
Sedang di ruang operasi lainnya, dokter Gani baru saja masuk ke ruangan operasi nya. Seperti Sani, dia pun memimpin doa agae dilancarkan dalam pekerjaan nya.
Setengah jam telah berlalu tapi peluru itu susah sekali untuk dikeluarkan. Dengan melihat layar di monitor dan sambil memeriksa tanda vital pasien Gani berusaha agar peluru itu bisa diambil.
"Alhamdulillah!" Pekik Gani yang berhasil mengeluarkan peluru dari tubuh Anin.
"Dok! Pasien mengalami perdarahan! Sepertinya pembuluh darahnya ada yang pecah saat dokter sedikit memaksa peluru itu" ucap perawat itu.
Gani melihat ke layar monitor dan memang ada pembuluh darah yang pecah.
"Kassa! Tampon! Klem! Panggilkan dokter Sani cepat!" dengan cekatan Gani menghentikan perdarahan dari tubuh Anin sambil melihat kembali tanda vitalnya.
Perawat menuju ruang operasi dokter Sani, dia memberi kode kepada perawat disana bahwa dokter Sani dibutuhkan disana.
"Kenapa?" tanya dokter Sani yang telah berhasil menjahit ventrikel kanan jantung Edi.
"Sepertinya pasien perempuan tadi membutuhkan anda dok" ucap perawat itu.
"Oke selesai. Biar dokter Gani yang melanjutkan menjahit dada nya. Aku akan membantu disebelah" ucap Sani dan keluar ruang operasi. Perawat tadi mengikutinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Sani kepada perawat itu saat mencuci tangan.
"Peluru berhasil di keluarkan tapi ada pembuluh darah yang pecah dok, sepertinya itu pembuluh darah yang akan menuju aorta"
"Bukankah rontgen nya tidak sampai mengenai jantung?" tanya Sani.
"Iya dok, tapi sepertinya saat peluru itu keluar tidak sengaja terobek dan mengakibatkan perdarahan" jelas perawat itu.
Sani segera masuk dan melihat layar monitor. Dan benar saja yang dikatakan perawat itu.
"Terima kasih sudah membantuku dokter Gani, bolehkah aku meminta tolong lagi? Pasien ku belum kujahit dadanya, hehehe"
"Hmm, panjang sekali hari iniii. Kau berhutang banyak padaku"
"Kau pun!"
Gani meninggalkan ruanh operasi itu dan berganti peran dengan Sani.
"Dok, saturasi oksigen pasien 60" ucap perawat itu.
"Tingkatkan lagi kebutuhan oksigennya. Ayo Anin! Kamu harus semangat!" Sani mulai menjahit pembuluh darah yang tipis itu. Dengan cepat dan rapi tangan nya melakukan pekerjaannya.
Punggung Anin sudah selesai dijahit, dan posisi Anin sudah menjadi posisi telentang.
Tiiiiiitttt
Layar monitor memperlihatkan jantung Anin tak berdetak. Sani terkejut melihat hal itu.
"Oh ayolah Anin. Bertahanlah sayang, siapkan alat kejut jantung, naikkan 120 joule, 1 2 3 shock" Sani melakukan kejut jantung kepada Anin.
"Lakukan lagi naikkan menjadi 160 joule, 1 2 3 shock!" Sani melakukannya lagi. Tidak ada respon dari Anin.
__ADS_1
"Oh, ayolah Anin sayang, dengarkan kakak. Kakak berhutang penjelasan kepadamu. Bangun lah gadis pintaaaarrrr. Kakak mohoooonnn. Naikkan menjadi 200joule! 1 2 3 shock!" Lagi, Sani memberikan kejut jantung kepada Anin. Tetap tidak ada respon.
Sementara itu di depan ruang IGD Bagas duduk bersimpuh di ruang runggu. Dia menangis melihat kekasihnya tertembak. Ibu yang mendengar berita itu langsung menuju rumah sakit.
Ibu melihat putranya yang sedang menangis. Ibu mendekatinya dan memeluknya. Bagas tak mampu berkata apapun, dia membalas pelukan ibu dan menangis disana.
"Anin pasti selamat!" ucap ibu melepas pelukannya dan menyeka air mata putranya itu.
"Ba bagaimana.... bagaimana ji..jika se...balik...nya bu? Hiks huhuhh" ucap Bagas.
"Sssttt, Anin itu wanita kuat. Dia tidak akan menyerah dengan keadaan. Doakan dia"
"Bagas bermimpi jika dia tertembak untuk melindungi Bagas"
"Tenangkan dirimu. Anin tidak akan suka melihatmu hancur begini"
"Bagaimana Bagas bisa tenang bu, jika dia sedang meregang nyawa karena menyelamatkan ku??!"
Ibu tidak tahu lagi harus berkata apa. Ibu memeluk anaknya kembali dan mencoba menenangkannya.
Kembali ke ruang operasi.
