Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 99


__ADS_3

Anin mengantarkan Bagas ke bandara. Anin memeluk Bagas cukup lama. Tari dan tim Bagas yang lain menjadi penonton drama untuk kali ini.


"Kenapa cepet banget sih perginya? Aku nya masih kangen" ucap Anin sambil mengeratkan pelukannya.


"Kemarin belum cukup? Sini tak kasih lagi" Bagas mengerling-kerlingkan matanya.


"Bukan ituu, maksudnya kebersamaan kita mas. Jangan mesum deh, masih pagi juga" Anin memanyunkan bibirnya membuat Bagas semakin gemas dan cup. Satu kecupan kecil mendarat di bibir Anin. Wajah Anin memerah karena malu.


"Gak tahu diri banget sih kalian, ini bandara nyet, banyak orang disini. Gak malu apa?" Raka mengingatkan Bagas dan Anin untuk menjaga sikap mereka.


"Tahu tuh bang, gak ingat tempaaatt" timpal Tari.


"Hahaha, kalian sirik aja sih. Ya udah mas berangkat dulu ya. Jaga diri baik-baik" Bagas melepaskan pelukannya, Anin hanya menganggukan kepalanya. Bagas mengecup kening Anin dan membawa ranselnya.


"Mbak Tari, untuk yang semalam saya minta maaf ya. Saya lancang" ucap Agus membuat Tari bingung.


"Maksudnya gimana ya?"


"Maaf sudah lancang mengganggu istri orang. Saya tidak tahu jika mbak Tari sudah menikah dengan orang yang semalam berada di samping mbak" tambah Agus.


Tari berpikir agak lama mengingat dan mengaitkan kejadian tadi malam dengan omongan Agus baru saja. Astaghfirullah, si Setan nulis apaan semalem... pasti yang aneh ini.


"Maksudnya gimana sih, saya masih gak paham"


"Bukannya mbak Tari dengan mas Tristan suami istri ya? Semalam mas Tristan menulis kontak di hp saya dengan tulisan besar semua SUAMI TARI begitu mbak"

__ADS_1


Tristan yang baru datang ikut bergabung mengantarkan Bagas. Tari terkejut dengan mulut menganga.


"Gus, kamu mau ketinggalan pesawat?" Tanya hendra yang masih melihat Agus berbincang dengan Tari.


"Sekali lagi maaf ya mbak, permisi" Agus menyusul tim nya. Hanya tinggal Anin, Tari dan Tristan.


Tari berbalik menghadap Tristan. Anin merasa tatapan Tari aneh, seakan ingin membunuh Tristan.


"Kenapa Ri?" Anin bertanya. Bulu kuduk nya merinding melihat Tari begitu. Tristan pun ikut merasakan hawa dingin.


"Aahhh, kenapa disini begitu dingin ya? Kenapa lihat aku begitu??" Tristan ngeri melihat tatapan Tari.


Bukan menjawab pertanyaan Anin ataupun Tristan dia masih melihat Tristan dan mencubit perut Tristan sangat keras. Membuat si empunya mengaduh.


"Sakit Ri, Nin temen lo kerasukan apa sih? Aww, sakit? Lepasin-lepasin" Tristan mengaduh kesakitan dan memukul-mukul tangan Tari.


"Lo kenapa nyubit Bang Tris begitu? Ada apaan?"


"Bikin sewot aja si setan pagi begini. Ya masa tadi malam temen mas Bagas dikasih kontak dengan tulisan suami Tari, tulisannya besar semua coba. Dasar si setan!"


"Hahahaha, ooow ternyata ada yang cemburu saat ada cowok godain lo"


"Ini bocah bukannya marahin Tristan kek apa kek malah diketawain!"


"Ya mungkin bang Tris begitu karena dia cemburu. Posesif"

__ADS_1


"Hilih, gak mungkin"


.


Bagas dan tim nya masuk dalam pesawat. Tim Bagas masih meledeknya karena kejadian tadi. Alih-alih malu itu membuat Bagas bangga.


"Itu kan vitamin pagi hari" katanya


"Vitamin ada juga yang begitu bentuknya ya kapt? Besok mau beli ah, belinya dimana kapt?" ucap Hendi bertanya bodoh.


"Hahaha, beli nya di bibir pacar kalian masing-masing. Bagi yang tidak punya pacar silahkan mencari guling atau boneka" ucap Raka menjawab bodoh Hendi.


Komandan masuk ke dalam pesawat membuat suasana hening. Mereka memberi hormat kepada komandan.


"Bagaimana senang dengan misi kalian kemarin? Aku harap tenaga kalian masih full. Misi kembali. Kalian akan dikirimkan ke Myanmar. Target kalian hanya membebaskan sandera. 3 warga Indonesia sedang disandera di Myanmar oleh kelompok anggota bersenjata. Mereka mengecam akan membunuh sandera nya jika permintaan mereka tak dituruti. Mereka ingin masuk wilayah Indonesia dan dilindungi disini. Keamanan Myanmar sudah lama mengejar kelompok ini, tapi ya begitulah. Waktu kalian adalah 1 minggu. Ingat, bawa padaku target. Urusan pelaku biar Myanmar yang mengadili. Perintah Bagas mutlak dilaksanakan. Kalian memgerti?"


"Siap, dimengerti!" ucap kawanan itu kompak. Komandan meninggalkan pesawat itu. Dengan segera pesawat lepas landas menuju Myanmar.


"Misi again? Gue kira kita bakalan dapat cuti seperti yang dijanjikan. Batal pulang batal pulang" ucap Hendra selepas pesawat lepas landas.


"Itu lah kita, konsekuensi nyq begini. Karena memang hidup kita adalah untuk negara" ucap Bagas.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2