
Bagas dan kawan-kawan nya mengikuti apel malam. Raka yang baru saja sampai langsung ikut masuk dalam barisan.
"Huft, untung gak telat" ucap Raka saat dalam barisan. Bagas yang ada disamping nya menoleh.
"Dari mana lo?" tanya Raka
"Dari apel lah" ucap nya dengan senyuman cengengesan dan alis yang naik turun.
"Ngiri gue nyet sama lo. Lo kenapa gak bilang sih kalau Anin di kota ini? Judes banget sekarang mulutnya, denger sendiri kan tadi siang gimana sahutan nya saat gue ajak ngobrol?! Gue pake dikatain bisu segala lagi!"
"Gue udah ngomong di pesawat nyet, lo aja gak denger! Belum pedas itu, nanti ada lagi yang buat hati lo keiris-iris kayak bawang!"
"Itu aja udah buat gue pedih, apalagi nanti mbel! Bantuin gue kek dapetin itu data. Gue udah ditelponin komandan terus nih!"
"Ogah! Usaha sendiri lah!"
"Awas ya nanti kalau lo butuh bantuan gue! Gak bakalan mau gue bantuin lo!"
Raka berpikir. Mungkin ini cara yang tepat untuk mendapatkan restu dari Bagas.
"Oke, gue mau bantuin lo. Asal ada imbalannya. Gimana deal?"
"Minta imbalan apa dulu dong?"
"Apapun terserah gue lah nyet, bukan sekarang tapi nanti saat gue butuh. Gimana deal?"
"Okelah" Bagas setuju dengan kesepakatan Raka.
Apel malam telah selesai. Bagas menghadap Danki. Mereka saling memberi hormat. Lalu berbincang mengenai strategi mereka.
"Berarti besok abang ke posko perbatasan ya?" tanya Danki kepada Bagas
"Iya, saya mau lihat situasi disana dulu. Mungkin sehari cukup"
"Baiklah bang, besok sama siapa?"
"Sama Raka"
"Berarti besok mau pakai motor sendiri-sendiri atau berdua?"
"Pakai motor Raka saja. Baiklah saya istirahat dulu" Bagas kembali ke barak. Dia membaringkan diri. Raka masih sibuk dengan ponsel nya membuat Bagas semakin ingin tahu pacar Raka.
"Mentang-mentang punya pacar, telponan teroooossss, los dol aja. Jangan ingat tugas pokoknya!" sindir Bagas.
Karena sudah disindir Bagas, Raka mengakhiri sambungan telepon nya. Bagas membuka jendela baraknya, merasakan angin yang masuk dan menyapu wajahnya. Raka mendekatinya dan menepuk bahunya.
"Jadi strategi gimana?" tanya Raka membuka obrolan.
"Besok kita ke desa perbatasan kemungkinan mereka masuk dari jalur sana. Tidak mungkin mereka masih menggunakan jalur timur karena dulu kita sudah mengungkapnya"
"Baiklah, kita naik motor saja"
.
Pagi menyingsing, kabut masih menutupi jalanan. Anin menghirup udara yang masih bersih itu dalam-dalam.
"Selamat pagi dunia" ucapnya sambil tersenyum.
Seperti biasa mereka membersihkan pustu, mulai mempersiapkan dan mencatat apa-apa yang kurang di pustu itu.
Bagas dan Raka sudah berangkat saat subuh menyingsing, jalanan yang masih tertutup kabut membuat mereka tidak mengetahui kondisi medan. Saat mereka sudah sampai di jalan besar terakhir hendak berbelok, motor yang mereka tumpangi keluar dari jalanan, membuat sang pengendara dan juga pembonceng jatuh.
__ADS_1
Kaki Raka tertimpa motor, lengannya mengenai batu sehingga membuat luka. Bagas terluka di bagian siku tapi tidak separah Raka. Mereka ditolong oleh warga dan diantarkan ke pustu.
"Bu bidan, ada yang terlukaaaa" teriak salah satu warga disana.
Salma yang sudah siap terlebih dahulu keluar dan memastikan keadaan.
Salma kaget karena kakak dan pacarnya yang terluka. Dia menutup mulutnya.
"Bawa masuk pak" ucap Salma.
"Dek, kamu disini??" ucap Bagas yang mengetahui posisi adiknya yang itu artinya ada Anin juga.
"Ada apaan Sal?" Anin yang baru datang ikut melihat keluar. Mata nya melotot dengan pemandangan itu. Lalu dia segera menyadarkan diri.
"Abang kenapa bisa begini sih?" tanya Anin kepada Raka yang melihat lukanya cukup parah.
"Jatuh tadi" jawab Raka singkat.
Salma segera membawa peralatan dan mulai menangangi Raka. Raka harus menerima beberapa jahitan di lengannya. Kakinya tidak apa-apa, hanya nyeri karena tertimpa motor. Selesai membantu Salma menjahit lukanya dia beralih ke Bagas.
Dia melihat siku Bagas yang terluka, sobek tapi tidak lebar dan dalam. Jadi Anin hanya membersihkan lukanya.
Kalau memang kutukan itu terjadi maka aku akan bersyukur Nin. Dengan melihat keadaanmu bisa membuat hatiku tenang. Gumam Bagas dalam hati sambil tersenyum. Anij yang melihatnya tersenyum memasang wajah jutek nya kembali.
"Gak usah senyam senyum gak jelas! Mana lagi yang luka!" ucap Anin judes.
