Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 106


__ADS_3

Tari baru saja tiba di rumah sakit bersama papah nya. Dia mencari ruang perawatan Anin seperti yang diberitahukan oleh Tristan. Di bangku luar Tristan sedang duduk termenung sendirian. Tari melihat dari kejauhan.


"Pah, itu yang namanya Tristan. Dia ingin ketemu papah"


"Ganteng, tak kalah dengan almarhum Angga, kalau papah sih keputusan di kamu semya sayang. Kan nantinya yang jalanin kamu. Tapi papah juga gak bisa memberikan anak papah ke sembarangan orang. Nanti biar papah uji dia"


"Papah mau nguji apa?"


"Tari, kriteria memilih calon suami itu dilihat dari agama nya terlebih dahulu, baru hartanya. Kalau agamanya baik, dia bisa bertanggung jawab tidak ada alasan untuk papah menolaknya"


"Tari ngikut papah aja deh"


"Loh kok gitu, kamunya sendiri bagaimana?"


"Gak tau pah, Tari masih bimbang"


"Sholat istikharoh, mungkin memang kamu belum berjodoh dengan Angga. Kalau dilihat-lihat wajah nya sekilas mirip Angga"


Tristan tersadar dari lamunan nya. Dia melihat Tari berjalan dengan seorang pria. Tristan belum mengetahui jika itu papah nya Tari.


"Bang, kamar Anin yang mana?" tanya Tari basa-basi.


Tristan tersenyum dan menunjuk kamar yang ada di depannya.


"Mmm, bang, kenalkan ini papah nya Tari. Pah, ini bang Tristan"


"Assalamualaikum om, saya Tristan" ucap Tristan sambil mencium punggung tangan papah Tari.


"Waalaikum salam, saya Indra papah nya Tari. Kami jenguk Anin dulu ya"


"Silahkan om" Tristan mempersilahkan Tari dan papah nya masuk ke kamar Anin. Disana ada ibu yang menunggui bersama ayah.


"Anin, maaf ya.... ini kenapa bisa sampai kena tusuk begini?" Tari memeluk Anin


"Kata ibu perbuatan papah nya Ana, nekat juga ya mereka. Hahaha"


"Malah ketawa, ibu ayah maaf Tari baru kesini. Oh ya kenalkan ini papah Tari. Pah ini calon mertua nya Anin" Mereka saling berjabat tangan dan berbincang.


"Gimana Ri interview lo?"


"Alhamdulillah keterima. Gue gak bisa nungguin lo, gue harus nemenin nenek di Surabaya. Nenek sedang sakit"


"Gak papa, terus masalah Tristan?"

__ADS_1


"Gak tahu Nin, gue bingung bersikap sama dia"


"Coba ngomong baik-baik dong. Biar dia juga bisa ngerti"


"Ntar aja lah"


"Terserah lo deh"


Tristan masih di luar. Papah Tari datang menghampiri nya.


"Om, mau kemana?"


"Disini, duduk sama kamu. Om dengar dari Tari kamu ingin bertemu dengan om. Ada apa?"


"Hmm? Ooh, anu... ini om. Ehem, mungkin waktu dan tempatnya kurang tepat, tapi hal ini harus segera saya sampaikan om. Saya ingin mengkhitbah Tari untuk diri saya sendiri"


"Oh begitu. Apa agama kamu?"


"Islam om"


"Bisa menjadi imam?"


"Saya belum pernah menjadi imam om. Biasanya saya sholat sendiri"


"Insyaallah om"


"Lalu pekerjaan kamu sekarang apa?"


"Saya masih ikut papah mengelola bisnis sewa bodyguard om"


"Sewa bodyguard? Hanya itu?"


"Berapa penghasilan kamu per bulan?"


"Sekitar 3 sampai 4 juta om"


"Pendidikan terakhirmu apa?"


"Sarjana ekonomi om"


"Begini Tristan, Om menerima niat baik kamu, tapi om juga punya tanggung jawab terhadap Allah. Om tidak bisa dengan sembarangan memberikan anak om kepada lelaki. Om harus tahu dulu bibit bobot dan bebet nya. Pantaskan lah dirimu dulu nak, tunjukkan pada semuanya bahwa kamu layak mendampingi putri om. Om tidak masalah dengan pekerjaan kamh, tapi alangkah baiknya mencari pekerjaan lain. Karena om yakin pasti banyak musuh yang akan mengintai"


Tristan terdiam memikirkan perkataan papah Tari.

__ADS_1


"Om beri waktu kamu hingga 3 bulan ke depan. Tunjukkan kepada om kamu memang patut untuk berada di samping Tari. Apakah Tari sudah mengutarakan perasaannya dengan mu?"


"Belum om, Tristan masih menunggu nya. Tristan akan memantasakan diri seperti yang om pinta"


"Om tunggu kedatangan Tristan dan keluarga dengan membawa berita baik. Semoga juga Tari membalas perasaan mu nak. Belajarlah menjadi imam. Karena kelak kau adalah pemimpin keluarga"


"Iya om, terima kasih nasehat nya. Tristan akan berusaha"


Tari keluar dari kamar Anin dan melihat papah nya berbincang serius dengan Tristan. Dia menghampirinya.


"Pah, ayo. Nanti kita ketinggalan pesawat" ucap Tari. Papah nya melihat jam. Masih 2 jam lagi sebelum meluncur ke Surabaya.


"Masih lama. Papah mau ke kantin dulu beli kopi. Kamu disini aja dulu" ucap Papah Tari dan segera berdiri.


"Om tinggal dulu. Titip Tari sebentar" papah Tari meninggalkan Tristan dan Tari dan menuju kantin. Tari mendekati Tristan dan duduk di sebelahnya.


"Papah ngomong apa bang? Serius banget" Tari membuka percakapan.


"Gak ngomong apa-apa. Kamu mau kemana lagi?"


"Hmm? Oh, Aku mau ke Surabaya nenek sakit"


"Bisa gak abang minta sesuatu sama kamu?"


"Apaan?"


"Tolong beritahu abang keberadaan mu, kondisimu, kabarmu. Jangan main hilang pergi atau mencoba menjauhi ku. Aku bisa gila Ri"


Gila? Sampai sebegitunya?. Ucap Tari dalam hati.


"Ya, abang bisa gila kalau kamu cuek sama abang. Terserah nantinya kamu ada perasaan apa gak sama abang tapi tolong, beri kabar, setidaknya abang tahu kamu dimana dengan siapa" ucap Tristan dengan suara sesak.


"Iya, aku minta maaf. Lain kali gak akan begitu. Aku hanya ingin memastikan perasaan ku, maaf kalau itu membuatmu khawatir. Papah ngomong apa ke abang?"


"Tunggu abang 3 bulan lagi. Beri jawaban tentang perasaan kamu. Abang akan mempersiapkan diri untuk jadi suami kamu"


Blush... wajah Tari menjadi merona mendengar kata suami kamu. Aaah, so sweet.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2