
Bagas diam larut dalam pikirannya. Sampai Anin selesai menyanyi dia masih diam. Anin mendekatinya. Bagas tak menyadarinya membuat Bagas kaget.
"Mas!" panggil Anin
Bagas terlonjak kaget. Membuat dia memasang muka cemberut. "Ck, apaan sih yank, bikin kaget aja deh!"
"Iih, kamu kenapa?"
"Gak papa"
"Udah makan? Lemes banget sih mas"
"Gak selera"
"Kenapa? Aku suapin ya?"
"Gak, mas lagi pusing"
"Pusing? Kenapa?" tanya Anin heran. Setahu nya Bagas waktu berangkat baik-baik saja.
"Ya pokoknya pusing"
"Ya maksudnya ada masalah gitu? Sampai kamu pusing seperti ini? Hmm?"
"Gak, gak ada masalah. Udah deh diem dulu bisa gak?" ucap Bagas sewot.
Anin langsung memasang muka cemberut nya dan pergi meninggalkan Bagas. Anin bergabung dengan Salma dan Raka.
"Kenapa Nin? Kusut banget tu muka kayak baju belum disetrika" tanya Raka mendapati wajah Anin yang merah padam menahan emosi.
"Tuh, calon ipar lo bang. Dia kenapa sih? Sewot amat sama gue?"
Salma dan Raka saling menahan tawa dan menautkan alis. Seolah mereka sepemikiran.
"Mana gue tahu? Coba tanya lah" jawab Raka.
"Mungkin kakak laper kali Nin, daritadi belum ada makan, ya kan bang?" jawab Salma ngasal.
"Tadi udah gue tawarin makan tapi gak mau. Katanya gak selera. Malah sewot gak jelas"
Para tamu satu per satu mulai berpamitan pulang. Ayah dan Ibu pun juga pulang bersama besan mereka alias orang tua Raka.
Anin, Salma, Raka dan Bagas masih setia menunggui Tari hingga selesai acara.
Adit yang juga diundang datang terlambat. Dia harus menyelesaikan shift nya terlebih dahulu barulah bisa datang ke acara resepsi Tari.
Adit menyalami Tari dan Tristan. Membuatnya berpapasan dengan mamah Tari, tante Nam. Adit hanya tersenyum dan berlalu bergabung dengan Anin, Salma, dan Raka.
"Hai semua?" Sapa Adit kepada mereka.
"Hai" jawab semua kompak.
"Kakak telat?"
"Iya baru selesai shift"
"Makan dulu sana Dit, keburu makanannya diangkutin lagi sama WO"
"Nanti lah, masih kenyang juga tadi di rumah sakit habis makan"
"Kak, tante Nam tuuuhhh. Mau dibiarin gitu aja?" Anin mengompor-ngompori Adit supaya mau menyatakan perasaannya kepada tante Nam.
"Ih kamu ini, ada papah nya Tari tuh"
"Lhaaahhh, mereka kan udah pisah. Gak ada urusan lagi keles selain urusan Tari"
__ADS_1
"Udah deeehhh, eh Bagas mana?"
"Udah deh kak, jangan mengalihkan pembicaraan"
"Siapa yang mengalihkan. Udah laah, biar itu menjadi rahasia kakak"
"Ishh, kakak ih" Anin beranjak pergi dan menghampiri tante Nam.
"Tanteee, boleh bicara sebentar gak?" tanya tante Nam yang sedari tadi diam.
"Ada apa sayang?" tanya tante Nam lembut.
"Bisa ikut Anin sebentar gak tan? Ada yang pengen Anin omongin ke tante. Kan para tamu juga udah pada mau pulang niiih"
"Bisa, ngomong disini aja sih" jawab tante Nam.
"Jangan disini dong tan, disana aja yuk" Anin menunjuk meja yang kosong di pojok kanan.
"Yaudah ayo. Ri, mamah tinggal dulu bentar ya" tante Nam pamit ke Tari untuk menuruti keinginan Anin.
Anin mengisyaratkan pada Tari dengan menggerakkan bibirnya seperti berbicara tapi tidak keluar suaranya.
Tari mengerti dengan bahasa Anin. Dia mengangguk.
