
Malam itu pustu menjadi saksi kembalinya mereka menjalin hubungan. Malam yang sangat membahagiakan. Pagi menyingsing. Anin dan Salma tersenyum menyambut mentari. Mereka menyenandungkan lagu sambil bersiap.
"Eh Nin, hari ini kita kunjungan rumah ya? Oh ya, ada satu tambahan ibu hamil lagi kata kak Sinta. Rumah paling ujung jalan mau ke desa sebelah"
"Jauhnyaaa, ya udah lah. Yang penting kita seneng!" jawab Anin sambil nyengir.
"Cieee yang akhirnya balikan sama kakak gue"
"Cieeee yang akhirnya direstui kakak nya. Hmm, untung aja hati kakak lo gak sekeras batu Sal"
"Gue udah negative thinking tau semalam. Gue udah cinta mati sama bang Raka. Disuruh putus. Kebayang dong rasanya gimana?"
"Iya, gue pernah ngerasain"
"Ah senangnyaaa" ucap Salma.
"Dimabuk asmara yah kita?"
"Hahahaha" mereka tertawa bersama.
.
Bagas dan Raka kembali ke batalyon karena harus menghadap komandan mereka. Mereka tak sengaja berpapasan dengan Mayor Indra. Mereka memberikan hormat kepada Indra, dan Indra membalasnya.
"Gimana soal Akbar?" tanya Indra.
"Siap! Anin belum bertemu lagi dengannya Ndan" jawab Bagas
"Huft, sepertinya memang harus ku hentikan pengintaian ini. Jalanku sudah benar-benar buntu"
"Siap! Jangan putus asa terlebih dahulu Ndan"
"Memang masih ada cara?"
Bagas dan Raka diam
"Ah sudahlah. Selesaikan misi kalian dan bantulah aku jika sudah selesai"
"Siap!" ucap Bagas dan Raka bersamaan dan memberi hormat kepada mayor Indra.
.
Aula Batalyon
Mereka bertemu dengan Komandan. Mereka memberikan hormat dan diterima oleh komandan. Mereka dipersilahkan duduk.
"Ada yang perlu kalian sampaikan sampai aku harus kesini?"
"Ijin, ya ndan. Kami menemukan rumah yang memang sangat aneh. Kami yakin itulah rumah yang digunakan untuk tempat persembunyian Edi. Tapi hal mengejutkan terjadi. Kami melihat orang yang seharusnya tidak berada di tempat itu"
"Siapa yang kau lihat?" tanya Komandan
Bagas membisikkan ke telinga Komandannya. Mata Komandan melotot dengan kesaksian Bagas.
"Kamu yakin?"
"Ijin, sangat yakin Ndan. Raka pun melihatnya"
Raka mengangguk.
__ADS_1
"Semakin terang kejadian ini. Terus lakukan pengintaian. Kabari aku perkembangan nya. Bagaimana dengan ingatan Anin?"
"Ijin, sepertinya belum ingat ndan. Coba nanti saya tanyakan"
Komandan mengangguk. "Ya sudah, kembalilah dan beri aku kabar"
Bagas dan Raka memberi hormat kepada komandannya dan meninggalkan nya.
Mereka meninggalkan batalyon. Ponsel Bagas berbunyi. Dia tersenyum.
"Hai San, tumben telpon"
Dimana? Bang Indra ngajak kalian makan siang. Lo masih sama gembel kan?
"Keluar batalyon, gratisan mah hayuk lah. Dimana?"
Resto x ruang vip
"Siap bu bos!" Bagas mengakhiri panggilan itu.
"Siapa nyet?" tanya Raka.
"Nyat nyet nyat nyet, calon kakak ipar nih! Panggil yang bener"
"Hahaha, sekarang gila hormat lo pengen banget dipanggil kakak?"
"Sani ngajak makan siang sama pak bos. Ke Resto x"
"Siap!"
Raka melajukan mobilnya ke resto yang dimaksud. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai. Mata Raka memang jeli. Dia menemukan sosok yang tak asing.
"Sebenarnya siapa atasan kita ini? Apakah memang ada pekerjaan disini?"
"Entahlah, tapi dugaan ku pekerjaan sampingan" jawab Raka.
"Maksud lo?"
"Mungkin beliau musuh dalam selimut"
Orang itu berbicara dengan seseorang cukup lama, dan seorang lagi keluar dan ikut bergabung.
Mata Bagas menangkap sosoknya.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa sampai kenal dengan atasan kita?"
"Siapa?" tanya Raka yang tak mengenal orang itu.
"Itu yang namanya Akbar, Akbar Jayadi. Orang yang Nisa kenalkan ke Anin dan incaran mayor"
"Lalu ada urusan apa dia dengan atasab kita?"
"Latar belakangnya pengusaha batubara. Tapi mayor pernah menyelidiki nya dan hasilnya nihil. Perusahaan fiktif. Tapi kata mayor susah sekali menangkap orang ini. Dia licin sekali"
"Mungkin kah atasan kita yang membantu nya?" Raka menebak-nebak kejanggalan itu.
Ponsel Bagas berdering kembali.
"Halo"
__ADS_1
Jadi ikut makan gak sih? Lama amat nyampainya.
"Jadi dong, tunggu bentar. Bilang ke mayor, ada Akbar Jayadi di resto x dan dia sedang bersama orang penting"
Hah, dia lagi. Jam makan siang nih. Bahas kerjaan melulu.
"Iya-iya. Tunggu sebentar"
Bagas mematikan panggilannya. Raka melihat orang tersebut akan bubar.
"Giman nih? Ikutin apa makan?" tanya Raka menunggu perintah Bagas selanjutnya.
"Makan. Biarkan dulu mereka. Biar terbuka satu persatu. Dan jika feeling ku benar itu artinya atasan kita adalah otak dibalik misi kita ini"
"Oke lah"
Bagas dan Raka keluar setelah memastikan orang yang baru saja mereka intai pergi dari Resto itu.
.
Dalam resto
Bagas dan Raka diantarkan pelayan resto itu ke ruang vip yang telah dipesan oleh mayor Indra.
Mereka memberi hormat kepada mayor.
"Sudah ku bilang jangan memberikan hormat saat sedang di luar. Aku gak suka itu. Duduk kalian" jawab mayor
"Ayo cepetan makan. Jangan cerita dulu. Keburu habis jam makan siang gue" Sani sudah memasang muka cemberut.
Mereka mulai makan dengan tenang. Selesai makan mereka berbincang sedikit.
"Kalian tahu Ana akan menikah?" tanya Sani kepada Bagas dan Raka.
Mereka menggeleng.
"Mamah ngasih tahu kalau Ana membuat masalah lagi. Dia tidur dengan laki-laki dan sekarang menolak lelaki itu"
"Ana senekat itu? Coba nanti gue tanya sama Anin" jawab Bagas
"Ana temen Anin?"
"Bukan temen, musuh! Mereka jambak-jambakan 2 kali"
"Wow, cewek jaman sekarang. Gue sih terserah lah ya. Gue kan gak pernah mau tahu urusan dia" jawab Sani.
"Ndan, kita melihat Akbar Jayadi" ungkap Bagas.
"Dia bersama atasan kita" imbuh Raka.
"Kalian tidak bercanda? Ada urusan apa dia dengan atasan kita?"
"Entahlah. Itu yang masih abu-abu" sahut Raka.
.
.
.
__ADS_1
Siapa sih atasan yang dimaksud? 🤔🤔. besok lagi ya up nya. Author ngantuk