
Bagas pulang meninggalkan rumah Anin dengan langkah berat. Dia mulai melajukan motornya untuk kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Bagas memilih untuk membersihkan diri dan tidur.
Malam, cepatlah berganti pagi.
Bagas mulai memejamkan matanya. Pikirannya masih kepada Anin. Dia mengusap kembali wajahnya. Melihat ke arah jendela. Gerimis turun perlahan menyapa semua yang ada di bumi.
Udah lama gak hujan. Semoga hatimu bisa sejuk kembali Anin.
.
.
.
"Tariiiii, bangun buruan. Kita hari ini ada gladi kotor dan gladi bersih wisuda" Anin menarik selimut Tari. Dan Tari kembali menariknya.
"5 menit lagi Nin, mata gue ada lem tikusnya gak bisa melek nih"
"Terserah lo, kalo nanti lo telat gue tinggal!" Anin pergi meninggalkan Tari yang kembali menelusupkan tubuhnya dalam selimut.
tok tok tok. Pintu diketuk
"Siapa sih pagi begini udah ada tamu aja. Yaaa sebentaar"
Ceklek
"Eh pak RT. Silahkan duduk pak"
"Makasih mbak Anin, maaf pagi pagi mengganggu. Saya datang kesini untuk minta iuran kebersihan. Karena 2 hari ini mbak Anin tidak ada di rumah"
"Oh iya maaf pak, kemarin saya menginap di tempat Tari. Berapa pak iurannya?"
"Seikhlasnya mbak Anin aja. Tidak ada patokan nominal"
"Saya ambil uangnya sebentar pak"
Anin masuk ke dalam mengambil uangnya. Lalu tak lama Anin muncul dengan menyodorkan uang lima puluh ribuan 1 lembar.
"Ini pak"
"Mau kembalian berapa mbak?"
"Gak usah pak, semuanya saja. Semoga bermanfaat ya pak"
"Terima kasih mbak Anin. Kalau begitu saya permisi dulu mbak, maaf mengganggu waktunya mbak"
"Sama sama pak, iya pak tidak papa"
Pak RT meninggalkan rumah Anin dan saat bersamaan Bagas datang. Anin yang sudah kembali menutup pintu nya tidak mengetahui kedatangan Bagas.
tok tok tok pintu kembali diketok
Ampun dah pak RT, apaan lagi sih? Anin menggerutu dalam batin
Ceklek pintu dibuka
"Ada apa lagi pak R-" Anin menghentikan kata katanya karena yang mengetuk bukan pak RT.
"Yank"
Wajah Anin yang awalnya begitu ramah berubah menjadi kusut.
"Yank, tadi malam kenapa pulang duluan? Mas gak disuruh duduk nih?"
__ADS_1
Bagas menarik tangan Anin untuk duduk di kursi teras.
"Sakit!"
"Maaf, kemarin kenapa?"
"Gak papa" Anin memalingkan wajahnya dan melipat tangannya di depan dada.
"Kenapa chat mas gak dibaca?"
"Males"
"Mas laper, bikinin mas sarapan ya?"
"Tuh warung depan gang udah buka. Disini gak jualan makanan!"
"Kamu cemburu?"
Anin diam tak bergeming.
"Yank, kamu ini ya, udah lah semalam bikin khawatir sekarang mas kesini kamu malah bikin emosi"
"Yank,... Ngomong kek apa kek jangan diem doang. Mas bingung kalo begini"
"Kerja sana. Aku ada urusan" Anin berdiri dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Bagas sendiri.
.
"Nin, mas Bagas masih nungguin lo di depan tuh. Kasihan. Udah jam setengah 7 lewat. Nanti kalo dia telat gimana?"
Anin masih diam tak bergeming.
"Lo tu kalo marah emang nyebelin. Ngomong kek. Malah jadi patung!" Tari kesal dengan Anin. Tari ke teras menemui Bagas.
"Ya sudah deh Ri. Tolong bujukin dia ya"
"Siap komandan" Tari memberi hormat kepada Bagas
Bagas hanya tersenyum dan berlalu.
.
.
.