Anin menarik tangan tante Nam untuk menuju meja kosong itu. "Tan, tunggu sini bentar ya"
Anin kembali menghampiri Adit dan menarik tangan Adit untuk bergabung dengan tante Nam.
"Eh, ada apa ini Nin?" tanya tante Nam bingung saat Anin membawa Adit mendekat kepada nya.
"Tante, maaf yaaa. Yang sebenarnya mau ngomong itu kak Adit. Anin tinggal dulu ya" Anin berjalan menjauh dari mereka bergabung kembali dengan Raka dan Salma.
"Hai tan" ucap Adit ramah menyapa tante Nam.
"Apa kabar tan?"
"Baik, kamu sendiri?"
"Alhamdulillah baik. Meskipun hati nya gak baik-baik saja"
Tante Nam menautkan alisnya. "Maksudnya?"
Adit tersenyum miris. "Tante sekarang sama siapa? Balikan lagi kah sama papah nya Tari?"
"Gak, mana mungkin aku balikan lagi. Aku udah ditalak 3 olehnya"
"Ooh, maaf karena kejadian yang dulu tan"
"It's okay, tante juga salah dan pantas mendapatkan hukuman seperti ini. Sekarang kamu kerja disini?"
"Iya tan, di rumah sakit TNI sini"
"Oowhh, kamu sekarang sama siapa Dit?" tanya tante Nam.
Adit menggeleng. "Sendiri tan, karena sepertinya aku kena karma tan"
"Karma? Karma apa?"
"Karma kalau sebenarnya aku jatuh hati sama tante"
Mereka diam dan saling beradu pandang.
"Tante mau gak menerima cinta aku? Coba menjalani hubungan dengan ku yang didasari rasa cinta."
"Kamu gak malu nantinya dikatakan orang, ih kok mau sama tante-tante?"
__ADS_1
"Adit hidup kan bukan dari omongan mereka. Minta makan sama mereka aja gak pernah ngapain diurusin?"
"Kenapa gak coba sama yang seumuran?"
"Adit gak minta pendapat tante, yang aku butuh saat ini jawaban tante atas pernyataan aku"
"Dit, kita beda umur terlalu jauh. Beda hampir 23 tahun"
"Memang kenapa tante? Bukankah waktu kita melakukannya juga tidak memandang umur? Sekarang kenapa dipermasalahkan?"
"Diiitt, tante...." ucapan Tante Nam terpotong saat Adit meraih tangan tante Nam.
"Bisa kita coba dulu tante? Nanti kalau ke depannya tante memang tidak ada rasa sama aku mari kita akhiri"
Tante Nam diam atas pernyataan Adit. "Tante diam itu aku artikan setuju"
Tante Nam masih diam.
"Oke, kita coba mulai menjalin hubungan ini. Semoga bisa sampai tahap yang serius lagi"
"Tante...., tante bingunb harus jawab apa. Bakalan banyak rintangan untuk kita jika terus memaksakan"
"Apa yang tante khawatirkan? Omongan orang Adit gak perduli, apa lagi?"
"Tari?"
"Tante, Tari memberi kita restu. Tanyakan padanya kalau tidak percaya. Aku berani ngomong begini karena telah mengantongi restu dari anak tante"
Tante Nam kembali diam. "Apa lagi yang tante khawatirkan?
Tante Nam menggeleng.
"Jadi bisa kan kita mulai hubungan ini. Hubungan atas dasar cinta"
Tante Nam menganggukkan kepalanya. Adit tersenyum bahagia.
Bagas yang tak jauh dari meja Adit itu bisa mendengar dengan jelas apa yang di utarakan oleh Adit.
Dia aja bisa, kenapa gue gak bisa? Gue harus bisa! Batin Bagas.
Anin mengambilkan makanan untuk Bagas dan kembali bergabung dengan Bagas.
"Makan dulu" ucap Anin menyodorkan sendok ke mulut Bagas.
Bagas hanya tersenyum dan menerima suapan itu. Tangannya mengusap-usap rambut Anin.
"Jangan sampai sakit karena mikirin sesuatu mas. Aku pengennya kamu sehat. Makan yang banyak"
"Kamu juga ikut makan, gantian mas suapin" Akhirnya Bagas mau membuka mulutnya dan berbicara kepada Anin.
"Iya, makan sepiring berdua ya?" tanya Anin penuh senyum.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1