Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 92


__ADS_3

"Bagaimana? Kita bawa semua nya?" tanya lelaki itu kepada temannya.


"Kita hanya disuruh membawa target. Biarkan saja yang satu itu tergeletak" jawab lainnya


Anin dimasukkan ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan pantai dan Tari yang masih tergeletak di jalan. Tristan yang baru saja sampai mengedarkan pandangannya mencari sosok Anin dan Tari.


Tristan mencoba menghubungi ponsel Anin tapi tidak aktif.


"Aaahh, kemana sih anak itu! Pasti kena marah lagi sama om Ardhi nanti. Nin, kemana sih kamu?!" Tristan masih mengedarkan pandangannya. Matanya menangkap sosok yang tergeletak di jalan. Segera ia menghampirinya.


"Tari!? Ri, Ri bangun Ri..." Tari masih pingsan terpaksa Tristan membopongnya ke dalam mobil nya.


Tristan melajukan mobilnya meninggalkan pantai. Lalu dia berpikir. Sejenak dia menepikan mobilnya.


"Aku harus nyari kemana?? Ini pasti dibawa lagi sama anak buah orang itu. Habis lah aku sama om Ardhi. Ini lagi perempuan satu, nyusahin banget sih!"


Tari membuka matanya perlahan. Dia mengerjap dan bingung tentang keberadaannya.


"Udah sadar kamu?! Anin dimana?!" Cerca Tristan kepada Tari.


"Anin??" Tari mencoba mengingat kejadian sebelum dirinya pingsan.


"Astaghfirullah Bang, Anin diculik lagi! Dia dibawa sama supir taksi yang nganter kita ke pantai" jelas Tari.


"Makanya jadi orang itu jangan nyusahin! Ini aku gak tahu keberadaan Anin. Kamu itu memang bisanya nyusahin orang aja sih!"


Tari yang terkena omelan Tristan merasa hatinya sesak. Dia merasa ini memang karena dia. Tari hendak keluar dari mobil. Tapi dicegah oleh Tristan.


"Mau ngapain lagi? Udah cukup bikin 1 masalah, jangan nambahin lagi! Duduk yang benar! Pake sabuk pengaman!"


Tari mendadak ciut. Dia menuruti kata Tristan. Air matanya sudah berkumpul di pelupuk. Dia ingat Angga tidak pernah berkata kasar ataupun membentak nya. Angga sangat lembut dalam bersikap kepadanya.


"Gak usah nangis! Bantuin mikir kek apa kek! Ini pasti bakalan kena sama om Ardhi"


Tristan mencoba berpikir. Dia ingat dia memberikan flasdisk yang berisi chip kepada Anin.

__ADS_1


Semoga flashdisk itu menyala. Batin Tristan.


.


"Komandan nyuruh kita kumpul. Ada apa lagi ya? Misi kah?" Tanya Raka berada di sisi ranjang Bagas.


Bagas segera mengganti pakaiannya dan bersiap dengan tim nya. Tak lama komandan datang.


"Bagas, ikut saya. Komandan besar ingin bertemu dengan mu" ucap komandannya.


Bagas masuk ke sebuah ruangan. Disana ada layar yang terpampang. Bagas memberi hormat kepada Komandan Besar.


"Duduklah, ada sesuatu yang harus kau lihat"


Layar itu memutar sebuah video pendek. Disana ada perempuan yang sedang diikat di kursi. Perempuan itu dalam kondisi pingsan. Mata Bagas tak percaya dengan sosok yang dilihatnya.


"Anin!?"


"Kau mengenalnya?"


Bagas hanya mengangguk.


"Apa yang mereka inginkan Ndan?"


"Mereka ingin kita membebaskan Edi. Bagaimana?"


Bagas nampak gusar. Dia mencoba berpikir sejernih mungkin.


"Mereka akan menolong gadis itu. Jangan melakukan barter apapun Ndan"


"Oke, itu lah jawaban yang kuharapkan. Namun, bagaimana jika mereka terlambat menyelamatkannya?"


Bagas hanya diam tak menjawab.


"Tenanglah, aku akan meminta bantuan orang ku disana. Sudah kewajiban kami menjaga orang kesayangan anggota kami. Terima kasih kau telah memberi jawaban yang aku inginkan" Komandan Besar meninggalkan Bagas yang masih sendiri di ruangan itu.

__ADS_1


Bagas kembali ke baraknya dengan langkah berat. Raka yang mengetahui kondisi sahabatnya mencoba mencari tahu masalah yang terjadi.


"Ada apa?"


Bagas mengusap mukanya dengan kedua tangannya. Hatinya gusar melihat sendiri gadis yang dicintai nya disandera oleh sekelompok orang. Dia teringat kembali akan mimpinya. Oh tidak, mimpi itu membayanginnya kembali.


"Anin disandera"


Raka seakan tak percaya dengan omongan Bagas.


"Lo serius kan Nyet?"


"Lo bisa membedakan mana yang serius mana yang bercanda?"


"Lalu bagaimana?"


"Mereka minta barter, Anin akan dilepaskan kalau dari pihak kita membebaskan om Edi. Aku hanya menyerahkan pada Ayah ku, semoga orang suruhannya bisa diandalkan. Dan komandan berjanji akan mengirim orang-orangnya untuk membantu membebaskan Anin"


Raka menepuk bahu Bagas.


"Sabar lah, semoga Anin selalu dalam lindungan Allah SWT. Berdzikir lah agar hati mu tenang" ucap Raka menasehati sahabatnya.


.


Tristan dan Tari masih di dalam mobil. Tristan bingung. Sudah lah dia di marahi oleh om nya, sekarang ditambah Tari yang menangis di sampingnya membuat nya makin bingung.


Dia mengecek hp nya. Siapa tahu chip yang dipasangnya aktif. Dan benar saja, chip itu menampilkan koordinat keberadaan Anin. Segera Tristan menghubungi ayahnya.


"Halo pah, kirim kan aku orang ke gudang tua sebelah selatan dekat kampus ku dulu. Anin disana"


Ada dari pihak TNI yang akan membantu. Aturlah strategi dan kirimkan koordinatnya. Segera!


.


.

__ADS_1


.


Tristan galak amat sih ama si Tari. Hay hay readers setia. Makasih yang udah baca. Like komen dan vote nya dikencengin ya biar author makin sumangattttt


__ADS_2