Dokter Gani telah selesai melakukan penjahitan kepada pasien itu. Dia bergegas keluar untuk mencuci tangan. Dia melihat dokter Sani yang sedang memberikan kejut jantung bagi pasien perempuan itu.
Dokter Gani yang tadinya ingin istirahat sebentar, mengurungkan niatnya dan kembali lagi masuk ruang operasi.
"Lakukan resusitasi jantung paru, 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10, pernafasan" dokter Sani tidak mau berhenti untuk melakukan tindakan kepada pasiennya.
"Sudah berapa menit sus?" tanya Gani
"Biar aku gantikan" Gani menggantikan posisinya untuk melakukan RJP atau resususitasi jantung paru.
Tit tit tit tit tit.
"Syukur alhamdulillah dok!" pekik perawat itu dan menunjuk monitor di samping Anin. Semua bernafas lega.
Sani sampai menitikkan air mata nya. "Terima kasih ya Allah, gadis pintar, gadis tangguh. Kakak suka kamu mau berjuang" ucap Sani sambil menatap Anin.
"Dokter kenal dengannya?" tanya Gani.
"Dia pacar sahabatku"
"Syukur lah dia mau diajak kerja sama"
"Terima kasih juga dokter telah membantuku seharian ini"
"Sama-sama. Bukankah itu memang tugas kita? Menyelamatkan tak peduli apapun kondisinya"
Mereka sama-sama tersenyum.
Sani menyuruh perawat untuk memindahkan Anin dan Edi ke ruang ICU. Ruang mereka bersebelahan.
__ADS_1
Sani menemui anggota keluarga Anin. Disana sudah berkumpul Ibu dan Ayah, Salma dan Raka, Tristan dan Tari, serta Bagas yang sudah kacau penampilannya.
Sani menjelaskan bahwa Anin berhasil diselamatkan meskipun sempat henti jantung beberapa menit. Perdarahan juga berhasil ditangangi dan Sani memberitahu pendonornya.
Tari agak terkejut mendengarnya. Dia mencari informasi kepada dokter Sani keberadaan Adit.
Adit sedang duduk di bangku taman sambil menikmati makanan nya karena dia sudah selesai shift. Tari yang ditemani Tristan menghampirinya.
Adit agak terkejut. Karena terakhir kali mereka bertemu masih dalam kondisi Tari yabg belum bisa memaafkan sepenuhnya kelakuan Adit.
"Assalamualaikum kak Adit" ucap Tari sambil tersenyum dan Tristan berada di sampingnya.
"Wa waalaikum salam Tari, apa kabar?" jawab Adit terbata.
"Alhamdulillah Tari baik kak, kenalkan ini suami Tari. Bang ini kak Adit orang yang dulu pernah sama mamah dan yang Anin taksir dulu. Kak ini bang Tristan suami Tari"
Mereka berjabat tangan saling memperkenalkan diri dan tersenyum
"Tari kesini hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah mendonorkan darah untuk Anin"
Adit tersenyum. "Kakak hanya membalas jasa nya dulu. Bagaimana keadaannya? Kenapa bisa tertembak?"
"Alhamdulillah operasi nya berjalan dengan baik meskipun kata dokter Sani sempat henti jantung"
"Syukurlah"
"Kakak sekarang sama siapa?" tanya Tari gamblang. Adit hanya tersenyum.
"Karma datang terlalu cepat untuk kakak. Kakak tidak bisa lupa dengan mamahmu. Sepertinya kakak telah jatuh hati kepada nya" jawab Adit tanpa ingin menutupi perasaannya terhadap tante Nam.
Tari dan Tristan sedikit terkejut. "Kenapa tidak coba diungkapkan ke mamah?"
Sungguh di luar dugaan jawaban Tari. Adit menoleh dan diam.
"Kenapa gak coba diungkapin ke mamah? Kenapa gak coba untuk menjalin hubungan ke mamah?"
Adit masih diam.
"Tari pamit dulu kak, mau lihat keadaan Anin. Cobalah menghubungi mamah jika itu bisa melepas beban dalam hati kakak. Tari sudah melupakan dan mengikhlaskan yang lalu"
Sani menghampiri Bagas.
"Kenapa nangis? Baru kali ini gue lihat lo nangis sampai begini" ucap Sani mengejek Bagas.
"Udah, gak usah nangis. Temuin sana di ICU. Lo emang gak salah jatuh cinta dengan dia. Gadis yang tangguh dan rela berkorban demi lo. Jangan nyalahin diri lo sendiri lagi. Sana gih temuin. Meskipun belum sadar, dia pasti ngerasa kehadiran lo kok"
Sani menepuk bahu sahabatnya itu dan pergi meninggalkannya.
.
.
__ADS_1
.
Udah mau tamat nih gaesss. Yang bagian tindakan medis nya itu kalau author salah mohon dikomen ya. Hehehe. Author kan bukan dokterrr. 😘😘😘