Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 144


__ADS_3

Anin dan Salma sudah berada di markas besar. Mereka diduduk kan di kursi. Tangan mereka sekarang tidak lagi diborgol melainkan diikat memakai tali ke arah belakang. Mulut mereka masih dilakban dan kaki mereka diikat dengan kursi juga.


Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan itu tersenyum dan mendekat.


"Hai sayang!" ucap lelaki itu yang tak lain adalah Akbar.


Mata Anin dan Salma terbelalak melihatnya.


Bang Akbar? Jadi dia yang menculik kami? Tapi kenapa?. Gumam Anin dalam hati.


"Kenapa? Kaget ya? Kalian pasti bertanya-tanya kan? Kenapa kamu mengkhianati ku? Apa tujuan mu merekam dengan ponsel kemarin ha?" tanya Akbar kepada Anin sambil menjambak rambut Anin ke arah belakang.


"Ups abang lupa mulut kalian kan dilakban! Itu pantas untuk mulut mu yang sok manis!" imbuh Akbar.


Akbar meninggalkan mereka dan berbicara kepada penjaga disana.


"Pasangkan bom jam tangan yang baru saja tiba. Atur waktunya menjadi 6 jam dari sekarang. Aku masih ingin bermain-main dengan mereka. Jangan sampai bos besar tahu keberadaan mereka. Ingat itu!" perintah Akbar kepada penjaga itu.


"Baik tuan" sahut penjaga itu.


.


Para tentara yang sedang Satgas ikut diterjunkan untuk penggrebekan Edi. Bagas memimpin misi kali ini.


"Target kita bernama Edi Sumantri. Buron sekaligus tersangka penyelundupan senjata. Bawa semua barang bukti yang berhasil kalian dapatkan. Sekarang menyebar" perintah Bagas kepada pasukannya.


Mereka langsung melakukan penyergapan ke rumah itu.


"Angkat tangan! Kalian sudah dikepung! Serahkan diri kalian!" ucap Bagas kepada orang-orang di rumah itu.


Mereka melakukan perlawanan. Terjadi baku tembak antara keduanya.


Dor


Dor


Dor


Dor dor dor


Suara tembakan itu menggema. Edi berlari menuju ke dalam hutan. Hendi yang mengetahui itu mengejar ke dalam hutan.


"Kapt, target melarikan diri ke dalam hutan!" Seru Hendi menggunakan earphone nya.


Bagas dan Raka melakukan pengejaran ke dalam hutan membantu Hendi.


"Kejar terus, jangan sampai lepas!" perintah Bagas kepada Hendi


Hendi mengejar Edi yang sudah di atas motor.


Dor


Satu peluru melesat mengenai dada Hendi. Bagas dan Raka mempercepat pengejaran. Mata mereka terbelalak ketika mendapati salah satu anggotanya tergeletak tak sadarkan diri. Sebuah peluru berhasil menembus baju anti peluru itu menembus bahu Hendi.


"Paus! Sadarlah!" pekik Raka. Bagas hendak mengejar tapi dicegah oleh Raka.


"Kau ingin dia mati kapt?" tanya Raka. Bagas akhirnya menyerah untuk mengejar Edi. Dia membantu Raka membawa Hendi ke kapal yang memang disiapkan dari pihak TNI.

__ADS_1


"Bawa dengan cepat korban terluka ini. Kabari aku perkembangannya. Secepatnya!" perintah Bagas kepada pembawa kapal itu.


Raka dan Bagas melakukan pengejaran kembali di dalam hutan, tapi hasilnya nihil. Edi sudah berhasil lolos kembali.


.


Tristan melacak keberadaan Anin. Setelah berhasil dia segera mengirimkan nya kepada pak jenggot. Dia menelpon pak jenggot.


"Om, cari tahu lokasi itu dan kabari aku. Aku akan meneruskan nya kepada Bagas dan Raka"


Siap bos!


Jawab pak jenggot di ujung telepon. Tristan menunggu kabar dari pak jenggot dan sekejap saja alamat itu sudah diterimanya. Dia meneruskan kepada Bagas dan Raka.


.


Akhirnya para pengangkut senjata itu berhasil dilumpuhkan setelah terjadi baku tembak.


"Serahkan mereka pada pihak kepolisian terlebih dahulu. Minta mereka mengamankan barang bukti nya juga" perintah Bagas kepada Agus.


"Siap Laksanakan!" Agus memberi hormat kaptennya


"Laksanakan!"


