
Angga kembali melajukan mobil Tari. Keheningan kembali tercipta diantara keduanya.
.
.
Bagas melajukan motornya dengan perlahan. Anin berpegangan pada pinggang Bagas.
"Kira kira mereka ngapain ya mas di mobil?" Anin membayangkan Tari dengan Angga dalam satu mobil.
"Mana mas tau Yank, kan mas disini sama kamu"
"Iihhh, nyebelin banget sih jawabannya"
"Lhah, gimana sih. Emang bener kan mas disini naik motor sama kamu"
"Au ah"
"Gak usah kepo sama urusan orang. Palingan ntar juga balikan"
"Hahahah, yakin banget sih kamu. Tapi emang aku tuh sukanya sama Angga dari dulu"
"Maksudnya?"
"Maksudnya, aku tuh suka kalo Tari sama Angga. Angga tu bisa lebih mengarahkan Tari ke hal yang baik"
"Doain aja Yank, ini kita langsung pulang?"
"Iyalah, mau ngapain lagi"
"Ke kafe yuk, kencan"
"Kayak anak ABG aja sih mas, kencan segala"
"Ya gak papa dong. Orang yang diajak kencan juga calon bini sendiri"
"Terserah kamu aja lah mas"
"Oke kita kemoooon"
.
.
.
Angga masih dalam perjalanan menuju kafenya.
"Lhoh, kok arahnya beda sih dari rumah mas Bagas" Tanya Tari bingung
"Mampir ke kafe bentar ya"
"Ngapain?"
"Ambil laptop, sekalian masukin motor"
"Hem" Tari mengangguk pasrah
.
"Mau tunggu didalam atau di mobil aja?"
"Di mobil aja, wajah gue udah jelek maksimal. Takut diketawain sama pelanggan lainnya"
"Mau dibawain makanan? atau minuman?"
"Boleh, yang bikin kenyang ya"
Angga keluar dari mobil Tari. Melenggangkan kakinya menuju kafe. Angga menghampiri pelayan kafe itu dan menyuruhnya untuk menyiapkan secepatnya. Angga memasukkan motornya di garasi belakang kafe.
Angga membereskan berkas kerja nya dan membawa laptopnya. Angga menunggu pesanannya diantar oleh pelayan
__ADS_1
tok tok tok
"Masuk"
"Ini pak pesanan nya udah siap"
"Makasih ya. Saya pulang duluan"
Angga meninggalkan kafe dan menuju mobil Tari. Tari sudah tidak sabar menunggu makanan.yang dibawa Angga. Tari merasa lapar karena menangis terus.
"Makan dulu nih" kata Angga yang sudah duduk di kursi kemudi
"Makasih" Wajah Tari senang mendapatkan makanan, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
"Pelan pelan makannya, nanti keselek. Sampe belepotan gini lagi" Angga reflek mengambil tisu dan mengelap bibir Tari
"Makasih" Tari sedikit kaget saat tangan Angga cekatan mengelap sudut bibirnya
"Makan sambil jalan gak papa ya?"
Tari melahap makanannya. Angga mengemudi sambil tersenyum melihat Tari.
.
Anin dan Bagas sudah berada di kafe x. Mereka duduk berhadapan. Anin sibuk memilih makanan untuknya dan Bagas.
"Mas, bisa nyanyi gak? Panggung kosong tuh"
"Bisa lah, bisa main gitar juga mas mu ini"
"Oh ya? Coba buktikan. Anin yang nyanyi, mas yang main gitar" Tantang Anin.
Anin bertanya kepada pelayan kafe apakah boleh dia bernyanyi. Pelayan itu melapor kepada managernya.
"Selamat malam, dengan mbak dan mas siapa?" sapa manager kafe itu
"Saya Anin, dan ini pacar saya Bagas"
Anin dan Bagas menuju panggung. Bagas menyetel gitarnya. Anin bersiap untuk bernyanyi.
"Selamat malam semua, malam ini banyak pasangan muda mudi ya. Oke kami disini akan memberikan sedikit hiburan kepada semuanya. Silahkan sambil menikmati makanannya. Maafkan jika nanti jelek ya penampilannya karena kami bukan anak band"
Riuh tepuk tangan membuat Anin dan Bagas makin gugup.
"Oke kita nyanyikan lagu apa ya enaknya? Ada yang request?" tanya Anin mencairkan suasana
*Pamer bojo
Tanpa batas waktu
Seberapa pantas mbak*
"Oke, kita pilih satu ya" Anin berdiskusi sebentar dengan Bagas
"Oke kita pilih seberapa pantas dari sheila on 7"
Bagas memulai intro dan Anin siap bernyanyi.
Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu
Cukup indahkah dirimu untuk selalu ku nantikan
Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku
Mampukah kita bertahan di saat kita jauh
Seberapa hebat kau untuk ku banggakan
Cukup tangguhkah dirimu untuk selalu ku andalkan, oh
Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang, oh
__ADS_1
Sanggupkah kau menyakinkan di saat aku bimbang
Celakanya
Hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku
Kau pergi dan hilang ke mana pun kau suka
Celakanya
Hanya kaulah yang pantas untuk kubanggakan
Hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan
Di antara pedih aku slalu menantimu
Seberapa hebat kau untuk kubanggakan
Cukup tangguhkah dirimu untuk selalu ku andalkan ohh
Mampukah kau bertahan dengan hidup ku yang malang oh
Sanggupkah kau menyakinkan di saat aku bimbang,
Mungkin kini kau t'lah menghilang tanpa jejak
Mengubur semua indah kenangan
Tapi aku slalu menunggumu di sini
Bila saja kau berubah pikiran oh oh oh oh
Celakanya
Hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku
Kau pergi dan hilang ke mana pun kau suka
Celakanya
Hanya kaulah yang pantas untuk kubanggakan
Hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan
Di antara pedih aku slalu menantimu
Riuh tepuk tangan membuat Anin dan Bagas senang. Mereka turun dari panggung dan berpapasan dengan seseorang
"Bagas?"
"Nisa? Sama siapa?"
"Sendiri, kalian disini juga?"
Entah kenapa Anin tidak nyaman dengan keberadaan Nisa.
"Mas, aku ke toilet dulu bentar" Anin meninggalkan Bagas dan Nisa dan mengambil tas nya.
"Iya, duduk sini Nis"
"Eh, jangan takut ganggu"
"Apaan sih Nis, duduk aja gak papa"
Nisa mengobrol dengan Bagas. Sesekali mereka tertawa entah apa yang mereka bicarakan. Anin yang hendak kembali ke meja nya melihat pemandangan itu dengan kesal. Hatinya panas. Ingin dia kembali ke meja itu. Tapi matanya tidak sanggup melihat keakraban yang terjadi.
Anin melangkahkan kakinya keluar kafe. Dia naik ojek yang ada di dekat situ untuk pulang.
__ADS_1