Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 105


__ADS_3

Semarang


"Tris, Tristan!" panggil Ibu setengah berteriak.


"Ada apa te?" Tristan yang ketiduran di sofa kaget saat dipanggil Ibu Rita.


"Panggil dokter, Anin jemari nya menunjukkan respon"


Tristan segera memanggil dokter di ruang jaga nya. Dokter dan seorang perawat datang ke kamar Anin.


"Kenapa tidak pencet bel bu?" tanya dokter.


"Sudah dok, tapi tak ada respon"


"Benarkah? Sus, nanti di cek bel pasien ya. Jangan-jangan mati. Saya cek kondisi mbak Anin dulu" dokter memeriksa keadaan Anin.


"Alhamdulillah bu, mbak Anin sudah melewati masa kritisnya. Mungkin sebentar lagi akan siuman. Nanti kami akan pindahkan ke ruangan biasa bu" terang dokter


"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, terima kasih dokter" Ibu senang dan sampai menitikkan air mata mendengar penjelasan dokter.


"Saya permisi dulu bu, nanti kalau ada apa-apa panggil saja"


"Iya dokter, terima kasih"


Dokter dan perawat tadi meninggalkan ruangan Anin. Tak lama berselang Anin dipindahkan ke ruang perawatan biasa.


"Mas, mas, mas Bagas....." ucap Anin lirih.


"Anin, sayang... kamu sudah sadar?" Anin perlahan membuka matanya, dilihatnya ibu dengan wajah sendu menitikkan air mata.


"Ibu Anin dimana? Kenapa ibu menangis?"


"Kamu di rumah sakit sayang, kamu terluka oleh tusukan pisau. Apa yang kamu rasakan saat ini? Kenapa manggil mas Bagas?" tanya ibu sambil mengusap air matanya.


"Anin hanya sedikit nyeri di bagian perut kiri Anin. Anin mimpi mas Bagas pergi ninggalin Anin bu"


"Itu hanya bunga tidur sayang, doakan mas mu yang baik-baik ya. Kamu lapar? Mau makan apa?"


"Anin haus bu, mau minum"


"Iya, pelan-pelan ya" Ibu membantu Anin memegang gelas yang berisi air putih itu.

__ADS_1


.


Myanmar


"Kapt!" teriak semua anggota Bagas.


Ledakan yang besar baru saja terjadi.


"Serahkan tawanan kepada keamanan Myanmar. Kemana mereka saat dibutuhkan!?" Raka memberi instruksi kepada tim nya dan berjalan ke dalam gedung.


"Kau mau kemana mbel?" tanya Hendra.


"Aku akan mencari kapten"


"Kau mau ku bantu?"


"Tak perlu, lakukan saja yang ku perintah. Aku yakin dia baik-baik saja"


Raka meninggalkan kawanan nya, mulai menyusui satu per satu lantai bangunan gedung itu. Dengan cepat namun teliti Raka menyusuri nya, belum menemukan keberadaan Bagas. Pemukiman kumuh itu ada 2 lantai, seperti rumah susun tapi di kawasan kumuh dan sempit. Raka mendobrak satu per satu pintu yang tertutup. Dirinya hampir frustasi karena sedari tadi tidak menemukan Bagas.


"Pintu terakhir. Jika kau tidak ada juga apa yang harus ku lakukan?! Please come on, muncul lah kapt!" Raka bergumam sendiri.


Brak.. Pintu terbuka


"Cerewet lo. Gue cuma istirahat sebentar disini. Tawanan gimana?"


"Sudah sama keamanan Myanmar. Lo kenapa sih? Ha?"


"Gue kepikiran Anin. Semalam gue mimpi lagi kejadian dimana dia melindungi gue. Gue gak pengen dia kenapa-napa. Apa menurut lo dia baik-baik saja?"


"Percaya sama perlindungan Allah, semua pasti baik-baik saja"


"Aamiin, mimpi gue sangat mengganggu. Bahkan gue gak bisa konsentrasi. Kalian bagaimana? Ada yang terluka?"


"Lengkap! Ayo balik. Mereka menunggu mu"


"Hmm, misi selesai. Aku akan mengabarkan ke komandan"


Bagas dan Raka meninggalkan kawasan itu. Sesekali mereka bercanda tentang kejadian tadi.


.

__ADS_1


Gudang tua, Jakarta.


"Apa yang kita akan lakukan sekarang tuan?" ucap seorang pria bertubuh kekar itu.


"Pertama bebaskan dulu Edi, untuk masalah perempuan itu jika kita tidak bisa mendekatinya maka buat saja teror kepadanya. Lukai dia sesering mungkin. Itu akan sedikit memberi efek jera. Yang kedua cari semua bukti yang sama di flasdisk itu lalu hancurkan. Kau paham?"


"Baik tuan, akan saya laksanakan perintah anda" orang itu meninggalkan tuannya sendirian.


"Hmm, sepertinya ini akan berjalan panjang. Kita lihat saja siapa yang menang.. Hahahahahah"


.


Tari baru saja kembali dari Kalimantan. Tubuhnya lelah karena harus kejar-kejaran dengan waktu. Belum lagi besok dia harus ke Surabaya untuk menemani nenek nya yang sedang sakit. Tristan yang baru saja kembali dari rumah sakit mengetahui kepulangan Tari.


"Assalamualaikum Tari"


"Eh, waalaikum salam bang, Abang dari mana? Anin kemana?" tanya Tari yang masih belum mengetahui keadaan Anin.


"Kamu kenapa tidak mengangkat telpon dari aku?"


"I-itu, itu karena aku sedang sibuk disana"


"Bahkan setelah urusan mu selesai kamu juga tidak bisa membalas panggilan telpon mu?!" ucap Tristan dengan nada sedikit naik.


"Aku masuk dulu bang, nanti aku cari tahu sendiri keberadaan Anin" balas Tari.


"Kamu menghindari ku?! Anin terkena tusukan pisau. Sekarang dia ada di rumah sakit x ruang mawar 27. Dia baru sadarkan diri saat ini"


"Innalillahi wa'inna ilaihi roji'un, Anin.... Kenapa bisa sampai begitu sih bang? Aku akan ke rumah sakit sekarang"


"Istirahat saja dulu, jam besuk dibatasi. Jam 10 sampai 12 siang, malam jam 18 sampai 20.00" Tristan meninggalkan Tari dan masuk ke dalam apartemen nya berdiri di belakang pintu.


Kau menghindari ku? Mengapa? Kau ingin mempermainkan ku? Tariiii, jangan membuatku menggila seperti ini


Tari yang awalnya ingin pergi tapi sekarang hanya bisa diam mematung dan melihat pintu apartemen Tristan yang sudah tertutup.


"Maaf, aku sedang mencoba menata hati ku. Berilah aku waktu untuk itu. Maaf bang" lirih Tari sambil tertunduk.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2