
Anin kembali masuk ke dalam kafe. Tari merenung. Entah apa yang mengganggu pikirannya. Anin duduk kembali di kursinya.
"Ri, Ri. Lo mikirin apa?"
"Hem? Gak papa. Gue agak kepikiran aja sama omongannya Angga"
"Sholat istikharoh, jawaban Allah yang maha benar"
"Terus gue sekarang gimana dong?"
"Gimana apanya?"
"Sama Angga, lo balik bareng gue aja ya"
"Gak bisa, Mas Bagas ngajak ke rumahnya"
"Ah lo, lo kalo ada maunya aja maksa. Kalo gue yang butuh lo, lo begini" jawab Tari cemberut.
"Emang kenapa sih balik bareng Angga?"
"Lo kayak gak paham aja, gue jadi kikuk. Please"
"Maaf Tari sahabat ku tersayang, lain kali ya" Anin melihat hp nya. Sebuah chat masuk.
Bagas : Yank mas udah di depan kafe. Buruan keluar
Me : tunggu bentas Mas bebeb
Anin memasukkan hp nya ke dalam tas.
"Ri, Mas bebeb udah di depan. Gue balik dulu ya?"
"What? Mas... Mas apa tadi? Mas bebeb? Hahahaha, dasar pasangan aneh"
__ADS_1
"Ih, biarin. Kan itu panggilan sayang gue ke dia"
"Terserah lo lah Nin, gue balik sendiri aja lah"
"Terserah lo deh, gue duluan ya. Bye. Jangan lupa jumat malam nginep rumah gue" Anin melambaikan tangannya ke Tari dan menghampiri Bagas.
Anin naik ke atas jok motor belakang. Bagas melajukan motornya ke rumah.
.
Tari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe. Tapi matanya tidak mendapatkan yang dicari. Ya, dia mencari Angga.
"Kemana lagi dia? Biasanya juga wara wiri. Ini dicari malah gak nongol" Tari berbicara dengan dirinya sendiri dengan pelan.
"Ah, udah deh. Gue balik sendiri aja" Tari membayar ke kasir dan meninggalkan kafe tanpa berpamitan dengan Angga.
.
.
.
"Waalaikum salam" Jawab Ayah dan Ibu bersamaan
Anin mencium punggung tangan kedua orang tua itu.
"Suara kamu sampai serak begitu, karena Bagas kemarin?" tanya Ibu
Anin hanya mengangguk dan tersenyum.
"Maafkan anak Ayah ya Nin, dia itu kadang ceroboh"
"Iya Yah, gak papa. Anin juga udah baikan kok sama Mas Bagas"
__ADS_1
Bagas yang baru saja memarkirkan motor di garasi rumahnya ikut bergabung dengan mereka.
"Mandi dulu gih Gas, habis ini kita diskusikan untuk acara hari sabtu"
"Nanti aja Yah, Bu. Ada yang mau Bagas sampaikan ke semua" Bagas berbicara dengan wajah serius membuat suasana menjadi tegang
"Ada apa Gas? Jangan bikin Ibu takut"
"Ada apa sih Mas? Jangan bilang kalo kamu mau batalin acaranya dan balikan sama kak Nisa?"
"Apaan sih Yank, ngawur kamu"
"Cepetan dong Gas ngomong, jangan membuat kami menjadi takut dong" Ayah ikut menimpali omongan Ibu dan Anin
"Kalau misal Bagas menjadi anggota black stones gimana?"
Ayah, Ibu terkejut dengan pertanyaan Bagas. Berbeda dengan Anin yang tidak mengerti apa itu black stones, hanya bengong.
"Gak, Ibu gak setuju" Ibu melipat tangannya di dada menandakan dirinya tidak mau di debat.
"Ayah setuju. Memang seharusnya kamu ada disana. Otak dan tenaga kamu lebih dibutuhkan disana" jelas Ayah.
"Yah, Ibu gak suka ya Bagas ngikutin jejak Ayah. Cukup Ibu yang merasakan bagaimana ditinggal suami sampai berbulan bulan tanpa ada kejelasan antara hidup dan mati" mata ibu mulai berkaca kaca.
"Bu, Ibu harus ngerti dong. Tugas dia memang melindungi dan mengayomi masyarakat"
"Apa perlu sampai masuk black stones?"
"Ayah tidak pernah menghalangi ataupun memberikan jalan bagi Bagas untuk masuk pasukan itu. Tapi takdir yang menentukan jalan hidupnya. Dan ibu lihat sendiri kan, sekuat apapun kita menghalangi ataupun mendukungnya, jika takdir yang berbicara kita tidak akan bisa mengubah itu"
"Ayah, Ayah gak tau yang ibu rasakan. Ayah egois!" Ibu berdiri dan hendak meninggalkan mereka, tapi tangannya dicegah oleh Bagas.
"Bu, tenang dulu. Bagas makin bimbang jika ibu begini"
__ADS_1
Ibu kembali duduk. Anin yang masih tidak mengerti memilih untuk tetap diam dan menenangkan Ibu.
"Begini saja Yah, Bu. Lebih baik Bagas istikharoh dulu saja. Biar Allah yang menjawab. Dan apapun jawaban dari Allah Ayah, Ibu, dan kamu Yank, harus bisa menerima"