini?" Tristan bertanya dengan dirinya sendiri.
"Dia ngapain kesini Nin?" Tari pun ikut bertanya.
"Mari kita cari tahu dia kesink untuk apa"
"Abang! Abang dari mana? Aku nungguin lama lhoh. Kenapa bisa bareng sama mereka?" Ana bertanya sinis kepada Tristan.
__ADS_1
"Kamu ngapain kesini pagi-pagi? Pulang sana. Abang lagi kerja" jawab Tristan ketus.
"Kerja apaan bareng mereka?! Dasar cewek ganjen. Gue laporkan lo sama bang Bagas"
"Laporin gih, lo pikir mas Bagas percaya sama mulut busuk lo? Tukang ngadu!" ucap Anin tak kalah pedas.
"Ooo, berani lo sekarang sama gue! Mau gue jambak lagi lo ha?" sahut Ana.
"Hadeehh, Lo bisa sendiri apa mau gue bantu Nin? Lo masih belum balas dia kan sama perbuatan dia yang terakhir?"
"Ini lagi, gak usah ikut campur! Tangisi aja pacar lo yang udah mati!"
Perkataan Ana bagaikan cambuk bagi Tari. Dengan cepat Tari meremas dan mendorong mulut Ana hingga tersungkur ke belakang.
"Jaga mulut lo, atau bakal gue robek! Pergi lo, pergi sebelum gue hajar lo!"
"Sabar Ri, Ana kamu balik aja, abang lagi kerja. Balik gih"
"Yaudah iya aku balik" Ana berdiri dan mendekati Tristan hendak mencium pipi nya. Dengan cepat Tari menengahi mereka dan mendorong kembali Ana.
"Masih punya harga diri kan? Tristan punya gue!" Entah mengapa Tari mengucapkan kata itu tapi itu merupakan angin segar bagi Tristan. Anin pun kaget saat Tari berucap seperti itu
"Dia tunangan gue!" Ana tak mau kalah
"Stop! Ana udah ya! Udah cukup sabar abang sama kamu! Kita belum tunangan. Aku pun sudah menolak! Jadi sadar diri jangan melewati batas mu!"
"Abang lebih belain dia?! Abang gak bisa nolak aku begini. Awas aja kalian!" Ana pergi meninggalkan apartemen itu dengan hati yang sangat kesal.
.
__ADS_1
.
.