
Semarang
"Ayah, ini kita datangnya awal banget sih. Pesawat Anin kan mendarat nanti jam 9 yah. Ini baru jam 8 udah nongkrong aja di bandara! Ih ayah ih, sebel ibu tu. Mana dandanan ibu masih acak aduk begini lagi" repet ibu pada ayah.
"Kultum nya udah selesai bu? Heran ayah sama ibu. Dandanan emang mau dilihatkan ke siapa sih? Nyerocos aja! Ayah ini lagi mantau keadaan bu! Siapa tau ada orang suruhan Edi disini" ujar ayah.
Ibu memperhatikan sekeliling memeriksa apakah ada orang yang mencurigakan atau tidak. Aman.
1 jam lamanya Ayah memantau keadaan. Tidak ada yang mencurigakan. Pesawat mendarat dengan mulus. Anin dan Tari segera keluar dari pesawat tak lupa juga barang bawaannya. Anin dan Tari celingukan mencari Ayah dan Ibu. Ketemu!
"Ayah Ibu, Assalamualaikum! Ayah Ibu sehat?" Anij bertanya sambil menyalami kedua orang tua itu. Pun dengan Tari.
"Alhamdulillah kami sehat Nin, ayo pulang. Kaki ibu rasanya mau patah nungguin kamu. Ayah ngajak ibu kesini dari 1 jam yang lalu" muka ibu cemberut
"Kan sudah Ayah bilang bu,...." Perkataan Ayah dipotong oleh Ibu
"Ah, udah udah. Malah makin lama kalo ayah cerita. Ayo!" Ibu menarik tangan Anin dan Tari meninggalkan Ayah yang masih mematung di tempatnya.
.
"Bos, mereka bersama orang yang mungkin akan kau rindukan!" kata orang berjaket coklat itu.
"Hmmm, lanjutkan pengintaian kalian! Awas jika sampai gagal!" sahut orang yang berada di dalam mobil itu.
.
Anin sedang membersihkan diri setelah perjalanan dari bandara tadi. Ibu masuk ke kamar tamu membawakan Anin dan Tari cemilan.
__ADS_1
"Ibu, kenapa repot repot? Biar Tari aja yang kesana nanti" ucap Tari yang melihat ibu masuk membawa nampan kecil.
"Gak papa, ibu kangen saja sama kalian makanya ibu kesini. Nih dimakan" ibu menaruh nampan itu di samping nakas.
"Ah, ibu tau aja kalo Tari doyan makan. Jadi maluuuuu" ucap Tari sambil tersenyum malu.
"Gaya lo Ri, biasanya juga malu maluin!" timpal Anin yang selesai bersiap.
"Nin, ditunggu ayah di ruang kerjanya"
Anin mengangguk dan bergegas menemui ayah di ruang kerja nya.
tok tok tok
"Masuk!" sahutan dari dalam
"Ayah, mencari Anin?" Anin masuk ke dalam ruang kerja ayah
"Iya, duduklah. Ada yang ingin ayah tanyakan kepadamu"
Anin mengikuti kemauan ayah. Suasana menjadi agak tegang.
"Apakah kau tau jika sedang dipantau oleh seorang bernama Edi Sumantri? Dia adalah sahabat sekaligus musuh bagi ayah dan almarhum. Dia mengincar sesuatu yang kamu miliki. Apakah ada peninggalan almarhum untukmu?"
Anin mengingat kembali. Sesuatu yang ditinggalkan oleh orang tuanya hanya trauma atas kecelakaan. Anin berpikir dan mengingat kembali apa saja yang dia punya.
"Mungkin sesuatu seperti boneka, kalung, atau gantungan kunci misalnya?" Ayah membantu Anin untuk mengingat.
__ADS_1
"Boneka dan kalung Yah, ya. Ayah pernah memberikan itu dahulu. Tapi masalahnya mengapa mereka mengincar itu?"
"Kemungkinan besar ayahmu meletakkan flash disk atau memori card yang berisi bukti bukti itu. Menurut informan Ayah, mereka mencari barang kecil yang mematikan bos nya" ucap ayah lagi
Anin berpikir kembali.
"Dimana sekarang barang itu berada?"
"Ada Yah dirumah Ani, kalo kalungnya selalu Anin simpan dalam tempat bedak Anin yang kosong. Anin mikirnya kalo dicuri. Bonekanya nanti Anin cari di rumah"
"Tolong ambilkan kalungmu. Ayah ingin melihatnya"
Anin bergegas kembali ke kamar. Membuka tas nya, dan mencari kalungnya.
"Kalung begini mau disimpan dimana? Emang bisa ya?"
Anin kembali ke ruangan Ayah. Diserahkannya kalung itu. Ayah segera meraihnya dan melihat sekilas.
Terbuka. Batin Anin
.
.
.
Kira kira ada gak ya bukti nya?
__ADS_1