Acara gladi kotor sudah dimulai. Anin mengikuti dengan malas malasan. Anin selalu merasa tidak semangat jika ada wisuda. Dia merasa sepi. Di hanya seorang diri. Sedangkan yang lain ditemani orang tersayangnya.
"Mari kita dengarkan pidato dari mahasiswa kita dengan nilai tertinggi Anindya Wijaya. Mohon untuk memberikan sepatah dua patah kata" Kata MC membuyarkan lamunan Anin
Saat hendak berjalan ke mimbar Anin berpapasan dengan Ana
"Harusnya gue yang ngasih pidato, bukannya lo!"
Anin tidak menyahut, hanya diam sambil memicingkan matanya.
.
.
.
"Aduh, capek banget. Nin besok gue surub make up nya kerumah lo ya"
__ADS_1
"Terserah lo atur aja deh Ri" Anin duduk di samping kemudi mobil. Membuka hp dan melihat chat yang masuk. Membacanya satu per satu.
"Nin, lo gak pengen baikan sama mas Bagas?" Tari mencoba membujuk Anin sambil mengemudikan mobil.
"Jangan bahas itu dulu deh Ri. Gue males sumpah"
"Oke deh, tapi besok kan kita wisuda lo jangan sedih dong"
"Gimana gue gak sedih, gue ngerasa kesepian saat hingar. Tante Nam datang?"
"Gue ngelarang nyokap datang kalo dia masih pengen lihat gue disini. Hanya bokap yanh gue suruh datang"
"Hah, senasib emang kita"
"Mmm, menurut lo gimana kalo gue balikan sama Angga?"
"Hah? Seriusan lo?"
Tari mengangguk
"Ya yaaaa, kalo gue sih terserah lo nya aja. Kan lo yang ngejalanin. Gue sih seneng, Angga kan orangnya baik. Dulu aja lo minta putus tanpa ngasih penjelasan dia terima gitu aja"
Tari tersenyum.
"Cie yang lagi seneng, hahaha"
.
Mobil sudah terparkir di depan rumah Anin. Tari dan Anin melangkahkan kaki masuk dalam rumah. Bagas sudah duduk dan menunggu dari tadi.
"Udah lama mas?" Tari mencoba mencairkan suasana.
"Sekitar 10 menit lalu"
Anin membuka pintu dan diserobot oleh Tari. Tari menutup pintu dari dalam. Tinggal Anin dan Bagas sendiri. Hujan tiba tiba saja turun. Menambah hawa sejuk malam itu.
"Bisa kita ngomong?"
"Apaan? cepet akh udah ngantuk"
"Mas minta maaf"
"Gak perlu minta maaf, gak ada yang salah"
"Kalo Mas gak salah kenapa Mas dihukum? Mas salah udah bikin kamu cemburu. Mas hanya mencoba baik kepada semuanya. Yang sekarang lagi ada di hati mas cuma kamu"
"Ri, bukain! Gue udah selesai ngomong"
"Kamu apa gak bisa sedikit dewasa menyikapi masalah? Dari kemarin diajakin ngomong baik baik gak bisa!" Bagas meninggikan suaranya
Anin yang mendengar suara Bagas takut. Air mata nya jatuh. Dengan cepat dia mengusapnya. Bagas merengkuhnya dalam pelukan.
"Jangan membisu dan cuekin mas begini. Mas gak sanggup kalo harus kamu diemin"
Anin yang berada di pelukan Bagas memukul dada bidang Bagas.
"Kamu tuh jahat. Apa perlu baik sama mantan? Apa perlu ngobrol sampai ketawa lepas seperti itu? Aku juga wanita mas, aky juga punya rasa cemburu. Aku juga tidak suka lelaki ku berbagi senyuman dengan wanita lain, huhuhuhu hiks"
"Mas janji kalo ketemu lagi gak bakalan nyapa"
"Buktikan! Aku sudah pernah bilang padamu. Jangan sakiti hati aku, atau aku akan menghilang dari dunia mu"
"Jangan pernah menghilang, I will find you"
__ADS_1
Hujan menentramkan hati setiap insan. Menyejukkan hati yang sedang dibelenggu amarah. Begitu pula Anin, akhirnya hatinya luluh dengan penjelasan Bagas.