"Ini" Bagas menunjuk dadanya. Bagas masih senyum tidak jelas
"Buka!" jawab Anin untuk membuka kaosnya. Bagas segera malakukannya. Anin melihat tidak ada bekas luka disana.
"Mana?! Gak ada lukanya gitu kok!" tambah Anin
"Aaww!" jerita Bagas membuat Anin terkejut. Mata Anin sampai melotot. Sedangkan Bagas masih dengan senyum jahilnya.
"Sakit banget?? Kena apa sih?? Kebentur batu?? Atau apa??" tanya Anin khawatir. Bukannya menjawab pertanyaan Anin, Bagas malah tertawa karena wajah Anin tampak khawatir.
Anin bingung dengan sikap Bagas. Dan dia baru menyadari jika dia dikerjai oleh Bagas. Dia memasang muka marah nya dan hendak pergi tapi dicegah oleh Bagas.
"Maaf-maaf, jangan pergi. Tapi emang beneran sakit disini. Mungkin dulu pernah terluka akibat perbuatan ku sendiri" ucap Bagas sambil menatap mata Anin.
"Udah bercandanya?! Lucu?! Aku itu memastikan kondisi kamu sebagai pasien! Apa itu pantas dilakukan?! Dasar!"
"Aku cuma pengen tahu apakah rasa itu masih ada untuk ku? Luka disini obatnya adalah hati. Mungkin kamu bisa mengobatinya" ucap Bagas merayu.
"Aku udah mati rasa sama kamu!" Kelakuan Bagas membuat Anin kesal dan pergi meninggalkannya.
Bagas menghampiri Raka yang masih dirawat di ruang samping. Dia melihat adiknya sedang mengobati Raka sambil senyam senyum.
"Ehemm, ada apa nih senyam senyum?" tanya Bagas membuat mereka gelagapan.
"Gak papa, adek kan cuma mengobati saja" ucap Salma.
"Dek kenalin, ini Raka sahabat kakak. Mbel, ini Salma adek gue. Lo masih ingat kan dengan janji kita dulu? Gak akan mendekati adik masing-masing, jadi jangan coba mendekatinya!" Ucapan Bagas membuat Raka dan Salma yang awalnya bahagia kini memasang wajah sendu.
"Iya, tahu gue! Luka lo gimana? Anin mana?" Tanya Raka.
"Gak papa, dia pergi entah kemana habis gue kerjain"
"Ih kakak, kok dikerjain sih? Anin pergi kemana? Jangan-jangan masuk dalam hutan lagi. Dia bisa nyasar lagi kak. Cepetan cari!" Salma khawatir dengan Anin yang memang pernah nyasar di hutan.
"Serius dek? Aduuuhh, kakak nyari masalah lagi dong sama dia"
__ADS_1
"Emang lo ngerjain apa sih nyet?" tanya Raka.
"Dia tanya mana lagi luka nya gue nunjuk dada gue, dia coba meriksa gue pura-pura kesakitan. Dia khawatir banget dan gue tertawa"
"Cari penyakit kakak nih, cari gih"
"Niatnya kan bercanda"
"Hilih, ngomong aja pengen ngetes perasaan kan?"
Bagas mencari Anin ke dalam hutan. Anin duduk di pinggir sungai sambil melempar batu. Dia tidak berani terlalu masuk ke dalan hutan karena nanti bisa-bisa nyasar lagi. Wajahnya cemberut mengingat kelakuan Bagas.
"Lucu apa kayak begitu?? Sukurin jadi sakit hati sendiri kan?? Rasain kamu mas, sakit kan?? Kamu kira aku gak sakit?? Susah payah aku menguatkan hati setiap ketemu sama kamu! Dasar Bagas Ardhitamaaaaaa?!" teriak Anin melepaskan sesak di dadanya.
Bagas yang namanya disebut mencari dan menuju sumber suara. Bagas menemukan Anin dan ikut duduk di samping Anin. Saat Bagas disamping Anin, dia hendak pergi.
"Bisa gak sih kita ngobrol berdua seperti dulu? Just ngobrol" akhirnya Anin mengalah dan duduk kembali.
"Kamu apa kabar?" ucap Bagas sambil melihat ke arah sungai. Anin diam.
"Kenapa sekarang jadi bisu? Kamu masih kecewa sama mas?"
"Kalau gak ada yang penting aku mau balik!"
"Mas minta maaf, coba duduk dulu. Mas kangen ngobrol sama kamu"
"Masih pantes bilang kangen?! Ingat kamu yang mutusin aku!"
"Iya mas tahu, kamu apa kabar?"
"Baik"
"Makan lah yang banyak, tubuhmu agak kurus"
"Bukan urusanmu aku makan dengan baik atau tidak"
"Mas pengen tanya soal Edi Sumantri. Kamu mengenalnya?"
"Gak tahu!"
"Coba ingat lah dulu, dia adalah bagian masa lalu kamu"
"Yang aku ingat hanya kamu! orang yang menyakiti ku!"
"Maaf"
"Mudah sekali minta maaf!"
"Soal data itu, kamu masih punya? Ayolah mas butuh cepat data itu. Kamu masih punya kan?"
"Gak punya!"
"Kamu gak mau bantu mas ngungkap kejahatan?! Kamu bisa kena pasal juga lho menyembunyikan barang bukti"
"Biarin! Mending aku dipenjara daripada aku harus disini sama penjahat wanita!" Anin meninggalkan Bagas dan kembali ke pustu.
.
.
.
__ADS_1