Raka melihat ponsel nya. Dia mendekat ke Bagas. Bagas membaca pesan Tristan.


"Masih belum berakhir misi ini. Edi harus kutangkap!" ungkap Bagas.


"Tenanglah, gue yakin Edi juga berada disini. Ayo bergegas" jawab Raka.


Dia berhenti di sebuah rumah di ujung jalan. Bagas seakan paham dengan maksud Raka.


"Istri Akbar" gumam Bagas.


Raka dengan cepat mendobrak pintu rumah itu. Dia menggeledah rumah itu tapi tak menemukan apapun. Raka berlari ke belakang dan dilihatnya wanita yang sedang hamil itu berlari.


"Berhenti atau mati!" ucap Bagas mendahului Raka.


Mia tidak bergerak. Bagas dan Raka sama-sama menodongkan pistol mereka ke arah Mia.


"Beritahu kami markas besar yang dimaksud oleh bos mu!" ucap Raka sambil tetap menodongkan pistol.


"Bunuh saja kalau ingin menjadi pembunuh bayi yang masih ku kandung!" jawab Mia.


Raka dan Bagas saling lirik. Mia menggunakan kesempatan itu untuk berlari dan....


Dor


Sebuah peluru melesat kepada Mia. Peluru panas itu melesat di kaki Mia mengakibatkan nya tak bisa berlari lagi.


Sekali lagi Bagas meminta bantuan kapal TNI untuk membawa Mia ke rumah sakit TNI.


"Dia juga merupakan kaki tangan buronan kita. Lindungi dia dan bayi nya" ucap Bagas kepada bawahannya itu.


Bagas dan Raka melajukan kembali motor mereka mengejar Edi.


.

__ADS_1


Tristan hendak meluncur ke lokasi Anin dan Salma disekap. Dia berpamitan kepada Tari.


"Tunggu abang hingga pulang, jangan cemas, dan selalu berdoa" ucap Tristan dan menghujani Tari ciuman di wajahnya.


Tristan dan pak jenggot bergerak menuju lokasi.


"Apakah ini akan sangat berbahaya bos?" tanya pak jenggot dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi itu.


"Aku tak tahu om, kalau dulu Bagas hanya akan menyelamatkan Anin tapi kali ini ada 2 keputusan yang harus diambilnya. Mengejar target atau menyelamatkan sandera"


"Huft, ternyata serumit ini masalah mereka. Kasihan mereka harus menjadi korban"


"Kita doakan saja lah om, semoga kita bisa menyelamatkan mereka"


.


Edi sudah sampai di markas besar. Dia melihat Akbar yang sudah ada disitu.


"Kau disini? Bagaimana dengan istrimu? Kau tidak takut dia akan kenapa-napa?"


"Dia wanita yang mandiri, dia bisa tanpa aku"


"Enteng sekali kau! Dia sedang hamil anak mu!"


"Sudah lah, jangan mengajak ku berdebat tentangnya. Kau ingat 2 perempuan kemarin?"


Edi berpikir dan melihat senyum licik dari Akbar.


"Apa yang kau lakukan dengan nya?!" tanya Edi mulai geram.


"Hanya sedikit bermain-main saja" jawab Akbar sambil tersenyum.


"Kau mengundang masalah!"


Seorang lagi datang bergabung dengan mereka.


"Ada apa dengan kalian? Kau selamat Ed? Syukurlah" ucap orang itu sambil memeluk Edi.


"Tidak ada apa-apa tuan, hanya perdebatan soal Mia" jawab Akbar cepat.


Kau menyembunyikan nya dari tuan besar? Kau akan mengundang masalah baru bagi kita! gumam Edi dalam hati.


"Mereka melakukan penyergapan dengan sangat cepat, aku hanya bisa mengamankan diriku. Rombongan yang seharusnya membawa senjata kita tertangkap semua"


"Ah, sudahlah. Hanya sedikit tidak akan mampu membekuk ku. Yang penting kau tidak tertangkap. Hahahaha"


Edi hanya tersenyum getir.


"Ayo makan dulu. Mereka tidak akan mengetahui markas kita" ucap tuan besar itu menenangkan mereka.


.


.


.


Author lagi rajin nih. Mana semangat readers buat authooooorrrrr??? Komen komen komen like like like vote vote vote tip tip tip. yang tip gak wajib kok. heheheh

__ADS_1


__ADS_2