
Tristan menuju apartemen nya. Dengan tergesa-gesa dia memarkirkan mobil nya dan berlari menuju apartemen Tari. Dia terjungkal dan jatuh saat memasuki lift. Dia merasakan nyeri pada ibu jari kaki kiri nya.
Dia masih meringis kesakitan dan mencoba berlari. Dia memencet bel pintu apartemen Tari. Teng tong teng tong teng tong teng tong teng tong. Berulang kali dia sengaja memencet bel itu. Tujuannya agar Tari merasa terganggu dan keluar dari persembunyiannya.
"Gak ada orang! Pergi aja sana!" ucap Tari dari dalam apartemen miliknya.
"Kalau gak ada orang kenapa ada yang nyahut dari dalam?! Ri, buka dong. Abang mau menjelaskan sesuatu. Ri, Tari!"
"Udah dibilang gak ada orang!"
"Ya terus siapa di dalam? Demit?!" ucap Tristan geram dengan sahutan Tari.
"Enak aja demit! Kamu pergi aja! Aku gak mau ngomong sama kamu!"
"Ri, dengerin abang, Anin nangis gara-gara diputusin oleh Bagas. Abang disana masa iya gak nolongin?!"
"Nolong gak perlu pake pelukan!"
"Dia butuh sandaran Ri"
"Ada sofa atau pun tembok, kenapa harus dipelukan abang?!"
"Please, buka dulu dong. Aduh, jempol abang sakit Ri. Bukain dong..." Tristan duduk di depan pintu apartemen Tari dan membuka sepatu nya. Dilihatnya kuku dari jempol kaki nya sudah menganga siap lepas.
"Kok udah gak ada suara nya lagi? Segitu doang perjuangannya? Dasar ih!" Tari membuka pintu apartemen nya membuat Tristan yang sedang bersandar terjerembab ke arah belakang. Kepalanya membentur lantai.
"Aduuuhhh, sakiiiit" Tristan meringis kesakitan sambil mengusap kepala nya yang terkena benturan.
"Eeh, maaf? Aku kira kamu nya udah pergi" Tari membantu Tristan duduk kembali.
"Udah lah ini kuku mau lepas sekarang kepala aku kebentur lantai!" Ucap Tristan dongkol. Tari melihat kuku jempol kaki kiri Tristan memang hampir lepas.
"Itu kuku nya mau lepas, sana ke dokter biar di lepas sekalian!" ucap Tari sinis kembali.
"Kamu kalau gak mau nolong ya sudah, gak usah marah-marah. Percuma juga aku jelasin sekarang" Tristan berdiri dan hendak pergi meninggalkan Tari.
Tari memegang ujung kaos Tristan. Tristan menoleh. "Apa?"
"Sini aku obatin, masuk!" Tari menarik tangan Tristan untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Duduk" Tristan menuruti keinginan Tari. Tari mengambil peralatan nya dan mencabut kuku Tristan tanpa membiusnya. Membuat Tristan menjerit sangat kencang sampai air matanya keluar.
"Hahaha, kamu nangis?" Tari malah menertawakan Tristan yang menitikkan air mata.
"Lucu?"
Tari membalut luka Tristan dan membereskan peralatannya. Setelah itu dia kembali menghampiri Tristan.
"Udah sana pulang!" Tari kembali ketus terhadap Tristan.
"Ri, duduk dulu. Abang mau jelasin. Please, terserah nantinya kamu percaya apa gak, abang tetap harus menjelaskan"
Tari dengan bersidekap duduk di samping Tristan. "Abang gak ada apa-apa sama Anin. Abang cuma kasihan lihat dia nangis seperti itu. Yang kamu lihat gak seperti yang kamu pikirkan"
"Emang apa yang aku pikirkan? Toh kita memang tidak punya hubungan apapun, jadi bebas saja kalau kamu mau pelukan sama siapa pun termasuk Anin"
"Kok ngomong nya begitu? Abang berani sumpah atas nama mamah abang, Bagas putus dengan Anin dan bajingan itu meninggalkan Anin begitu saja!? Please percaya sama abang. Yang ada di hati abang cuma kamu?!"
