
Jakarta
"Lapor! misi berhasil. Sandera 3 aman! Laporan selesai!" Bagas memberikan laporan kepada komandannya.
"Kerja bagus! Kalian akan diberi cuti selama 1 hari, laksanakan!" balas komandan.
"Laksanakan! Hormat kepada Komandan, grak!" Bagas dan tim nya memberi hormat kepada komandan. Komandan meninggalkan barak.
"Apa-apaan ini? Cuma satu hari? Untuk apa?" ucap Hendi.
"Hahahah, kau kira akan diberi cuti berapa lama? 3 bulan? Sekalian saja kau melahirkan!" ucap Hendra mengejek.
"Memang kau tak ingin cuti panjang? Seminggu cukup lah. Aku pun ingin pulang" balasnya.
Bagas dan Raka memilih membersihkan dirinya dengan mandi. "Mau mandi bersama? Sudah lama kita tak mandi bersama" ucap Raka
"Idihhhh, mandi masing-masing!"
"Aaaahhh, kau malu-malu dengan mereka. Biasanya aku yang menggosok punggung mu dan memijat kepala mu"
"Gembeeelll, bisa-bisanya kau buka aib mu sendiri!" Bagas dan Raka sudah menuju kamar mandi.
Agus, Hendra, dan Hendi menatap mereka.
"Aku yakin mereka lebih dari sahabat" ucap Agus.
"Aku pun" ucap Hendra dan Hendi.
.
Semarang
Anin baru saja ganti balut untuk luka nya. Nisa datang dengan membawa seorang anak perempuan, kira-kira umurnya 3 tahun.
"Hai Nin, gimana kabarnya?"
"Hai mbak, alhamdulillah Anin baik, cuma kadang nyeri aja sih. Ini siapa mbak?"
"Jessy, salim dulu sama tante Anin. Ini calon anak aku" terang Nisa.
"Halo tante Nin, atu Jecy. Anak Mommy Nica" ucap Jessy belum jelas pelafalannya
"What? Hai Jessy, aku Anin, adik mommy Nisa. Jessy udah sekolah?"
"Udah, di pauk"
"Bukan pauk sayang, tapi PAUD. pake D belakangnya"
"Mommy mau gendong te Nin"
"Jangan dong, itu lihat perut tante atit. Dipangku aja ya"
Anak manis dengan bola mata yang bulat seperti boneka membuat Anin gemas.
"Sini tante Nin pangku, mau buah?"
"Boleh? atu mau atu mau!" ucapnya girang.
"Mau buah apa? Mommy kupaskan"
"Apel aja mommy"
"Siap bos kecil" Nisa mengambil apel dan mulai mengupasnya.
__ADS_1
"Mbak, ini beneran anak mbak?" tanya Anin penasaran.
"Ini calon anak sambung aku Nin, mamah menjodohkan ku dengan papi nya. Lebih tua 5 tahun lah dari mbak, kriteria nya ya kamu sendiri tahu lah mamah mbak gimana"
"Mbak cinta sama papi nya Jes?"
"Sedang belajar mencintai. Mbak nikah 3 hari lagi. Kamu datang ya, undangan nya mbak titipkan ke ibu kemarin"
"Insyaallah mbak, hmmm, takdir siapa yang tahu mbak. Semoga mbak bahagia. Jes, mau adik laki-laki apa perempuan?"
"Pelempuan aja, bial bica main boneta cama Jecy te"
"Minta sama mommy dong, sama papi juga ya. Nanti, Jes harus jadi kakak yang baik ya, sayang sama adik nya. Oke? Tos dulu"
Anin dan Jessy menempelkan telapak tangan mereka membentuk tos.
"Kamu sama Bagas kapan Nin?"
"Doain aja mbak, dia juga lagi sibuk kerja. Anin juga lagi sibuk ngurus cpns"
"Kamu keterima? Di Kalimantan?"
"Iya mbak, kemarin sih udah mengumpulkan berkas tapi sampai sekarang belum ada pemberitahuan lagi"
"Ditunggu aja"
Seorang laki-laki dengan jas hitam masuk ke kamar Anin.
"Papi, cini pi. Te Anin pelutnya atit tuh liat pi"
Pria itu masuk dan tersenyum dengan Anin.
"Nin, ini calon suami mbak, namanya mas Riski. Mas ini adik sepupu aku, Anin" Nisa memperkenalkan mereka berdua.
"Anin"
"Udah selesai belum? Mas belum makan siang nih. Laper" ucap Riski kepada Nisa
"Nunggu Jes selesaikan makan nya, tinggal suapan terakhir. Nanti Jes pulang bareng aku aja ya mas. Masih kangen sama Jes"
"Cuma Jes yang dikangenin? Mas?"
