
Bagas mengenal sosok itu. Sosok yang sangat hangat, humoris, tapi juga tegas. Lelaki itu sangat ia kagumi, bahkan menjadikannya panutan. Bagas bingung dengan kehadiran orang itu ditempat seperti ini. Pinggir muara, dikelilingi hutan dan sangat sepi dari kehidupan.
"Apa yang dilakukan beliau disini Mbel?" tanya Bagas kepada Raka.
"Siapa?" Raka mengedarkan pandangan dan mendapati sosok yang dimaksud Bagas.
"Kau tahu maksudku. Apa sebenarnya ini?"
"Entahlah, kita intai saja dahulu"
Hampir 2 jam Bagas dan Raka melakukan pengintaian. Setelah orang itu keluar mereka mengikuti nya dari jarak jauh. Mengikuti jalan yang dilaluinya. Setelah orang itu pergi mereka pun kemabali ke pos penjagaan.
.
Bagas dan Raka sedang mengistirahatkan badannya. Waktu berlalu dengan cepat. Tahu-tahu sudah siang saja. Tiba-tiba saja ada bunyi kentongan yang dipukul. Bagas dan Raka serta yang lainnya saling pandang. Ada apa?
Anin pun yang saat itu di pustu dengan dokter Bimo heran kenapa ada suara kentongan.
"Banjiiiiirrrr, banjiiiiirrrr, banjiiiiirrrr" teriak salah seorang warga yang memukul kentongan itu.
Anin dan dokter Bimo segera mengamankan peralatan dan obat-obatan puskesmas. Para tentara sudah sibuk berlalu lalang. Dokter Bimo yang ada di luar bertanya kepada seseorang.
"Ee bang, maaf apakah benar banjir?" tanya dokter Bimo.
"Iya dok, tanggul timur jebol, 2 desa terendam banjir, dan kita akan menjadi yang ketiga" jawab tentara itu.
Dan benar saja, hanya hitungan menit air sudah naik dan menutupi jalanan. Karena model rumah disana panggung, jika berada di dalam rumah ketinggian air hanya semata kaki, tapi jika turun ke jalan ketinggian air bisa mencapai hampir 1 meter.
Bagas dan Raka mengambil alih pasukan dan mengumpulkan nya di pos penjagaan. Pos itu tidak terendam banjir karena bangunannya sangat tinggi, hanya jalannya saja yang terendam banjir. Bagas juga sudah meminta bantuan tambahan pasukan dan peralatan. Anin, dokter Bimo, Sinta, dan petugas puskesmas yang berjaga di desa sebelah sudah dikumpulkan di pos penjagaan.
"Selamat siang semua! Kita sedang dalam keadaan darurat. Jadi langsung saja kita akan melakukan pencegahan siaga bencana. Silahkan membagi menjadi 2 kelompok. Desa sebelah akan masuk dalam kelompok Wedus Gembel, yang akan dipimpin oleh Raka Atmajaya, jadi silahkan nanti jika ada apa-apa langsung mencari beliau. Ini orangnya" ucap Bagas saar memberi pengarahan.
"Untuk desa ini, akan masuk ke dalam kelompok Monyet Alaska dan saya sendiri yang akan memandu, Bagas Ardhitama. Jadi jika butuh apa-apa silahkan mencari saya. Untuk tenaga medis dari puskesmas x tetap pada desa masing-masing sesuai jadwal jaga. Para tentara, silahkan evakuasi lebih dulu para lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Kita dibantu oleh ketua adat mendapat pinjaman perahu kecil. Jadi bisa dilakukan evakuasi terlebih dahulu sebelum peralatan kita tiba. Cukup pengarahan ini, pasukan saya bubarkan"
Bagas selesai memberi pengarahan. Raka dan tim nya kembali ke desa sebelah. Kelompok Bagas juga sudah mulai menyebar. Anin, Sinta, dan dokter Bimo sedang berdiskusi.
"Dok, tempat kita juga terendam, bagaimana jika ada orang yang akan melahirkan?" tanya Anin.
__ADS_1
"Rumah ku, juga masuk airnya Nin, begini saja. Kita gunakan pustu sebagi pos kesehatan. Biarkan pos ini digunakan untuk menampung warga" Sinta memberi ide.
"Gak bisa kak, pasti kita yang akan kewalahan jika ada pasien darurat. Apalagi jarak pustu kesini lumayan" ucap Anin.
"Betul kata Anin, bagaimana kalau kita minta 1 ruangan untuk kita disini?" jawab dokter Bimo.