"Hilih gombal, kalau aku gak bisa membalas perasaan kamu gimana?" Tari menatap mata Tristan. Cukup lama mereka diam dan saling bertatapan.
"Abang yakin kok kalau kamu ada rasa sama abang. Buktinya saja kamu cemburu tadi"
"Kamu lah, gak usah ngelak!"
"Aku gak cemburu. Pulang sana, aku mau istirahat!" Tari mengusir Tristan kembali.
"Makasih ya udah cemburu sama abang" Tristan tersenyum cengengesan.
"Ih, aku gak cemburu! Udah sana pulang!"
"Makasih udah di obatin. Kamu jadi bidan sadis banget sih, masa gak di bius dulu gitu. Main cabut aja!"
"Orang kuku nya udah mau lepas kok pake bius, gak perlu! Udah sana pulang!"
"Iya-iya, gak mau kangen-kangenan dulu nih sama abang?" Tristan menggoda Tari membuat muka Tari seperti kepiting rebus.
"Ogah!" ucap Tari menahan senyum nya.
"Abang balik dulu ya, good night calon istri"
__ADS_1
"Hmmm"
Tristan meninggalkan Tari dan segera kembali ke rumah Anin.
.
Anin mencoba memejamkan matanya tapi dada nya sesak. Kembali dia menangis. Dia ingat hari senin dirinya harus ada di Kalimantan. Segera dia mencari tiket pesawat. Dia juga menghubungi paman nya karena akan meninggalkan pulau Jawa. Anin menghapus air mata nya. Dia beranjak dari tempat tidur dan membasuh mukanya.
Anin menghela nafas panjang dan membuang nya. "Jangan nangis Nin, dari awal lo ketemu sama dia juga niatnya cuma jadi tunangan bayaran. Jangan mau terlihat lemah di depannya. Buktikan bahwa lo bisa tanpa dia. Buat dia yang tak bisa lepas dari bayang lo. Tapi sesak banget dada gue... huhhhhuhuhu"
drrtttggg drrttttggg
Anin mengusap air mata nya kembali dan melihat siapa yang menelpon nya.
"Ibu, biarin aja deh. Malas mau ngangkat, malas menjelaskan ke orang-orang" Anin membiarkan telepon itu mati dengan sendirinya. Anin mematikan hp nya agar tidak ada yang mengganggu.
Tristan mengetuk pintu rumah Anin. Membuat yang punya rumah membuka kan pintu untuk nya. Tristan membawa makanan untuk Anin.
"Makan dulu nih" Tristan menyodorkan bungkusannya.
"Gak selera. Aku mau tidur dulu bang"
"Emmm Nin, Abang mau bicara sebentar. Abang tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi abang butuh penjelasan kamu ke Tari bahwa dia memang salah paham"
"Tari itu tipe nya gak bakalan percaya dengan omongan bang, percuma mau dibujuk kayak apapun. Dia butuh bukti, bukan hanya omongan. Besok Anin coba jelaskan ke Tari, tapi kalau tetap gak bisa maaf ya. Besok tolong antar Anin ke bandara. Anin harus meninggalkan tanah Jawa"
"Ya sudah istirahat lah, abang akan menyuruh anak buah abang untuk mengawasi rumah ini"
"Gak perlu bang, Anin udah bukan siapa-siapa lagi yang harus dilindungi. Anin masuk dulu"
Tristan mengangguk dan dia tetap menempatkan anak buah nya di rumah Anin. Tristan duduk di teras dan berpikir.
"Aaaaahhh, video! pasti ada cctv disana. Oke aku akan minta cctv nya" Tristan melihat jam pada tangannya. "Yah, udah jam 11 lagi. Pasti udah tutup! Sialan!"
.
.
.
__ADS_1