"Cieee mbak Nisa. Kangen papi nya kaliii, Jes mah buat kambing hitam aja" Anin menggoda Nisa membuat pipi nya seperti udang rebus. Mereka tertawa. Jessy yang belum mengerti pun ikut tertawa.
.
Hari pernikahan Nisa
Anin sudah cantik dengan dress pink bunga-bunga. Rambutnya disanggul modern. Ibu dan ayah pun sudah siap. Tristan tak kalah mempesona dengan balutan tuxedo hitam.
"Woow, cantik sekaliii" ucap Tristan yang terpukau karena kecantikan Anin.
"Hilih, lebay! Abang, cakep kaliii. Foto dulu. Kirim laporan sama bos besar"
"Siapa bos besar Nin?" Ayah dan ibu bertanya bersamaan.
"Tari yah, bu"
"Ooo, kamu itu mau bangun usaha pinjem uang sama om buat Tari? Hebat kamu Tris, Tari pintar bisa mengubah anak selengekan macam Tristan"
"Ih, apaan sih om. Malu ah" ucap Tristan sambil malu-malu.
"Udah ayo berangkat, nanti bedak ibu keburu luntur" Ibu sibuk dengan cermin kecil nya. Mereka masuk ke mobil. Mobil menuju gedung pernikahan Nisa dan Riski. Mereka sudah sampai di gedung itu.
__ADS_1
"Wah, mewah sekali. Ini mbak mu dapat pengusaha apa Nin? Mobil mewah semua tamu nya" ucap Ibu ingin tahu
"Anin gak tahu pasti nya bu, seperti nya memang pengusaha. Karena mbak Nisa dijodohkan. Mas Riski duda anak 1 bu"
"Ooowww, sesuai lah dengan kriteria yang diinginkan oleh mamah nya. Ayo masuk, salaman, makan, pulang" ucap ayah
Ayah dan rombongan masuk ke dalam gedung dan mengucapkan selamat kepada Nisa dan Riski.
"Paman, bibi selamat ya atas pernikahan mbak nisa. Semoga cepat diberikan cucu" ucap Anin yang bertemu dengan paman dan bibi nya
"Terima kasih Nin" ucap paman nya sedangkan bibi nya hanya diam.
Anin melangkah dan bersalaman dengan Nisa. Disana ada Jessy juga.
"Mbak, mas selamat menempuh hidup baru ya. Doakan Anin semoga cepat nyusul. Hai Jes, nanti minta adik sama mommy sama papi ya?"
"Makasih ya Nin, mbak doakan semoga kami segera menyusul. Makan dulu sana"
"Iya, da da Jes"
Jessy melambaikan tangannya kepada Anin. Anin dan rombongan menyantap menu yang dihidangkan. Banyak menu yang terhidang di gedung itu. Maklum pernikahan horang kaya.
"Yah, mau kemana?" Ibu bertanya kepada ayah yang hendak menjauh.
"Ayah ketemu seseorang dulu. Ibu disini aja dulu. Nanti ayah kembali"
"Jangan lama-lama"
"Iya"
Ayah menghampiri temannya. Menepuk bahu nya. Membuat temannya menoleh ke arah ayah.
"Eri Sumantri, apa kabar?"
"Mas Ardhi? Kabar baik mas. Mas gimana?"
"Baik, kamu sudah mendengar kabar kakak mu?"
"Sudah mas, aku sudah tak ingin mengurusi nya lagi. Aku terlalu lelah dengan kelakuannya. Sekarang usaha apa mas?"
"Alhamdulillah, mas punya sawah dan toko matrial. Kamu kalau mau bangun apa-apa datang ke toko mas. Nanti mas kasih diskon banyak"
"Hahaha, syukurlah mas"
"Kenapa tertunduk lesu? Ada apa Eri?"
"Usaha ku dihancurkan sendiri oleh kakak ku mas, aku pun banyak berhutang pada orang. Untung nya masih ada tabungan untuk menutup itu semua. Mas kalau ada lowongan pekerjaan aku mau"
"Datanglah ke rumah ku Ri, kalau bekerja sebagai manajer bagaimana? Tapi aku juga membutuhkan bantuan mu"
"Kapan mas? kalau aku bisa bantu pasti ku bantu"
"Datanglah ke rumah besok. Aku tunggu. Ya sudah aku pamit dulu"
"Terima kasih mas, besok aku akan datang" Ayah meninggalkan Eri sendirian.
Semoga ini bisa menjadi titik terang teka-teki flasdisk itu.
.
.
.
__ADS_1