Bagas melihat mereka masih bercakap-cakap. Bagas mencoba mencari tahu permasalahan mereka.
"Maaf, ada apa?" tanya Bagas. Dia melihat dokter Bimo. Anin membuang muka nya.
"Begini bang, kita sedang bingung karena pustu juga kemasukan air. Jika ada pasien darurat bagaimana? Padahal kan nantinya pos warga disini. Kalau kami di pustu dan ada keadaan darurat maka kami yang akan kesusahan mengejar waktu" jelas dokter Bimo.
Bagas sejenak berpikir. "Kami akan memberikan ruang untuk perawatan. Alihkan obat dan peralatan kalian kesini. Jika nanti ada warga yang tidak bisa diantar kesini, kalian harus siap untuk mendatangi warga tersebut. Bagaimana?"
"Baiklah, kami setuju. Terima kasih" ucap dokter bimo dengan tersenyum.
"Sama-sama. Ayo salah satu ikut untuk mengambil obat dan peralatan sebelum air semakin naik" ajak Bagas.
"Anin, kamu aja yang ikut. Gue disini sama dokter Bimo mempersiapkan yang disini" ucap Sinta.
"Kenapa gak dilukir aja kak, aku yang disini kakak atau dokter Bimo yang ambil obat-obatan di pustu?" jawab Anin.
"Sama Anin aja bang, dia lebih tahu letak obat dan peralatan. Udah sana Nin, jangan menghambat waktu deh" perintah Sinta. Anin agak kesal dengan Sinta yang main suruh. Apalagi tadi dia dan Bagas bertengkar hebat.
Anin akhirnya mengikuti Bagas menaiki perahu. Mereka duduk berhadapan dan saling membuang muka. Sejenak Bagas melupakan ego nya dan ingin mengajak Anin mengobrol.
"Kamu masih marah sama mas?" tanya Bagas selembut mungkin.
"Udah lah, gak usah dibahas lagi. Aku udah gak pengen debat sama kamu" jawab Anin datar.
"Mas masih belum termaafkan?"
"Udah"
"Makasih"
"Hmm" Anin membuang muka nya kembali. Mereka sudah sampai di pustu. Benar saja ketinggian air bertambah. Anin membawa obat-obatan dan peralatan yang dibutuhkan. Mereka kembali ke pos penjagaan.
__ADS_1
Sedangkan di pos penjagaan ada yang sedang bergosip. Siapa lagi jika bukan Sinta.
"Dokter, tahu tidak? Pak tentara yang tadi itu tunangan nya Anin lhoh"
"Hah? Tunangan? Anin udah punya tunangan?" jawab dokter Bimo tak percaya. Kenapa gue kalah cepat sih sama pak tentara itu. Tahu gitu tadi gue yang ikut!
"Dokter tahu, minggu kemarin Anin di bonceng tunangannya pulang ke puskesmas. Mereka hanya berdua dok, kira-kira ngapain aja ya mereka?" Sinta semakin semangat mengompori dokter Bimo.
Anin kembali dengan membawa obat dan peralatan. Dia segera mempersiapkan obat dan peralatan. Dokter Bimo mendekatinya dan bertanya perihal pembicaraannya dengan Sinta.
"Nin, lo sama tentara yang tadi, siapa itu Bagas itu beneran tunangan?"
Anin menoleh dan melanjutkan pekerjaannya. "Dokter tahu dari siapa?"
"Sinta, serius itu tunangan lo?"
Pikir Anin, Bagas tidak berada di dekatnya, Anin pun tidak ingin diganggu lagi oleh dokter Bimo maka Anin mengiyakan pertanyaan dokter Bimo.
"Iya"
Bagas yang sedari tadi melihat Anin dengan dokter Bimo hatinya tersulut kembali oleh api cemburu. Dengan cepat dia meletakkan obat dan peralatan hingga mengeluarkan bunyi.
Bruk bruk bruk. Suara obat dan peralatan sedikit dibanting oleh Bagas. Anin dan dokter Bimo sampai meliriknya.
"Udah selesai kan?! Kalau ada yang kurang minta tolong tentara yang jaga! Aku mau patroli dulu!" ucap Bagas menaikkan intonasinya. Anin yang sudah hafal dengan sikapnya hanya menahan senyum.
"Sukurin cemburu lagi" gumam Anin dengan menahan tawanya. Bagas pergi, dokter Bimo heran dengan sikap Bagas.
"Dia kenapa Nin?"
"Gak tahu, capek mungkin" Capek hati lihat aku dideketin sana sini, hihihi.
.
.
.
__ADS_1
.